Minggu, 16 September 2007

Diklat Jurnalistik Jam 3 Subuh

Belum pernah terjadi dalam sejarah hidupku ada memberikan diklat jurnalistik pada pukul 03.00 dini hari. Pengalaman ini baru aku rasakan kemarin, Minggu (16/9) di Harian Borneo Tribune.
Aku terperanjat dibangunkan rekan sekerjaku di kantor Borneo Tribune, Iskandar. Lay outer yang aktivis pers kampus yang baru pulang dari KKN ini mengatakan, "Bang, peserta diklatnya sudah pada datang."
Aku yang tertidur di mushola kantor segera bangkit. "Kamu mau pulang?" kataku seraya melihat jam tangan. "Sudah pukul 3," benakku membaca.
Pekerjaan di kantor hari itu tuntas pada pukul 12. Saya masih terlibat diskusi bersama Yaser, AA Mering dan Muhlis Suhairi hingga pukul 01.00. Jadi ada waktu istirahat kira-kira dua jam. Kami larut dalam diskusi seputar jejak emas pemuda Kalbar. Ada satu rangkaian kompetisi yang sedang kami garap.
Dengan mata yuyu aku pergi ke toilet. Dengan sedikit air kubasuh wajahku. Fresh.
Adik-adik kampus datang bertandang. Jumlah mereka 10 orang. 8 cewek dan 2 orang cowok. Semua datang dengan antusiasme yang tinggi. Tentu saja. Kalau tidak tinggi mana mungkin mereka mau datang di kala kawan-kawan sebayanya pulas tidur.
Ke-10 mahasiswa dari Universitas Tanjungpura itu bersahur ria di dapur redaksi. Aku sendiri diajak bersahur dengan mereka, tapi aku enggan. Aku rupanya malu untuk terlibat makan bareng dengan mereka. Aku hanya mendampingi sambil mereguk segelas air dan tiga biji kurma. Komputer dan internet masih menyala di depanku.
Usai sahur bareng itu, ada waktu setengah jam untuk memulai sesi. Materi hari ini adalah jenis-jenis tulisan jurnalistik. Materi ini sudah menjadi kesepakatan kami dari sebuah pelatihan yang mereka (para peserta) inginkan. Materi ini adalah materi kedua setelah mereka mengikuti pertemuan pertama berupa perkenalan pendidikan jurnalistik ala Borneo Tribune. Lembaga pendidikan jurnalistik di Borneo Tribune sendiri kami beri nama Tribune Institute.
Ke-10 peserta itu memang tegar. Tiada kantuk yang menyerang mereka hingga waktu imsak terdengar dari masjid di dekat kantor. Seteguk air masih dapat membasahi tenggorokanku. Aku menyediakan air mineral di freezer yang terdapat di ruang kerjaku. Memang ke-10 peserta ini trainingnya di ruang kerjaku di hari ke-3 Ramadan.
Azan pun tak lama berkumandang. Kami salat subuh berjamaah. Berzikir dan berdoa bersama. Lalu seusai itu semua kami lanjutkan lagi "sharing" ilmu kepenulisan hingga pukul 06.00 WIB.
Tulisan yang sudah dibuat oleh beberapa orang di antara mereka yang mereka setor lewat emailku kukupas. Saya tentu saja tidak pelit untuk memuji bahwa tulisan mereka hebat-hebat.
Dalam benak saya bahkan berpikir, anak-anak muda Kalbar ini jika dibina dengan benar insya Allah akan bisa menjadi penulis-penulis besar. Mereka akan mencatatkan sejarahnya dengan tinta emas. Semoga.

2 comments:

Frans Obon mengatakan...

Wah ini pengalaman baru & menantang bung.

Salut buat bung Nuris & teman-teman mahasiswa yang pekerja keras...

Maju terus...

Noeris mengatakan...

Trims fren. Sewaktu pulang dari Ende saya menulis sejumlah artikel. responnya di Kalbar cukup besar. Rupanya warga Kalbar suka dengan Ende dan Flores. Salam buat kawan-kawan semua di sana. I love Flores.