Selasa, 18 Agustus 2009

Perjuangan Kita Saat Ini Adalah Memadamkan Api


Benar bahwa sudah ada turun hujan satu dua hari ini, tetapi kabut asap dan partikel debu masih menerpa kita. Dampaknya pasien infeksi saluran pernapasan akut di Kota Pontianak serta beberapa kota di Kalbar melonjak drastis.
Dalam konteks merenungkan makna kemerdekaan RI kita bertanya, apakah kita sudah merdeka? Merdeka secara politis atas penjajahan iya, tetapi secara ekonomi dan ekologi kita baru setengah merdeka. Secara ekologi bahkan kita dijajah oleh asap dan partikel debu.
Penjajahan asap dan debu—paralel dengan hal ini adalah DBD, diare—termasuk macetnya air bersih PDAM serta byar pet listrik—rutin datang setiap tahun. Agaknya lepas dari penjajahan politis di mana kita menang akibat adanya persatuan dan kesatuan belum mengetrap pada bentuk penjajahan lainnya sebagaimana tersebut di atas.
Seorang rekan sesama redaktur cum akademisi, Dr Yusriadi, MA berbisik ke telinga saya. Katanya, pemerintah bisa mengambil kebijakan ringkas dalam memungkasi kabut asap dan debu. Apa itu? Yakni perintah padamkan api. Di sinilah perjuangan baru itu.
Dalam benak saya berpikir bisakah? Tentu bisa karena tidak sulit membuat keputusan itu. Tetapi caranya?
Caranya tentu saja harus ibarat dua belah tangan. Saling bekerjasama antara kiri dan kanan. Artinya ada interaksi positif antara top dan down. Antara atas dan bawah serta bawah dan atas.
Pihak atas selain memberikan perintah juga diselaraskan dengan contoh teladan, keterbukaan anggaran dan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan publik. Sampah contoh konkretnya.
Kemarau menyebabkan dedaunan mengering dan gugur. Masyarakat menyapu dan kemudian membakarnya. Asap terus menggunung di udara akibat pembakaran spot to spot seperti ini. Ditambah lagi kebiasaan masyarakat kita mengentaskan sampah dengan cara membakar. Memang bersih di halaman tetapi mengotori udara.
Selama pemerintah tidak menyediakan sarana tempat membuang sampah di lokasi strategis serta mencukupi, selama itu pula problem ini tak akan pernah selesai. Belum lagi ditambah tingkat kedisiplinan yang rendah. Baik aparat dinas kebersihan maupun masyarakat dalam membuang sampah dengan cara yang baik dan benar.
Kita tak jarang mendengar anggaran pengadaan truk pembuang sampah dicoret di Dewan. Begitupula pengadan insinerator. Pada sisi lain masyarakat kompleks perumahan banyak yang protes karena di lingkungannya tak ada fasum pembuangan sampah. Jalan akhirnya ya membakar.
Musim buah yang mengembirakan petani menjadi malapetaka di tengah kota. Malapetaka itu adalah keranjang sampah tak tersedia. Alternatif kunci petugas membakar kulit buah di bak-bak sampah pinggir jalan. Bersih untuk sementara, udara tercemari kabut asap dan partikel debu.
Kualitas udara Kota Pontianak di musim kemarau amat buruk. Terlebih ditambah kebakaran lahan gambut yang tak mudah memadamkannya. Di atas 200 ppm udara sudah tidak sehat. Jika tidak sehat alamat sakit menunggu dengan daftar biaya obat menggunung. Belum lagi menimpa remaja dan balita yang masih belia ditusuk tajamnya partikel-partikel debu.
Saya sendiri menghitung puluhan lokasi sepanjang rute perjalanan yang saya lewati sehari-hari. Di mana-mana warga membakar sampah sebagai alternatif berbersih-bersih dari sampah. Mulai dari Paris II yang katanya komplek para elit hingga ke Kampus Untan. Di lingkungan Fakultas Kehutanan saja ada oknum yang membakar berkas dan atau sampah.
Di kawasan kantor saya sendiri Borneo Tribune warga membakar sampah. Mulai dari barang bekas bengkel hingga sampah ruko. Foto yang saya jepret adalah bukti konkretnya.
Jauh kata merubah peradaban, pola prilaku sehari-hari dengan memperlakukan sampah via membakar belum berubah. Ini PR besar. Ini perjuangan kita.
Boro-boro hendak memadamkan api di tengah hutan, yang di depan mata kita saja kita belum bisa berbuat banyak. “Now, I know,” kata Olaf warga Jerman yang bekerja di Kota Pontianak menyikapi kabut asap dan debu demi melihat banyaknya warga membakar sampah.
“Now I know,” adalah isyarat bahwa tradisi membakar ada di mana-mana. Ada di kota-kota, ada di kampung-kampung, ada di ladang-ladang dan ada di hutan-hutan.
Jika dengan momentum Hut RI kali ini kita bisa berjuang melawan api dan debu. Maka Hut RI 2010 kita sudah bisa meghirup udara bersih berseri. Mewariskan langit biru kepada anak cucu. Semoga bisa karena dengan bersama kita pasti bisa. Salam setengah merdeka.





0 comments: