Jumat, 31 Agustus 2007

Malaysia Appologize About Donald Luther Colopita Case


As a journalist am very sad what was happen with Donald Luther Colopita in Malaysia, Friday (28/8). Then I was very sad with demontration around the case. Espescially about Indonesia-Malaysia relationship.
Malaysia Ambassador Zainal Abidin Zain in RSPP Jakarta (30/8) said that the leader of PDRM Tan Sri Musa was appologize about the case. Zainal goes to Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) to saw Donald. Two tomb for that. But a lot of demonstration rise in Indonesia to blame Malaysian Government that Malaysia Gov don't want to say appologize about Donald case vs PDRM a few days before. One big demonstration rise in Pontianak too. It takes 500 demonstrans shout in front of Malaysia Consulate. They blame Malaysia.
I think, Malaysia have to see what Indonesian feeling about that. So many case rise in Malaysia a few month before. Many Indonesian people was to be victim there. For example, Indonesian labour.
But not all of Malaysian people bad. I have so many friend there that closely relationship to working together. They are verykind.
Indonesia-Malaysia must learn hard to make all of situation clear. As a journalist I feel proud if this two country become better partnership to make this region develop, growth, welfare.

Baca selengkapnya..

Diperlukan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut

Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Diklat jurnalistik mahasiswa tingkat dasar yang digelar Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak dibuka Walikota dr H Buchary A Rachman, Jumat (31/8) kemarin. Acara dihelat di Rektorat Untan.
Walikota di hadapan 30-an peserta dan pengurus Lapmi yang baru dilantik serta pengurus HMI Cabang Pontianak mengusulkan agar kegiatan diklat jurnalistik jangan melulu tingkat dasar. Sudah saatnya digelar diklat jurnalistik tingkat lanjut bahkan tingkat pembina.
“Kalau tingkat dasar terus ya tak maju-maju. Sudah saatnya digelar diklat tingkat lanjut hingga tingkat pembina sehingga mahasiswa semakin mengerti dengan dunia kewartawanan,” ujar Buchary yang juga mantan aktivis mahasiswa Islam ketika menjalani kuliah kedokteran di Universitas Indonesia.
Diklat jurnalistik tingkat dasar dikatakan Buchary baru pengenalan pada kulit-kulitnya saja. “Jangan baru mendapat diklat tingkat dasar kalian sudah bertindak melebihi wartawan,” ujarnya memancing tawa peserta.
Buchary dalam kesempatan pembukaan Diklat juga menegaskan bahwa ilmu kepenulisan sangat penting untuk dikuasai. “Dalam belajar sikap kerja keras sangat diperlukan. Jangan mau instan, karena yang instan akan prematur atau dini,” ujarnya mengenai semakin banyaknya penyakit meninggal dini, pensiun dini, hingga nikah dini.
Proses yang membutuhkan kesabaran menjadi titik tekan Buchary dalam kata sambutannya. “Kesabaran dekat dengan kesuksesan. Ilmu itu yang harus dikuasai anak-anak HMI karena nilai-nilai keislamannya. Anak HMI harus beda dong dengan anak-anak lainnya. Kalau sama, ya bukan HMI melainkan Himpunan Mahasiswa Indonesia saja,” ujarnya. □

Baca selengkapnya..

Kamis, 30 Agustus 2007

Aswandi Dekan Teladan - Stimulasi Mahasiswa Menulis Ilmiah

Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Dr Aswandi dinilai mahasiswanya sebagai dekan teladan. Demikian karena kesederhanaan, disiplin dan kerja keras, serta kemampuannya memotivasi mahasiswa agar aktif menulis ilmiah populer.
Aktivis mahasiswa FKIP Untan, Tantra dan Essup di Borneo Tribune, Kamis (30/8) menyatakan dekannya menantang mahasiswa membentuk satu koloni di mana aktivitas riset dan penulisan ilmiah populer dapat dilakukan. Dekan FKIP, Dr Aswandi mengimbau mahasiswa-mahasiswinya dapat mewujudkan jurnal ilmiah populer.
“Beliau menunjukkan model dari negara-negara maju. Kami tertarik,” kata Tantra yang tampak antusias.
Kata Tantra di fakultasnya terdapat 9 jurusan. Jika masing-masing jurusan mampu melakukan satu riset dalam satu bulan, maka akan didapatkan 9 artikel ilmiah populer. “Kami targetkan halaman jurnal ilmiah populer kami antara 20 halaman atau lebih,” timpalnya.
Kata Tantra, Dr Aswandi akan menyediakan fasilitas agar cita-cita mempunyai jurnal ilmiah ini terwujud. Fasilitas itu antara lain laptop, ruang kesekretariatan maupun pelatihan.
Pelatihan digalang bekerjasama dengan Tribune Institute-Borneo Tribune. Pelatihan akan dilaksanakan pada pekan depan dengan jumlah peserta 16 orang.
“Pelatihan metodologi riset dan penulisan ilmiah populer ini akan menggunakan ruang kelas yang refresentatif di FKIP Untan,” kata Tantra. Jumlah peserta yang 16 orang tersebut masih bisa bertambah.
Menurut Tantra, target FKIP secara keseluruhan dengan pelatihan dan perwujudan jurnal ilmiah adalah menjadi transetter di Untan pada khususnya dan dunia kampus pada umumnya. □

Baca selengkapnya..

Tribune Institute Supporting Research

With student in education faculty of Tanjungpura University, Tribune Institute supporting research. Espescially in analitical writing.

That programe it take two days. The committee will be arrange the schidule.
Today, Tantra and his friend Essup take indeep discussion with me to get a big few understanding about analitical writing. We hope that programe will be a trigger in progressively writing skill in education student of Tanjungpura University.

Baca selengkapnya..

Rabu, 29 Agustus 2007

Menuju KB1 dari Kubu OSO--Bag 2

Mau Perubahan? Adanya Pada OSO
Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak

Di tempat yang santai di Kantin Untan, mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalbar, Ir H Said Dja’far bicara serius soal pembangunan. Ia yang punya karya arsitektur yang sudah tidak diragukan lagi buat Kalbar seperti kantor gubernur, pendopo gubernur mengkritisi para calon gubernur yang bakal berpesta 15 Nopember mendatang.
Sebagai mantan birokrat dan kenal tokoh-tokoh yang sudah mendaftar ke KPU untuk maju ke posisi KB1, Said Dja’far memuji keunggulan masing-masing. Tapi ia menaruh harapan besar kepada OSO. “Kalau mau Kalbar berubah, adanya pada OSO,” ungkapnya.
OSO di mata Said Dja’far adalah figur yang tak perlu diragukan lagi pengabdiannya bagi daerah. Ia tak sungkan-sungkan merogoh isi kantongnya demi pembangunan daerah. “Ini konsep pertama mencari pemimpin. Yakni mereka yang mau berkorban dan bersedekah, bukannya yang cari jabatan dan harta apalagi dengan cara-cara korupsi,” ungkapnya.
OSO kata Said untuk maju dalam Pilgub menggunakan kekuatan dirinya sendiri. Biaya ditanggulangi mandiri setelah sukses sebagai wiraswastawan. Sejumlah penghargaan pun diraihnya. Bukan hanya dari Pemerintah Indonesia dan asing, tapi juga beragam etnis di Indonesia.
Untuk Kalbar bisa berubah kata Said dibutuhkan figur seperti OSO. “Apa yang diinginkannya tercapai. Jika OSO mau maju, adil dan sejahtera, maka saya yakin juga akan tercapai,” tandasnya. Terlebih di usianya yang sangat matang, OSO berpikir pengabdian, bukan mencari popularitas dan pundi-pundi kekuasaan. Jika itu yang hendak dicari, posisi Wakil Ketua MPR RI pun sudah dirasakannya.
OSO dinilai Said Dja’far orangnya tegas. Ketegasan ini akan mempengaruhi kinerja mesin birokrat di pemerintahan. Pada umumnya mesin pemerintah kinerjanya lamban.
OSO dinilai jago lobi. Tak hanya di tingkat menteri-menteri negara, tapi juga asing. “Nah membangun Kalbar butuh investor. Figur yang terjamin adalah OSO. Yang lain masih diragukan,” tuturnya.
Said Dja’far mengaku bukan orangnya OSO. Ia juga menegaskan bukan jurkam buat OSO. Tapi yang dia pikirkan adalah kemajuan Kalbar tepat saat 2008-2013 berada di tangan siapa. “Mohon maaf, ini adalah hasil perenungan saya. Kalaupun ada penilaian miring terhadap OSO, itu sebenarnya citra masa lalu ketika Beliau masih remaja. Dan siapakah manusia yang tidak punya salah? Ibarat nasi, OSO itu bahan yang bagus. Cuma bungkus dan label yang disematkan kepadanya selama ini yang salah. Menurut saya, OSO adalah figur yang tepat untuk melakukan perubahan Kalbar maju, adil dan sejahtera,” urainya.
Said mengaku datang dari Jakarta saat launching paket OSO-Lyong. Ia terkesan sekali dengan keseriusan OSO untuk membangun daerah Kalbar. (habis)

Baca selengkapnya..

Menuju KB1 dari Kubu OSO--Bag 1

Ketulusan Seorang Tokoh Nasional
Nur Iskandar dan Hairul Mikrad
Borneo Tribune, Pontianak

Oesman Sapta adalah aset Kalbar yang sudah menjadi tokoh nasional. Tak kepalang tanggung karir yang sudah dicapainya: Wakil Ketua MPR RI.
Banyak pihak yang meragukan, apakah Oesman Sapta Odang yang kerap disapa OSO masih tergiur untuk menjadi Gubernur Kalbar (KB1) sementara karirnya sudah berada di level menteri kabinet Republik Indonesia?

“Justru itu yang saya kagum,” ungkap para tokoh yang bergabung di Koalisi MAS (Maju Adil Sejahtera) saat saya temui di sekretariat lantai tiga Grand Mahkota Hotel, Senin (28/8) kemarin sore. Mereka antara lain Ratna EL Tobing, SE, MM dari Partai Persatuan Daerah (PPD) Pusat, Firdaus Siregar, SH dari Partai Patriot maupun Suade Yeptian, SH dari Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD).
“Saya juga berkomentar seperti itu. Bapak sudah levelnya menteri buat apa menjadi gubernur,” kata Ratna yang kini menjabat sebagai Sekretaris Koalisi MAS mendampingi Ketua Mayjen TNI Purn Yahya Sacawiriya dari DPP Partai Demokrat yang turut bergabung dalam Koalisi MAS.
“Oh kamu salah Rat,” kata OSO.
“Saya serius maju menjadi calon Gubernur Kalbar karena panggilan batin demi pengabdian kepada daerah kelahiran saya. Saya tak perlu mengejar apa-apa lagi kecuali daerah saya maju, adil dan sejahtera,” jawab OSO kepada Ratna yang tak lain adalah stafnya di DPP PPD, Jakarta. OSO adalah Ketua Umum PPD.
Ratna yang punya kemampuan retorika sangat baik ini menyimpulkan bahwa OSO tak sekedar serius untuk menjadi Gubernur Kalbar, tapi juga tulus. “OSO sudah tak mengejar duit untuk menjadi gubernur. Dia ingin pembangunan di daerahnya bersih dari korupsi,” ungkapnya. Semangat memerangi korupsi adalah esensi dari reformasi dan salah satu fokus utama Presiden RI, SBY.
Kata Ratna, OSO hendak membangun suasana demokrasi di Kalbar menjadi lebih baik. Lebih maju dan berkembang. “Soal terpilih atau tidak, itu tergantung suratan takdir.” Telunjuk ratna menunjuk ke atas.
“Kami fokus melakukan kerja keras untuk pemenangan sesuai dengan perhitungan-perhitungan yang logis,” ungkapnya.
Soal figur OSO, kata Ratna sudah tidak diragukan dikenal oleh rakyat Kalbar. “Koalisi MAS terus melakukan sosialisasi,” imbuhnya.
Soal keseriusan dan ketulusan OSO untuk menjadi Gubernur Kalbar, Ratna menunjuk koalisi yang dibangun adalah serius, pendaftaran di KPU juga serius. Ratna memujinya. “Kalau Prof Dr Ryaas Rasyid adalah konseptor otonomi daerah, maka OSO adalah pelaksana teknisnya di lapangan,” ungkapnya mengingatkan OSO tampil sebagai Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Utusan Daerah. Ketika itu OSO yang getol memperjuangkan aplikasi dari pelaksanaan otonomi daerah dan kini sedia menjadi kepala daerah.
Di mata Firdaus Siregar lain lagi. Kata sosok pemuda bertubuh besar tinggi ini OSO adalah calon gubernur yang terbaik dari para calon yang lain yang semuanya baik. “Kalbar sudah pernah dipimpin TNI, birokrat dan profesional. Kini saatnya KB1 dipimpin enterpreneur atau wiraswastawan,” ungkapnya.
OSO, nilai Firdaus tumbuh dari bawah. Ia tidak hanya berhasil membangun bisnis dari kecil hingga nasional, tapi juga internasional. “Maka duitnya banyak. Beliau bahkan menggelar jalan sehat dengan hadiah-hadiah besar dari keringatnya sendiri. Bukan dari anggaran pemerintah,” pujinya. Bisnis OSO yang tampak di depan mata adalah jaringan perhotelan dan minyak.
Menurut Firdaus perubahan di Kalbar hanya bisa dilakukan oleh OSO. “Memang semua kandidat membawa isu perubahan, tapi siapa yang paling bisa melakukannya dengan peluang kecil melakukan korupsi? Modal sendiri?” timpalnya. “Semua ada pada figur OSO,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Suade Yeptian yang juga Wakil Ketua Koalisi MAS menimpali bahwa OSO sudah jelas membela kepentingan Kalbar sejak kecil. “Coba lihat aktivitas mahasiswa tak ada yang tak dibantunya. Itu yang namanya KPMKB sudah sejak lama dibantu,” ungkapnya.
Suade menyenangi figur OSO karena praktisi yang satu ini tahu betul kondisi riil masyarakat Kalbar. “Beliau tahu betul teknis. Kepada Beliau harapan perubahan itu disematkan,” ungkapnya.
Satu lagi tambah Suade, bahwa OSO mempunyai daya lobi luar biasa. “Untuk membangun Kalbar sosok gubernur harus bisa melobi pengambil keputusan secara nasional maupun internasional. Untuk itu OSO orangnya. Beliau gampang saja telepon menteri ini dan itu,” ungkapnya seraya senyum. Katanya, untuk membangun Kalbar dibutuhkan kemampuan seperti OSO. Lain tidak. “Mencapai hasil seperti OSO tidak semua orang bisa,” ujarnya. □

Baca selengkapnya..

Senin, 27 Agustus 2007

Old and New with Hajj


In the last December 2006 I visited Meccaa and Madina Almunawwarah for doing hajj. Akbar hajj. Old an new. I mean last December 2006 and early of January 2007.
I went to Arafah with my wife Sri Andi Novita Oktavianti and my parent, H Hasan Har and Hj Halijah H Muhammad Saleh.

Doing hajj very-very interesting to me. Totally ibadah. Thoughtfully, sporty and freshy. I think hajj the same with super outbond training from God.
We doing thawaf in Ka'bah. Sa'i from Shafa to Marwah. Throw stone to the satanic in jumrah aqabah, ula and wustha. We drink zam-zam water. Eat kurma rasul and history pleisure.
I think hajj the same with super outbond training. Do you think so?

Baca selengkapnya..

Ocha Dapat Adik Baru


Putriku Uthrujah Andi Nurul Ramadhani yang akrab disapa Ocha dapat adik baru pada Kamis (23/8) pukul 11.45. Dia amat sangat senangnya.
Kalau ada yang bilang, "Adik Ocha saya ambil yah..." wah pasti disomednya. "Endaaak," katanya kenes.
Sewaktu di ruang perinatologi hari pertama, Ocha betah sekali mengintip adiknya dari balik kaca. "Gendong papa. Ocha mau lihat Dek Nada," ujarnya.
Ocha sekarang sudah TK nol kecil. Umurnya pada 26 Oktober 2007 ini genap 4 tahun.

Baca selengkapnya..

Masuk RSA Kamis Keluar Senin


Senin-Kamis hari-hari yang baik. Bunda masuk RSA pada hari Rabu malam. Hari Kamis (23/8) pukul 11.45 sudah selesai persalinan. Bunda keluar RSA untuk back home pada Senin (27/8) pukul 12.45.

Sebetulnya aku memilih waktu cesar atas istriku pada hari Sabtu 25 Agustus. Tapi dr Triana, SPOG pada hari Sabtu dan Minggu manasik haji ke Jakarta. "Ya udahlah Ndi pada hari Kamis 23 Agustus pun tak mengapa. Ini bahkan lebih baik," kataku memotivasi.
Bergegaslah kami berangkat ke RSA. Sekitar 15 menit dari rumahku di Paris II ke kawasan KH Wahid Hasyim, Sungai Jawi. Di loket IGD langsung daftar. Aku menunjukkan Askes Kelas I Silver. "Silahkan masuk," kata petugas.
Istriku memilih VIP karena ruangannya bisa longgar. Lebih dari itu boleh keluarga tidur di ruangan ini. "Kalau ada yang menemani kan enak," ujarnya.
Kupikir demi proses kelahiran yang nyaman, aku mengaminkan. 10 tahun masa menunggu bukan waktu yang sebentar. Terlebih Andi, istriku sudah dua kali keguguran dan dikuret. Membahagiakan istri nilainya sama dengan jihad, pikirku.
Setelah proses cesar berjalan lancar, aku melihat bayiku lebih awal. Istriku melihatnya keesokan harinya, Jumat. Ia menyusuinya.
Lahap sekali Nada menyusu dari bundanya. Mungkin saking lahapnya dia pun pipis. Aku berusaha menggantikan pakaiannya, tapi kuatir juga. Akhirnya minta bantuan suster.
Namanya anak bayi, saat digantikan popoknya, eh berak pula. "Syukur minta bantuan suster," pikirku.
Rupanya kotoran pertama bayi warnanya cokelat gelap. "Makanan asli dari placenta," pikirku melihat hari-hari ajaib yang kuhadapi sebagai pengalaman-pengalaman baru.
Pengalaman lain adalah mencium pipi Nada yang baru keluar dari rahim. "Halus. halus sekali Bunda. Mas tak pernah merasakan sutera selembut ini," kata saya bercerita. Si Bunda tersenyum khas ibu ibu yang baru melahirkan.
Bunda di rumah sakit banyak ditemani Sari siswinya di SMA Muhammadiyah. Sari sedang libur pasca test perguruan tinggi.
Aku banyak mengurus Ocha yang harus masuk TK. Ocha juga tak bisa tidur di RSA. Ia selalu menangis di tengah malam. Repot jadinya.
Aku juga mengurusi izin cuti istrikut di SMPN 4 tempatnya mengajar. Begitupula di SMA Muhammadiyah. Mengurusi tebus resep dokter dan lain-lain.

Baca selengkapnya..

Falisha Andi Arafah Qatrunnada


“Mau ke mana lagi Ndar?” kata ibundaku, Hj Halijah H Muhammad Saleh. Beliau berada di sebelah kananku duduk sederet di lorong depan pintu Kamar Bersalin, RS Antonius, Kamis (23/8) pukul 11.00 WIB. Istriku, Hj Sri Andi Novita Oktavianti sudah masuk ke dalam ruangan. Ia menjalani operasi cesar.
“Operasi cesar itu sebentar. Nanti tak sempat kau melihat anakmu keluar,” ujar ibunda menarik tanganku. “Sebentar saja,” jawabku. “Mau salat Duha untuk mendoakan Andi agar selamat dan sukses dalam melahirkan,” jawabku.
Ibuku nelangsa. Ia tampak tak rela ditinggalkan duduk menunggu, padahal di sampingnya juga ada mertuaku, Hj Emi Rukiah dan keponakan Andi, Rommy Irawan.
Aku naik ke lantai empat tempat kamar istriku semula ditempatkan. Kamar 327 VIP. Di sini ada adik kandungku yang juga bidan, Ida Afiati serta neneknda tercinta Hj Thahirah H Husin. Ada juga putri pertamaku Uthrujah Andi Nurul Ramadhani (Ocha) serta keponakanku, Dawam.
Aku mengambil wudhu dan salat. Kupanjatkan doa agar istriku tercinta bisa melahirkan dengan sehat, anakku sehat. Terus terang saja aku gugup menghadapi situasi yang amat sangat urgent dalam hidupku ini.
Cerita suami “berdebar-debar” kala istrinya melahirkan telah banyak kudengar. Tapi aku sendiri baru kali ini merasakannya.
Usai salat aku merasa sedikit tenang. Perasaan was-was kuserahkan bulat-bulat kepada Yang Maha Kuasa. Sebab betapa tidak was-was wong nyawa dan takdir bulat-bulat pasti ada di tangan-Nya—aku tak ada kuasa sedikitpun untuk menambah atau mengubah semau keinginanku. Apatah menyoal kesehatan anak, istri, dan seterusnya dan sebagainya. Padahal yang tidak-tidak terus membayangi. Bahkan untuk yang satu itu aku takut membaca berita ada bayi kembar siam dan lain-lain yang senada dengan itu.
Langkah kakiku lebih tegap seusai Duha. Kuingat percakapanku terakhir bersama istriku. “Tenang Ndi, Mas akan mendampingi,” ujarku. Kala itu kugapai tangannya dan ia mencium tanganku. Tapi ternyata skenario mendampingi tak kecapaian. Andi harus masuk kamar persalinan sendiri. Suami tak diizinkan masuk.
“Maaf Pak, dokter tak membolehkan,” ujar seorang suster kepadaku saat kami mengantar Andi ke ruang bersalin. Aku pasrah.
Keputusan cesar sebetulnya bukan keputusan yang diambil instan. Cukup lama aku dan istriku menimbang-nimbang. Cukup banyak masukan demi masukan kami dengarkan.
Mba Lolo, kakak kandung Andi dari Jakarta ketika datang ke Pontianak beberapa waktu berselang menyarankan agar persalinan normal saja. Selain ini cara wajar melahirkan, juga resiko gagal cesar dapat dihindari. Banyak cerita kegagalan cesar.
Begitupula Mba Yennie yang juga kakak ipar Andi yang apoteker. Ia juga tak setuju cesar. Alasannya akan lama lagi melahirkan.
Di keluargaku semua juga setuju melahirkan normal. “Jika tenaga Andi kuat, normal saja,” kata ibuku. Begitu juga kata kakak iparku Kak Ida. Hanya adikku yang bidan yang ngotot cesar. Katanya dunia kedokteran saat ini sudah maju sangat pesat. “Ngapa takut cesar. Ini bayi mahal,” ujarnya.
Istriku tak puas dengan masukan yang ada. Dia berkonsultasi dengan kawan-kawannya yang juga cesar. Salah satunya juga kawan saya saat kuliah, Sri Astuti. Dia sudah dua kali cesar.
Selain Tuti ternyata kawan-kawanku juga istrinya pada cesar semua. Istri Tanto Yakobus dua kali cesar. Begitupula istri Stefanus Akim. Dua anaknya semua cesar.
Aku makin percaya diri. Aku memutuskan Andi cesar saja. Itulah yang kuungkapkan saat konsultasi terakhir dengan dr Triana, SPOG.
Dr Triana sebetulnya sudah menjelaskan bahwa “anak-anak mahal” berdasar etika kedokteran disarankan untuk cesar saja. “Justru dengan melahirkan normal kita kuatir gagal,” ungkapnya.
Soal kegagalan dalam melahirkan saya justru takut tragedi yang menimpa kawan kuliahku terjadi pada diriku. Nama kawanku itu Silvie. Ketika melahirkan anak pertamanya tenaganya habis. Anak yang dilahirkannya terminum air ketuban. Hanya berumur sehari lalu meninggal dunia. Silvie trauma untuk beberapa waktu lamanya. Syukur kemudian dia bisa melahirkan dengan normal kembali.
Saat duduk ke posisiku semula wajah-wajah tegang keluargaku tampak mencekat. Akupun makin layau. Aku kosong.
Ibuku bercerita bahwa bapak di sebelahku duduk baru saja mendapatkan anak baru hasil cesar. “Istrinya baru saja masuk, tak lama anaknya sudah keluar,” kisahnya. Jarak kelahiran antara anak pertama dengan keduanya agaknya jauh sekali. Anak pertamanya sudah gadis.
“Tadinya anaknya menangis. Sekarang dia tertawa sudah dapat adik baru,” bisik ibuku.
Aku mendengar, tapi tak konsen. Ku tak menjawab dengan penuh semangat. Hanya mengiyakan saja.
Pukul 11.45 pintu terbuka. “Bayi Ny Sri Andi,” kata suster dengan langkah tergesa-gesa. Wow saya menghambur dari kursi merapat dan mengikuti langkah kakinya. Begitupula keluargaku. Ibuku. Mertuaku.
Rambut si kecil dalam momongannya lebat. Kulitnya putih. Ia berada dalam gendongan suster yang berseragam hijau muda. Si bayi dibaluti kain. Hanya tampak wajahnya sedikit seperti mengintip dunia baru. “Wah mirip aku,” kataku membatin seraya mengejar langkah suster. "Anak perempuan memang ngikut wajah bapaknya," pikirku lagi mengingat-ingat pustaka genetika.
Suster naik ke lantai tiga. Ruang perinatologi. “Tunggu sebentar ya, anaknya dibersihkan dulu,” pintanya. Kami menunggu di depan menunggu panggilan.
Sekitar 10 menit saya dipanggil. “Silahkan Pak. Mau diazankan ya...” katanya.
Aku terkesima. Aku lupa ritual yang satu ini. Tapi setelah diingatkan aku pun melakukannya dengan khusuk seraya mengamati wajahnya yang mirip denganku. Rambutnya berdiri seperti aku waktu kecil. Matanya tajam menatapku sekali. Selebihnya dia tidur lagi.
“Beratnya 3.2 kg. Panjang 49 cm,” kata suster. Bayi itu beralih tangan. Keluargaku menyaksikannya. Tak lama masuk ruangan terdengar tangisannya yang keras. “Alhamdulillah,” sahutku dalam hati. Namanya Falisha Andi Arafah Qatrunnada. Panggilannya Nada.
Falisha berarti kebahagiaan. Andi berarti adik. Arafah berarti tempat berkumpul dalam ritual haji yang ihram serba putih. Qatrunnada berarti tetesan embun.
Nada adalah putri yang hadir di tengah keluargaku laksana tetesan embun kebahagiaan di mana adik kecil ini kabar gembiranya kami peroleh saat menunaikan ibadah haji. Haji akbar 2007. Di mana saat taqarrub di padang Arafah saya dan istri tercinta melihat awan bertuliskan aksara rab, “Allah” dengan sangat jelas. Kami amat sangat terkesan. Kesan itu mewujud di dalam diri Nada. Ananda Falisha Andi Arafah Qatrunnada. □

Baca selengkapnya..

Sabtu, 25 Agustus 2007

Small is Beauty…Borneo Tribune Ekspansi


Sejak Senin, 20 Agustus wajah Harian Borneo Tribune mengalami perubahan dikarenakan pertumbuhan dan perkembangannya. Ibarat bayi yang baru lahir, di umur tiga bulan—Borneo Tribune launching 19 Mei 2007—mengalami perubahan pula. Bertambah halaman baru seiring dibukanya perwakilan di daerah setempat.
Ekspansi adalah sesuatu yang menjadi orientasi manajemen Borneo Tribune. Pada sisi yang lain, Borneo Tribune juga diharapkan kehadirannya di daerah-daerah. Perwakilan/Biro itu di Kota Singkawang dan Ketapang.
Kantor redaksi maupun kantor bisnis Borneo Tribune masing-masing beralamat di Jalan Purnama Dalam No 2 dan Jalan Gajahmada Kompleks Pasar Flamboyan B09 intensif pula dikunjungi tokoh masyarakat, tokoh
pemerintahan hingga penulis-penulis yang turut berpikir mengembangkan Borneo Tribune. Ada yang usul ini dan itu agar Borneo Tribune segera ekspansi ke daerah-daerah.
Tokoh yang datang tak hanya lokal, tapi juga nasional dan internasional. Barbara Backert bule Jerman datang bertandang, 15 Agustus lalu. Ia dengan antusias sumbang saran ke Borneo Tribune. Sumbang sarannya terkait wawasannya yang ingin koran dekat dengan publiknya.
Barbara menyatakan senang bahwa di Borneo Tribune sudah aktif dengan pendekatan pendidikan. Ia senang melihat pelajar dan mahasiswa belajar membuat blog karena saat dia hadir di Borneo Tribune sedang ada kursus dan kompetisi desain blog web. “Saya sendiri belum punya blog. Borneo Tribune ternyata sudah jauh lebih maju. Tepat jika Borneo Tribune dapat masuk ke seluruh pelosok Kalbar dengan segera,” ungkapnya. Barbara pun minta diabadikan di mesin cetak Borneo Tribune untuk mengabadikan kehadirannya di koran muda belia tapi cepat mengakar di Kalbar.
Tak sedikit pula lamaran yang masuk untuk masing-masing daerah ke Borneo Tribune terkait ekspansi. Tapi manajemen Borneo Tribune menyeleksi secara ketat setiap harapan yang masuk. Terlebih Borneo Tribune menerapkan sistem manajemen yang terbuka di mana karyawan-karyawati dapat urun-rembug untuk memikirkan segala-sesuatu. Ada baiknya, ada pula buruknya. Tapi keputusan tetap sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal sehat serta sesuai dengan hirarki.
Hal serupa diungkapkan Gubernur Kalbar, H Usman Ja’far—tokoh ritail Indonesia—ketika dimintai pendapatnya soal rencana ekspansi Borneo Tribune. “Pengembangan media di daerah menunjukkan adanya keberhasilan pembangunan di bidang komunikasi dan informasi, keberhasilan membangun demokrasi, dan pada gilirannya juga membangun ekonomi. Titik hulunya begitu. Hilirnya adalah upaya mensejahterakan masyarakat. Terlebih fungsi pers tidak lepas pula dari aspek edukasi dan ekonomi,” ungkap Usman Ja’far.
Pertumbuhan Borneo Tribune secara resmi di Kota Singkawang dan Ketapang kami nilai cukup baik. Kami memberikan liputan khusus satu halaman. Masing-masing kepala daerah pun tabik-tabik mengucapkan selamat menikmati sajian informasi di halaman tersebut.
Borneo Tribune juga sudah dirintis di sejumlah daerah lainnya. Coverage beritanya ditampung di halaman Kalbar Tribune.
Liputan Borneo Tribune sendiri men-cover wilayah Kalbar. Hal ini tidak heran karena Borneo Tribune menjalin hubungan kerjasama dengan LKBN Antara yang mempunyai reporter di Sambas hingga Kapuas Hulu. Oleh karena itu berita Borneo Tribune mencakup Kalbar secara komprehensif-integratif. Ketika kami membuka cabang baru, reporter kami akan menjadi counterpart LKBN Antara.
Counterpart bagian dari kemitraan. Kemitraan ini kami sadari menjadi tuntutan global.
Di lingkup internal Borneo Tribune juga terus berdandan. Jika Anda melewati Jalan Purnama Dalam No 2, sebuah tulisan mencolok terpampang plang nama: Borneo Tribune—Idealisme, Keberagaman dan Kebersamaan. Dengan terpasangnya papan besar tersebut, calon pengunjung Borneo Tribune diharapkan tidak perlu bersusah payah lagi untuk menemukannya.
Nama memang tidak sekedar nama. Nama mengandung unsur doa dan harapan. Eksistensi diri memang perlu ditunjukkan sebagaimana kata petuah, tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak cinta.
Pertumbuhan dan perkembangan adalah aspek normal dalam hidup. Borneo Tribune sebagai sebuah lembaga juga tumbuh dan hidup pula. Borneo Tribune mengalami going concern dari bentuk terkecilnya—dari umur termudanya. Hidup dari kecil terasa indah. Tak salah pepatah mengatakan small is beauty. Borneo Tribune is beauty. □

Baca selengkapnya..

Kesepian di Posisi Tertinggi


Ketika ramai-ramai tokoh membuat buku putih seperti BJ Habibie dengan Detik-detik yang Menentukan (2006:549h), Wiranto dengan Bersaksi di Tengah Badai (2003:348h), Prabowo melalui Fadli Zon dengan buku Politik Huru Hara Mei 1998 (2004:172h) program Kick Andy di MetroTV menyatukannya.
Buku setebal 89 halaman ini memang dituangkan berdasar kesaksian BJ Habibie (Mantan Presiden), Prabowo (Mantan Pangkostrad) dan Wiranto (Mantan Pangab). Mereka bicara lepas apa adanya sehingga amat sangat menarik perhatian kita yang jauh dari istana negara. Terlebih buku ini ditulis dengan gaya wawancara tanya-jawab disertai kata pengantar Andy F Noya serta catatan kritis pakar politik Asvi Arman Adam.
Politik republik di tahun 1998-1999 saat itu memang sedang chaos seiring aksi massa menuntut reformasi. Di sisi lain ada aksi penculikan aktivis yang diduga dilakukan Danjen Kopassus - Pangkostrad Prabowo sebagai dalangnya.
BJ Habibie di dalam bukunya Detik-detik yang Menentukan menulis: “Sambil melihat ke jam tangan, saya tegaskan kepada Pangab. Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus sudah diganti dan kepada penggantinya diperintahkan agar semua pasukan di bawah komando Pangkostrad harus segera kembali ke basis kesatuan masing-masing.” (Halaman 1).
Selama ini banyak kejadian di seputar lengsernya Pak Harto yang masih menjadi tanda tanya. Pertanyaan seperti isu kudeta, pasukan liar yang mengepung rumah Presiden, keterlibatan agen CIA belum seluruhnya terkuak. Pertanyaan-pertanyaan itu menurut ahli utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI, Dr Asvi Warman Adam di halaman 86 bahwa polemik antara Habibie, Prabowo, Wiranto, Ali Alatas bila diibaratkan dengan film masih berkisar seputar para aktor pendukung. Sedangkan aktor utamanya masih belum tampil. Jenderal Bintang Lima, Soeharto.
Beberapa orang yang terlibat menyampaikan sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Hal itu pula yang tercermin lewat buku-buku putih para tokoh seperti Habibie, Prabowo, Wiranto hingga pakar ekonomi yang juga ayah kandung Prabowo—Soemitro Djoyohadikusumo—yang membela putranya. Senada dengan Fadli Zon yang dekat dengan Prabowo, bahwa Prabowo dikorbankan sebagai rivalitas dengan Wiranto. Prabowo disebut dengan ABRI Hijau lantaran dekat dengan kalangan Islam hingga hubungan mesranya dengan Pemerintah Yordania, sedangkan Wiranto disebut dengan ABRI Merah Putih karena lebih dekat dengan kalangan nasionalis.
Hal itu pula yang tercermin di dalam buku yang dituangkan lewat program Kick Andy di mana tiga tokoh sentral tersebut bersaksi secara live. Tampak bahwa tiga tokoh seperti BJ Habibie, Wiranto dan Prabowo adalah orang-orang kesepian di puncak karirnya. Komunikasinya pun menjadi serba terbatas. Habibie mengandalkan laporan orang-orang terdekatnya seperti Pangab, BIN, menteri, dan orang-orang khusus.
Gus Dur pun pernah dikritik, “Tergantung pembisik.” Ini menunjukkan betapa pola komunikasi petinggi butuh model khusus dan bahkan kajian khusus agar efektif dan efisien. Habibie mengaku secara terus terang kenapa dia tidak pernah diterima Pak Harto pasca lengser keprabonnya pemimpin Orde Baru tersebut. Hanya sekali pasca lengser Pak Harto berbicara dengan Habibie. Itupun cuma lewat telepon. Kala itu ulangtahun Pak Harto yang ke-77.
“Pak saya membutuhkan pertemuan dengan Bapak,” kata Habibie. Pak Harto menjawab, “Laksanakan tugasmu sebaik-baiknya.”
“Tapi saya butuh ketemu, Pak.”
“Tidak. Kita ketemu secara batin saja.”
Pak Harto mengatakan, “Sudah. Saya sudah tua, hanya bisa mengantarkan sampai di sini saja. Laksanakan tugasmu.”
Jadi lewat pengakuan Habibie itu betapa terasa sepinya Pak Harto. Begitupula Habibie.
Habibie pun sepi ketika berhadapan dengan Prabowo yang juga menantu Pak Harto. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” ungkap Prabowo (hal 2).
Habibie menjawab, “Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti.”
“Mengapa?” tanya Prabowo.
“Saya menyampaikan bahwa saya mendapat laporan dari Pangab bahwa ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan dan Istana Merdeka.”
“Saya bermaksud mengamankan Presiden,” kata Prabowo.
“Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung kepada Pangab dan bukan tugas Anda,” kata Habibie.
“Presiden apa Anda? Anda naif!” Jawab Prabowo dengan nada marah. Pada versi lain Prabowo menodongkan pistol kepada Habibie. Versi lain pistol itu sudah dilepas saat Prabowo masuk menghadap Habibie di istana negara. Sosok yang berjasa menyelamatkan Habibie disebut-sebut mantan Kopassus dan Sesdalopbang Sintong Pandjaitan.
Pengakuan Habibie di dalam bukunya dinilai luar biasa. Prabowo pun bicara lantang. Ia mengakui Habibie seperti orang tuanya sendiri. Ia menolak dikatakan akan melakukan makar. Prabowo juga menolak tudingan Habibie yang menyatakan dirinya berkata, “Anda naif!”
Kalau Habibie mau bertemu Pak Harto tak kesampaian, Prabowo juga begitu. Ia hendak bertemu Habibie pun tak kesampaian. Pola komunikasi seperti apa yang terjadi di tengah elit politik kita? Asvi Arman Adam menyatakan, Pak Harto perlu didengar pengakuannya. “Pertanyaannya, mampukan produser program Kick Andy menghadirkan Soeharto dalam acara tersebut?” (Hal 86).
Wiranto sendiri merupakan tokoh sentral selain Prabowo yang disebut-sebut Habibie. Wiranto disebut Habibie sebagi yang melaporkan kepadanya ada gerakan pasukan liar. Ini dinilai akan ada kudeta.
Di dalam buku Habibie, Wiranto juga keberatan soal Timtim dan Keppres No 16 dari Pak Harto kepadanya yang mirip seperti Supersemar. (hal 44-70).
Wiranto menolak tudingan bahwa ada rivalitas antara dirinya dengan Prabowo. Jika bukan karena pangkat, setidaknya akses menembus Pak Harto—Prabowo bisa lebih cepat. Wiranto jengkel? Yang jelas Prabowo disetujuinya selaku Pangab untuk digeser jabatannya selaku Pangkostrad dan dicopot dari kedinasan aktif. Alih-alihnya adalah Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
Jika Habibie benar, Wiranto dan Prabowo juga benar seperti alur berpikir mereka di buku ini, lalu siapa yang salah? Saya menilainya komunikasi antarpemimpin yang kurang efektif. Asvi Arman Adam menyatakan Pak Harto. Andy F Noya menyatakan biarlah waktu yang akan mengujinya. Bagaimana pendapat Anda? □

Baca selengkapnya..

Sabtu, 18 Agustus 2007

Doing Well in Indonesia Independent Day

The most important thing when we remember about Indonesia independent day is what was we do in our country. I dont like to shout loudly about democration without doing well in our home, office or our neighborhood.

Practice more important than just a theory. Likely a big tree. Theory without practically in our life it seem like a big tree without flower and fruits. Not share a wide useful thing. What do you think?

Baca selengkapnya..

Dari Beranda Belakang Tribune

Tangga naik beton itu baru saja jadi di sisi kanan bangunan Borneo Tribune di bulan Agustus ini. Warna semennya masih muda dengan bau yang khas. Kendati baru jadi, tapi fondasinya sudah keras untuk dilewati.
Dulu kami menyebut open area di lantai dua ini tempat yang asyik untuk bersantai di malam hari, menikmati bulan dan bintang. Berleha-leha di beranda belakang Tribune setelah lelah seharian diburu deadline.
Ruang terbuka 5x6 meter itu ternyata tidak hanya asyik bagi kami kru redaksi Borneo Tribune, tapi juga para tamu yang datang malam hari di koran bersemboyankan idealisme, keberagaman dan kebersamaan ini.
Pada malam 17 Agustus kemarin tak sedikit tokoh yang berhimpun di sini. Menikmati malam, menikmati berita dengan gaya bercerita. Menikmati malam 17-an.
Masing-masing absah menjadi juru warta dari observasinya di lapangan, temuan-temuannya sepanjang hidup dan sharing knowledge. Ada keseriusan di sini, ada kesegaran, ada gelak tawa.
Dua buah meja kecil menjadi titik kami bertatap muka. Kursi-kursi melingkari keduanya. Terang bulan dan bintang memayungi ditambah pijar lampu neon di bibir beranda. Lampu jalan dan kompleks perumahan juga seperti bintang dari jarak dekat sehingga menambah eksotis suasana sekaligus menutupi keserbasederhanaan “Kampus Borneo Tribune” yang kami beri nama Tribune Institute.
“Enak diskusi di sini,” kata Ripana Puntarasa dari Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) Jakarta sebuah lembaga yang bertujuan membantu pemerintah dalam mengurangi atau menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.
Ripana yang tak lain adalah Institutional Development Specialist NMC-NUSSP usul agar tempat ini tetap dibiarkan los. “Jangan dikasih kanopi lagi agar asli kita menikmati alam. Ini penting agar kita tidak tersekat,” ujarnya.
Sebetulnya yang direncanakan bagi open space ini adalah penyempurnaan. Akan diberikan kanopi dan teralis sehingga lebih menjamin keamanan dan kenyamanan. Tetapi dengan usul para tamu yang juga bakal menikmati tempat ini, mungkin ada baiknya dipikirkan sistem knock-down. Sistem cucuk-cabut tenda, sehingga bisa menyesuaikan dengan segala cuaca. Jika malam terang bulan dan cuaca cerah tak perlu payung tenda, dia terbuka. Tetapi jika cuaca buruk tenda bisa digunakan dengan aman dari basah hujan.
Malam itu tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Kami berdiskusi seusai berefleksi kemerdekaan yang ditutup pada pukul 22.00 WIB di dapur redaksi. Kami bercerita dari berbagai aspek. Mulai dari yang bersifat politis-struktural hingga etnis-kultural. Tak jarang kami terpingkal-pingkal menemukan keganjilan-keganjilan dalam liputan dan ataupun riset yang pernah dilakukan para reasercher atau peneliti.
Ripana bercerita bahwa Kalbar ini yang paling rawan adalah air bersih. Kota Pontianak sendiri sebagai ibukota provinsi masih belum tuntas menangani persoalan air bersih. “Saya pernah datang ke warung kopi Kota Pontianak bersama seorang rekan. Rekan ini selalu bertanya kepada petugas warung kopi, ini airnya dari air kali, air hujan atau air mineral?”
Ripana mengaku marah di hadapan floor yang cermat mengikuti ceritanya. “Saya katakan kepada kawan saya itu. Sekali lagi kalau kamu bertanya begitu, bisa kena gampar kamu,” sambungnya.
Kami belasan orang yang menyimak kisah Ripana mengangguk. Kami paham dengan suasana warung kopi yang khas Kota Pontianak. Tapi Ripana menimpali, “Maksudnya, jika bukan orang warung kopi yang menampar kamu ya saya!” hentaknya. Dan kami pun tertawa terbahak-bahak. Betapa tidak, ini bukti kemampuan Ripana mengelaborasi fatwa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Namun Ripana kagum dengan suasana diskusi di beranda belakang Tribune. Dia juga melihat keberagaman di Borneo Tribune di mana pengelolanya ada yang Cina, Dayak, Melayu, Jawa, bahkan Madura adalah beranda kecil negeri bernama Indonesia. “Sudah lengkap di sini. Tampak sebagai miniatur Indonesia. Saya suka sekali,” tambahnya.
Turiman yang akademisi pun menimpali. Katanya, pada sebuah acara Agustusan Pak Harto bertanya kepada warga Madura. “Presiden Indonesia siapa?” Dijawab kadang-kadang Pak Harto, kadang-kadang Pak Harmoko. “Kok begitu?” Tanya Pak Harto lagi saat masih berkuasa seperti ditirukan Turiman. “Sebab di TV sering muncul ya Pak Harto ya Pak Harmoko.”
Cerita ini dilengkapi dengan pertanyaan, apa warna bendera Indonesia? Dijawab warga Madura, “Tergantung TV Pak. Kalau TV warna ya merah putih. Kalau tidak warna ya hitam putih!” kami pun tergelak-gelak menyaksikan aneka dealektika ceplas-ceplos khas Madura yang sebenarnya adalah logika cerdas melawan ketidakberdayaan. Bahasa Faisal Riza yang pengamat media, “Ini adalah dialog kebudayaan.”
Turiman menimpali ada seorang kepala adat menyatakan proklamasi dibacakan atas nama Bangsa Indonesia Soekarno. “Nah, ada peserta yang membisiki ketua adat tadi dengan kata, Bung Hatta tak disebut.”
Turiman pun berdiri mencontohkan gaya ketua adat yang maju lagi ke podium lalu berkata, “Hatta juga.”
Turiman dengan aksen Dayak yang dilafalkannya tertawa terpingkal-pingkal. Tanto Yakobus, Asriyadi Alexander Mering dan Stefanus Akim pun tak kuasa menahan tawa. Bahkan Mering menimpali dengan cerita dua orang setengah gila yang ditemuinya di Sanggau kala liputan Pilpres 2004.
Katanya dua orang gila itu bercengkrama. Ia meliputnya karena unik ada dua orang tak waras bicara antusias.
Dilihatnya seorang merayu lawan bicaranya untuk pinjam handphone. Padahal itu handphone mainan. HP plastik.
“Boleh aku pinjam HP-mu?”
“Wah ini mahal pulsanya,” kata lawan bicaranya ogah-ogahan.
“Tak apa...aku ada dua ribu,” ujar si lawan bicara tetap merayu. Singkat cerita uang Rp 2.000 berpindah ke tangan si pemilik HP mainan.
Lalu dengan HP itu dia menelepon. “Tuhan, jangan percaya dengan omongan kawan saya tadi waktu menelepon itu. Dia sudah lama tak waras. Lebih lama daripada saya”
Mering terus bercerita. “Ei, sehabis cerita lucu itu, si tak waras ini pun sempat-sempatnya berkata dengan rada berbisik—omong-omong Tuhan tadi coblos siapa?”
Tak ayal semua terbahak-bahak.
Berbagai kisah terus mengalir hingga tak terasa waktu sudah pukul 00.30 WIB. Malam sudah larut. Kami semua bubar dengan dada lapang, pikiran senang. Besok hari kemerdekaan yang ke-62 diisi dengan keinginan menjadi manusia yang hakiki.
Tribune memang padat acara pada medio Agustus. Sejak 14-16 Agustus ada Kursus dan Kompetisi Blog Web Design yang diikuti 30 peserta. Pada 16 Agustus sore hari wartawan mengikuti upgrading. Sementara malam hari ada sejumlah diskusi refleksi memaknai kemerdekaan. Akhir kata, salam. Merdeka □

Baca selengkapnya..

Jumat, 17 Agustus 2007

Refleksi Kemerdekaan di Borneo Tribune

Sederhana. Kami duduk di lantai. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Bicara sama pedas dan kritis, tapi cool disertai alternatif-alternatif. Kami urun rembug untuk share semata-mata. Semoga dengan wawasan yang luas, hidup lebih terasa merdeka.

Sedikitnya 60-an orang hadir. Mereka sebagian besar karyawan-karyawati Borneo Tribune. Sebagian undangan lain dari unsur masyarakat. Hadir "suhu" HA Halim Ramli berikut Bang Zein Taman Budaya. Hadir pencinta sastra seperti Bang Pradono dan Pay Jarot Sujarwo.
Hadir pula Ripana Puntarasa dari Neighborhood Upgrading and Shelter Sector Project (NUSSP) Jakarta sebuah lembaga yang bertujuan membantu pemerintah dalam mengurangi atau menurunkan tingkat kemiskinan di perkotaan melalui kemitraan antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat. Ripana adalah Institutional Development Specialist NMC-NUSSP.
Ada Maikel Yan Sriwidodo, SE, MM, Dwi Syafrianti, SH, Turiman Nur Faturrachman, SH, M.Hum, Faisal Riza, ST, notaris Heryanto. Gelak tawa dan kerut jidat mewarnai acara refleksi kemerdekaan ini.
Bernas-bernas pemikiran setiap orang yang bicara. Saya pikir, di sanalah terdapat "makna kemerdekaan". Mereka merdeka menyuarakan pendapatnya. Pendapat anak manusia soal manusia dan untuk memanusiwikan manusia.
Refleksi yang dimulai pukul 19.30 itu berakhir pukul 22.00. Usai itu masih berjalan diskusi kecil kalangan terbatas, bagi yang hoby diskusi hingga pukul 00.30. Benar-benar refleksi.

Baca selengkapnya..

Kamis, 16 Agustus 2007

Kursus dan Kompetisi Blog Web Design


Alhamdulillah apa yang dicita-citakan terwujud juga. Kursus dan Kompetisi Blog Web Design.

Semula hobi. Ditekuni. Terasa besar sekali manfaatnya. Saya pikir ini adalah revolusi.
Saya sendiri pendatang baru dalam dunia blog. Saya diajari rekan, kawan sekaligus sahabat-sahabat saya di Borneo Tribune. Mereka adalah para redaktur seperti Asriyadi Alexander Mering, Stefanus Akim, Tanto Yakobus dan Hairul Mikrad.
Mereka semua sudah nge-Blog. Mereka sudah pada jadi blogger. Saya sendiri masih di belakang. Bahkan sejurus waktu terakhir hampir 10 blog baru lahir di Borneo Tribune lewat wartawan-wartawati baru.
Saya melihat hasilnya. Saya senang. Saya kepincut. Cuma sayang, saya tak cukup waktu untuk membuat Blog.
Saya coba belajar sendiri. Dua hari. Ternyata tak kelar-kelar.
Saya minta bantuan. Kepada kawan-kawan saya "besadu". Pertolongan pun datang. Tanto membantu, Akim dan Mering menolong. Saya pun berteriak kegirangan. "Wow saya sudah punya blog!"
Merasa manfaatnya besar, saya teruskan saja membuat kursus agar banyak lagi yang menuai manfaat ilmu yang satu ini. Hasilnya melebihi target. 40 orang datang belajar ke Tribune Institute. Mereka masuk dapur redaksi Borneo Tribune. Mereka kursus sekaligus berkompetisi.
Walikota dr H Buchary Abdurrachman turut antusias membuka kegiatan ini pada Selasa, 14 Agustus 2007 lalu. Ia masih berseragam pramuka karena baru saja menjadi inspektur upacara hari lahirnya Pramuka.
Acara dibuka di Ruang Rapat Walikota. Sukses.
40 peserta kemudian menyelesaikan jadwal kursus dengan komentar puas. Mereka pun kemudian bergabung di dalam Borneo Blogger Community (BBC) yang sudah lahir beberapa minggu sebelumnya. Welcome to BBC. Welcome to huge capacity from this world wide web.

Baca selengkapnya..

Senin, 13 Agustus 2007

Maskot Enggang Gading Distilir

Layaknya organisasi dan lembaga-lembaga yang kukuh-kuat membutuhkan simbol sebagai maskot. Kami juga berpikir demikian. Oleh karena itu kami berpikir keras simbol apakah yang hendak kami tampilkan.
Pemikiran yang masuk beragam-ragam untuk karakteristik regional Kalimantan pada umumnya dan Kalimantan Barat pada khususnya.
Ada teman yang mengusulkan Sungai Kapuas sebagai simbol karena menghubungkan satu region dengan region lainnya, menghubungkan satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Ada pula yang menyodorkan ide khatulistiwa dengan pertimbangan ini garis tengah bumi yang melintasi ibukota Kalbar, Pontianak. Ada pula yang mengandalkan anggrek hitam atau buntut tikus yang secara spesifik hanya dimiliki hutan hujan tropik (tropical rain forest) di Kalbar. Tapi ada pula yang menyarankan ikan Arwana. Ide terakhir ini dengan asumsi nyata pada simbol yang digunakan Indo Siar. Ingat-ingat saja lembaga media elektronik itu menggunakan ikan kendati dimodifisir menjadi ikan bionik.
Alih-alih semua ide di atas bernilai filosifis dan karakteristiknya jelas, kami masih punya satu opsi yang membuat kami “kesengsem” sampai “jatuh cinta”. Yakni burung Enggang Gading (rhinoplaz vigil).
Burung sudah lazim digunakan sebagai simbol suatu lembaga, perusahaan atau bahkan negara. Indonesia negara yang kita cintai ini, menggunakan simbol burung Garuda. Tak urung negeri super power, negeri adi daya Amerika Serikat juga menggunakan simbol burung dengan semboyan E Pluribus Unum—sebuah semboyan yang negara kita menonjolkan Bhinneka Tunggal Ika. Esensinya, atau benang merahnya pada keberagaman atau pluralisme. Pas benar dengan visi dan misi kami yakni idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Burung juga menyiratkan kehidupan nyata. Ia makhluk hidup yang bernapas layaknya manusia. Dia juga bergerak, tumbuh dan berkembang sebagaimana manusia. Bukankah manusia juga tergolong “hewan” yang berakal? Ulama besar, Rashid Ridho menyatakan, “Al insaan hayawatun nathieq.” Artinya, manusia adalah hewan yang berakal.
Pendapat Ridho senada dengan temuan-temuan arkeolog seperti kita mudah temukan seperti pitecantrophus erectus, pitecantrophus wajakensis dan sebagainya. Alhasil burung menyiratkan kehidupan yang luas.
Sifat burung paling utama tentu saja terbang. Ini satu makna yang penting bagi kami sebagai media di mana aktivitasnya berujung tombak pada reportase, liputan, journey atau perjalanan. Kami suka dengan simbolik ini karena menyiratkan kami harus selalu terbang. Harus selalu bisa membuat laporan-laporan yang meyakinkan. Harus selalu menyajikan dengan sudut pandang yang luas, tinggi dan bergengsi. Jauh lebih utama dari itu adalah disiplin verifikasi. Verifikasi adalah standar inti yang hendak kami tawarkan kepada pembaca.
Simbol burung tak aneh kita lihat di media. Metro TV misalnya. Ia menggunakan simbol burung rajawali. Hal senada digunakan oleh RCTI.
Dari sedemikian banyak burung, kami “jatuh cinta” dengan burung Enggang Gading. Burung ini sudah lama menjadi maskot Kalbar. Tokoh pers sekaligus “budayawan” Kalbar HA Halim Ramli bahkan memolesnya sehingga tampil memikat, lalu oleh Pemprov Kalbar ditetapkan sebagai maskot Kalbar.
Lebih tua dari penetapan Enggang Gading sebagai maskot Kalbar, di kalangan masyarakat etnik Dayak eksistensi Enggang Gading lebih merasuk ke relung waktu dan jiwa lebih dalam lagi. Mereka sudah menganggap Enggang Gading sebagai sumber spirit. Oleh karena itu dalam sudut mitologi Enggang Gading ini mereka ibaratkan dewa, atau sumber kepercayaan.
Kami suka dengan nilai-nilai spiritual itu karena kami melihat dari nilai-nilai universalnya. Nilai universal paling menonjol dari Enggang Gading adalah cinta kasih, rasa sayang, dan kesetiaan.
Ungkapan-ungkapan di atas bukan sekedar ‘ngecap’ atau mencocok-cocokkan laksana bermain catur. Kami memang tak mahir bermain kata tanpa makna. Kami hanya berikhtiar dengan membongkar referensi atas morfologi dan biologinya di literatur-literatur ilmiah.
Secara morfologi, burung Enggang Gading khas Kalbar jauh lebih cantik dan indah ketimbang Enggang di region lain bumi Kalimantan. Ekor Enggang Gading kita panjang dan berwarna hitam-putih. Cula atau tanduk di kepala Enggang Gading kita juga lebih kecil sehingga tidak “besar pasak daripada tiang”. Artinya proporsional.
Secara biologi Enggang Gading punya daya survival yang tinggi. Ia mampu bertahan di hutan belantara yang liar dan buas. Ia bersarang di pohon-pohon yang tinggi.
Dalam hal kesetiaan, Enggang Gading paling utama. Sebagai contoh harmoni adalah saat induk betina mengeramkan telurnya. Induk jantan menjaga dengan setia selama tiga bulan lamanya. Ini tentu kesetiaan dan kebersamaan yang patut jadi teladan.
Melihat kekayaan makna sejak biologis, morfologis hingga filosofis dan religiusnya Enggang Gading wajar kami pilih sebagai simbol Borneo Tribune. Koran serius.
Kami memang bersemangat untuk tampil serius dan beda. Enggang Gading yang telah kami pilih sebagai contohnya. Ia tak serta merta ditampilkan apa adanya.
Banyak sekali pertimbangan yang tak mungkin kami urai satu per satu di sini. Kami mau ada sesuatu yang baru.
Ide muncul beragam. Hasil penuangan ide-ide itu kami konteskan. Hasilnya kami pampang di dinding kantor dan kemudian dinilai bersama-sama. Baik dari ukuran, bentuk, hadap-kiri atau hadap kanan sampai pewarnaan.
Berkali-kali logo ini naik turun komputer dalam proses tersebut. Disempurnakan dan disempurnakan terus. Sampailah pada bentuk akhir Enggang Gading yang distilir. Enggang Gading itu kami ukir dan sekaligus kami daftar di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Departemen Kehakiman.
Enggang Gading itu tidak kami warnai. Ia dibiarkan tampil hitam-putih sehingga muncul makna ketegasan. Makna ketegasan ini senada dengan tulisan Borneo Tribune yang menjadi “headmaster” koran kami. Kami ingin tegas. A di katakan A. Komitmen dikatakan komitmen.
Enggang Gading itu terbang ke arah kiri. Ini senada dengan pergerakan planet-planet dalam gugusan tata surya. Kami suka dengan simbol makro kosmos tersebut.
Kalau di simbol negara Garuda Pancasila di dadanya ada perisai, maka di dada Enggang Gading kami ada simbol terukir “love” atau kasih-sayang. Kami ingin detak jantung dan napas kerja kami sehari-hari adalah menebar cinta kasih kepada sesama. Tak ada permusuhan, tak ada dendam.
Sayap Enggang Gading kami di sisi kiri dan kanan berjumlah 9. Angka prima tertinggi. Jika digabungkan 99 adalah jumlah nama-nama Tuhan yang mulia.
Ekor Enggang Gading sebagai simbol kami berjumlah 6. Angka ini sama dengan jumlah masa penciptaan mikro dan makro kosmos kehidupan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan Cina angka enam pun disebut keberuntungan karena lafalnya nyaris sama dengan Bahasa Inggris, “Luck”.
Logo Enggang Gading yang kami pilih penampilannya berukir. Ukiran ini pun digali dari keragaman etnik yang ada di Kalbar. (Bersambung)

Baca selengkapnya..

Idealisme, Trilogi yang Diperdebatkan Berbulan-bulan

Oleh: Nur Iskandar
Setelah kesulitan ada kemudahan. Benar. Setelah kesulitan ada kemudahan. Rangkaian kata di atas mudah diucapkan, tapi berat dalam pelaksanaan.
Kami seluruh awak redaksi, pracetak, administrasi hingga sirkulasi dan advertensi di Borneo Tribune tidaklah memulai langkah penerbitan koran harian ini dengan mudah. Begitu panjang jalan yang mesti ditempuh. Jalannya berliku-liku sehingga kata-kata suci di atas benar-benar bisa kami rasakan. Menikmati segala lika-liku ruang dan waktu sehingga pelajaran demi pelajaran bisa kami petik. Memetik buah belajar yang esensinya berubah dari tidak tahu menjadi tahu serta berubah dari sikap mental yang keliru menjadi benar atau true.
Kami turut merasakan apa yang pernah dikatakan pujangga asal Timur Tengah namun “besar” di Paman Sam, Khalil Gibran, “Jika engkau hendak menemukan fajar, engkau harus berani melewati malam.” Kalimat di atas itu identik dengan jika ingin dinisbahkan sebagai pelaut ulung mestilah jago menghadapi ombak dan badai, atau sejalan dengan kisah hidup tokoh emansipasi wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini dengan “Habis gelap terbitlah terang”.
Kami berniat menjadi penerang atau enlighten bagi masyarakat. Pers pun memang pelita penerang dalam kehidupan. Ia sudah menjadi aksioma. Oleh karena itu wajar jika lembaga-lembaga pers banyak menggunakan simbol pelita, lampu atau obor dalam menandakan peran enlightening. Pepatah pun menyanjung dengan kata “dian nan tak kunjung padam”.
Fungsi penerangan di negara kita telah pula disahkan dalam Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999 di mana fungsi media/pers adalah menyampaikan informasi, mengedukasi atau mendidik, menghibur atau mengentertein sekaligus kontrol sosial bagi masyarakat. Jadi, tugas penerangan, mereportase atau menerbitkan media seperti Borneo Tribune juga adalah bagian dari tugas negara. Pengabdian pada negara, nusa dan bangsa yang didukung UU. Tugas tersebut tidak kalah berat jika dibandingkan dengan tugas militer, kamtibmas, guru, yudikatif, legislatif dan eksekutif.
Di dalam pembukaan UUD 1945 amanahnya lebih jelas lagi, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Negara dan bangsa kita sesungguhnya adalah negara besar. Dilihat dari geografis dan demografisnya tidak salah, kita memang besar. Besarnya wilayah dan jumlah penduduk kita berada di urutan kelima setelah China, India, Amerika dan Rusia (sebelum pecah). Tapi jika dilihat dari segi jumlah medianya kita masih sangat terbatas.
Di China jumlah media cetaknya sudah mencapai 1500 sedangkan kita baru mencapai 1000-an. Maka kehadiran Borneo Tribune masih belum cukup. Masih dibutuhkan kehadiran media-media lainnya.
Sebagai laiknya kelahiran bayi, tidak hanya nama yang diperdebatkan, tapi juga visi dan misinya.
Lalu apa visi dan misi Borneo Tribune? Secara gamblang tertera di atas kata Borneo Tribune, yakni Idealisme, Keberagaman dan Kebersamaan.
Visi di atas ditetapkan bahkan diatur penempatannya setelah mengalami perdebatan berbulan-bulan. Betapa tidak, untuk menuliskan secara gamblang bahwa kami bekerja atas nama idealisme bukan tanpa pertimbangan dan segala tampik resikonya.
Masukan dari satu kepala dengan kepala lainnya berbeda. Kasus per kasus menyoal idealisme ketika berhadapan di lapangan disodorkan diperdebatkan. Puji Tuhan, kami mendapatkan way out atau jalan keluar dari masing-masing studi kasus secara profesional dan proporsional.
Unsur idealisme kami tancapkan sebagai dasar dari bangunan Borneo Tribune. Idealisme yang berakar dari kata ide dan ideal.
Borneo Tribune menumbuhkembangkan budaya kerjanya yang berakar pada ide-ide dan upaya menuju titik-titik ideal. Ideal dalam segala aspeknya. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari yang kecil-kecil. Mulai dari detik per detik. Sesuai dengan detak jantung kami. Sesuai dengan detak jantung kehidupan yang terorganisir, termenej dengan rapi.
Adalah sunnatullah, hukum alam, atau natural of law, bahwa alam ini terdiri dari unsur-unsur yang beragam. Alam ini justru menjadi indah karena keberagaman. Sebaliknya menjadi hampa jika yang dilakukan adalah penyeragaman.
Kami di Borneo Tribune merintis sejak awal bahwa kami terdiri dari orang-orang yang beragam. Beragam dari unsur pendidikan hingga etnis maupun agama. Kami sudah sepakat bahwa idealisme harus dijunjung tinggi dan keberagaman adalah keniscayaan. Adapun orientasi kerja kami adalah untuk kebersamaan. Kebersamaan dalam lingkup terkecil di Harian Borneo Tribune, dalam lingkup yang lebih besar berupa harmoni bagi keluarga besar warga Kalimantan—warga dunia yang tanpa tapal batas.
Trilogi yang diperdebatkan berbulan-bulan itu kini sudah kami proklamasikan. Kami perlu self correction atas trilogi itu saban hari. Kami juga butuh dukungan dari para pembaca di mana pun berada untuk terus mengingatkan visi-misi tersebut. Kami sadar bahwa kami tidak hidup sendiri. Kami butuh tegur sapa, kritik konstruktif dari Anda semua.
“Demi waktu, sesungguhnya setiap orang itu rugi. Kecuali orang-orang yang beriman. Yang saling nasihat-menasihatkan dalam kebenaran. Saling nasihat-menasihatkan dalam kesabaran.” (Bersambung).

Baca selengkapnya..

Kami Pilih Nama Borneo Tribune

Tak Kenal Maka Tak Sayang (1)
Oleh: Nur Iskandar
Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Oleh karena itu dalam edisi perdana percontohan Senin (14/5), kami hadir untuk memperkenalkan diri.
Nama koran ini Borneo Tribune. Ditulis dengan tipe huruf klasik.
Nama Borneo sebenarnya adalah nama pulau terbesar ketiga di dunia setelah Green Land dan Papua. Kami bangga berada di pulau terbesar ini. Terlebih Borneo juga jadi paru-paru dunia karena keanekaragaman hayatinya yang tak tertandingi oleh kepulauan manapun juga.
Nama Borneo sudah tertulis di pustaka-pustaka tua mancanegara. Oleh karena itu Borneo sudah tercatat dan terkenal di mana-mana ketimbang nama barunya yakni Kalimantan.
Sesungguhnya kata Borneo berasal dari kata Brunai, yakni sebuah nama dari tumbuhan perdu yang hidupnya di pinggiran sungai dengan tipikal batang bertekstur keras dan berstruktur lurus. Kayu ini seringkali digunakan sebagai bahan bangunan atau tongkat. Brunai (Antidesma neurocarpum) juga sangat bermanfaat bagi ramuan obat-obatan.
Di masa penjelajahan samudera sudah mafhum daerah-daerah yang dikunjungi dicatat dengan rapi. Begitupula bagi Bangsa Portugis. Ketika mereka menemukan tanaman Brunai di pinggir sungai Kalimantan mereka menulisnya dengan Borneo, sebagaimana mereka menyebutkan Iban dengan Ibano. Dalam ilmu bahasa kaidah-kaidah seperti ini disebut dengan sistem tata bunyi atau fonologi.
Nama Borneo memang dipilih dari sekian nama yang diusulkan banyak pihak, baik di dalam maupun luar redaksi. Ada yang mengusulkan nama koran ini adalah Koran Baru, Harian Kami, Tribune Post atau Pontianak Tribune. Tapi pada akhirnya Borneo Tribune yang terpilih secara aklamasi.
Menurut fengshui, huruf B mendekati angka 8 yang berarti berkembang. Dalam kepercayaan Tionghoa angka delapan sama dengan hoki atau rezeki yang tak putus-putusnya. Alhasil jika dikongruenkan dengan aksara Arab, huruf B sama dengan Ba. Tak salah jika Bung Karno tokoh proklamator Indonesia saat meresmikan Alquran mushaf Indonesia menandainya dengan huruf Ba pada kata Bismillah (dengan nama Allah). Kami berkesimpulan bahwa kata Borneo memang “besar” sebagaimana kami punya keinginan koran ini tumbuh besar.
Sekedar intermezo sedikit. Pada suatu hari di awal bulan Nopember tahun lalu seorang sahabat berkata, “Berani kalian membuat koran? Di sini sudah banyak koran yang eksis. Apakah tidak menggarami lautan?”
Kami terkesiap. Pertanyaan itu hendak kami tangkis dengan sederet datum-datum dan fakta-fakta. Tapi belum sempat bibir ini melontarkan kata-kata dari berlembar-lembar konsep di benak, seorang tokoh menjawabnya dengan satu kata saja sehingga atmosfir diskusi terhenti beberapa detik. Katanya, “Bismillah.” “Dengan Bismillah kita melangkah.” Wajahnya menyiratkan antusiasme. Semangat.
Soal semangat berusaha dan ikhtiar kami memang tidak lupa. Kami terus belajar untuk itu.
Matshusita seorang pendiri Panasonic yang terkenal religius di Jepang pun menyerahkan sepenuh usahanya kepada Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak, “Jadi, jadilah,” katanya. Kami juga yakin, “Kun fayakun!”
Kami pun berharap Borneo Tribune sukses dalam tataran konsep manusia serta sukses dalam pandangan Tuhan. Semoga Borneo Tribune menjadi ladang amal bagi kami semua sesuai dengan visi idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Kata Tribune mengacu pada padanan kata pentas atau panggung. Pentas atau panggung kehidupan memang merupakan nafas media massa dengan arti yang seluas-luasnya dalam merekam, memberitakan serta menceritakan dinamika masyarakatnya.
Tribune juga merupakan nama media-media besar di manca negara. Kita mengenal Chichago Tribune, The Herald Tribune, bahkan Jiran dengan nama medianya Sarawak Tribune. Nama Tribune juga adalah nama “besar”.
Keterpaduan kata Borneo dan Tribune juga “pas” di kuping sehingga dari sisi marketing turut membuka pasar. Kami suka dengan kata Borneo Tribune sehingga kami pilih dengan harapan nama juga mengandung unsur doa. Unsur harapan untuk menuju perkembangan abadi.
Kami memang koran baru yang hadir di Kalbar, tapi kami tak ingin memulai aktivitas kami seperti bayi yang belum tahu apa-apa. Oleh karena itu nama Borneo Tribune kami tuliskan dengan tipe huruf klasik. Klasik menandakan kami berpikir, meriset jauh ke belakang untuk memproyeksikan informasi, edukasi, entertein dan kontrol sosial jauh ke depan. Kami memang lahir dengan bulat tekad serta semangat untuk selalu tampil terdepan dalam segala aspeknya yang positif. Jadi, kami tak ingin hadir hanya untuk kesia-siaan. (Bersambung)

Baca selengkapnya..

Minggu, 12 Agustus 2007

Merawat Suara, Meningkatkan Citra

Sisi Lain Deklarasi Koalisi Harmoni

Secara seremonial acara deklarasi Koalisi Harmoni berjalan sukses dan lancar. Sukses karena semua item acara yang direncanakan berjalan seperti yang diharapkan.
Lebih sukses dari sekedar penyelenggaraan adalah bahwa acara berjalan aman. Demikian karena massa yang terlibat tidak sedikit. Belasan ribu massa.
Sejak awal lapangan Taman Alun Kapuas yang digunakan sebagai tempat launching sudah terisi warga yang hendak menyaksikan acara. Terlebih acara launching ini juga menghadirkan artis-artis ibukota. Ada Denada, Thomas Jorghi dan Siti KDI.
Prihal jumlah massa yang hadir, dalam pandangan awam sudah cukup menunjukkan kekuatan UJ-LHK yang diusung 8 partai. Namun jumlah massa bukanlah ukuran suara dalam Pilkada secara signifikan sesungguhnya. Kita tak boleh silap mata dalam hal jumlah.
Jangankan data rerata nasional terhadap Pilkada, di Kalbar sendiri pun ada partai yang setiap kali menggelar acara selalu padat dan massif. Tapi masygulnya, dalam perolehan suara amat minim. Untuk duduk di DPR RI saja bahkan pupus.
Massa yang ramai hanya menyemarakkan dan menyemangatkan semata-mata. Massa yang ramai jangan segera membuat bangga. Massa yang sedikit jangan pula dikira figur yang diusung tak menarik minat publik. Belum tentu.
Berkenaan dengan kandidat gubernur Kalbar yang akan maju di Pilgub 2007 ini, semua mempunyai kans yang sama kuat. Ini tampak dari kantong-kantong massa yang dimiliki masing-masing. Sebutlah seperti Usman Ja’far-LH Kadir, HM Akil Mochtar-AR Mecer, Cornelis-Sanjaya, maupun Oesman Sapta, Buchary A Rachman hingga Henri Usman.
Yang terpenting dari para kandidat tentu saja adalah merawat kantong-kantong massa mereka. Caranya, massa di kantong suara itu jangan dikecewakan. Dan oleh karena itu janji-janji mesti ditunaikan. Jika kantong massa solid, dampaknya akan meluas.
Hal-hal sepele kadangkala menyebabkan sakit hati pemilih. Sakit hati sulit mencari obatnya. Ia bahkan bisa menjadi virus yang menyebar cepat. Dampaknya reputasi yang bagus menjadi merosot.
Sama halnya jika mereka terpuaskan. Reputasi yang kurang baik bisa meroket. Oleh karena itu tak jarang ada kandidat yang tak diperhitungkan tiba-tiba tampil sebagai pemenang.
Hal remeh temeh yang patut dicamkan para kandidat itu bisa berupa atribut yang dibagikan. Usahakan yang massa terima dalam kondisi bermutu. Penyampaiannya juga mesti bermutu.
Barang bagus jika cara memberikannya kasar, akan berakibat fatal. Sebaliknya, barang yang kurang bagus namun cara pemberiannya berempati, hasilnya masih lumayan.
Yang paling buruk tentu saja jika kualitas—sebut saja kaos--bermutu rendah, dus cara memberikannya juga terkesan menghina. Kalau begini lihat saja hasil akhirnya. Bisa-bisa calon “nyungkor”.
Cara-cara empati mesti dipikirkan para kandidat. Intinya adalah menarik hati pemilih. Hati mesti dipikat dengan hati pula.
Memikat suara dan meningkatkan citra mesti dimulai dari hal-hal kecil. Sebut lokasi tempat acara digelar. Jika seusai acara lokasi masih tampak bersih dan asri berarti pemimpin dan massa pendukungnya cinta akan kebersihan—ini akan menarik hati jutaan massa yang tak hadir di lokasi hajatan.
Hal lain tentu saja kata-kata dalam bicara, serta tingkah laku sehari-hari dalam keluarga, kerja dan bermasyarakat. Jika akhlak mulia, posisi yang bersangkutan tentu akan masuk ke komunitas yang mulia pula. □

Baca selengkapnya..

Sabtu, 11 Agustus 2007

Kursus dan Kompetisi Blog Web Design dan Tribune Merah Putih

Di medio Agustus ini usia Harian Borneo Tribune genap tiga bulan. Di seumur jagung ini telah tercatat banyak sejarah.
Di event eksternal nama Borneo Tribune sudah tercatat di berbagai lembaga. Sponsor-sponsor pun sudah menjalin kerjasamanya dengan koran yang termuda namun tumbuh tercepat di Kalbar ini. Dikemukakan tercepat karena tak gampang menancapkan eksistensi sebuah media di tengah-tengah masyarakat. Apalagi kompetisi media sekarang ini sangat tinggi. Hyperkompetitif seiring deregulasi reformasi di Tanah Air.
Untuk radio nama Borneo Tribune sudah menggema. Untuk televisi, Harian Borneo Tribune tampil dengan keunikan headmaster, pilihan berita serta teknik penyajiannya. Bahkan untuk televisi, Borneo Tribune sudah menjalin hubungan kerjasama dengan MTA-TV yang berpusat di London. Penyajian berita dengan 8 satelit itu ke-200 negara.
Di event PontiComTech yang dihelat di Pontianak Convention Center 8-13 Agustus, Borneo Tribune tampil sebagai media partner bersama sejumlah media lainnya. Posisi sebagai media partner ini juga terus bergulir ke Panitia Hut ke-62 RI di Pemkot Pontianak hingga berbagai event lain yang tak cukup tempat di sini untuk menyebutkannya satu per satu.
Di internal Borneo Tribune sendiri kami menggelar Kursus dan Kompetisi Web Design. Waktu penyelenggaraannya pada 14-16 Agustus 2007. Pembukaan kegiatannya di Ruang Rapat Walikota Pontianak dan selanjutnya kursus selama 3 hari berlangsung di Borneo Tribune.
Jumlah peserta kursus dipatok 20 orang saja yang terdiri dari pelajar SMA dan mahasiswa di Kota Pontianak. Silabus kursus, materi, handout, disediakan secara gratis oleh panitia pelaksana.
Kami menggelar kursus dan kompetisi di tengah suasana perayaan Hut ke-62 RI ini karena kami memang koran yang mengedepankan pendidikan. Kami tidak mau hura-hura karena mudharatnya lebih besar dari manfaatnya. Sebaliknya dengan pendidikan orang jadi lebih berilmu. Dengan ilmu hidup menjadi lebih arif dan bijaksana. Bahkan dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah.
Pendidikan bagi kami bertumpu pada brain. Pada otak. Pada mutu sumber daya manusia (SDM).
Kursus dan kompetisi blog web design ternyata disambut hangat oleh publik. Baru saja rencana itu dikemukakan, pendaftar sudah masuk bertubi-tubi. Kami pun merencanakan agar kegiatan diteruskan. Biarlah ia bergulir bak bola salju. Semakin lama semakin besar, dan semakin banyak orang yang tak perlu lagi gaptek atau gagap teknologi.
Kata Jhon Naisbit—seorang futurolog—siapa yang menguasai informasi dia menguasai dunia. Apalagi jika teknologi dan sistem informasi dikuasai, maka akan lebih mudah menggenggam dunia.
Menggenggam dunia dari Pontianak, who knows? Kita tak boleh menganggap remeh. Siapapun juga pasti bisa jika ia mau. Bukankah kunci kesuksesan adalah kemauan? Di mana ada kemauan di situ ada jalan.
Sejumlah kegiatan di atas kami presentasikan sebagai bagian kecil dari program Tribune Merah Putih yang kami rancang di sepanjang Agustus ini. Program lainnya menyangkut pemberitaan, pelayanan langganan koran, pelayanan mitra pariwara, dan tentu saja refleksi Hut RI yang akan kami helat di lingkungan internal keluarga besar Borneo Tribune sendiri.
Kami di Borneo Tribune benar-benar belajar dari Hut Kemerdekaan RI ini karena kami ingin jadi manusia yang merdeka. Merdeka dari kumpul kebo. Yakni kebodohan, kebobrokan, dan kebocoran-kebocoran.
Tribune Merah Putih sekaligus ingin mewujudkan partisipasi aktif dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jika negara sedang bergembira dengan Hut-nya, kami juga turut bergembira. Jika di sana-sini mengibarkan bendera, kami juga mengibarkan bendera. Jika di seluruh pelosok negeri berkibar merah-putih maka di Borneo Tribune juga sudah berkibar halaman Tribune Merah Putih. Dan atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, kami keluarga besar Borneo Tribune mengucapkan selamat atas Hut ke-62 RI. Salam Merdeka! □

Baca selengkapnya..

Rabu, 08 Agustus 2007

Peserta Kursus dan Kompetisi Desain Web Meledak

Nur Iskandar
Borneo Tribune

Pertimbangan bahwa ilmu desain blog web masih langka benar-benar menemukan faktanya. Begitu kesempatan dibuka, pendaftar meledak. Syarat peserta yang diajukan panitia kerjasama Borneo Tribune dan Panitia Hut ke-62 RI Pemkot Pontianak memang sederhana.
Mereka adalah pelajar SMA atau mahasiswa yang terdaftar di Kota Pontianak, mendapat surat rekomendasi dari sekolah, mengisi formulir pendaftaran, dan bersedia mengikuti kegiatan hingga selesai.
Pendaftaran yang dilakukan di Kantor Borneo Tribune di Jalan Gajahmada (Kantor Bisnis) dan Purnama (Kantor Redaksi/Percetakan) mengalir deras. “Agaknya tidak cukup sekali menggelar kegiatan ini,” kata panitia.
Jadwal kegiatan di tahap pertama dimulai pada Selasa, 14 Agustus 2007 (Hari Kursus). Pembukaan oleh Bapak Walikota di Ruang Rapat Pemkot dilanjutkan dengan rehat dan snack untuk kemudian ke Borneo Tribune Purnama. Pada 11.00-12.00 Pengantar Kursus Desain Blog dimulai.
Rabu, 15 Agustus 2007 materi kedua adalah Warming up Materi 1, Posting, Costumize, Editing, dan Membuat Blog Web Sendiri.
Kamis, 16 Agustus 2007 (Hari Kompetisi) dimulai dengan Desain Blog Web, Rehat dan snack, Editing, Isholdima, Launching 20 New Blog Web dan Penjurian dan Hasil.
Juara pertama, kedua dan ketiga masing-masing tropi, buku, piagam dan uang tabungan Rp 1.000.000, tropi, buku, piagam dan uang tabungan Rp 750.000, dan tropi, buku, piagam dan uang tabungan Rp 500.000. Hadiah bagi para juara disampaikan dalam kegiatan Hut RI ke-62. □

Baca selengkapnya..

Digelar Kursus dan Kompetisi Desain Blog Web

Geliat Hut ke-62 RI di Pemkot Pontianak

Nur Iskandar
Borneo Tribune

Teknologi internet dengan blog web kini merambah negara maju. Kemajuan ini harus diikuti. Bagi yang terampil patut menularkan dengan generasi muda lainnya.
Hut RI ke-62 patut diwarnai dengan kejuangan untuk menguasai teknologi canggih. Tujuannya agar kita tidak terjajah oleh teknologi. Sebaliknya kemahiran ini adalah untuk menguasai dunia demi kemanfaatan bersama.
Orang buta kenal gajah adalah salah satu tamsil yang dapat digunakan betapa belajar secara integral sangat perlu, terutama dalam penguasaan hightech. Kalau tidak dilakukan, maka kita akan sektarian dan ketinggalan. Dalam hal inilah jurnalisme memainkan peranannya untuk salah satu misi edukasi.
Sebelum terbit edisi perdana 19 Mei 2007 Harian Borneo Tribune melakukan riset selama kurang lebih 7 bulan untuk mendisain seperti apa wajah dan isi koran yang dikehendaki publik. Persentase tertinggi adalah pemberitaan pendidikan. Harian Borneo Tribune mempunyai sebuah lembaga pendidikan jurnalistik gratis bernama Tribune Institute. Tribune Institute menjadi media pendidikan langsung untuk “kelas belajar” dalam ilmu komunikasi termasuk desai blog web.
Harian Borneo Tribune, yang visi-misinya “idealisme, keberagaman dan kebersamaan” melalui sarana dan prasarana yang dimiliki berupaya tampil edukatif dan dapat bekerjasama dengan Pemerintah Kota Pontianak Cq Panitia 17 Agustus Pemkot Pontianak dalam rangka pencerdasan masyarakat agar melek teknologi. Di dalam etos kejuangan kemerdekaan ini digelar “kursus dan kompetisi desain blog”.
Kegiatan ini akan memberikan nilai tambah dalam hidup dan kehidupan masyarakat. Pada gilirannya masyarakat menjadi partisipatif atas pembangunan yang dipromotori pemerintah menjadi berdayaguna dan berhasilguna.
Kursus dan kompetisi ini akan mendorong kemajuan pembangunan melalui penguasaan teknologi desain blog, mewujudkan pembangunan partisipatif via jaringan teknologi informasi, meningkatkan interaksi dan dinamika pembangunan yang edukatif, dan media menjadikan dirinya sebagai jembatan komunikasi sehingga mengambil peran melepaskan distorsi pemahaman yang keliru atas pembangunan dengan hasil yang komprehensif untuk kemaslahatan masyarakat luas, serta mencapai prestasi secara bersama-sama, baik pemerintah, media dan masyarakat. Dengan demikian Kota Pontianak menjadi teladan pembangunan bagi daerah-daerah lainnya.
Kursus berlangsung tiga hari di Harian Borneo Tribune (14, 15 dan 16 Agustus 2007). Hasil desain dinilai oleh dewan juri dan pengumuman pemenang dilakukan pada pada rangkaian acara 17 Agustus di Pemkot.
Harian Borneo Tribune menyediakan tempat, komputer, internet, pelatih/instruktur dan juri. Pemkot melakukan peninjauan saat pelatihan/lomba. Pada acara 17-an penyerahan hadiah kepada para pemenang. (bersambung) □

Baca selengkapnya..

Hotspot 2007 Mulai Mengancam

Hotspot sudah tak asing di telinga kita. Hotspot yang berarti titik panas. Titik panas bumi itu terpantau oleh Satelite National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Melalui NOAA di Agustus 2007 ini sudah terdata 195 titik dan tersebar di 9 kabupaten/kota di seantero Kalbar. Angka ini masih bisa bertambah jika suhu terus meningkat. Semakin panas suhu makin mudah terjadi kebakaran. Terlebih jika aktivitas pembakaran lahan dan kebun terus dilakukan. Apalagi jika hutan dan gambut pun ikut-ikutan terbakar.
Khusus buat hutan jika terbakar, pemadamannya rumit. Alat semprot apa yang bisa masuk hutan? Kalaupun bisa dengan pesawat pasti biayanya amat sangat mahal. Begitupula jika gambut terbakar. Di atas padam, di bawah 1 meter masih merayap bara apinya. Sungguh biaya teramat mahal jika dua jenis mutiara (mutiara hijau dan mutiara hitam itu terbakar). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kalbar, Tri Budiarto (Baca Borneo Tribune edisi Rabu 8 Agustus) menegaskan adanya peningkatan titik panas sekitar 138 titik dari sebanyak 57 titik panas. Dan itu hanya berselang tiga hari dari nilai indikator yang digunakan. Oleh karena itu hitungan matematisnya, jika suhu terus meningkat maka jumlah hotspot bakal meroket. Artinya bahaya genting mengancam kita.Bahaya yang mengancam itu tentu saja api dengan segala eksesnya. Api yang membakar rumah, api yang membakar lahan, api yang membakar hutan dan api yang membakar gambut.
Api yang membakar rumah tak jarang kita ikuti dari tahun ke tahun setiap kemarau tiba. Jangankan di pedalaman, di tengah Kota Pontianak pun kerap kali terjadi. Sebutlah di kawasan Pontianak Timur, Pontianak Utara dan tetangga Kota Pontianak—tepatnya di Kompleks Korpri, Sungai Raya Dalam.
Lahan gambut yang terbakar—sengaja atau tidak sengaja—seperti ada yang melempar puntung rokok—kerap kali terjadi di jalur Jalan Ahmad Yani II. Pada gilirannya kabut asap dan partikel debu menjadi penghalang pandang. Penghalang pandang bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Partikel debu yang menyeruak dari pembakaran menyebabkan udara tak nyaman lagi untuk dihisap. Biasanya penyakit infeksi saluran pernapasan atas datang pula menyerang.
Secara medis, asap dan debu tak hanya menyebabkan ISPA, tapi juga radang. Kepala Dinas Kesehatan Drg Oscar Primadi, MPH pernah menyatakan, droplet dari debu bisa menyebabkan syaraf terganggu.
Berdasarkan pemantauan satelit NOAA, titik panas tersebar pada beberapa lokasi. Pada Senin, 7 Agustus, terpantau sebanyak 195 hotspot. Titik panas itu tersebar di Kabupaten Bengkayang 31 titik, Kapuas Hulu 11 titik, Ketapang 9 titik, Landak 14 titik, Melawi 14 titik, Sambas 2 titik, Sanggau 86 titik, dan Sintang 28 titik. Sebelumnya pada 5 Agustus, terdapat 57 titik panas, tersebar di Kabupaten Bengkayang lima titik, meliputi Kecamatan Jagoi Babang dua titik, Kecamatan Samalantan satu titik dan Kecamatan Siding dua titik. Kemudian Kabupaten Kapuas Hulu sebanyak satu titik di Kecamatan Nanga Silat. Kabupaten Ketapang terdapat tiga titik berada di Teluk Batang. Kabupaten Landak 28 titik dan semuanya ada di Kecamatan Serimbu. Kabupaten Pontianak terpantau tiga titik berada di Kecamatan Mandor, Sungai Kakap dan Sungai Raya, Kabupaten Sanggau 15 titik terdapat di Kecamatan Balai Karangan satu titik dan Entikong 14 titik, Kabupaten Sintang dua titik masing-masing di Kecamatan Kemangai dan Sungai Ukoi. Data di atas perlu disikapi pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Tujuannya agar bahaya yang mengancam bisa dihindari sejak dini. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Menyesal dulu menguntungkan, menyesal kemudian tiada berguna. □

Baca selengkapnya..

Dua Jempol Buat Bank Kalbar

Kabar gembira bagi masyarakat Kalbar bahwa Bank Kalbar menerima penghargaan Golden Award dari Majalah Info Bank untuk yang ketiga kalinya. Penghargaan ini diberikan karena Bank Kalbar memperoleh predikat sangat bagus dalam hal permodalan, aktiva produktif, rentabilitas, likuiditas dan efisiensi.
Tentu tak gampang bagi Bank Kalbar untuk mencapai hasil terbaik seperti itu. Terlebih bank yang dinilai Info Bank mencapai 137 buah.
Di tengah iklim perbankan yang sangat kompetitif prestasi yang dicapai Bank Kalbar benar benar laik diacungi jempol. Dua jempol.
Kita melihat hasil yang dicapai Bank Kalbar dari penghargaan yang diberikan Info Bank. Tapi tak jarang juga penghargaan dari lain pihak berdatangan. Sebutlah Tahun 2000– 2005 memperoleh penilaian dengan predikat sangat bagus yang ditinjau dari aspek permodalan, aktiva produktif, rentabilitas, likuiditas dan efesiensi dari majalah Info Bank. Tahun 2003 dan 2004 memperoleh predikat bank terbaik dari majalah Investor. Pada bulan September 2004 memperoleh piagam penghargaan citra pelayanan prima dari menteri pendayagunaan aparatur negara, dan kembali memperolehnya pada 22 Desember 2006 yang langsung diserahkan oleh presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Tahun 2005 dan 2006 memperoleh Golden Award dari majalah Info Bank karena telah berturut-turut memperoleh predikat sangat bagus. Pada acara BUMD & CEO BUMD Award 2006 yang diselenggarakan pada tanggal 8 Desember 2006 di Hotel Borobudur Jakarta memperoleh penghargaan sebagai BUMD terbaik tahun 2006, CEO BUMD terbaik, BPD terbaik dan terbaik II kategori pengelolaan keuangan.
Tanggal 19 Juli 2007 memperoleh Golden Award kembali dari Majalah Info Bank karena telah 5 tahun berturut-turut memperoleh predikat sangat bagus. Golden Award ini merupakan penghargaan ke-3 setelah tahun 2005 dan 2006.
Kita yakin banyak hal yang telah dilewati Bank Kalbar sebagai proses untuk mencapai posisi prestisius tersebut.
Yang kita ketahui Bank Kalbar dahulu pernah sakit. Ia sempat dirawat di masa ekonomi nasional sedang gonjang-ganjing. Terutama ketika isu KKN berhembus kencang di Indonesia sehingga lahir gerakan reformasi.
Jika negara melakukan proses reformasi secara politik dan ekonomi maupun sosial-budaya, Bank Kalbar juga melakukan agenda reformasi serupa. Dan ternyata hasil dari reformasi itu membuahkan prestasi.
Bank Kalbar berhasil mengikis praktik KKN dengan menyewa konsultan dalam rangka rekruetment pegawai-pegawainya. Proses yang akuntabel telah menyebabkan Bank Kalbar tampil produktif. Terlebih dalam sistem kepegawaian pun Bank Kalbar menciptakan sistem yang ketat, disiplin, dan kompetitif. Bagi yang tidak mampu berkompetisi mereka akan tersisih dengan sendirinya.
Menarik bagi kita bagaimana Bank Kalbar mampu melakukan reformasi itu. Salah satu jawabannya adalah kebersamaan dari para pimpinan, kerja keras, hingga contoh teladan.
Para unsur pimpinan di Bank Kalbar juga menunjukkan kemauan belajar yang sangat besar sehingga menjadi teladan bagi staf sejak di kantor pusat hingga ke cabang-cabang di kabupaten-kabupaten.
Di Bank Kalbar ada pelatihan-pelatihan internal yang intensif. Pelatihan-pelatihan keluar juga aktif. Tak jarang Bank Kalbar mengundang pemikir dan praktisi khusus untuk memotivasi para pegawai termasuk mitra-mitra Bank Kalbar itu sendiri.
Prestasi Bank Kalbar patut diiringi dengan pencitraan Kalbar secara keseluruhan. Demikian karena Kalbar selama ini lebih sering terekspose secara nasional sisi-sisi negatifnya. Sebutlah seperti derita TKI-TKW, kebakaran hutan dan lahan, hingga provinsi yang jumlah penduduk termiskinnya terbesar di Kalbar.
Dengan eksistensi Bank Kalbar sebagai bank terbaik, warga Kalbar patut memberikan apresiasi. Caranya dengan memberikan daya dukung lebih maksimal. Sebutlah menjadi nasabah atau sebaliknya sebagai kreditur yang produktif.
Hubungan timbal balik seperti itu akan semakin meningkatkan likuiditas keuangan Bank Kalbar. Semakin banyak warga yang tersejahterakan, akan semakin membuat citra Kalbar jadi lebih baik pula. Kita perlu kebersamaan untuk mencapai kemajuan di Kalbar. Bank Kalbar sudah memulai. Kita kapan? □

Baca selengkapnya..

Setengah Gaji Buat Beasiswa

Haru campur bangga ada anggota Dewan yang sanggup memotong gajinya 50% buat peningkatan mutu pendidikan. Lebih dalam lagi, berupa pemberian beasiswa.
Sosok yang melakukan praktek potong gaji tersebut adalah anggota DPR RI asal Kalbar, asal F-PAN, Dr M Fanshurullah Asa.
Memang benar bahwa janji potong gaji itu disampaikan Ifan—sapaan Fanshurullah—dalam masa kampanyenya tahun 2004 lalu. Tapi tak sedikit orang berjanji tapi ketika duduk di “kursi empuk” Dewan lupa akan janji-janjinya.
Ifan yang berasal dari “orang tak punya” ketika kampanye sadar sesadarnya bahwa pendidikan itu penting. Terutama bagi mereka yang tidak mampu.
Ifan sudah pernah merasakannya. Ia tak jarang berjalan kaki dari rumah kost atau sekretariat tempatnya belajar berorganisasi di kawasan Jalan KH Wahid Hasyim hingga ke Untan. Maka wajar dia tak mudah melupakan semua itu. Begitupula janji-janji kampanyenya. Begitu ia terpilih, begitu janji ini mesti direalisasikan.
Dalam pertemuan tasyakur atas pelantikannya dua pekan silan, Ifan menyebar sekitar 40 formulir yang bisa diisi pelajar dan mahasiswa. Bagi yang layak mendapatkan beasiswa akan diprosesnya secara langsung. “Saya suka orang-orang yang punya SDM. Dengan SDM orag bisa membangun lebih besar, lebih tinggi, lebih abadi.
Beasiswa sebenarnya sudah disiapkan pemerintah, BUMN dan BUMD atau lembaga donatur yang bersifat nirlaba. Hanya saja itu semua belum cukup untuk kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan kita. Masih dibutuhkan plafon dana dari sumber lain. Semakin banyak semakin baik.
Apa yang dilakukan Ifan tentu saja belum menjadi sejarah. Tapi ia sudah memulai. Ia memulai sejarah itu.
Kendati kita haru campur bangga, tapi Ifan masih membutuhkan kontrol agar pekerjaannya bisa lurus selurus-lurusnya.
Selain Ifan kita berharap anggota-anggota Dewan lainnya juga tergerak hati untuk menyisihkan “pendapatan” agar bisa memberikan bantuan bagi beasiswa.
Memang setiap anggota Dewan sudah banyak potongan. Baik dari asal partai, ormas dan lain-lain. Tapi yang namanya janjimembutuhkan kontrol agar dia ditunaikan. Ia sama dengan hutang dan hutang harus dibayar.
Kita membayangkan jika setiap anggota Dewan bersedia sedikit dananya dipotong bagi beasiswa, sudah pasti banyak anak yang terancam putus sekolah bisa diselamatkan.
Tak hanya Dewan di Pusat, tapi juga di provinsi, kota dan kabupaten. Hasil uluran tangan secara langsung ini sedikit-sedikit lama lama menjadi bukit pula.
Si penerima beasiswa akan tumbuh dengan baik untuk kemudian menggapai cita-citanya. Demiian karena mereka beroleh kesempatan belajar.
Ada baiknya anggota Dewan memikirkan lembaga yang khusus untuk mengelola beasiswa seperti ini. Lembaga yang menjadi terminal agar kontrol aliran dananya mudah dicheck.
Biasanya, jika lembaga pengelola bisa dipercaya bukan hanya anggota Dewan kelak yang semakin senang menggelontor dana atau pendapatannya bagi beasiswa, tapi juga orang lain, donatur lain. Mereka akan percaya.
Di pihak pelajar atau mahasiswa yang mendapatkan beasiswa, mereka akan menjadi iklan mahal bagi Dewan. Bahan kampanye positif yang terus berlipat ganda. Saking berlipatgandanya, nilai gaji 50% yang dipotong itu bisa jauh lebih murah jika dibanding dengan sumbangan-sumbangan langsung di kala kampanye. Apalagi jika yang dipraktikkan membeli suara. Inilah makna gebrakan potog gaji buat beasiswa. □

Baca selengkapnya..

Kabinet Chairil Kabinet Pelangi

Tidak hanya kabinet di Pusat yang “pelangi” karena terdiri dari berbagai unsur organisasi dan partai politik, di Universitas Tanjungpura juga pelangi. Jika di kabinet RI unsurnya parpol, di kampus Untan unsurnya fakultas dan etnis.
Tentang pluralisme atau kemajemukan untuk lembaga bernama kampus tentu sudah bukan makanan baru. Topik pluralisme sudah jamak diketahui. Nalar berpikir empirik para ilmuan setuju. Mereka di forum-forum terbuka selalu menyatakan kemajemukan adalah keniscayaan yang dibawa sejak lahir.
Hanya saja tataran implementasi memang menjadi unsur pembelajaran yang baik. Masyarakat luas menjadi belajar. Bahwa “power sharing” itu baik. Bukan hanya baik, tapi juga benar. Baik dan benar karena potensi konflik yang negatif jadi tersingkirkan. Pada gilirannya yang muncul adalah satu team work yang kuat. Dengan kekuatan seperti itu banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan.
Kampus yang merupakan lembaga pendidikan tinggi layak mempertontonkan proses “Pilpurek” seperti di Untan tersebut. Terutama pada pemilihan yang demokratis dengan hasil objektif kemarin, Sabtu.
Sebagaimana diberitakan Borneo Tribune, Minggu (5/8) terpilih Pembantu Rektor I Prof Dr Saeri Sagiman, Purek II Prof Dr Thambun Anyang, SH, Purek III Dr Edi Surachman dan Purek IV M Iqbal Arsyad.
Proses pemilihannya memang alot dan kompetitif, tapi aman dan legowo. Inilah manfaat jika pemilihannya terbuka.
Kita berharap dengan hasil kabinet pelangi di kampus Untan yang dipimpin Dr Chairil Effendi dapat mewujudkan cita-cita Untan secara keseluruhan. Begitupula kinerja yang tidak hanya di rektorat, tetapi juga dekanat hingga unit-unit kegiatan kemahasiswaan.
Memang sudah saatnya kita menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa masalah etnisitias itu sudah selesai. Dengan demikian kita tidak lagi ribut mempersoalkan apakah seorang pejabat ini etnis A, etnis B atau etnis C. Yang menjadi starting problem kita berikutnya adalah kualitas kerja para pejabat terpilih dengan penerapan visi keadilan di dalamnya. Adil kepada siapa saja. Termasuk dalam setiap kali keputusan-keputusan publik mesti diambil.
Jika dimensi keadilan yang ditonjolkan, tak ada masalah etnis yang menolaknya. Jika adil, etnis A pasti setuju, etnis B dan etnis C juga akan setuju. Kenapa? Karena sudah adil.
Masalah etnis berdasarkan sejarah kita di Kalbar kerap muncul lantaran ketidak-adilan. Ada pihak yang dirasa sudah di depan sementara ada yang masih di belakang. Padahal yang diperlukan adalah bergandengan tangan. Kampus yang kita ketahui sebagai tempat belajar perlu mempertontonkan adegan lebih lanjut dari proses pemilihan yang demokratis Pilpurek itu. Para Purek bisa bekerjasama dengan Rektor untuk saling asah, asih, asuh mewujudkan program. Program pembangunan kualitas akademis, kualitas kerjasama, kualitas kemahasiswaan serta tentu saja kualitas administrasi yang prima.
Jika jagad aktivitas yang prima itu terwujud, pembelajaran ini akan berlipatganda bagi masyarakat. Terutama menjelang pemilihan kepala daerah di bulan Nopember ini.
Masyarakat yang sudah belajar dari “kabinet pelangi” akan tahu di mana menjatuhkan pilihannya. Bahwa pilihan bukan terutama terletak pada etnis, tapi kualitas kerja yang berdimensi keadilan.
Power sharing yang mewujud-nyata seperti yang dipertontonkan Untan menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat di era Pilgub. Bukan hanya bagi masyarakat, tapi juga bagi para kandidat gubernur tentunya.
Dalam setiap pemilihan atau suksesi kepemimpinan tentu ada yang bakal menang dan bakal kalah. Yang menang mutlak diberikan kesempatan untuk mewujudkan janji-janjinya. Yang kalah memberikan dukungan seraya menjadi tukang kontrol pula. Di sini terbagi power sharing dalam bentuk pembagian tugas yang sama-sama penting.
Jika kita bisa memainkan peran penting dalam kebersamaan, kita akan merasa berguna dalam hidup bermasyarakat. Lalu, apakah yang bisa mengalahkan aspek kegunaan dari sesuatu benda, apalagi manusia? □

Baca selengkapnya..

The Home of Joy

Di sini senang di sana senang
Di mana mana hatiku senang...

Kutipan lagu tersebut di atas populer sejak zaman bahulak dan terus ngepop sampai sekarang. Nyaris semua orang suka dengan lagu ini. Tak peduli apakah dia anak-anak, remaja, atau bahkan orang tua.
Dalam banyak pelatihan motivasi dan leadership lagu ini tak jarang dilantunkan. Isinya bermain-main. Bersenang-senang. Dan kadang orang tua pun punya sifat kekanak-kanakan—suka bermain-main—sehingga enjoy. Fokusnya dengan enjoy hati senang pikiran terang. Dengan pikiran terang akan muncul kecerdasan dalam menyikapi keadaan. Resultante terakhirnya adalah hati tenang. Hati yang tenang adalah identitas orang yang dipanggil untuk masuk ke dalam surga. Baik surga yang penuh nikmat di dunia, maupun di hari akhir kelak.
“Barangsiapa di dunianya buta, di akhirat akan lebih buta.” Makna nasihat itu sama dengan siapa yang di dunianya selamat, di akhirat juga akan selamat. Syaratnya tentu beriman, berilmu, dan beramal.
Tampil sebagai manusia terbaik dengan mengikuti tuntunan orang-orang yang mulia seperti orang-orang yang rela terjun ke masyarakat sebagai edukator, guru, atau cerdik-cendikia yang selalu mengingatkan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah, mana utara mana selatan, mana siang mana malam, mana membangun dan mana yang menghancurkan.
Ilmuan seperti itu tergolong kategori ulama. Ulama pewaris para nabi dan rasul. Nabi dan rasul penyampai berita yang benar.
Filsafat Cina pun mengajarkan, “Jika engkau berencana untuk semusim tanamlah padi. Jika engkau berencana setahun tanamlah pohon. Jika engkau berencana sepanjang masa tanamlah kebaikan.”
Jurnalistik di mana para jurnalis menyajikan berita-berita, news-news, views-views syarat utamanya juga adalah harus benar dan objektif. Bisa diuji data dan faktanya. Bisa diuji dengan nilai dasar kebenaran. Nilai dasar yang sama itu akan idem dito apakah di Eropa, Amerika atau Indonesia.
Kalau sifat para pembawa berita itu benar benar benar, amanah, menyampaikan dengan tidak menambah dan mengurangi, smart, maka para jurnalis itu akan dapat melakukan karya terbaik dalam lingkungannya. Feedbacknya tatanan kebaikan. Mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
Kalbar yang penduduknya sekitar 4 juta jiwa juga bercita-cita membangun agar adil dan sejahtera. Keinginan itu adalah keinginan Indonesia, keinginan dunia, keinginan kita bersama.
Bahwa kondisi saat ini Kalbar adalah provinsi dengan penduduk termiskin di Bumi Borneo adalah kenyataan yang riil. Tapi kita tidak boleh pesimistis. Kita mesti optimis membangun dengan karya terbaik sesuai dengan profesi kita masing-masing.
Borneo Tribune adalah salah satu institusi pers yang berjuang untuk membangun Kalbar lewat informasi dan edukasi. Borneo Tribune berupaya tampil dengan menghibur masyarakat. Borneo Tribune berupaya tampil untuk melakukan kontrol sosial bagi masyarakat sehingga masing-masing pilar demokrasi berfungsi dengan sesungguhnya.
Organisasi pers sebagai organisasi kecil di tengah ragam organisasi lainnya juga adalah cermin bagi organisasi yang lebih besar seperti provinsi.
Crew Borneo Tribune yang multietnis, multireligi, multiorganisasi sejak awal membangun kebersamaan dengan home of joy. Home of joy yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Hasil perkalian antara home of joy diri dan keluarga sama dengan home of joy Borneo Tribune.
Di kala ada yang ulang tahun misalnya, tepuk riuh dan lagu happy birthday pun mengembang. Makanan dan minuman pun menghidang. Makan bersama tertawa bersama. Home of joy yang membingkai keberagaman menjadi kebersamaan.
Home of joy menjadi fundamen yang penting untuk dibangun sejak dini agar bisa membangun dengan riang. Riang gembira membuat kita kreatif. Kreativitas adalah sesuatu yang dijunjung tinggi karena dengan kreativitas bisa meningkatkan nilai tambah waktu, tenaga dan biaya.
Orang kreatif akan selalu putar otak. Putar otak laksana tawaf semesta. Hasilnya semesta. □

Baca selengkapnya..

Rekayasa Sukses Pilgub 2007, Kuncinya Data Pemilih

Nur Iskandar
Borneo Tribune

Kantor KPUD Kalbar yang duduk di antara Gedung Kantor Gubernur dan Universitas Muhammadiyah Pontianak sudah bersolek.
Puluhan bendera parpol peserta pemilu di Kalbar bertengger di atap gedung. Lembar bendera yang aneka warna laksana pelangi itu berkibar-kibar, melambai-lambai jika tertiup angin.
Tiga hari yang lalu pemandangan baru juga tampak di halaman Gedung KPUD. Puluhan umbul-umbul memenuhi pagar. Merah putih. Kali ini persiapannya adalah tahap pertama Pilkada yang “start” pada 13 Agustus 2007 dan tentu saja sekaligus menyelam minum air. Karena pada 17 Agustus Bangsa Indonesia memperingati Hut RI ke-62. Pilgub sendiri akan jatuh pada 15 Nopember 2007 jika dunia tidak kiamat tentunya.
Di dalam Gedung KPUD sendiri kesibukan kian terasa. Staf-staf sibuk menyiapkan bahan kesekretariatan. “Kami melakukan pertemuan dengan para pimpinan parpol di Hotel Kini untuk menyamakan visi, misi dan persepsi dalam menyongsong Pilgub,” kata Aida Mochtar orang nomor satu di KPUD Kalbar kala ditemui di ruang kerjanya empat hari lalu.
Mantan aktivis kampus dan Ketua Umum HMI Cabang Pontianak ini dengan gaya bertuturnya yang sistematis mengurai beberapa hal penting kesepakatan dengan para pimpinan parpol agar bagaimana Pilgub berlangsung sukses, bahkan big success.
Pertama, katanya, kesuksesan Pilgub harus dimulai dari akurasi data pemilih. “Ingat pemilu dan pilkada yang telah pernah kita lakukan. Kerap kali keributan terjadi karena sejak awal data pemilih belum akurat,” ujarnya.
Alumni IAIN Syarif Hidayatullah Pontianak (sebelum berubah menjadi STAIN, red) berharap warga Kalbar yang punya hak pilih untuk bersikap aktif untuk mendaftarkan diri kepada Ketua Rt. Begitupula kepada para pimpinan parpol agar mendorong konstituennya proaktif mendaftarkan diri. “Jangan waktu sudah sore baru mendesakkan diri agar KPUD mengakomodir suara mereka,” ujarnya bermetafora.
Aida yang menyelesaikan gelar magister humanioranya di Universitas Indonesia menggunakan istilah stelsel aktif untuk akurasi data ini. “Proaktiflah,” ujar Aida seraya memperbaiki jilbab yang dikenakannya.
Aida yang kala ditemui mengenakan safari warna gelap menlanjutkan, kiat sukses kedua agar Pilgub berjalan mulus adalah peran serta parpol. “Kita tahu bahwa parpollah yang mengusung kandidat. Mereka akan kampanye dan bersua dengan massa.”
Kata Aida, kalau parpol sadar sesadar-sadarnya atas maksud dan tujuan Pilgub secara langsung mereka akan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab. “Pertemuan di Hotel Kini kemarin berjalan mantap. Parpol-parpol antusias untuk menyukseskan Pilgub. Bahkan sumbang sarannya baik-baik semua.”
Ibu tiga anak ini menceritakan betapa PKS mengusulkan sesuatu yang berbobot. “Mereka mau menggandakan daftar pemilih sementara (DPS, red) agar jadi bahan koreksi. Mereka siap dengan dana mereka mandiri.”
Kalau dana fotocopy DPS menggunakan dana KPUD pasti tidak cukup dana yang ada. Semula hanya beberapa lembar, tapi kalau dikalikan se-Kalbar, dana bisa melebar.
Masygulnya usul brilian itu berhadapan dengan tertib administrasi. “Dalam ketentuan data pemilih hanya boleh digandakan menjadi dua berkas. Maka usul itu kami tampung untuk adanya perubahan sesuai aturan yang berlaku. Kalau kita pandai-pandai mengubahnya nanti berisiko hukum,” timpal Aida rada mengeluhkan sistem yang njelimet begitu.
Menurut Aida hal-hal seperti inilah yang kadang membuat jengah. Termasuk masalah administrasi yang kerap menyeret orang-orang KPU ke masalah hukum.
Lepas dari itu semua Aida optimis Pilgub akan berjalan mulus dan sukses. Alasannya Pilgub bukanlah pengalaman baru karena sebelumnya ada Pilpres yang langsung dan itu juga sukses di Kalbar. Jika ada kebersamaan, pasti ringan.
Katanya, jika Pilgub sukses tentu tidak hanya bendera di KPUD yang berkibar sumringah seperti sekarang, tentu juga di halaman Kantor Gubernur—tetangganya.
Dan kemenangan siapapun kandidatnya adalah kemenangan Kalbar. Untuk itu warga Kalbar patut pasang bendera aneka warna bersama-sama sehingga pelangi pun keki merasa tersaingi. □

Baca selengkapnya..

Selasa, 07 Agustus 2007

Dari Kalimantan ke Kelimutu


Catatan Perjalanan dari Flores (5)

Nur Iskandar
Borneo Tribune

Berada dalam komunitas Flores Pos saya merasa berada di dapur redaksi sendiri. Perasaan dekat begini sudah saya rasakan sejak di pers kampus tahun 1992 lalu.
Perasaan amat dekat itu dilatari profesi di mana kita sudah terbiasa dipuji maupun dicaci, diterima atau bahkan diusir. Sudah biasa klimak dan antiklimak seperti itu sehingga yang tertabal adalah visi-misi serta kesetiaan pada profesi itu sendiri.
Di hadapan puluhan pengelola Flores Pos saya katakan banyak perbedaan di antara kita, tapi banyak pula persamaannya. Lihatlah kita sama-sama orang media, tapi satu di Timur satu di Barat. Satu bangga dengan tempat lahirnya Pancasila, saya bangga dengan perancang lambang negara Garuda Pancasila. Yakni Sultan Hamid II, warga Pontianak, Kalimantan Barat.
Prihal kekayaan SDA, NTT yang dibilang kering ternyata tidak semua. Untuk Flores cantik dan subur. Bahkan ada Taman Nasional Kelimutu yang amat terkenal itu. Amat terkenal karena di satu lokasi ada tiga kolam raksasa yang warna airnya berbeda. Satu warna biru tosca, satu warna merah dan satu warna putih. Istimewa sekali.
Saya tak menyangka bisa menginjakkan kaki ke Kelimutu, karena jadwal di Flores Pos setelah di Ende adalah Maumere. Namun dalam perjalanan yang melelahkan itu, di tengah pulas tidur saya di dalam kendaraan roda empat, tiba-tiba terdengar suara Bruder Inno Making, SVD. “Nah kita sudah menuju ke Kelimutu.”
Saya terbangun. Mata saya tertumbuk pada gapura besar bertuliskan Kelimutu National Park. Taman Nasional Kelimutu. “Wow Kalimutu?” Saya setengah terperanjat.
Saya langsung teringat Dr Elias Tana Moning guru sekaligus sahabat saya yang baru saja mengunjungi daerah ini dengan menunjukkan foto-fotonya. “Amboi, sampai juga saya di sini. Alhamdulillah.”
Perjalanan dari Ende hingga ke lokasi Kelimutu sekitar 3 jam. Jalanan penuh lika-liku. Melewati sejumlah lokasi-lokasi berjurang yang dalam.
Kelimutu adalah sebuah gunung 1.690 meter dpl yang meletus pada 1886. Ia lalu meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiwu ata polo), biru (tiwu ko’o fai nuwa muri) dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna itu mulai berubah sejak tahun 1969 saat meletusnya Gunung Iya di Ende. Kawasan Kelimuti telah ditetapkan sebagai taman nasional sejak 26 Februari 1992.
Perlu cukup tenaga untuk sampai ke menara di mana kita bisa berdiri untuk menikmati tiga telaga tiga warna itu sekaligus. Waktu tempuh normal sekitar 20-30 menit.
Saya naik ke menara bersama sejumlah kepala biro Flores Pos. Di menara cukup ramai dengan bule-bule. Mereka rupanya datang dari Perancis.
Seorang bule tampak duduk di tangga menara paling tinggi. Dia melepas pandang ke telaga tiga warna. “Memang enak kalau mencari inspirasi di sini,” kata Om Hans, sopir Flores Pos yang menemani saya. Saya setuju. “Cuma sayang kita harus segera ke Maumere.” □

Baca selengkapnya..