Minggu, 30 September 2007

Sekolah Budi Baik Prihatin Kondisi Kelistrikan Kalbar


Yandi Algresto, Kepala Sekolah SMP Swasta Budi Baik tergolong kepala sekolah termuda di Indonesia. Kini usianya 27 tahun. Kala ditemui di kompleks sekolahnya, Sabtu (29/9) ia mengenakan stelan safari warna grey.
“Beginilah kondisi sekolah saya,” ungkapnya menyambut kedatangan saya. Sebelah tangannya menyambut salam, sedangkan tangan sebelah kirinya menandakan arah menuju ruangan yang cukup besar. Mata saya menuju ke arah yang ditunjukkannya. Di sana terdapat sejumlah guru. “Dari Borneo Tribune,” kata Yandi dengan nada suaranya yang khas.
Saya menyalami beberapa guru yang kebetulan ada di ruangan itu. Sejenak saya terkesima karena ruangan guru yang seukuran ruang kelas ini bersih dan tertata apik. Ada satu set sofa warna hijau di tengah-tengahnya. Saya dipersilahkan duduk di sini.
“Saya prihatin dengan kondisi kelistrikan di Kalbar. Coba lihat byar pet begini, tak ada aktivitas administrasi yang bisa dikerjakan. Surat menyurat jadi macet. Ruangan panas sekali,” keluhnya. Yandi duduk di hadapan saya. Di sampingnya ada Ketua Yayasan Tek Yok School Budi Baik Darmasa Tansuri, SE.
“Mesin diesel di Siantan rusak. Energi listrik Kota Pontianak hilang separo,” kata saya mengutip keterangan PLN yang muncul di pemberitaan Borneo Tribune.
“Saya tahu. Saya kan langganan Borneo Tribune. Tapi maksud saya, selama setahun apa program PLN? Apa hal-hal seperti ini tidak mereka antisipasi?” keluhnya.
Kata Yandi, dia tidak takut protes dengan PLN karena produktivitas sekolahnya menjadi menurun. “Kami memang ada rencana membeli genset, tetapi pasti akan membebankan pelajar,” sambung Ketua Yayasan, Darmasa Tansuri.
Di TK, SD dan SMP Budi Baik terdapat 625 murid. “Tidak semuanya mampu. Ada 150 pelajar yang sekolah gratis di sini karena berasal dari keluarga yang tidak mampu. Jadi, untuk membeli genset masih impian kami,” katanya seraya berharap PLN segera dapat menuntaskan problemnya sehingga kepentingan publik terpenuhi.
“Bagaimana mau meningkatkan mutu SDM jika kondisi infrastruktur begini,” timpal Yandi lagi.
Yandi berdiri dari tempat duduknya. Saya diajak berkeliling sekolah.
Pertama yang kami tuju adalah perpustakaan. “Ini tempat kebanggaan saya,” ungkapnya menunjuk ruangan sebesar 3x5 meter. “Dulu di sini tempat pembakaran sampah, tapi sejak saya jadi kepala sekolah saya sulap jadi perpustakaan,” timpalnya.
Ada dua rak yang memenuhi dinding di sini. Semua penuh dengan buku-buku yang menunjang akademik sekolah. Jumlah buku tak kurang dari 1000 buah. “Masih sedikit,” timpal Yandi.
Di depan perpustakaan ada unit kantin. Unit ini berdiri sendiri di pojok lapangan. Lapangan yang cukup besar digunakan untuk latihan basket dan lokasi olahraga siswa-siswi Budi Baik. Dalam hal basket Budi baik termasuk diperhitungkan di Kota Pontianak.
Dari perpustakaan kami naik ke lantai dua. Budi Baik memang punya dua tingkat bangunan sekolah. Setiap tempat yang saya kunjungi bersih sekali. “Saya punya kiat untuk mewujudkan kebersihan di lingkungan sekolah, yakni bagi kavling. Kalau ada sampah biar satu lembar plastik pun saya segera menyusul ke pemilik kavling tersebut lalu meminta mereka memungutnya. Bulan pertama terasa berat, tapi setelah jalan kebersihannya permanen.” Saya manggut-manggut. Sistem ini sama persis dengan sistem yang digunakan unit perkebunan durian di Thailand yang pernah saya kunjungi di tahun 2003.
Setiap melewati kelas saya melongo aktivitasnya. Siswa-siswi belajar dengan riang. Ada guru yang mengajar mereka. Terlihat ada kelas yang sedang belajar Bahasa Mandarin, olahraga dan mata pelajaran umum. “Di sini memang ada belajar Bahasa Mandarin,” kata Yandi. “Setiap kelas saya minta pintu-pintunya dibuka agar mudah saya cek. Pelajar dan gurunya pun jadi tidak ngantuk. Apalagi mati listrik,” tambahnya. Saya katakan, “Wah Pak Yandi marah betul dengan PLN.”
“Iya. Tulis saja. Kalau dipanggil pun saya siap memperjuangkan hak-hak masyarakat!”
Langkah kaki Yandi dan saya sudah sampai ke ujung bangunan. “Kecil areal sekolah kami,” tandasnya.
Yandi menunjukkan ruang Bimbingan Konseling. “Siswa-siswi bermasalah diproses di sini,” ujarnya.
Kami bergerak turun ke lantai dasar. Yandi menunjukkan ruang Tata Usaha. “Saya masih kerja di sini, cuma sayang listrik padam sehingga banyak pekerjaan terbengkalai. Panas,” keluhnya.
Di atas meja kerja Yandi terdapat laptop. Laptop itu terlipat rapi. “Tak bisa nyala karena listrik mati.” Yandi menggerutu.
Guru-guru yang saya temui jauh lebih tua ketimbang Yandi yang “baby face”. Tapi mereka semua tampak sangat hormat dan respek kepada Yandi. Yandi maupun ketua yayasan sama-sama alumni dari sekolah yang usianya kini sudah 80 tahun. Sekolah yang tergolong tertua di Kota Pontianak. Jauh lebih tua dari sejarah masuknya listrik di Kalbar.
Yandi meminta para guru berkumpul. Rupanya dia minta foto bersama. Semua patuh. “Kami minta tolong ekspose di Borneo Tribune,” ujarnya seraya senyum. Guru-guru semua juga tersenyum. Dan mereka akan lebih tersenyum lebar jika kondisi kelistrikan kembali normal. ■


Baca selengkapnya..

Sabtu, 29 September 2007

Semangat “Merpati” untuk Pilkada yang Aman


Secara kasat mata baligo-baligo besar memang telah bersih di dalam kota di mana mata Panwas atau kritikus galak menatap. Tapi di daerah-daerah masih ada laporan terpampangnya bahan-bahan kampanye.
Namun kampanye kerap dipertautkan dengan sosialisasi sehingga mendebat ke arah sana lebih kontra produktif daripada produktif bagi pengembangan pembangunan demokrasi di daerah yang “rawan konflik” ini.
Jika sulit menunjuk adanya bahan propaganda berbentuk baligo untuk kampanye, masih banyak terpasang di pusat-pusat kota bahan kampanye yang ditempel dalam bentuk stiker di tiang-tiang listrik atau fasilitas-fasilitas umum. Ini sekedar jika kita berbicara soal fakta.
Akan tetapi terlalu besar energi tercurah ke hal-hal kecil seperti itu. Biarlah pemerintah kota maupun kabupaten yang bertindak membersihkan karena dianggap “mengotori” tata kota. Bukankah di setiap jajaran pemkot atau pemkab ada dinas kebersihannya?
Di sisi lain energi positif kita lebih baik diarahkan kepada niat baik para kandidat untuk mewujudkan pilkada Gubernur yang aman dan nyaman.
Sebagai sebuah catatan, semua kandidat hadir di acara penarikan nomor urut dan pada akhirnya penetapan nomor asli yang kelak dipilih sebagai nomor urut pencoblosan.
Ketika itu Senin 24 September. Merpati pun terbang tinggi ke langit biru. Mereka dilepaskan para pasangan cagub-cawagub di halaman KPUD Kalbar. Acara itu menyiratkan kebebasan, kebahagiaan dan keamanan. Aman karena lepas dari sangkar yang mengkerangkeng.
Simbolisasi merpati yang dilepas terbang itu ditujukan langsung untuk pemegang amanah puncak eksekutif bernama Gubernur Kalbar. Mereka diamanatkan erat memegang janji sebagai komitmen lisan maupun nurani: menjaga stabilitas dengan sikap siap kalah maupun siap menang.
Betapa cair suasana di KPUD ketika itu. Keempat paket kandidat bersenda gurau nyaris tak habis-habisnya. Terlebih tokoh senior Oesman Sapta Odang yang akrab disapa OSO mampu memecahkan kebekuan antara pasangan Akil-Mecer maupun Cornelis-Christiandy yang sudah datang lebih awal daripada dirinya.
OSO dengan tangan mengembang mencetuskan, ”Siapapun yang menang di antara kita tidak mengapa,” ujarnya seraya bercanda. Di tempat terpisah di Mapolda Kalbar saat penekenan Pilkada Damai, OSO menjamin tak akan ada konflik di Kalbar. ”Semua kandidat adalah kawan kental saya,” ujarnya.
Semoga apa yang dikatakan OSO menjadi kenyataan. Sebab apalah arti Pilkada jika memutus hubungan baik yang telah terbina harmonis selama ini? □



Baca selengkapnya..

Awas Wilayah Abu-Abu

Cari Akal untuk Terus Bisa Sosialisasi

Di sejumlah titik di seantero Kalbar—terutama di kota-kota—baligo-baligo kampanye telah diturunkan. Yang tinggal hanya rangkanya saja. Di sejumlah titik baligo yang besarnya raksasa, bahkan bukan diturunkan melainkan ditutup dengan terpal plastik. Tujuannya untuk mematuhi rambu-rambu pilkada Gubernur, yakni tidak berkampanye di luar jadwal yang telah ditentukan KPUD.
Tapi bukan pesta demokrasi jika tidak ada jalan keluar terhadap rambu-rambu tersebut. Bahkan Panwas pun membelah rambu menjadi dua terminologi, yakni kampanye dan sosialisasi.
Kampanye dikategorikan apabila ada ajakan untuk memilih diri yang bersangkutan untuk menjadi Gubernur Kalbar. Sedangkan sosialisasi adalah apabila menyangkut hal-hal lain seperti program yang berkenaan dengan bidang garapnya jauh-jauh waktu dari hiruk-pikuk pencalonan diri sebagai gubernur.
Sebutlah foto Usman Ja’far dan LH Kadir tetap terpampang dengan megah di depan GOR Pangsuma Pontianak sementara isi pesannya adalah tunaikan pajak. Hal-hal seperti ini dikategorikan sosialisasi.
Hal teranyar tentu saja ucapan berbuka puasa di televisi maupun radio. Masing-masing tokoh yang tampil hampir rata-rata adalah mereka yang akan maju dalam pilkada, baik provinsi, kabupaten maupun kota. Kendati memang tidak bulat 100 persen akan ke pilkada semua.
Hal-hal yang bersifat ungkapan verbal ucapan berpuasa atau bahkan beridulfitri tergolong sosialisasi dan bukannya kampanye.
Hanya menjadi janggal ketika foto pasangan calon gubernur dipajang seolah-olah itu kampanye. Wilayah abu-abu ini sulit terjawab. Dan di sini tempat cerdik buat bersosialisasi padahal esensinya juga adalah kampanye.
Kalau ada pihak yang masih mau berdebat, pungkasi sajalah dengan satu kata: inilah pesta demokrasi.
Kenapa harus dipungkasi ke sana? Kalau kita tidak pandai-pandai diskusi bisa berubah jadi emosi. Lambat laun naik pitam dan baku hantam. Lalu bukannya pesta demokrasi lagi yang akan kita rayakan, tapi democrazy. □


Baca selengkapnya..

Pioner Sosialisasi


Even terbesar di Kalbar yang tampak di depan mata adalah Pilkada Gubernur Kalbar. Hari H pencoblosan ditetapkan Komisi Pemilihan Umum Daerah pada 15 Nopember 2007. Waktu tersebut sudah tidak lama lagi.
Sebagai warga yang melek pendidikan politik kita tentu ingin pemilihan kepala daerah secara langsung buat pertama kali di pemilihan Gubernur Kalbar ini berjalan aman, sukses dan lancar.
Tentu ada syarat yang harus dipenuhi agar pilkada Gubernur itu berjalan aman, sukses dan lancar. Pertama, bahwa masyarakat secara keseluruhan punya kesadaran politik untuk kemudian menggunakan hak politiknya secara baik dan benar. Kedua, para calon juga punya kesadaran politik yang sama. Ketiga, adalah kelompok elit, khususnya yang tergabung di dalam tim sukses untuk bersikap siap memang maupun siap kalah. Keempat, adalah Kepolisian Daerah yang dalam pengamanan dibekap TNI. Kelima, KPUD dan panwas bekerja secara profesional.
Kesadaran politik masyarakat, calon gubernur hingga profesionalisme kerja KPUD, Panwas, Polri dan TNI tidak terlepas dari peran penting dan strategis media massa. Di bagian ini kami bekerja dengan sungguh-sungguh.
Saking pentingnya momentum pilkada Gubernur 15 Nopember mendatang, jauh hari sebelumnya, yakni sejak 20 Agustus 2007 kami sudah membuka satu halaman penuh buat sosialisasi aktivitas KPUD yang terkait dengan jadwal pilkada Gubernur, hal hal yang terkait di dalamnya sehingga menjadi pusat perhatian, pusat informasi dan penjelasan-penjelasan atas masalah-masalah pilkada Gubernur.
Selama satu bulan berjalan terasa sekali halaman sosialisasi dengan fokus pilkada Gubernur menuai hasil yang nyata. Masyarakat menjadi tahu pentahapan-pentahapan pilkada serta berbagai sisi-sisi edukasi politiknya.
Kami menyadari bahwa kami memang harus berbuat seperti itu karena visi dan misi kami memang ke sana. Pendidikan. Pers punya fungsi edukasi selain semata-mata hanya menyajikan informasi.
Hasil sosialisasi yang tersaji lewat Borneo Tribune mendapat tanggapan banyak pihak. Tak urung para calon gubernur yang telah ditetapkan empat paket. Pertama paket Usman Ja’far-LH Kadir. Kedua paket Oesman Sapta-Ignatius Lyong. Ketiga, paket Akil Mochtar-AR Mecer. Keempat paket Cornelis-Christiandy Sanjaya.
Keempat paket calon orang nomor satu dan nomor dua di Kalbar menyampaikan secara langsung bahwa Borneo Tribune telah dapat menempatkan dirinya sebagai media yang netral. Borneo Tribune menyajikan informasi tentang para calon dengan proporsional. Sesuai dengan etika jurnalisme maupun nilai-nilai berita atau news value-nya.
Kami juga senang ketika empat paket calon Gubernur Kalbar memberikan penilaian seperti itu kepada Borneo Tribune secara langsung. “Borneo Tribune sudah berada pada rel yang benar. Rel itu bernama fair play,” simpul mereka.
Ibarat pertandingan sepak bola, pilkada Gubernur kali ini ada empat tim. Kami meliput secara berimbang keempat tim ini. Selanjutnya siapa yang menjadi pemenang adalah tim itu sendiri yang menentukan lewat stamina dan keterampilannya, juga suporternya. Dan tentu saja yang tak boleh dilupakan retak tangannya. Artinya suratan takdir dari Yang Di Atas sana. Sementara kita tetap akan mendukung siapapun yang akan tampil sebagai pememang kelak, karena itulah realitas pilihan rakyat. Soal menang dan kalah pun hanya soal permainan dunia. Perjuangan kita semua untuk membangun Kalbar masih amat banyak—lepas dari terminologi kalah dan menang. Sekecil apapun bentuk perhatian kita kepada pembangunan Kalbar itu tetap akan ada artinya. Tetap akan ada nilainya. Bahkan kalau ikhlas, akan bisa jauh lebih berharga daripada kemenangan itu sendiri.
Borneo Tribune terus mengikhtiarkan laporan-laporan aktual di momen akbar tersebut. Tentu dengan tidak melewatkan kabar-kabar penting lainnya. Sebut di antaranya prestasi Bryan yang menggetarkan Kalbar lantaran dari goresan di kanvasnya telah menorehkan tinta emas di prestasi dunia. Desain perangko miliknya keluar sebagai juara pertama lomba desain perangko PBB. Bryan anak Kalbar pertama dalam sejarah yang memuncaki prestasi di PBB. Bryan anak usia 7 tahun yang fenomenal.
Kami terus berjuang menyajikan karya-karya yang terbaik lewat profesi jurnalistik. Borneo Tribune dilahirkan memang untuk meningkatkan mutu jurnalisme di Kalimantan Barat.□


Baca selengkapnya..

Selasa, 25 September 2007

Pelajar Pontianak Harumkan Nama Indonesia di PBB

17 Oktober Terima Penghargaan di New York

Borneo Tribune, Pontianak
Usianya masih sangat muda. Baru tujuh tahun. Tapi prestasinya sudah mendunia. Ia mengalahkan ribuan peserta internasional lainnya.
Dialah Bryan Jevoncia pelajar kelas 2 SD Suster Pontianak. Ia meraih juara 1 lomba desain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tema "We Can End Poverty" untuk peringatan dekade pertama hari internasional "Education for Poverty".

Dengan keberhasilannya menyisihkan ribuan peserta di tingkat "International Children Art Competition" usia 6-15 tahun dari seluruh dunia itu, Bryan diundang PBB ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat bertepatan saat peringatan hari internasional "Education for Poverty" pada 17 Oktober mendatang.

"Desain perangko Bryan akan dicetak menjadi Perangko PBB 2008," kata Rosina, 43, ibunda Bryan saat ditemui di SD Suster Pontianak, Jumat.

Bryan mengirim desain perangkonya pada Februari lalu. Informasi adanya lomba desain tersebut diketahui melalui internet yang disebarkan ke seluruh anggota Khatulistiwa Children Fun Art Pontianak, tempat Bryan mengembangkan bakat lukisnya sejak balita.

Kabar bahwa Bryan meraih gelar internasional diterima Rosina sewaktu menerima telepon dari seorang staf dari Kedutaan Besar RI di New York awal Agustus lalu. Kepastian itu diperoleh setelah pihak Departemen Luar Negeri RI menghubunginya.

Bryan mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas ukuran A4. Dalam desain tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan.

Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka. Menurut Rosina, gambar tersebut memperlihatkan anak-anak sepulang sekolah bisa membantu orang tua untuk mendapat biaya tambahan.

Bryan mengaku menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan gambar tersebut. "Capek juga sih," kata Bryan, yang mengaku kaget sewaktu mengetahui dirinya meraih peringkat 1 lomba internasional.

Kepala Sekolah SD Suster Pontianak, Rosa de Lima mengatakan, prestasi Bryan memberikan keharuman bagi Indonesia karena hasil desain perangkonya akan disebar ke seluruh dunia.

"Bryan memberi kontribusi untuk mengenalkan Indonesia dan Pontianak khususnya ke seluruh dunia bahwa pelajar Indonesia juga mampu bersaing dengan bangsa lain," katanya.

Di sekolah Bryan dikenal sebagai siswa yang murah senyum dan cerdas sehingga tidak heran ia masuk tiga besar saat kenaikan kelas pertengahan tahun ini. Antara □


Baca selengkapnya..

Bryan Anak Brilian yang Fenomenal


Herkulanus Agus
Borneo Trubune, Pontianak

Kebahagiaan sedang menerpa keluarga besar SD Suster dan sanggar kreatif Khatulistiwa Children Fun Art Khatulistiwa. Anak asuhnya Bryan Jevoncia siswa kelas 2 SD mengukir sejarah fenomenal internasional.
“Keberhasilan anak-anak KHACHIFA tidak diperoleh dengan cepat dan mudah, mereka sudah cukup lama berlatih dan bekerja keras untuk menghasilkan gambar yang bagus,” ungkap tim kreatif Khatulistiwa Children Fun Art (KHACHIFA) Ary Pudyanti yang didampingi Manejernya Eva Dolorosa, Sabtu (22/9) kemarin.
Briyan Jevoncia siswa kelas 2 SD Swasta Suster Pontianak adalah contoh siswa yang berhasil sejagad. Ia yang brilian mendapat juara 1 lomba desain perangko Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tema "We Can End Poverty" untuk peringatan dekade pertama hari internasional "Education for Poverty". Prestasinya membuat orang terpana. Karena keberhasilannya di dalam menyisihkan ribuan peserta di tingkat "International Children Art Competition" usia 6-15 tahun dari seluruh dunia.
“Briyan adalah salah satu binaan yang mendapat predikat terbaik dunia,” terang Ari.
Bagaimana trik KHACHIFA membuat siswa-siswinya berhasil? Menurut Ari, pola pembinaan yang dilakukan dalam lembaganya menggunakan pola diskusi. Siswa dilatih untuk mendengarkan dan mengungkapkan kelebihan yang mereka pikirkan. Pola ini sebenarnya sangat sederhana. Hampir sama dengan pembinaan orang dewasa. Hanya saja di Kalbar pelaksanaannya masih terbatas. Dengan pola keterbukaan ini mengalir diskusi yang dibicarakan secara bersama-sama. Misalnya desain Bryan yang mengangkat kisah ibunya yang pernah menjadi penjahit baju untuk dituangkan dalam selembar kertas ukuran A4. Dalam desain tersebut, digambarkan seorang ibu yang tengah menjahit dibantu sejumlah anaknya baik laki-laki maupun perempuan. Sisa kain hasil jahitan yang tidak digunakan dibuat beragam kerajinan menarik seperti bunga maupun boneka.
Pola binaan ini juga diberikan kepada siswa-siswi lainnya yang berjumlah 30 orang.
“Pola seperti ini sebenarnya yang ingin kita terapkan,” terang Ari.
KHACHIFA merupakan sebuah kelompok belajar yang diasuh Ibu Ary Widhiasmoro. Sebuah kelompk belajar di mana anak-anak belajar dalam suasana kekeluargaan yang menyenangkan.
Karena prestasi tersebut Bryan diundang PBB ke Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat bertepatan saat peringatan hari internasional "Education for Poverty" pada 17 Oktober mendatang.
Namun hingga kini pihak KHACIFA belum mendapat kepastian dari Pemerintah. Karena di dalam MoU, keberangkatan pemenang sepenuhnya ditanggung negara. “Kita masih menunggu kepastiannya,” papar mereka.
Di samping Briyan terdapat puluhan anak binaan KHACIFA yang berhasil. Yaitu dalam Toyota Dream Car Art Contest di Jepang dengan the Third Winner. Mereka adalah Aliyarosa Taqwaaariva, SD Al Azhar kelas 4. Risang Dewandaru Samudro SD Muhammadiyah 2 kelas 4. Iona Aveline Joy SD Karya Yosef kelas 3. Alfredo SD Karya Yosef kelas 3.
International Childrens Painting on the environment-UNEP, Tromso, Norway, Juara 4 tingkat dunia Wellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Special Winner Save the sea word Bellinda dari SMP Santo Petrus Pontianak kelas 7. Finalis se-Asia Fasifik Aulia Syaffitri dari SMPN 3 Pontianak kelas 8. Alyyarosa Taqwaariva dari SD Al Azhar kelas 4. Wikan Widhiary Bagaskoro siswa SMPN 10 kelas 7. Shirleen Winona siswa SMA Santo Petrus Pontianak kelas 10. Aileen Aurelia siswa SD Karya Yosef kelas 3. Bryan Jevoncia siswa SD Suster kelas 2.
An art competition for children to design a un stamp on the thema “we can and poverty” Now York. Untuk winning satam design atas nama Bryan Jevoncia. Merit Certificates winners Alyrosa Taqwaariva, Stefanny Dian Sari, Wellinda Tjan, Rida Asananda. Untuk certtificates of recognition diraih Novella Permata Sari dan Risang Dewandaru Samudro. Selanjutnya International Atomic Energy Agency) Children’s Painting Compettition, di Viena Austria Alyarosa Taqwaariva siswa SD Al-Azhar kelas 4 keluar sebagai top word 12 finalist. □








Baca selengkapnya..

Usman Ja’far-LH Kadir No 1


Andry
Borneo Tribune, Pontianak

Merpati terbang tinggi ke langit biru. Mereka dilepaskan para pasangan cagub-cawagub di halaman KPUD Kalbar, Senin (24/9) kemarin pagi. Acara ini memang disetting KPU untuk menyiratkan tindakan simbolik yang kaya makna. Pesta demokrasi.
Merpati dikenal sebagai makhluk yang tak pernah ingkar janji. Ia selalu menuju ke titik tujuan tanpa pernah membangkang. Untuk itu Merpati pun disimbolkan sebagai pemegang amanah layaknya postman atau pak pos.
Simbolisasi itu ditujukan langsung untuk pemegang amanah puncak eksekutif bernama Gubernur Kalbar. Mereka diamanatkan erat memegang janji sebagai komitmen lisan maupun nurani: menjaga stabilitas dengan sikap siap kalah maupun siap menang.
Pagi itu pukul 09.30 matahari menyengatkan cahayanya dan seakan hendak membakar segalanya. Dampaknya pun sungguh terasa. Maklum bulan puasa. Tetapi acara tidak ikut-ikutan memanas. Seremonial tetap dingin seiring jiwa besar para pasangan calon.
Para pengurus partai dan koalisi pengusung cagub-cawagub pun tampak gerah. Mereka mondar-mandir menanti kehadiran sang cagub dan cawagub debutannya. Sama halnya dengan anggota Panwas. Mereka senantiasa mengawasi gerak-gerik dari seluruh rangkaian kegiatan yang ada, dan hal yang sama juga dilakoni lembaga pemantau.
Muspida juga tampak menyaksikan salah satu prosesi penting dalam rangkaian Pilgub 15 November mendatang. Walaupun jumlahnya tak terlalu banyak, masyarakat juga tampak mengintip prosesi ini dari kejauhan. Tak lupa kuli tinta menyebar di posisi strategis masing-masing untuk mendapatkan angle atau sudut pandang liputan yang paling aktual. Di lingkar luar aparat keamanan turut berjaga-jaga.
09.40 WIB pasangan calon HM Akil Mochtar, SH, MH dan Drs AR Mecer datang ke KPU paling dulu. Keduanya duduk di barisan paling kanan. 09.45 WIB, giliran pasangan Drs Cornelis, MH dan Drs Christiandy Sanjaya, SE, MM masuk tenda biru. Mereka memilih duduk di barisan paling kiri yang menghadap ke muka kantor KPU. Sejak kehadirannya, kedua pasangan calon ini lebih memilih untuk membisu tanpa tegur dan saling menyapa.
Berselang 9 menit kemudian, tepatnya pukul 09.54, pasangan calon Dr H Oesman Sapta dan Drs Ignatius Lyong, MM hadir dan memilih duduk berdampingan dengan barisan Akil-Mecer. Sang Meteor yang berbaju putih dengan bagian belakang bertulisan TOSS itu dengan kepiawaiannya langsung menguasai keadaan. Ia yang berpeci hitam dan berkacamata itu memecahkan keheningan dan kebisuan yang sempat melanda dua pasang kandidat sebelumnya.
“Mana Cornelis dan Akil Mochtar? Mereka berdua ini adalah sahabat saya! Sini mari kita berfoto bersama,” kata OSO dengan suara basnya. Pasangan yang dipanggil segera mendekat seperti terkena medan maghnet. “Ayo kita foto bersama,” timpalnya seraya tangannya mengembang serta merangkul akrab Akil dan Cornelis. Dengan gaya sumringah ia menepuk-nepuk pundak kedua calon Gubernur tersebut. Massa yang sudah ramai pun segera memberikan applaus.
Gaduh yang meriah. Fotografer pun tak mau ketinggalan mengabadikan momen indah ini.
“Apabila salah satu di antara kita yang menjadi gubernur, saya ikhlas. Asal jangan dia lagi yang menjadi gubernur,” katanya seraya berkelakar ngakak. Bola mata pria yang kerap disapa OSO itu berkilat-kilat. Akil dan Cornelis pun berurai tawa.
OSO yang mantan Wakil Ketua MPR RI itu memang tokoh senior di Kalbar. Ia disegani kawan maupun lawan.
Usai diabadikan wartawan, tepat pada pukul 09.56 pasangan harmonis H Usman Ja’far dan Drs LH Kadir pun tiba. UJ-LHK langsung bersalaman dengan semua pasangan calon yang telah terlebih dahulu hadir. Incumbent ini memilih duduk di antara pasangan OSO dan Cornelis dengan tak lupa menebar senyuman harmoni.
10.04, Ketua KPU Provinsi Kalbar, Aida Mokhtar, S.Ag, M.Hum secara resmi membuka “Pleno Terbuka”. Sekira 6 menit, Aida menjelaskan agenda acara pleno kepada semua pasangan calon.
Tepat pukul 10.10 Akil-Mecer mendapat kesempatan pertama guna mengambil nomor undi. Didapatkan nomor undi ke-3. Pasangan OSO-Lyong memperoleh nomor undi 1. UJ-LHK mendapat nomor undi 2 dan praktis nomor sisanya buat Cornelis-Christiandy. OSO yang memperoleh kesempatan 1 didaulat untuk memilih seekor merpati di antara empat ekor merpati yang ada. Kelak dengan cara memotong nomor yang berbungkus di kaki merpati tersebutlah nomor urut pencoblosan ditetapkan.
Kesempatan berikutnya diberikan kepada UJ, Akil dan Cornelis. Dengan percaya diri Cornelis berhasil memotong ikatan nomor urut yang berada di kaki merpati yang memang tersisa hanya seekor saja.
10.22, pasca memilih 4 ekor merpati dan berhasil memotong ikatan nomor urut yang berada di kaki merpati tersebut, merpati lalu dilepaskan oleh pasangan calon untuk terbang bebas. Merpatipun berlomba-lomba mengepakkan sayap-sayapnya menuju alam terbuka. Malangnya dari 4 ekor merpati yang dilepaskan, ada seekor merpati yang enggan mengepakkan sayapnya. Beberapa kali mengepakkan sayapnya, si merpati tetap enggan untuk terbang.
Acara harus berlanjut. Empat pasangan cagub-cawagub didaulat berdiri di hadapan anggota KPU seraya membawa ikatan nomor urut yang masih bergulung dan diselimuti plastik yang rapi bungkusnya. Adegan ini mirip seperti permainan ketangkasan ala pelajar di sekolah atau pramuka.
Ada gelak tawa, ada kerjasama, ada romantika. Para cagub-cawagub juga tampak menikmati setting KPU tersebut.
Tepat 10.25, empat pasangan itu serentak membuka nomor urutnya masing-masing. Adegan laksana lomba ini mengocok perut bagi yang jeli memperhatikan bagaimana OSO didampingi Lyong membuka dan mengintip isi undian. Begitupula UJ yang memegang gunting sedangkan LH Kadir bersibuk membuka tali ikatan. Sedangkan Akil-Mecer mesra bak sejoli membuka undian bersama-sama. Dus sorak-soraipun membahana. Di sisi lain Cornelis asyik membuka sampul undian disaksikan pasangannya Christiandy.
Momen lucu ini berjalan alami dan cepat. Akhirnya setelah sukses semua membuka undiannya, pasangan UJ-LHK kegirangan memperoleh nomor urut 1. Pasangan OSO-Lyong juga bangga memperoleh nomor urut 2 yang mereka teriakkan “peace...peace.” Jari mereka mengembang bersimbol victory atau sukses. “Wah ini nomor mantap,” kata OSO.
Akil-Mecer pun suka nomor urut 3 yang didapatkannya. Akil-Mecer mengangkat jemari bersimbol metal anak-anak muda.
Cornelis-Christiandy tetap mendapat nomor 4. Jari induknya ditekuk ke dalam. “Empat,” katanya.
Lepas dari suka dan tidak suka atas nomor yang didapatkan, semua pasangan calon saling bersalam-salaman dan akhirnya saling berpelukan. Mereka tampak mesra dan bersahabat dalam rangkaian pesta demokrasi pilgub. Fotografer kembali mengabadikan momen.
Acara berlanjut ke validasi nama, foto, gelar dan lainnya. Setelah oke, merekapun membubuhkan tanda tangan tanda setuju.
10.40, Aida secara resmi menetapkan dan menyatakan berita acara nomor 12/BA/KPU/KB/IX/2007 tentang penetapan nomor urut pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kalbar 2007 sekaligus pleno terbuka ditutup. Para pasangan cagub-cawagub pun akhirnya sibuk melayani wawancara wartawan. Usai berleha-leha dengan para kuli tinta, mereka pun undur diri. □



Baca selengkapnya..

Senin, 24 September 2007

Bupati Minta Mahasiswa Tidak Lupa Membangun Daerah

Dari Buka Puasa Bersama Keluarga Besar Sanggau

Buka puasa bersama keluarga besar Sanggau dihelat di Hotel Kini, Minggu (23/9) kemarin. Hadir sekitar 500 warga Sanggau, baik dari warga Sanggau yang mukim di Pontianak, mahasiswa yang sedang studi maupun sejumlah pejabat Sanggau yang hadir mendampingi Bupati Yansen Akun Effendi.
Yansen petang kemarin tampil dengan batik kuning dan peci hitam di kepalanya. “Tak ada fokus di luar silaturahmi untuk berbuka puasa bersama,” ujarnya didampingi Kabag Umum Pemkab Sanggau, Suhendra.
Kata Yansen, dia memesankan kepada karib-kerabat, keluarga besar Sanggau di Pontianak untuk tidak melupakan kampung halaman sendiri. “Gunakan ilmu, pengalaman dan keterampilan yang telah didapat di Kota Pontianak, di kampus-kampus atau di lembaga-lembaga manapun untuk kembali membangun Sanggau,” ujarnya.
Yansen dengan penuh semangat menyatakan, membangun Sanggau tidak bisa seorang diri. Tidak juga cukup hanya pihak Pemkab atau eksekutif, melainkan melibatkan wakil rakyat di lembaga legislatif, kepolisian, tokoh masyarakat, pendidik, dan seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu menurutnya pertemuan seperti acara berbuka puasa bersama menjadi momentum yang penting untuk terus mengingatkan membangun daerah.
Acara berlangsung semarak. Selain mendengarkan tausiah, juga tentu saja menikmati penganan yang telah disediakan.
Yansen kurang tertarik berbicara masalah politik. Terutama Pilkada di Sanggau yang akan dihadapi tahun 2008. “Masih jauh. Kita tidak ada bicara politik di acara berbuka puasa ini,” imbuhnya.
Tapi dari sorot mata dan dedikasinya, Yansen masih akan bertarung untuk Pilkada 2008. Sebagai incumbent, Yansen tetap punya kans yang besar. Prihal siapa pasangannya, waktu yang terus berproses akan menjawabnya. □


Baca selengkapnya..

Sabtu, 22 September 2007

Pada Mulanya Main-main


Banyak ide yang muncul bermula dari bermain-main. Sebutlah Goodyear. Si mega bintang dalam penemuan roda karet itu menemukan “mahakarya” dunia dari bermain-main pula. Tatkala ayahnya yang pembengkel atau montir itu bekerja, dia menumpahkan buah karet ke larutan timah panas secara main-main. Tak tahunya biji karet itu lumer dan kemudian membeku. Bekuannya kenyal dan kental. Dus dari situ Goodyear kepancit ide membuat roda kendaraan yang saat itu masih dari kayu atau lempengan besi di mana kalau roda terantuk ke kerikil atau batu saat mesin lagi berjalan—apalagi membawa banyak penumpang—sakitnya “alamak”. Nah ide di kepala Goodyer segera menebal dan mengental sehingga lahirlah inovasi ala alih teknologi dari benda padat ke benda kenyal. Pindah dari bahan roda logam dan kayu ke karet.
Karya Goodyear terus membahana dan masih digunakan hingga sekarang. Tidak hanya roda sepeda, tapi juga sampai ke roda pesawat terbang. Turun temurum generasi dari Goodyear tinggal memetik uang dari hak royaltinya.
Borneo Tribune melalui lembaga otonom pendidikannya bernama Tribune Institute juga bermula dari main-main. Main-main ini sudah menjadi hobi kru redaksi. Bahkan mungkin sudah menjadi watak lantaran “harus” meragukan segala sesuatu. Maka tak ada keyakinan yang kaku. Semua diragukan dan akan terus diuji menuju kebenaran sejati.
Jurnalis karena panggilan visi dan misinya selalu mempertanyakan sesuatu yang sudah mapan dengan 5W plus 1H: apa, siapa, di mana, kapan, berapa dan bagaimana. Misalnya apakah informasi yang diterima ini sudah benar? Apa parameternya? Siapa yang menyatakannya? Di mana kejadiannya. 5W plus 1 H. Bahkan seorang teman berseloroh kesemua itu masih belum cukup. Masih harus ditambah SWGL. Apa itu? So What Gitu Loh...(Saya tentu saja tertawa mendapat input humor intelek ini).
Terkait dengan bermain-main itulah maka ilmu jurnalistik juga dipertanyakan apakah hanya melulu stright news atau berita lurus nan lempang atau feature alias teknik penyajian berita dengan berkisah? Tak puas dengan establish tersebut, kursus dan penulisan bergaya sastrawi diikuti di Pantau-Jakarta.
Di sana instruktur Andreas Harsono—alumni Newman Fellowship di Harvard University AS—murid dari Bill Kovack—mengajar jurnalisme sastrawi sekaligus memperkenalkan teknik mendisain web-log. Empat orang sahabat saya, Asriyadi Alexander Mering, Hairul Mikrad, Tanto Yakobus dan Stefanus Akim belajar dengan antusiasme tinggi. Mereka terampil membuat blog.
Sepulang ke Pontianak mulailah blog-blog mereka tumbuh. Desainnya dibuat variatif. Bosan dengan tampilan satu beralih ke tampilan lain.
Fasilitas di dalamnya juga ditambah. Tidak hanya menyajikan teks, tapi juga foto. Bahkan terakhir film.
Koneksi web juga dibuat lebih luas. Tidak hanya Borneo Tribune, tapi juga menularkan ilmu secara internal sehingga semua jurnalis di Borneo Tribune memiliki web-log. Jadilah mereka para blogger.
Ide terus tumbuh seiring hobi bermain-main. Digagas terbentuknya komunitas blogger di tanah Borneo. Gagasan itu diterima dan menjadi kenyataan. Telah berdiri Borneo Blogger Community (BBC). Jika Anda menelusuri blog ini Anda akan mendapati sejarah berdirinya yang lengkap, siapa-siapa saja yang terlibat dan visi sekaligus misinya. Jumlah pengunjung di BBC, anggota yang terus meningkat serta jejaring informasinya.
***
Saya sebenarnya adalah pendatang baru di dunia blog, dunia web atau web-log. Saya yang duduk kerja bersebelahan dengan Asriyadi Alexander Mering di Borneo Tribune mulai tertular “virus” web-log. Sedikit-sedikit ilmu itu diserap. Tentu seraya bercanda, bergurau dan bermain-main seusai kerja.
Momentum emasnya lahir tatkala perjuangan kami menelurkan Hari Berkabung Daerah menjadi absah di level eksekutif dan legislatif Kalbar 28 Juni 2007 lalu. Saya dan Tanto Yakobus yang turut hadir dalam upacara di Mandor bersama Ir Andreas Acui Simanjaya terpercik ide membuat web-log khusus Mandor.
Dalam wawancara bersama Gubernur H Usman Ja’far, Kepala Dinas Diknas Provinsi Drs H Ngatman ide membuat web-log tersebut saya utarakan. Mereka setuju. Mereka memuji ide kreatif tersebut. Bahkan melalui informasi dunia maya akan mampu menembus pintu diplomasi antara korban Jepang dengan PM Jepang. Peristiwa Mandor 1942-1945 menelan korban jiwa warga Kalbar sebanyak 23.037 jiwa. Suatu angka yang tidak kecil.
Tanto Yakobus mengkonkretkan web itu pertama kali sepulang dari Kota Pontianak. Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit web-nya jadi. Web ini langsung dapat diakses dari mana saja. Tak urung naskah dan tanggapan muncul dari Belanda. Ini terus terang membuat saya bangga sekaligus tertantang untuk belajar. Sementara itu Tanto Yakobus sendiri terus membuat Blog bagi keluarga keraton yang turut menjadi korban keganasan Jepang dan namanya tersusun dalam bunga kusuma bangsa di Mandor.
***
Perkembangan blog di Borneo Tribune terus tumbuh. Saya punya blog dibuatkan Tanto Yakobus. Saya belajar terus bersama AA Mering, Stefanus Akim dan Tanto Yakobus sendiri. Pada gilirannya, pada 2 minggu pertama blog saya di bulan Agustus 2007 diurus dengan benar, tak urung pengunjung menembus angka 1000 dengan hits tamu 20-an negara serta nyaris dari seluruh wilayah di Indonesia.
Saya senang apa yang menjadi “main-main” membawa manfaat yang teramat sangat besar. Ilmu blog dan desainnya pun tak pelit kami bagi-bagikan kepada siapa saja. Gratis. Gratisnya itu seperti juga dalam edisi Borneo Tribune, Minggu (23/9) ini. Jika Anda cermat membaca sejak halaman 17-24, Anda akan bisa membuat web-log sendiri. Anda pun akan mempunyai teman di nusantara hingga manca negara tanpa tapal batas. Yakinlah. □















Baca selengkapnya..

Search Engine Google Tentang Borneo Tribune

Dahulu sebelum Borneo Tribune terbit dua kosa kata ini—Borneo dan Tribune—masih langka. Jika mesin pencari (search engine) Google diklikkan, maka kata Borneo atau Tribune yang muncul hanya sekitar 200 item—ada web, ada tulisan dan sejumlah pengertian-pengertian di kamus seperti Wikipidia. Rata-rata jejaring maupun pengertian-pengertian itu tampil dalam Bahasa Inggris. Tapi kini, setelah kehadiran Borneo Tribune item penjelasan itu telah berlipatganda menjadi 13.100. Ini pun data per Sabtu (22/9) malam, karena data tersebut senantiasa berkembang.
Dari angka tersebut jelas menunjukkan perkembangan yang luar biasa dahsyatnya. Di mana hanya dalam empat bulan saja Borneo Tribune bertumbuh lebih dari 3 ribu persen.
Jelas dari segi bahasa pun lebih dominan Bahasa Indonesia karena yang update adalah kita. Terlebih jejaring Borneo Tribune telah kait berkait dengan lahirnya komunitas web-log Borneo Blogger Community (BBC).
Aktivitas di dunia maya ini bukan tanpa maksud dan tujuan. Kami menyadari betul bahwa kebutuhan akan informasi tidak pernah bergeser dari pola hidup manusia di muka bumi. Dia tidak pernah mati. Demikian karena Tuhan sudah menciptakan manusia dengan segala rasa ingin tahunya, rasa ingin berceritanya, rasa ingin menjelaskannya, rasa ingin merayunya, rasa ingin melukiskannya, dan segala mimpi-mimpi. Oleh karena itu kebutuhan akan informasi tak akan pernah mati. Kecuali dunia ini telah kiamat. Di kala itu informasi memang sudah tidak ada artinya lagi lantaran umat manusia pun sudah mati serta berpindah ke lain dimensi. Kecuali informasi azali yang didekritkan Tuhan berupa hasil jerih payah atas prestasi hidupnya individu per individu dalam “long journey” di muka bumi.
Sudah takdir dari Tuhan bahwa informasi itu hanya mungkin bergeser cara menikmatinya. Informasi seperti air kopi. Dari dahulu cita rasa kopi tetap begitu-begitu juga, hanya teknik penyajiannya saja yang berbeda misalnya kopi tumbuk, kopi tubruk, kopi “pancong” atau kopi “pangku” yang ngepop di Kota Pontianak, atau bahkan kopi starbuck di mana penyajiannya dirangkai dengan kemudahan berinternet-ria.
Sekali lagi informasi tidak pernah mati kecuali cara penyajiannya yang bisa berubah tergantung kode dan mode. Tergantung merk dan trademark.
Kalau dulu hanya ada telegraph, berubah ke radio. Telegraph mati.
Kalau dulu dari radio terus berkembang ke TV, koran, internet dan kombinasi ketiganya ke media online. Bahkan radio pager pun sudah almarhum karena ketinggalan mode ketimbang SMS. Tetapi kepentingan terhadap informasi tetap saja tumbuh.
Sadar akan dahsyatnya kode dan mode informasi di internet, sejak Borneo Tribune dirancang untuk terbit perdana 19 Mei 2007 sudah benar-benar mempertimbangkan dimensi internal yang satu ini. Bahkan terus mempelajari internet itu dan kemudian memanfaatkannya secara maksimal.
Untuk itulah, jika sekarang kata Borneo Tribune diklik pada search engine Google, maka langsung terpampang situs web kami www.borneo-tribune.com. Di sana sajian online Borneo Tribune dapat dinikmati—kendati sebulan terakhir ini web tersebut kami offline-kan lantaran sedang dalam rancangan baru. Godwilling selesai pada awal Oktober nanti.
Bekap informasi Borneo Tribune diatasi dengan web-web para jurnalisnya. Masing-masing jurnalis atau reporter di Borneo Tribune mengamankan arsip tulisannya di web mereka masing-masing. Melalui jalur ini pencinta Borneo Tribune tetap tidak akan kehilangan bahan informasi yang diinginkannya.
Dari sini diketahui, pencari berita di Borneo Tribune tak hanya dari daratan Kalbar, tapi Borneo (baca: Kalimantan). Bahkan lebih luas lagi dari seantero Indonesia Raya hingga mancanegara. Puluhan atau bahkan ratusan negara sudah mengklik Borneo Tribune. Mereka hits Borneo Tribune. Mereka eksplore ke dalam-dalamnya sedalam-dalamnya hingga ke tingkat web para redatur maupun reporternya.
Dari pelacakan yang dientri untuk kata Borneo Tribune, item-item web para jurnalis Borneo Tribune relatif memenuhinya. Jika tidak percaya silahkan dicoba.
Pembaca. Kerja kami itu semua diorientasikan pada kebanggaan masyarakat Kalbar pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Kami percaya bahwa kebanggaan adalah milik bersama. Milik bangsa. Milik bangsa yang bernama manusia. □



Baca selengkapnya..

Kompetisi dan Menjaring Prestasi

Era sekarang eranya digital. Tidak hanya dalam hal hardware (perangkat keras), tapi juga software (perangkat lunak). Sampai tak urung pakar ESQ (emotional spiritual quotient) Ir Ary Ginandjar pun menyatakan sekarang abadnya digital.
Jika hardware, software hingga spiritualpun sudah masuk dalam ranah digital terlebih pula media seperti Borneo Tribune. Sudah dengan sendirinya berjumpalitan dengan digital yang satu dengan digital yang lain. Dari kamera digital, masuk ke komputer digital. Dari komputer digital masuk ke pembaca digital. Ujung-ujungnya membuat respon “gatal” pada kuping untuk lebih mencari tahu. Membuat gatal akal untuk berpikir lebih maju. Di era digital sumber datum begitu kaya, tinggal bagaimana tangan koki memasaknya. Dus, pembaca tinggal santap laksana hidangan empat sehat lima sempurna. Bisa ditambah lagi dengan cuci mulut segala.
Karena kesenyawaan digital itulah maka Borneo Tribune melalui lembaga otonom pendidikan Tribune Institute-nya menggelar kompetisi untuk menjaring prestasi. Didapuklah even bernama Blog Web Design.
Kegiatan yang lahir dengan ide instan itu memberikan hasil wah luar biasa. Dari sisi peserta membludag. Dari hasil karya juga “meledak”. Tampak dari karya-karya peserta yang tidak hanya mampu menyajikan teks, tapi juga konteks. Tidak hanya news, tapi juga views. Tidak hanya berita, tapi juga bercerita. Ia melanglang buana hingga menyajikan film-film singkat buatan tangan mereka sendiri. Snapshot camera digital yang ditayangkan secara digital.
***
Blog Web Design itu digelar 14 Agustus lalu. Jumlah pesertanya 32 orang dari hanya 20 yang direncanakan.
Tingkatan peserta yang disasar adalah SMU atau sederajat, namun yang datang lebih dari itu. Mulai dari guru hingga anggota Dewan Kota Pontianak.
Hati siapa yang tak sumringah melihat kursus yang dibalut dengan kompetisi itu mendapat sambutan begitu hangat. Tak urung Walikota Pontianak, dr H Buchary Abdurrachman pun sedia membuka kegiatan di ruang rapat miliknya di Pemkot Pontianak.
Pria pejabat walikota dua periode itu dengan bangga mengatakan kebangkitan nasional dari bumi khatulistiwa di tangan para blogger. Betapa jauh pandangan Buchary itu lantaran dengan informasi yang tiada tapal batas segala potensi dan kreasi dari Kota Pontianak pada khususnya bisa merembes di seluruh penjuru dunia.
***
Pemandangan kondisi kursus sekaligus kompetisi di Tribune Institute miliknya Borneo Tribune amat sangat mengasyikkan. Peserta memenuhi ruangan redaksi. 30 komputer berisi penuh.
Di ruangan 5x10 meter itu layar monitor semua terbuka dengan rancangan web-log. Asriyadi Alexander tampil sebagai instruktur berdampingan dengan hobiis web-log Yaser. Masuk dalam tim instruktur ini Stevanus Akim dan Tanto Yakobus.
Kursus selama dua hari membuahkan sekitar 32 web. Isinya tanpa dinyana aneka warna. Ide-ide tumpah ruah di dalamnya.
Tujuan kegiatan di mana setiap individu bisa membuat media mencapai sasaran. Media masing-masing individu itu bahkan bagaikan candu menyita perhatian masing-masing peserta untuk terus diisi, di-update dan ditumbuh-kembangkan.
Kompetisi untuk menjaring prestasi tak sekedar ilusi. Putra-putri Kalbar ternyata mampu berbuat sesuatu. Jika modus operandi kursus dan kompetisi ini diteruskan secara reguler akan semakin membawa dampak pemanfaatan internet dengan maksimal. Pada gilirannya kita tak akan sanggup lagi menghitung derivat manfaat dari penyaluran hobi pada bentuk-bentuk positif ini. Oleh karena itu Borneo Tribune melalui Tribune Institute-nya juga bertekad menggalang kekuatan untuk meneruskan ide ini agar terus menggelinding laksana bola salju. Makin lama makin menggulung besar, besar dan besar.
Ingat pada pepatah untuk menjadi orang besar harus berpikir besar. Sebagaimana mau wangi bertemanlah dengan penjual minyak wangi. □


Baca selengkapnya..

Kembalikan Pakaian dalam Keadaan Bersih

Drs H Muin Ahta

Ketika lahir setiap manusia dalam keadaan suci bersih. Kondisi yang fitrah, suci dan bersih tersebut diibaratkan dengan pakaian yang bersih tanpa noda. Kondisi tersebut adalah anugerah dari Tuhan Sang Pencipta.
Dalam perjalanan hidup manusia, pakaian yang bersih itu berseteru dengan debu, dan berbagai kondisi cuaca. Sebagian besar pakaian itu menjadi kotor. Lalu bagaimana menjaganya agar tetap bersih?
Tuhan Yang Maha Pengasih memberikan mekanisme berpuasa. Berpuasa sama dengan membersihkan jiwa dan raga. Dengan demikian pakaian yang utama yakni takwa—sikap hidup yang patuh kepada segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya—adalah indikator pakaian kembali suci dan bersih.
Tujuan puasa jika diteliti dari QS 2:183 adalah, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Pakaian yang terbaik bagi setiap manusia adalah takwa.
Derajat takwa secara batin diperoleh dengan latihan mengendalikan hawa nafsu, di mana sejak terbit matahari sampai terbenam panca indra dibiasakan patuh dan taat hanya kepada Allah. Sesuatu yang halal menjadi haram untuk dimakan dan dalam kondisi tertentu juga disentuh. Katakanlah suami-istri yang sah, semua karena Allah.
Kemampuan pengendalian diri ini menimbulkan sifat sabar, tekun dan teliti dengan pengawasan melekat dari Allah. Kesemua sifat itu membawa pada ketenangan dan kesuksesan. Baik di dunia maupun di akhirat.
Amaliah Ramadan seperti salat dan sahur juga melatih disiplin pada waktu. Kesemua itu mekanisme untuk membersihkan jiwa-raga dalam Islam. Pada sisi lain juga diajarkan zakat, infak dan sadaqah sebagai mekanisme pembersihan jiwa-raga.
Infak bersifat material. Sadaqah lebih luas dari infaq, yakni senyum pun bisa menjadi sadaqah. Sebagaimana zikir juga adalah sadaqah. Dengan demikian setiap orang bisa bersadaqah.
Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu. Begitupula infaq dan sadaqah. Kegunaan zakat, infaq dan sadaqah ini untuk menjaga keseimbangan hidup antara si kaya dan si miskin serta aset utama membangun umat dalam bentuk material. Pembangunan diorientasikan bagi kesejahteraan umat. Dengan demikian tak ada ketimpangan sosial seperti kemiskinan yang sekarang menghantui dunia. (Disarikan Nur Iskandar dari khutbah Jumat di Masjid Raya Mujahidin (21/9) lalu) □


Baca selengkapnya..

Jumat, 21 September 2007

Registrasi Jamaah Masjid Raya Mujahidin

Oleh: dr H Buchary Abdurrachman

Sebagai Ketua Harian Masjid Raya Mujahidin saya ingin menjelaskan program baru dari takmir masjid, yakni Program Database Jamaah Masjid Menuju Masjid Makmur dan Mandiri. Singkatnya disebut Registrasi Jamaah Masjid Raya Mujahidin. Program ini sangat baik untuk diteladani setiap masjid di Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya.
Program Database Jamaah Masjid Menuju Masjid Makmur dan Mandiri untuk menghimpun data atau meregistrasi para jamaah khususnya jamaah Masjid Mujahidin. Dari data itu diketahui identitas jamaah, alamat, nomor telepon rumah dan nomor handphone. Diharapkan dengan memanfaatkan teknologi canggih saat ini, pihak yayasan dapat menginformasikan kegiatan-kegiatan dakwah yang dilaksanakan di Masjid Mujahidin dan juga untuk mengingatkan atau mengimbau para jamaah untuk berinfaq atau menunaikan zakat di Masjid Mujahidin.
Di Masjid Mujahidin jamaah tetapnya sekitar 3000-7000 orang. Jamaah sebanyak itu jika diorganisir dengan baik, terarah dan rapi, diyakini akan menghasilkan sebuah perubahan yang besar dan dapat memberikan manfaat bagi para jamaah.
Sukses atau tidaknya program yang akan diluncuran ini juga kembali kepada para jamaah. Partisipasi para jamaah ini sangat diharapkan.
Ada banyak manfaat yang bisa dipetik melalui program database ini antara lain para jamaah dapat saling mengenal antara yang satu dengan yang lainnya dan dapat mempererat tali silaturahmi.
Melalui infaq yang diberikan para jamaah melalui program menuju masjid makmur dan mandiri diharapkan infaq yang disalurkan oleh para jamaah dapat menambah fasilitas, penambahan sarana dan prasarana pendukung, untuk kegiatan operasional serta kelancaran kegiatan dakwah yang tentunya manfaatnya akan kembali kepada para jamaah.
Sebagaimana dapat disaksikan oleh shoimin dan shoimat semua, bahwa ketika memasuki Masjid Raya Mujahidin sejak tadi pagi (kemarin, red) sudah ada tim yang melakukan registrasi. Tim akan terus bekerja dan setiap minggu dilakukan evaluasi. Kita semua tentu berharap program ini dapat berjalan sebagaimana mestinya. Kesuksesannya akan menjadi contoh bagi masjid-masjid lain di seantero Kalbar. Amin ya rabbal ‘alamiin. (disarikan kembali oleh nur iskandar) □










Baca selengkapnya..

Debut Fenomenal Mujahidin FM

Dapat Dinikmati Seluruh Dunia

Bisa jadi bagi Mujahidin FM, inilah sebuah proyek dakwah, Allah yang menjaga, dan Allah jualah yang menjamin. Maka memang tidak rugi bagi para komunitas broadcaster dan kru yang bergabung di Mujahidin FM untuk terus menggeliat, kerja keras dan bekerja bersama Mujahidin FM dalam berdakwah, di bawah PT. Radio Swara Mas Mujahidin Madani.

Mujahidin FM fenomenal? Kenapa tidak. Lihatlah belum lagi setahun kehadirannya di Bumi Khatulistiwa, animo masyarakat terhadap radio yang mengusung icon Radio Dakwah ini sangatlah luar biasa. Hal ini dibuktikan dengan begitu banyaknya apresiasi yang ditunjukkan masyarakat terhadap radio yang baru berdiri pada 1 Muharram 1427 H.

“Jika ada saja sedikit kesalahan pada penyiaran, pendengar secara aktif langsung memberikan respon pada kami dan Alahamdulillah semuanya di lakukan secara santun dan bersahabat,” ungkap Dirut Radio Mujahidin FM, Faisal Abu Ceniabil

Katanya, kalau kita tilik lebih jauh, kehadiran radio baru ini memang terlihat berbeda. Dengan mengusung icon Radio Dakwah, radio ini memang terkesan sangat berhati-hati dan konsisten dalam mengeluarkan suatu statement dari naskah siaran yang akan disiarkannya. “Memang tidak mengherankan mengusung nama dakwah tentulah bukan perkara mudah. Kerana ini menyangkut pertanggungjawaban tidak hanya di dunia namun terlebih lagi di akhirat,” imbuh Faisal yang akrab disapa Ichal.

“Begitulah, terlebih lagi jika menyangkut ayat Alquran ataupun hadits, kami memiliki script writer yang bertugas membuat naskah yang layak naik siaran. Penyiar diwajibkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada script writer terhadap naskah yang diperkirakan statementnya tidak terlalu jelas atau aneh. Hal ini di latarbelakangi azzam (komitmen) kami untuk senantiasa mengedepankan dalil-dalil atau hujjah yang kuat dan shohih,” jelasnya.

“Ini penting, karena kita melayani umat, pendegar adalah umat, sehingga kita berharap yang sampai kepada mereka benar. Jikapun ada kekurangan dan kesalahan, kami senantiasa terbuka untuk mendengarkan dan menerima masukan,” tambah Ahmad Fadhly S.Sos, salah satu script writer Mujahidin FM.

Young and Exelent
Mungkin itulah dua kata yang bisa disematkan kepada radio baru ini. Sebagai pelopor Radio Dakwah pertama di Kalimantan Barat, Mujahidin FM mengedepankan inovasi demi kebutuhan umat. Padahal ia masih tercatat belumlah lagi setahun mengudara di Bumi Khatulistiwa.

“Terobosan fasilitas layanan Free Call 0800-140-1058 kami alhamdulilah tergolong sukses dan diminati pendegar. Layanan Free Call adalah layanan yang dibuka pada setiap program-program yang bernarasumber dan program khusus request nasyid (NPIF). Gratis, pendengar tidak membayar sepeserpun. Dengan demikian kami turut memudahkan umat menggali ilmu, tanpa mempersulit,” demikian yang dituturkan Direktur Utama Mujahidin FM, Faisal Abu Ceniabil.

Kendati bisa ditebak melalui namanya, bahwa radio ini merupakan radio untuk komunitas muslim, namun tidak menjadikannya tertutup bagi komunitas di luarnya. Radio ini memang dirancang untuk semua kalangan, insya Allah semua golongan dan kemaslahatan umat. Bahkan pada siaran percobaan perdananya, sebagaimana yang dituturkan oleh Irene Masyithah ST, Mantan Programme Director Mujahidin FM, radio ini menerima telepon dari seorang yang meminta diajari lebih jauh mengenai apa itu Islam. Pengalaman ini menjadikan Mujahidin FM dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas dan kesiapannya dalam melayani umat.

Sebagai radio yang mendiri, Mujahidin FM memiliki segmen pasar yang insya Allah luas dan mengutungkan. Terlebih lagi dengan kehadiran terobosan barunya : Radio Streaming dengan situs www.mujahidinfm.com, radio ini ternyata akan live dan bisa didengar di seluruh dunia. Maka bagi yang ingin memasarkan produknya melalui Mujahidin FM insya Allah akan mendapatkan partner yang terpercaya serta bisa dengan memperkenalkan produk secara luas, tutu Andin Buhabzen, Manager Marketing.

Kehadiran situs Mujahidin FM ini juga membuktikan komitmen mereka dalam mempermudah pendengar untuk mengakses radio dakwah ini kapan saja dan di mana saja. “Dengan demikian, kami dapat memenuhi keinginan pendegar untuk dapat mengakses ilmu dan kebaikan di mana saja berada. Sehingga kebaikan, ilmu dan amal senantiasa menghiasi hari-hari kita. Dengan demikian, peran kami sebagai alat informasi, komunikasi, edukasi dan hiburan, dapat kami jalankan secara lebih luas,” ujar Sisilia Wirassari A.Md selaku Programme Director Mujahidin FM.

Inovasi-inovasi Mujahdin FM ini memang cukup menarik untuk kita amati. Tak pelak ia telah menjadi salah satu radio yang tak dapat dipandang sebelah mata akan keberadaannya. Tertariknya masyarakat terhadap radio ini terlihat ketika Mujahidin FM membuka lamaran baru untuk menduduki posisi penyiar dan administrasi April 2007 kemarin. Di luar dugaan, jumlah pelamar mencapai angka 180 orang. Padahal saat itu radio ini baru berusia sekitar 4 bulan kehadirannya.

Untuk Ramadan kali ini, Mujahidin FM lebih extra dalam bekerja. Apalagi telah hadir program-program khusus Ramadan. Jam siar pun ditambah. Jika pada hari-hari biasa Mujahidin FM mulai on air dari pukul 05.00-21.00, khusus bulan Ramadan ini Mujahidin FM sudah dapat dinikmai sejak pukul 02.00-21.00.
Acara-acara khusus Ramadan yang dapat dinikmati antara lain : Fajar Kemenangan, Qur’an Tafsir Circle, Gen-Q Alhamdullilah, Mengejar Lailatul Qodar dan Embun Subuh. Untuk lebih menyerapi makna dan berkah Ramadan, format siaran pun nuansanya dikondisikan lebih berbeda, di mana porsi murottall Al-Quran diperbanyak dan hampir mendominasi setiap program penyiaran.

Simak terus Mujahidin FM frekuensi 105,8 dan senantiasa nantikan terobosan-terobosan selanjutnya. Mujahidin FM dapat dinikmati pada pukul 05.00-21.00 dan sekali lagi dapat dinikmati melalui situs www.mujahidinfm.com. Insya Allah. □


Baca selengkapnya..

Keajaiban Matematis Ramadan

Oleh: Ustadz Anton Nasution

Syahru Ramadaanalladzi unzila fiihil Quran. Hudallinnaasi wabayyinaati minal huda walfurqaan. Di pertengahan Ramadan diturunkan Alquran. Petunjuk bagi umat manusia yang jadi pembeda antara yang benar dan yang batil.
Syahru berarti bulan. Kata syahru disebut 12 kali di dalam Alquran. Rahasia Tuhan bahwa dalam satu tahun terdapat 12 bulan.
Kata ayyam berarti hari. Disebutkan 365 kali di dalam Alquran. Lagi-lagi jumlah hari dalam satu tahun lebih kurang 365. Inilah matematika yang tersingkap dari Alquran. Alquran diturunkan awal mulanya pada 17 Ramadan di Gua Hira, bukit Jabal Nur dengan penyampai firman Allah kepada Nabi Muhammad adalah Malaikat Jibril. Alquran adalah pedoman keselamatan umat manusia di dunia dan di akhirat.
Satu hal lagi, yakni kata yaum. Disebutkan sebanyak 30 kali di dalam Alquran. Jumlah kata itu menunjukkan banyaknya hari dalam satu bulan.
Ramadan berasal dari sejumlah gugus kata aksara Arab. Secara harfiah berarti pembakaran. “Ramada” berarti bakar. Secara maknawiah Ramadan berarti masa pembakaran dosa-dosa dengan menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa agar terwujud sifat takwa. Takwa berarti kemampuan mengerjakan hal-hal yang diperintahkan Allah serta menjauhi semua larangan-Nya.
Ramadan berakar pada kata Ra, Ma, Dha dan Nun. Ra maksudnya berpuasa karena Radiallah. Artinya puasa untuk mencari ridha Allah. Bukan puji-pujian manusia.
Puasa adalah rahasia antara si pempuasa dengan Allah. Sebab betapa bisa seseorang berbohong dia berpuasa atau tidak dan hanya dirinya serta Allah saja yang tahu. “Puasa itu untuk-Ku,” kata Allah.
Ma maksudnya maghfiratullah. Artinya ampunan dari Allah.
Ramadan adalah bulan perlombaan untuk mencapai derajat takwa. Karena bersifat lomba, maka akan ada hadiahnya. Hadiahnya adalah takwa. Sebaik-baik bekal adalah takwa. Sebaik-baik pakaian atau perhiasan adalah takwa.
Karena Ramadan bersifat lomba tentu ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang biasanya berjumlah amat sedikit.
Kita tentu tidak mau kalah dalam ibadah puasa. Karena kalau kalah, sama saja dengan lapar dan dahaga yang sia-sia. Kalau hal itu yang terjadi maka kita rugi besar.
Akar kata terakhir dari Ramadan adalah nun. Nun menyiratkan nikmatullah. Nikmat dari Allah.
Bagi orang yang berpuasa, reguk pertama dari berbuka puasa betapa nikmatnya. Terasa sesedikit apapun harta benda besar artinya. Bahkan secara psikologis puasa mendekatkan hubungan antara si kaya dan si miskin.
Di dalam Ramadan juga ada malam lailatul qadar. Malam ini adalah malam kenikmatan bagi umat Muhammad SAW. Karena malam kemuliaan lebih baik dari ibadah 1000 bulan atau 84 tahun.
Ramadan dan Quran hubungannya sangat dekat. Hubungan keduanya sama dengan kue doko-doko atau kelepun. Ketan adalah Ramadannya, sedangkan gula merah/inti adalah Qurannya. Jika tidak ada salah satunya, rasanya menjadi tidak enak.
Umat jangan kuatir tidak bisa membaca Quran karena yang mengajar adalah Allah. Lihat Quran Surah Ar Rahman. “Ar Rahmaan. Allamal Quraan. Khalakal insaan...” (Disarikan kembali oleh Nur Iskandar dari kuliah zuhur di Masjid Raya Mujahidin) □


Baca selengkapnya..

Laporan Perjalanan Rektor Untan Dr H Chairil Effendi dari German (2)


Rotary Club Bantu Dosen Tugas Belajar

Perhatian Swiss German University (SGU) tidak hanya terhadap Untan sebagai sebuah lembaga mitra riset dan kerjasama ilmiah, tapi juga terhadap dosen-dosen yang sedang tugas belajar.
Menurut Rektor, Dr H Chairil Effendi ada lima dosen Untan yang tugas belajar di SGU, mereka semua punya kinerja yang baik sehingga membuat harum nama Untan di mata SGU. Dari lima orang itu tiga orang baru saja menyelesaikan programnya. “Kini tinggal dua orang dan kami menemuinya,” ungkap Chairil.
Dengan kunjungan langsung Chairil itu dapat diketahuinya bahwa dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar, para dosen tugas belajar itu juga butuh bantuan finansial. Terlebih biaya hidup di Eropa sangat mahal.
“Sudah menjadi rahasia umum bahwa dana beasiswa bagi para dosen untuk menyelesaikan strata dua atau tiga adalah pas-pasan belaka. Berbeda jika S2 dan S3 di Indonesia. Di Eropa jauh lebih mahal sehingga banyak keperluan yang mesti ditutupi. Apalagi saat penelitian dan penyelesaian tugas akhir,” ungkap Chairil.
Melalui proses kerjasama seperti yang diteken dalam MoU, para dosen Untan yang “kesulitan” dana dapat dibantu. SGU juga memberikan bantuan.
Tak hanya bantuan langsung dari SGU, dua orang dosen Untan di sana juga mendapatkan bantuan dari Rotary Club atas rekomendasi dari Rektor SGU.
Chairil meyakinkan dalam konteks kerjasama antara Untan dan SGU pola-pola kerjasama terus diperbaiki. Termasuk bagi dosen-dosen yang tugas belajar di German. “Kita mau mereka sedapat mungkin tidak terbebani dengan biaya,” ungkap Chairil. Tetapi, lanjut dia, sisi kreatif dari seorang dosen yang tugas belajar ke luar negeri juga amat sangat dituntut sebaik-baiknya. “Tak sedikit pula dosen yang tugas belajar di luar justru surplus. Tak jarang di sana mereka mendapat proyek-proyek penelitian yang bisa meningkatkan kualitas intelektual juga material,” imbuhnya.
Selama di German Chairil juga dibawa travel ke berbagai pusat intelektual dan kebudayaan. Antara lain ke pusat-pusat kota di German seperti Collocium, musium-musium, pusat-pusat keramaian hingga ke pusat pelatihan tenis ternama dunia: Barcelona.
Chairil mengaku berdecak kagum pada German. “Wajar German diacungi jempol dalam hal intelektual dikarenakan sikap hidup warganya yang disiplin, fokus, enjoy pada bidang kerjanya serta amat sangat menghargai waktu. Mereka sangat disiplin,” ujarnya.
Menurut Chairil di sisi transportasi tak ada keterlambatan barang semenit pun yang ia rasakan. Semua tertib. “Jika setiap diri mau maju dapat mencontoh keteladanan warga German. Begitupula untuk masyarakat kampus. Yang tak boleh dicontoh hanyalah pergaulan bebas,” katanya. Yang terakhir itu bertentangan dengan etika dan moral yang berlaku di Timur. □


Baca selengkapnya..

Rabu, 19 September 2007

Laporan Perjalanan Rektor Untan Dr H Chairil Effendi dari German (1)


Untan Jalin Kerjasama dengan SGU

Universitas Tanjungpura dilirik Swiss German University (SGU) untuk menjalin kerjasama. Dipilihnya Untan karena terdapat sejumlah dosen yang meneruskan pendidikan master dan doktor di SGU. Untan juga dinilai tepat karena potensial dari berbagai hal. Untuk itulah Rektor Untan, Dr H Chairil Effendi diundang kehadirannya di German.
Kehadiran Chairil disambut Prof Dr Jurgen. Ia pejabat dekan di SGU. Dahulunya Jurgen pernah bertugas di Jakarta sehingga bahasa Indonesianya lumayan baik.
Dalam pandangan Chairil kondisi kampus-kampus di SGU pada khususnya dan German pada umumnya sudah sangat maju. Kemajuan itu dapat pula dilihat dari pola pikir dan prilaku masyarakatnya seperti kebersihan, kedisiplinan, ketertiban dan sebagainya.
Chairil melihat kampus-kampus tertata dengan sangat rapi dan bersih. Nyaris tak ditemukannya parkir kendaraan di sembarang tempat, maupun dinding kampus yang dicorat-coret.
Kedatangan Chairil di SGU di Kota Zoest disambut oleh Rektor SGU. Memorandum of Undertanding (MoU) atau kesepakatan kerjasama sudah dipersiapkan. Isi kesepakatan itu dalam bentuk program tugas belajar, pertukaran dosen dan riset bersama.
Sebelum meneken MoU, Chairil yang didampingi Ir Suryanto yang juga dosen di Fakultas Teknik mengunjungi satu kawasan renewable energy alias kawasan energi terbarukan.
Daerah ini tepatnya disebut pedesaan. Di sana riset kampus berjalan dengan kehidupan masyarakat desa setempat di mana kotoran sapi, kambing ataupun babi diolah sedemikian rupa sehingga menjadi energi listrik.
Desa renewable energy ini tidak besar, tapi energi listrik yang dibutuhkan warganya terpenuhi oleh energi biogas itu sendiri. Ini menjadi pelajaran berharga yang dapat diterapkan Untan.
Untan dalam pandangan Chairil dengan kerjasama SGU dapat mewujudkan desa-desa pesisir atau pedalaman dengan energi terbarukan ini. Apalagi alat pengolah energi biogas juga tidak mahal.
Energi yang terbarukan ini dinilai Chairil sangat tepat dikerjakan Untan bersama masyarakat desa pesisir maupun pedalaman karena akan mendapatkan banyak keuntungan antara lain energi listrik tercukupi, PLN tidak menanggung beban berat untuk melayani masyarakat luas, dan peternakan pun akan meningkatkan pendapatan asli masyarakat. (seperti dituturkan kepada nur iskandar/bersambung)


Baca selengkapnya..

Buka Puasa Bersama AJI-FLEGT

Momentum Ramadan juga dimanfaatkan organisasi Aliansi Jurnalis Independen dan Forest Law Enforcement, Governance and Trade (FLEGT) untuk berbuka puasa bersama.
Acara buka puasa bersama AJI dan FLEGT bertempat di Hotel Kapuas, Rabu (19/9) kemarin dipimpin Sekretaris AJI Kalbar Aswandi. Hadir sekitar 20 aktivis pers maupun koordinator FLEGT.
Usai berbuka puasa dan salat Maghrib, acara dilanjutkan dengan dialog. Topik utama membahas program kerjasama antara AJI dan FLEGT. Khususnya mengenai kampanye perdagangan legal untuk hutan dan hasil hutan.
Hasil dialog disepakati dibentuknya media center yang berfungsi mewujudkan bahan propaganda berupa bulletin kehutanan. Wujud konkretnya masih akan dibahas lebih lanjut. (nuris) □


Baca selengkapnya..

Senin, 17 September 2007

I Feel Very Happy Today

Today I feel very happy. My work running well, even I have to go to Mempawah and Singkawang in fasting condition. Singkawang is the second big city in West Kalimantan. It takes 145 km away from Pontianak City. Mempawah is the munipical city in Pontianak Regency. Mempawah nearest in Pontianak. It just 80 km.
I go to Mempawah and Singkawang with my best friends, Hairul--Dedek-Mikrad and Rustam Khotib. We use Avanza. A small car but I feel very convenion.
In Mempawah we talk with Chief of Borneo Tribune Beareu Johan Wahyudi and Singkawang with Mujidi. We talk to many others too. They are legislators, some top leaders and so on. We talk about so many problems in West Kalimantan.
We go from Pontianak at 09.00. We arrive in Mempawah at 11.00 and till Singkawang at 15.00.
We move to Pontianak again it takes 16.30 WIB.
The weather so very clearly. I like it. I enjoy with this travel. I love traveling too.
As a journalist I get so many ideas. I tolk to Dedek and Rustam. And they gave me a good respons.
At 17.42 "azan" shouted from mosque. We stop in Sungai Duri. We broke fasting in Padang Resto. Oh...delicious! Sure!
We pray in our heart, "Thanks God with this foods, this verynice travel and doing an excellent work."


Baca selengkapnya..

Mujahidin Maju Selangkah Lagi dengan Multi Media

Tak salah Masjid Raya Mujahidin menjadi Islamic Center utama di Kalbar karena inovasinya tiada henti. Setelah maju selangkah dengan pendirian Mujahidin FM, Balai Saji dan rehabilitasi masjid yang megah dan modern, juga pelayanan ibadah dengan sajian multi media.
Penerapan layar putih seukuran 4x4 meter dengan menggunakan monitor infocus menjadi sumber perhatian utama jamaah akhir pekan kemarin. “Ini penerapan yang perdana untuk salat Jumat,” ungkap Dr Wasi’an, Bagian Peribadatan dan Kemasjidan Masjid Raya Mujahidin.
Pengalaman pertama itu dirasakan jamaah pada (14/9). Layar itu terpampang lebar di sisi kanan mimbar khatib. Di layar itu muncul wajah ulama muda yang ketika itu sedang naik mimbar Ustadz Drs H Abdul Azis Ambo Lepo.
“Dengan semakin ramainya jamaah masjid—apalagi bulan suci Ramadan—kita ingin melayani mereka—dengan setiap pasang mata bisa melihat siapa khatib yang sedang naik mimbar,” ujar Wasi’an yang juga staf pengajar di Fakultas Pertanian, Untan.
Jamaah pun merasa terpuaskan. “Ini baru masjid yang inovatif,” ungkap Haji Abdul Hadi. “Selaku jamaah saya merespon positif. Saya jadi tidak mengantuk,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Bambang. Kata dia, ia kebetulan lewat di kawasan Jalan Ahmad Yani namun terdengar azan yang merdu dari menara Mujahidin. “Saya mampir dan berada di serambi masjid. Saya masih bisa melihat dari layar besar siapa yang sedang menjadi khatib,” tutur pegawai pertanian dari Sintang itu memuji inovasi pengurus masjid.
Diakui Bambang inovasi ini patut ditiru oleh masjid-masjid lainnya di Kalbar. Terlebih pada saat jamaah sedang padat. Apalagi menurutnya penerapan multi media itu tidak mahal dan rumit. Cukup menggunakan sebuah laptop dan infocus dengan layar lebar. “Semakin baik jika diterapkan pula pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha,” usulnya.
Pada saat Mujahidin menerapkan multimedia, yang bertugas mengatur laptop dan infocus adalah H Muhammad Nur Hasan, SE. “Ini kita lakukan pertama kali. Usulnya dari Muis salah satu pegawai masjid,” ungkapnya.
Menurut Nur Hasan, ide Muis itu disalurkan dan mendapat respon positif dari jamaah. “Insya Allah akan kita teruskan pada Jumat-Jumat mendatang,” ungkapnya.
Kata Nur Hasan, penerapan multi media sesungguhnya bukan hal perdana di dalam masjid Mujahidin. Pada hari-hari besar dan penceramah-penceramah nasional datang sudah diterapkan. Tapi untuk Jumatan di bulan Ramadan memang baru pertama kalinya.
Nur Hasan mengaku gembira bisa melakukan pelayanan yang baik terhadap jamaah. “Kami memang ingin sekali Mujahidin ini menjadi Islamic Center yang inovatif,” tuturnya. □




Baca selengkapnya..

Minggu, 16 September 2007

Diklat Jurnalistik Jam 3 Subuh

Belum pernah terjadi dalam sejarah hidupku ada memberikan diklat jurnalistik pada pukul 03.00 dini hari. Pengalaman ini baru aku rasakan kemarin, Minggu (16/9) di Harian Borneo Tribune.
Aku terperanjat dibangunkan rekan sekerjaku di kantor Borneo Tribune, Iskandar. Lay outer yang aktivis pers kampus yang baru pulang dari KKN ini mengatakan, "Bang, peserta diklatnya sudah pada datang."
Aku yang tertidur di mushola kantor segera bangkit. "Kamu mau pulang?" kataku seraya melihat jam tangan. "Sudah pukul 3," benakku membaca.
Pekerjaan di kantor hari itu tuntas pada pukul 12. Saya masih terlibat diskusi bersama Yaser, AA Mering dan Muhlis Suhairi hingga pukul 01.00. Jadi ada waktu istirahat kira-kira dua jam. Kami larut dalam diskusi seputar jejak emas pemuda Kalbar. Ada satu rangkaian kompetisi yang sedang kami garap.
Dengan mata yuyu aku pergi ke toilet. Dengan sedikit air kubasuh wajahku. Fresh.
Adik-adik kampus datang bertandang. Jumlah mereka 10 orang. 8 cewek dan 2 orang cowok. Semua datang dengan antusiasme yang tinggi. Tentu saja. Kalau tidak tinggi mana mungkin mereka mau datang di kala kawan-kawan sebayanya pulas tidur.
Ke-10 mahasiswa dari Universitas Tanjungpura itu bersahur ria di dapur redaksi. Aku sendiri diajak bersahur dengan mereka, tapi aku enggan. Aku rupanya malu untuk terlibat makan bareng dengan mereka. Aku hanya mendampingi sambil mereguk segelas air dan tiga biji kurma. Komputer dan internet masih menyala di depanku.
Usai sahur bareng itu, ada waktu setengah jam untuk memulai sesi. Materi hari ini adalah jenis-jenis tulisan jurnalistik. Materi ini sudah menjadi kesepakatan kami dari sebuah pelatihan yang mereka (para peserta) inginkan. Materi ini adalah materi kedua setelah mereka mengikuti pertemuan pertama berupa perkenalan pendidikan jurnalistik ala Borneo Tribune. Lembaga pendidikan jurnalistik di Borneo Tribune sendiri kami beri nama Tribune Institute.
Ke-10 peserta itu memang tegar. Tiada kantuk yang menyerang mereka hingga waktu imsak terdengar dari masjid di dekat kantor. Seteguk air masih dapat membasahi tenggorokanku. Aku menyediakan air mineral di freezer yang terdapat di ruang kerjaku. Memang ke-10 peserta ini trainingnya di ruang kerjaku di hari ke-3 Ramadan.
Azan pun tak lama berkumandang. Kami salat subuh berjamaah. Berzikir dan berdoa bersama. Lalu seusai itu semua kami lanjutkan lagi "sharing" ilmu kepenulisan hingga pukul 06.00 WIB.
Tulisan yang sudah dibuat oleh beberapa orang di antara mereka yang mereka setor lewat emailku kukupas. Saya tentu saja tidak pelit untuk memuji bahwa tulisan mereka hebat-hebat.
Dalam benak saya bahkan berpikir, anak-anak muda Kalbar ini jika dibina dengan benar insya Allah akan bisa menjadi penulis-penulis besar. Mereka akan mencatatkan sejarahnya dengan tinta emas. Semoga.

Baca selengkapnya..

Sabtu, 15 September 2007

Welcome Ramadan di Borneo Tribune

Semula liputan khusus Ramadan hendak dibuat menyebar seperti biasanya berita-berita masuk sesuai dengan desk-nya. Namun redaksi Borneo Tribune berpikir lain. Setiap peristiwa mesti diberikan perlakuan khusus.
Ramadan yang merupakan bulan suci paling ditunggu-tunggu umat Islam merupakan even besar. Banyak aktivitas yang muncul di bulan yang penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini. Sebut saja pasar juadah dengan aneka ragam jenis penganannya. Yang tak pernah muncul di 11 bulan lain, muncul di bulan ini. Oleh karena itu pasar juadah pun menjadi kekhasan Ramadan. Belum lagi kuliah subuh Ramadan, safari Ramadan, aneka jenis pelatihan hingga berujung pada even besar lainnya bernama lebaran Idul Fitri. Kelak akan banyak pejabat maupun pengusaha yang open house.
Kami akhirnya sepakat memberlakukan Ramadan sebagai liputan khusus. Namanya sengaja merupakan akulturasi bahasa Barat dan bahasa Arab. Kami ingin menggabungkan dua katub peradaban sehingga prediksi Samuel Hutington akan adanya benturan peradaban tak terasa di Kalbar.
Kalau Samuel Hutington menyatakan akan terjadi benturan antara Barat dan Timur atau Islam dan Kristen/Katolik, maka kami selaku media yang berpikiran terbuka hendak membawa opini publik kepada keharmonisan Timur dan Barat. Persekutuan antara agama-agama dalam sikap saling toleransi, bekerjasama dalam memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Termasuk memerangi HIV/AIDS dan narkoba serta pergaulan bebas di kalangan remaja.
Halaman Welcome Ramadan kami sajikan di halaman 18 Borneo Tribune. Satu halaman penuh. Isinya variatif mulai dari aktivitas warga yang serius-santai, tausiah maupun humor-humor terkait Ramadan. Sekaligus di sini ingin kami jelaskan Skumba di halaman satu pindah menjadi Skumba Ramadan. Kepindahan ini selain bersifat penyesuaian, juga dikarenakan meningkatnya pariwara di halaman satu, termasuk jadwal imsakiah yang tentu amat penting bagi mereka yang berpuasa untuk pedoman berbuka maupun bersahur puasa.
Penyajian berita dengan perlakuan khusus memang bukan baru pertama ini kami lakukan. Sudah cukup banyak even-even besar lainnya yang kami berikan perlakuan khusus. Sebut saja di awal launching Borneo Tribune sudah berhadapan dengan Indonesia City Expo dan kemudian disusul dengan Indonesian Product Expo serta Kalbar Expo. Pada saat bangsa Indonesia merayakan Hut kemerdekaannya yang ke-62 kami juga menyajikan liputan khusus bernama Tribune Merah Putih.
Puji Tuhan setiap kali kami menyajikan liputan-liputan khusus dengan perlakuan-perlakuan khusus tersebut selalunya disambut antusias pembaca. Hal ini tercermin pada reaksi balik mereka. Reaksi itu berupa feedback tulisan, komentar, telepon bernada pujian hingga kritik pedas.
Kami bersyukur sekecil apapun feedback atau umpan balik yang masuk ke meja redaksi. Hatta, kritik pedas sekalipun. Kami merasa semakin bisa mengoreksi diri secara objektif jika ”dicuci” oleh pihak luar. Soalnya bukan apa-apa, minum madu yang manis rasanya semua orang bisa, tapi minum jamu yang rasanya pahit tidak semua orang mau. Padahal jamu adalah obat penyembuh berbagai penyakit. Begitupula semakin ”dicuci” semakin bersih. Terlebih di Bulan Ramadan memang merupakan bulan ”penyucian” dosa-dosa.
Sikap terbuka itu terpatri pada diri seluruh insan pers di Borneo Tribune. Hal ini bahkan menjadi dogma dan doktrin dalam bekerja. Secara simbolik bahkan kami tampilkan slogan fundamental: idealisme, keberagaman dan kebersamaan. Secara faktuil simbolik maknawi pun kami gambarkan dengan enggang gading distilir yang terbang tinggi dengan sorot mata tajam ke sebuah kata: Borneo Tribune. Enggang gading distilir itu bersayap 9-9 yang melambangkan nilai-nilai universal pembimbing ke jalan tauhid.
Berkat bimbingan berupa keterbukaan jiwa dan pikiran melalui saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran antara kru Borneo Tribune—internal maupun eksternal—pertumbuhan dan perkembangan dari setiap perlakuan khusus itu kami rasakan. Terasa dalam hal penulisan, penataan, hingga oplah dan pariwara.
Akhir kata, kritik dan saran tetap kami butuhkan. Welcome Ramadan. Welcome pula kritik dan saran. 


Baca selengkapnya..

Buku Karya “Orang” Kalbar Sudah Sejak Lama Beredar

Kalbar tak sedikit memiliki orang-orang yang pintar. Terbukti cukup banyak buku-buku yang ditulis oleh putra-putra daerah ini.
Dalam hal akademik murni Ir Priyambodo menulis teknik irigasi sejak belasan tahun yang lalu. Isinya murni eksak dan menjadi pegangan kuliah di fakultas eksakta. Khususnya Teknik dan Pertanian.
Beliau selain dosen di Untan, juga pegawai di PU Pengairan. Alumni ITB itu mendapat apresiasi yang tinggi dengan bukunya tersebut.
Pakar pemerintahan yang dimiliki Kalbar Drs H Jimmy M Ibrahim (kini almarhum, red) juga pernah menerbitkan buku. Buku ini isunya jauh sebelum Indonesia “ribut-ribut” mengupas dan membahas otonomi daerah. Beliau yang pernah belajar di Negeri Kincir Angin Belanda dan Eropa juga sudah menerbitkan buku “Otonomi Daerah”. Buku yang oleh Dr Eky Syachruddin (mantan anggota DPR RI, kini almarhum) disebut sebagai “pakar” otonomi daerah secara nasional. Tak urung Eky si sosok kritis terhadap Orde Baru dan pernah menjadi presenter di AN-TV mengundang Drs H Jimmy M Ibrahim untuk talkshow di Jakarta soal otonomi daerah yang dibutuhkan Indonesia.
Prihal penerbitan buku di bidang sastra juga tak tertinggal. H Munawar Kalahan dan H Asfiyah Mahyus sudah menerbitkan buku-buku karyanya. Mereka yang tergolong penulis angkatan 66 begitu produktif. Bahkan karya-karya sastrawan ini diterbitkan pula hingga ke Eropa dan Negeri Jiran-Malaysia.
Setingkat di bawah angkatan Asfiyah Mahyus, budayawan H Mawardi Rivai juga aktif menulis dan menerbitkan karya-karyanya. Ia mengoleksi belasan judul buku yang diterbitkan dan sekaligus menghiasi ruang perpustakaan pribadinya.
Dan gairah penulisan di persada Bumi Khatulistiwa ini terus bertumbuh dan berkembang. Kendati ketika ditanyakan kepada ilmuan lainnya yang mengakar di Untan seperti Prof Dr Moediono—mantan Dekan Fisipol—menurutnya bertumbuh tapi masih “berat”. Berat jika dilihat dari aspek tanggung jawab akademisnya. “Tanggung jawab ilmiah dari penerbitan buku itu sendiri cukup berat,” katanya. “Oleh karena itu banyak ilmuan yang kuatir mengusulkan penerbitan buku walaupun akan mengangkat reputasinya,” ujarnya.
Di Untan kendati langka penerbitan buku oleh para pengajarnya pada era 90-an, ada memiliki unit mesin penerbitan. Disebut Untan Press. Bantuan peralatannya seusia dengan Ganesha Bandung. Hanya sayang mesin-mesin itu sudah ringsek dan tak jelas kemana rimbanya. Konon kabarnya menjadi workshop jurusan kehutanan. Jika saja ketika itu unit mesin ini produktif, mungkin dalam hal menulis dan menerbitkan buku di Kalbar tak kalah dengan Ganesha Exact Bandung milik ITB.
Gairah penerbitan buku terasa akhir-akhir ini. Dekan FKIP Untan saat dijabat Dr Chairil Effendi menerbitkan 9 judul buku dua tahun yang lalu. Mulai dari adat dan budaya melayu hingga kamus bahasa melayu. Gairah kepenulisan dan penerbitan buku ini diteruskan oleh Dekan FKIP Untan berikutnya Dr Aswandi.
Dr Aswandi menulis pilar kebijakan pendidikan dengan pengantar Rektor Prof Hj Asniar Ismail, MM. Judul lainnya memikirkan kembali pendidikan sebuah analisis makro pendidikan. Buku ini diberikan pengantarnya oleh Wali Kota Pontianak dr H Buchary Abdurrachman.
Dr Aswandi punya motto yang singkat, padat dan bernas. Ia mengutip ilmuan Ali Karamallahu Wajhah, “Ikat ilmu dengan menuliskannya.” Oleh karena itu Aswandi meluncurkan buku barunya dengan ekspose bersama bintang rupawan Neno Warisman. Judulnya anak dan kita.
Pemuda Kalbar juga aktif menulis buku. Selain Syafaruddin Usman yang sudah mengoleksi puluhan bukunya juga putra daerah kelahiran Sanggau, R Masri Sareb Putra. Dia menulis sebuah buku berjudul Menulis: Meningkatkan dan Menjual Kecerdasan Verbal Linguistik Anda. Buku ini terbit di Malang-Jatim.
LSM bonafide seperti LPS-AIR juga menerbitkan buku. Bekerjasama dengan Tifa mereka menerbitkan Media Menguak Korupsi, Pengalaman dari Bumi Khatulistiwa.
Kini aktivitas menulis di kalangan remaja dan pelajar juga meningkat seiring aktivitas yang dipelopori Pay Jarot Sujarwo. Beberapa buku sudah lahir dan dinikmati pelajar di Kota Pontianak.
Wakil rakyat juga menulis dan menerbitkan buku. Gusti Hersan Asli Rosa Ketua DPRD Kota Pontianak menulis buku soal pendidikan. Dia mengatakan, “Banyak orang merasa pintar tapi sedikit yang pintar merasa.”
Ketua DPRD Kalbar Ir H Zulfadhli juga menulis buku. Ia menghimpun opini-opini serta makalah—makalahnya ke dalam bentuk bunga rampai.
Kabar terakhir selain Gubernur H Usman Ja’far menerbitkan buku juga Bupati Suman Kurik. Ia menulis soal pembangunan di Kabupaten Melawi.
Jika saja pemerintah dan wakil-wakil rakyat punya perhatian dalam hal kepenulisan buku-buku lokal, maka akan semakin meningkat produktivitasnya. Ayo tunggu apa lagi? □













Baca selengkapnya..

Selasa, 11 September 2007

Usman Ja'far Sukses Pimpin Kalbar


Lima tahun ternyata masih dirasakan kurang oleh gubernur Kalbar Usman Ja’far untuk meningkatkan pembangunan di Kalimantan Barat. Niatan untuk terus melanjutkan pembangunan itu direalisasikan Usman Ja’far dengan kembali mendaftar sebagai salah satu kandidat gubernur pada pilkada November mendatang.

Dengan visi dan misi yang selalu didengungkankan Usman Ja’far optimis untuk kembali melangkah maju menuju pesta demokrasi rakyat Kalbar. Harmonis dalam etnis, maju dalam usaha, dan tertib dalam pemerintahan dengan prakarsa pembangunan Kalbar bersatu, Kalbar terbuka Incorporated dan Kalar Network. Hal inilah yang menjadi dasar bagi Usman Ja’far untuk mengukir peningkatan pembangunan di segala bidang.
Bidang ketentraman dan ketertiban
Dalam waktu 5 tahun terakhir keamanan dan ketentraman masyarakat Kalbar sangat terjamin. Masyarakat dapat hidup lebih aman, nyaman dan harmonis. ”Tidak terjadi konflik, tidak terjadi kerusuhan. Seluruh masyarakat, semua etnis, semua agama, semua kebudayaan mendapat tempat terhormat hidup dan berkembang di bumi khatulistiwa ini,” ungkap Usman Ja’far di hadapan masyarakat desa Simpang Empat Sambas, (3/9) lalu.
Menurutnya masyarakat Kalbar semakin mengerti pentingnya damai, aman dan tentram. Karena kondisi tersebut menurutnya merupakan syarat utama bagi pelaksanaan pembangunan. Ia juga mengatakan pendidikan politik masyarakat telah berhasil menciptakan kesadaran politik dan partisipasi politik dalam berdemokrasi yang semakin terbuka dan tinggi. Delapan kali pelaksanaan pilkada di sejumlah kabupaten menurutnya merupakan salah satu tolok ukurnya. ”Pilkada di 8 kabupaten itu dapat berjalan dengan sukses, lancar dan aman,” tegasnya.
Tingkat kesadaran masyarakat dalam menyampaikan aspirasi dan melakukan kontrol sosial juga menurutnya semakin tinggi. Kebebasan berekspresi, berinovasi dan berkompetisi secara sehat dan bertanggung jawab juga semakin terbuka dan terjamin.
Bidang Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi Kalbar di tahun 2006 sudah mencapai angka 5,23 persen, jauh meningkat dibandingkan angka 2,1 persen pada tahun 2002 lalu. Pendapatan perkapita masyarakat Kalbar di tahun 2006 telah mencapai Rp 9.072.000. Angka ini jauh meningkat dibandingkan data tahun 2002 yang hanya menunjukkan angka Rp 5.579.000 perkapita.
”Pada sub sektor pertanian, Kalbar telah mampu swasembada beras sejak tahun 2004. Produksi padi tahun 2006 telah mencapai 1.120.320 ton gabah kering giling,” ungkapnya.
Perkebunan karet dan sawit menurutnya juga terus mengalami peningkatan baik dari segi jumlah areal maupun produksinya. Begitu juga subsektor peternakan dan sektor perikanan yang juga terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Bidang Sosial
Angka nominal Human Development Index (HDI) terus meningkat di tahun 2006. Angkanya mencapai 65,4. Dibandingkan dengan angka nominal tahun 2002 yang hanya mencapai 62,9.
”Tingkat pengangguran di tahun 2006 tinggal 7,1 persen, terjadi penurunan dari jumlah pengangguran di tahun 2002 sebesar 8,57 persen,” katanya.
Bidang Infrastruktur
Pembangunan prasarana wilayah dan penyediaan fasilitas pelayanan umum terus meningkat jumlahnya. Pembangunan Jembatan Kapuas II yang menjadi impian masyarakat Kalbar telah dapat diwujudkan. Selain itu pembuatan jalan tembus Sungai Ambawang – Tayan pun sudah hampir rampung.
Pembangunan daerah perbatasan
Daerah perbatasan sebagai beranda terdepan sebuah negara juga menjadi salah satu perhatian pada masa kepemimpinan Usman Ja’far. Peningkatan kapasitas Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) yaitu PPLB Entikong. Pembukaan PPLB Nanga Badau Aruk dan Jagoi Babang. Pembangunan kawasan perbatasan ini terus menjadi program strategis pemerintah Kalbar.
Keuangan Daerah
Kemampuan pembiayaan juga semakin meningkat. APDB Provinsi Kalbar telah mampu mencapai Rp 1.1 triliun di tahun 2007 ini. Angka ini jauh meninggalkan APBD Kalbar tahun 2002 yang hanya berjumlah Rp 389 M.
Pemekaran Wilayah
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, 4 kabupaten telah dimekarkan. Yaitu Kabupaten Melawi, Kayong Utara, Landak, Bengkayang dan terakhir Kubu Raya. ”Dengan demikian pelayanan kepada masyarakat akan lebih dekat, serta pelaksanaan pembangunan daerah dapat lebih merata dan meningkat,” ujarnya.
Keberhasilan dan prestasi pembangunan yag dilakukan pemerintah daerah bersama masyarakat Kalbar selama 5 tahun tersebut telah mendapat banyak pengakuan dan penghargaan dari tingkat nasional. 10 piagam penghargaan dalama berbagai sektor, serta 2 penghargaan dari pemerintah dan Lembaga masyarakat Jepang.
Makna dari hasil capaian pembangunan tersebut menunjukkan kesuksesan visi dan misinya. Kalbar bersatu, Kalbar yang aman merupakan sebuah modal untuk mengembangkan sumber daya alam Kalbar menjadi lebih produktif. Dengan demikian investasi akan terus berkembang, perekonomian rakyat pun semakin membaik. Lapangan pekerjaan semakin terbuka , pendidikan dan layanan kesehatan terus meningkat, sehingga masyarakat Kalbar menjadi masyarakat yang sehat dan cerdas. (Endang Kusmiyati/Borneo Tribune)



Baca selengkapnya..

Minggu, 09 September 2007

Service from My Doughter


Today I'm very very happy becouse my doughter, Ocha give me a new experience. She give me a cup of fresh water when I need it.
"You need a glass of water Pa?" Ocha asked to Me when we breakfast together last morning.
"Oh yeah," I said.
She move from hers chair in front of Me. She goes to dispencer. It takes 2 meters beside us. She takes a glass of water there. A few minutes later she comes. "Here father, your water," she said with a good smile.
This experience it's the first time to me. Becouse Ocha just now 4 years old. She still young, but has verywell attitude.
She's smile make me very strong today, to give a good services to others. I think, she's spirit of services make my few brightly. "Oh God, thanks alot. I have an excelent doughter."

Baca selengkapnya..

Arisan, Yasin dan Tahlil

Kebiasaan unik di Kota Pontianak. Acara-acara keluarga seperti arisan, khusus menyongsong bulan Ramadan, ditutup sementara dengan pembacaan surah Yasin dan sekaligus tahlil. Tujuannya, menyiapkan mental sekaligus tasyakur bisa menyambut Ramadan. Sementara ada anggota keluarga atau kerabat yang sudah tak dapat lagi beribadah Ramadan karena sudah dipanggil keharibaan-Nya.
Untuk yang telah berpulang ke rahmatullah dibacakan Yasin dan tahlil seperti yang dilakukan keluarga arisan Sambas di Gang Sekawan, Sabtu (8/9) kemarin. Pembacaan surah Yasin dan tahlil dipimpin Ustadz Adi.
Pembacaan Yasin berlangsung khidmat diikuti 50-an anggota keluarga. Pembacaan begitu khusuk.
Setelah Yasin dibacakan berjamaah dilanjutkan dengan pembacaan serangkaian ayat-ayat suci sejak Alfatihah, Alfalaq dan Annaas. Dilanjutkan dengan beberapa ayat di awal dan di akhir surah Albaqarah.
Tahlil diteruskan dengan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta kalimah-kalimah tauhid. Selain itu juga istigfar yang berarti permohonan ampunan atas segala dosa yang telah dilakukan. Baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Tahlil ditutup dengan doa dan harapan agar cita-cita dikabulkan. Cita-cita keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan hidup. Di dunia dan di akhirat.
Seusai doa dipimpin Ustadz Adi dilanjutkan dengan menikmati hidangan yang telah disiapkan tuan rumah. Di acara rehat tersebut nomor arisan pun dicabut. Si anggota yang beruntung akan menjadi tuan rumah arisan dua bulan berikutnya, yakni di bulan Syawal sekaligus berlebaran. Begitulah kekhasan arisan yang “dipotong” Ramadan.
Selain keluarga arisan Sambas di Kota Pontianak dan sekitarnya banyak keluarga dan organisasi yang menjalankan acara-acara seperti di Gang Sekawan, Sungai Jawi. □


Baca selengkapnya..

Semarak Ramadan di Kampus

Universitas Tanjungpura sebagai kampus negeri terbesar di Kalbar tak luput dari aktivitas menyambut dan mengisi bulan Ramadan. Mahasiswa dan dosen punya aktivitas yang meningkat di bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini.
Rektor Untan Dr H Chairil Efendi, MS menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan kampus sebagian bersifat otonom. Mulai dari fakultas hingga himpunan-himpunan jurusan. “Jenis kegiatannya tak terhitung. Mulai dari buka puasa bersama, pelatihan-pelatihan hingga dialog-dialog Ramadan,” ungkapnya.
Kegiatan yang bersifat lintas fakultas juga digelar. “Tentu di tingkat universitas,” ungkapnya seraya menyebut acara buka puasa bersama disertai siraman ruhani serta dialog yang dialogis.
Aktivitas yang bersifat melatih enterpreneurship juga digalakkan. Tepatnya pasar juadah kampus. “Hal ini dikelola oleh mahasiswa,” imbuhnya dengan garis besar tidak melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Tepatnya seiring larangan Pemkot soal adanya pasar juadah di pinggir Bundaran Untan.
Badan Kerohanian Mahasiswa Islam (BKMI) Untan juga menggalang kerjasama dengan parapihak dalam menggelar even. Pada 9 September akan dihelat Tahrib Ramadan berpusat di Masjid Muhtadin. Akan tampil Ustadz Faridz Nu’man yang juga alumni UI-Jakarta. Ustadz Faridz juga adalah penulis buku Ikhwanul Muslimin Anugerah Allah yang Terzalimi.
Dalam bidang seni juga dihelat Senandung Ramadan. Kegiatan ini berupa konser tim nasyid terbaik di Kota Pontianak. Akan tampil Sahara, LQ, Alqaeda, Intifada, Tazki, Al Ikhwan, dan Zaskarind. Konser akan dilengkapi dengan juara nasyid nasional asal Pontianak, Al Asyraf. Acara ini akan digelar 11 September pukul 19.30 di 9-Cafe. □


Baca selengkapnya..

Masjid Raya Mujahidin Gelar 17 Agenda Ramadan

Wajah Masjid Raya Mujahidin tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Penampilannya lebih besar dan gagah. Demikian karena sedang berlangsung megaproyek rehabilitasi masjid dengan dana mencapai belasan miliar rupiah.
Dalam rangka menyongsong dan mengisi bulan suci Ramadan yang jatuh pada medio September 2007 ini, Mujahidin sebagai Islamic Center di Kalbar menyiapkan sejumlah agenda yang tak tanggung-tanggung. Terdapat 17 mata acara.
Gubernur H Usman Ja’far selaku Ketua Umum menyatakan seluruh rangkaian acara itu sebagian besar bersifat sosial, sebagian besar bersifat rutin. “Kita ingin membangun spiritual yang tak lepas dengan aspek sosial,” ungkapnya.
Usman Ja’far menyatakan semua rangkaian acara itu ditangani oleh Ketua Harian yang dipimpin dr H Buchary A Rachman yang juga Wali Kota Pontianak. “Marhaban ya Ramadan. Kita akan makmurkan masjid dengan sejumlah kegiatan. Namun dari belasan acara itu kembali pada masing-masing muslim dan muslimat, shoimin dan shoimat untuk mengisi serta mencapai predikat takwa,” ungkapnya.
Buchary mengatakan, masjid hanyalah media tempat belajar dan beribadah. Beribadah dalam dimensi yang luas. “Secara teknis semua acara itu ditangani oleh takmir masjid,” ungkapnya.
Pengurus harian Yayasan Mujahidin, HM Nur Hasan ketika ditemui di Kantor Yayasan ditemani Mawardi Mas’ud menjelaskan ke-17 acara menyambut dan mengisi Ramadan tahun ini (lihat tabel).
“Kegiatan kami non stop. Semua itu kita persembahkan kepada masyarakat agar aspek spiritualnya meningkat, begitupula tanggungjawab sosialnya,” katanya.
Mawardi Mas’ud mengungkapkan dalam menyambut Ramadan dibagikan 2 ribu paket bahan makanan kepada keluarga yang tidak mampu. “Distribusinya di kantong-kantong daerah miskin perkotaan,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang berhak menerima namun belum ketiban rizki langsung diminta untuk berkoordinasi dengan panitia di Yayasan Mujahidin. “Kita menyalurkan dana Zakat Infak dan Sadakah (ZIS) dengan cara yang sebenar-benarnya. Insya Allah sesuai amanah,” ungkapnya.
Ditambahkan HM Nur Hasan, bahwa dalam menyambut Ramadan, Masjid Raya Mujahidin bekerjasama dengan Indosat juga menggelar tablig akbar bersama Ustadz HM Subki Al Bughury pada Senin, 10 September 2007 pukul 19.00 hingga selesai di Mujahidin. “Kami mengundang jamaah untuk hadir,” imbuhnya. □


Baca selengkapnya..

Ramadan di Tribune Institute

Sepekan sebelum menyambut Ramadan, Tim Borneo Tribune lewat lembaga pendidikan pers dan komunikasinya—Tribune Institute—sudah melakukan persiapan matang. Selain melengkapi silabus dan pengajar dengan apik dan sistematis, juga merancang aktivitas sepanjang Bulan Pendidikan, Bulan Ramadan.
Pra Ramadan disambut dengan dua pelatihan. Masing-masing Diklat Jurnalistik Penulisan Ilmiah Populer yang dilangsungkan di FKIP Untan. Yang kedua, Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar Mahasiswa dengan tempat belajar di dapur redaksi Borneo Tribune. Kedua kelas diklat tersebut diikuti belasan peserta.
Tribune Institute juga menggelar sejumlah kegiatan di sepanjang Bulan Ramadan. Kegiatan ini bekerjasama dengan Remaja Masjid. Adapun aktivitasnya selain berkenaan dengan pers, juga dengan ritual keagamaan seperti lomba azan, kaligrafi dan puitisasi Alquran.
Tribune Institute di bulan Ramadan juga akan melakukan pelatihan kepenulisan yang mengundang pihak-pihak eksternal. Tujuannya mengembangkan ilmu kepenulisan dengan harapan SDA Kalbar lebih dapat diberdayakan dengan semakin banyak yang menyentuhnya lewat tataran ide yang dituangkan lewat tulisan.
Peradaban tulisan hendak ditumbuh-kembangkan sehingga menggelinding bagaikan bola salju. Bola salju ini melipatgandakan kekuatan mempromosikan Kalbar kepada siapa saja yang membacanya.
Secara langsung atau tidak langsung akan muncul investor yang tertarik membangun Kalbar. Baik investor dalam dan luar negeri.
Tribune Institute juga akan memberikan buka puasa bersama warga yang tidak mampu (duafa). Kegiatan ini bertujuan sebagai community development atau pengembangan masyarakat. □


Baca selengkapnya..

Borneo Tribune Overseas

Tiada kata terindah yang bisa dikemukakan dari dapur redaksi Purnama Dalam No 2 kecuali Marhaban ya Ramadan. Karena—insya Allah—pada 13 September, empat hari ke depan seluruh umat Islam di seluruh dunia menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Terhitung sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.
Tiada kata yang terindah pula karena di usia Harian Borneo Tribune yang baru seumur jagung sudah dapat overseas. Hal ini karena salah satu redaktur kami Safitri Rayuni mendapatkan beasiswa pendidikan ke Australia selama 1,5 bulan. Beasiswa itu dari Asia Pasifik Jurnalism Center (APJC).
Program yang akan diikuti adalah Reporting Economic Affairs AusAID’s (Australian Leadership Awards scheme). Kegiatan berlangsung sejak tanggal 10 September–19 Oktober.
Kegiatan APJC diikuti sembilan jurnalis dari enam negara, yakni Indonesia: Frans Anggal (Editor Flores Pos Daily-Ende) dan Herman Lengam (Direktur Radio Berita Matoa Manokwari). Dari East Timor Mr Mouzinho De Araujo (coordinator of reporters TimorPost-Dili). Dari Papua New Guinea Ms Bibian Barreng (reporter The National Newspaper Port Moresby), Ms Sandra Lawoi (Business & Finance reporter National Broadcasting Corporation), dan Mr Eric Tapakau (acting business editor Post Courier Newspaper Port Moresby). Selanjutnya dari Solomon Island: Mr Evan Wasuka (senior reporter Solomon Star). Dari Western Samoa: Ms Cherelle Jackson (news editor Newsline Newspaper) dan Malifa Vanuatu.
Safitri Rayuni memang tak akan berramadan dengan kami di dapur redaksi Borneo Tribune. Ia akan berpuasa Ramadan dari Negeri Kangguru itu. Ia bahkan sampai beridul fitri di sana. Selain belajar, dia juga akan mengembangkan networking Borneo Tribune di sana.
Menjelang Ramadan kebahagiaan kami memang berlipatganda. Selain overseas ke Australia, redaktur kami Muhlis Suhairi juga mendapatkan promosi dari Barry Lowe, seorang jurnalis Inggris untuk mengikuti Training Jurnalisme Investigative di Jakarta 2-6 September. Termasuk seorang jurnalis kami, Aulia Marti mendapatkan juara nasional penulisan isu lingkungan hidup dari Kementrian Lingkungan Hidup RI. Aulia Marti mendapatkan penghargaan itu di Kaltim dan akan menjadi duta lingkungan hidup Indonesia dalam even internasional di Bali, Desember mendatang.
Di Kota Pontianak kru redaksi kami juga mencatatkan sejarah. Fotografer Lukas B Wijanarko melakukan pameran tunggal Presenting Pontianak. Ia akan berpameran keliling dari Hotel Gajahmada dan akan berakhir di A Yani Mega Mall.
Keindahan rasa yang kami ungkapkan tentu semakin bulat di tengah kebahagiaan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadan. Bulan bernilai pendidikan.
Borneo Tribune sebagai koran pendidikan dengan aktivitas dan prestasi seperti tersebut di atas tak luput dari semangat terus belajar. Kami semua akan menggunakan momentum Ramadan ini untuk tarbiyah. Berlatih mengendalikan hawa nafsu dari lapar dan dahaga, serta hal-hal yang dapat merusak nilai ibadah puasa itu sendiri, seperti memperturutkan nafsu atas harta, tahta dan ta ta yang lainnya.
Bulan Ramadan dengan nilai pendidikan di dalamnya tiada tara bertujuan mencapai predikat takwa. Takwa yang berarti takut, patuh, tunduk dan taat atas segala perintah Tuhan dan menjauhi semua larangan-Nya.
Bagi kami di dapur redaksi Borneo Tribune, ini Ramadan pertama. Tapi dalam perjalanan hidup tentu Ramadan tahun ini bukan buat pertama kalinya. Ramadan demi Ramadan sudah pernah dilewati dalam suka maupun duka. Banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik sebagai saripati dalam kehidupan demi mengarungi hidup ke depan yang jauh lebih baik dari kondisi kemarin maupun hari ini.
Kami berharap dengan takwa Borneo Tribune akan lebih pesat pertumbuhan dan perkembangannya di Kalbar, bumi Borneo dan terus overseas. Semoga. □



Baca selengkapnya..