Sabtu, 15 September 2007

Welcome Ramadan di Borneo Tribune

Semula liputan khusus Ramadan hendak dibuat menyebar seperti biasanya berita-berita masuk sesuai dengan desk-nya. Namun redaksi Borneo Tribune berpikir lain. Setiap peristiwa mesti diberikan perlakuan khusus.
Ramadan yang merupakan bulan suci paling ditunggu-tunggu umat Islam merupakan even besar. Banyak aktivitas yang muncul di bulan yang penuh berkah, rahmah dan maghfirah ini. Sebut saja pasar juadah dengan aneka ragam jenis penganannya. Yang tak pernah muncul di 11 bulan lain, muncul di bulan ini. Oleh karena itu pasar juadah pun menjadi kekhasan Ramadan. Belum lagi kuliah subuh Ramadan, safari Ramadan, aneka jenis pelatihan hingga berujung pada even besar lainnya bernama lebaran Idul Fitri. Kelak akan banyak pejabat maupun pengusaha yang open house.
Kami akhirnya sepakat memberlakukan Ramadan sebagai liputan khusus. Namanya sengaja merupakan akulturasi bahasa Barat dan bahasa Arab. Kami ingin menggabungkan dua katub peradaban sehingga prediksi Samuel Hutington akan adanya benturan peradaban tak terasa di Kalbar.
Kalau Samuel Hutington menyatakan akan terjadi benturan antara Barat dan Timur atau Islam dan Kristen/Katolik, maka kami selaku media yang berpikiran terbuka hendak membawa opini publik kepada keharmonisan Timur dan Barat. Persekutuan antara agama-agama dalam sikap saling toleransi, bekerjasama dalam memerangi kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Termasuk memerangi HIV/AIDS dan narkoba serta pergaulan bebas di kalangan remaja.
Halaman Welcome Ramadan kami sajikan di halaman 18 Borneo Tribune. Satu halaman penuh. Isinya variatif mulai dari aktivitas warga yang serius-santai, tausiah maupun humor-humor terkait Ramadan. Sekaligus di sini ingin kami jelaskan Skumba di halaman satu pindah menjadi Skumba Ramadan. Kepindahan ini selain bersifat penyesuaian, juga dikarenakan meningkatnya pariwara di halaman satu, termasuk jadwal imsakiah yang tentu amat penting bagi mereka yang berpuasa untuk pedoman berbuka maupun bersahur puasa.
Penyajian berita dengan perlakuan khusus memang bukan baru pertama ini kami lakukan. Sudah cukup banyak even-even besar lainnya yang kami berikan perlakuan khusus. Sebut saja di awal launching Borneo Tribune sudah berhadapan dengan Indonesia City Expo dan kemudian disusul dengan Indonesian Product Expo serta Kalbar Expo. Pada saat bangsa Indonesia merayakan Hut kemerdekaannya yang ke-62 kami juga menyajikan liputan khusus bernama Tribune Merah Putih.
Puji Tuhan setiap kali kami menyajikan liputan-liputan khusus dengan perlakuan-perlakuan khusus tersebut selalunya disambut antusias pembaca. Hal ini tercermin pada reaksi balik mereka. Reaksi itu berupa feedback tulisan, komentar, telepon bernada pujian hingga kritik pedas.
Kami bersyukur sekecil apapun feedback atau umpan balik yang masuk ke meja redaksi. Hatta, kritik pedas sekalipun. Kami merasa semakin bisa mengoreksi diri secara objektif jika ”dicuci” oleh pihak luar. Soalnya bukan apa-apa, minum madu yang manis rasanya semua orang bisa, tapi minum jamu yang rasanya pahit tidak semua orang mau. Padahal jamu adalah obat penyembuh berbagai penyakit. Begitupula semakin ”dicuci” semakin bersih. Terlebih di Bulan Ramadan memang merupakan bulan ”penyucian” dosa-dosa.
Sikap terbuka itu terpatri pada diri seluruh insan pers di Borneo Tribune. Hal ini bahkan menjadi dogma dan doktrin dalam bekerja. Secara simbolik bahkan kami tampilkan slogan fundamental: idealisme, keberagaman dan kebersamaan. Secara faktuil simbolik maknawi pun kami gambarkan dengan enggang gading distilir yang terbang tinggi dengan sorot mata tajam ke sebuah kata: Borneo Tribune. Enggang gading distilir itu bersayap 9-9 yang melambangkan nilai-nilai universal pembimbing ke jalan tauhid.
Berkat bimbingan berupa keterbukaan jiwa dan pikiran melalui saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran antara kru Borneo Tribune—internal maupun eksternal—pertumbuhan dan perkembangan dari setiap perlakuan khusus itu kami rasakan. Terasa dalam hal penulisan, penataan, hingga oplah dan pariwara.
Akhir kata, kritik dan saran tetap kami butuhkan. Welcome Ramadan. Welcome pula kritik dan saran. 


0 comments: