Senin, 13 Agustus 2007

Idealisme, Trilogi yang Diperdebatkan Berbulan-bulan

Oleh: Nur Iskandar
Setelah kesulitan ada kemudahan. Benar. Setelah kesulitan ada kemudahan. Rangkaian kata di atas mudah diucapkan, tapi berat dalam pelaksanaan.
Kami seluruh awak redaksi, pracetak, administrasi hingga sirkulasi dan advertensi di Borneo Tribune tidaklah memulai langkah penerbitan koran harian ini dengan mudah. Begitu panjang jalan yang mesti ditempuh. Jalannya berliku-liku sehingga kata-kata suci di atas benar-benar bisa kami rasakan. Menikmati segala lika-liku ruang dan waktu sehingga pelajaran demi pelajaran bisa kami petik. Memetik buah belajar yang esensinya berubah dari tidak tahu menjadi tahu serta berubah dari sikap mental yang keliru menjadi benar atau true.
Kami turut merasakan apa yang pernah dikatakan pujangga asal Timur Tengah namun “besar” di Paman Sam, Khalil Gibran, “Jika engkau hendak menemukan fajar, engkau harus berani melewati malam.” Kalimat di atas itu identik dengan jika ingin dinisbahkan sebagai pelaut ulung mestilah jago menghadapi ombak dan badai, atau sejalan dengan kisah hidup tokoh emansipasi wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini dengan “Habis gelap terbitlah terang”.
Kami berniat menjadi penerang atau enlighten bagi masyarakat. Pers pun memang pelita penerang dalam kehidupan. Ia sudah menjadi aksioma. Oleh karena itu wajar jika lembaga-lembaga pers banyak menggunakan simbol pelita, lampu atau obor dalam menandakan peran enlightening. Pepatah pun menyanjung dengan kata “dian nan tak kunjung padam”.
Fungsi penerangan di negara kita telah pula disahkan dalam Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999 di mana fungsi media/pers adalah menyampaikan informasi, mengedukasi atau mendidik, menghibur atau mengentertein sekaligus kontrol sosial bagi masyarakat. Jadi, tugas penerangan, mereportase atau menerbitkan media seperti Borneo Tribune juga adalah bagian dari tugas negara. Pengabdian pada negara, nusa dan bangsa yang didukung UU. Tugas tersebut tidak kalah berat jika dibandingkan dengan tugas militer, kamtibmas, guru, yudikatif, legislatif dan eksekutif.
Di dalam pembukaan UUD 1945 amanahnya lebih jelas lagi, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Negara dan bangsa kita sesungguhnya adalah negara besar. Dilihat dari geografis dan demografisnya tidak salah, kita memang besar. Besarnya wilayah dan jumlah penduduk kita berada di urutan kelima setelah China, India, Amerika dan Rusia (sebelum pecah). Tapi jika dilihat dari segi jumlah medianya kita masih sangat terbatas.
Di China jumlah media cetaknya sudah mencapai 1500 sedangkan kita baru mencapai 1000-an. Maka kehadiran Borneo Tribune masih belum cukup. Masih dibutuhkan kehadiran media-media lainnya.
Sebagai laiknya kelahiran bayi, tidak hanya nama yang diperdebatkan, tapi juga visi dan misinya.
Lalu apa visi dan misi Borneo Tribune? Secara gamblang tertera di atas kata Borneo Tribune, yakni Idealisme, Keberagaman dan Kebersamaan.
Visi di atas ditetapkan bahkan diatur penempatannya setelah mengalami perdebatan berbulan-bulan. Betapa tidak, untuk menuliskan secara gamblang bahwa kami bekerja atas nama idealisme bukan tanpa pertimbangan dan segala tampik resikonya.
Masukan dari satu kepala dengan kepala lainnya berbeda. Kasus per kasus menyoal idealisme ketika berhadapan di lapangan disodorkan diperdebatkan. Puji Tuhan, kami mendapatkan way out atau jalan keluar dari masing-masing studi kasus secara profesional dan proporsional.
Unsur idealisme kami tancapkan sebagai dasar dari bangunan Borneo Tribune. Idealisme yang berakar dari kata ide dan ideal.
Borneo Tribune menumbuhkembangkan budaya kerjanya yang berakar pada ide-ide dan upaya menuju titik-titik ideal. Ideal dalam segala aspeknya. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari yang kecil-kecil. Mulai dari detik per detik. Sesuai dengan detak jantung kami. Sesuai dengan detak jantung kehidupan yang terorganisir, termenej dengan rapi.
Adalah sunnatullah, hukum alam, atau natural of law, bahwa alam ini terdiri dari unsur-unsur yang beragam. Alam ini justru menjadi indah karena keberagaman. Sebaliknya menjadi hampa jika yang dilakukan adalah penyeragaman.
Kami di Borneo Tribune merintis sejak awal bahwa kami terdiri dari orang-orang yang beragam. Beragam dari unsur pendidikan hingga etnis maupun agama. Kami sudah sepakat bahwa idealisme harus dijunjung tinggi dan keberagaman adalah keniscayaan. Adapun orientasi kerja kami adalah untuk kebersamaan. Kebersamaan dalam lingkup terkecil di Harian Borneo Tribune, dalam lingkup yang lebih besar berupa harmoni bagi keluarga besar warga Kalimantan—warga dunia yang tanpa tapal batas.
Trilogi yang diperdebatkan berbulan-bulan itu kini sudah kami proklamasikan. Kami perlu self correction atas trilogi itu saban hari. Kami juga butuh dukungan dari para pembaca di mana pun berada untuk terus mengingatkan visi-misi tersebut. Kami sadar bahwa kami tidak hidup sendiri. Kami butuh tegur sapa, kritik konstruktif dari Anda semua.
“Demi waktu, sesungguhnya setiap orang itu rugi. Kecuali orang-orang yang beriman. Yang saling nasihat-menasihatkan dalam kebenaran. Saling nasihat-menasihatkan dalam kesabaran.” (Bersambung).

0 comments: