Rabu, 04 Maret 2009

Ramai-Ramai Jadi Calon Presiden RI 2009-2014


Mana Putra Daerah Kalbar?

Di masa Orde Baru sebelum pemilu dilakukan sudah ketahuan siapa presidennya. Masa reformasi, kondisi sudah jauh berubah.

Di masa Orde Baru berkuasa, amat sangat sedikit putra-putri terbaik bangsa yang berani maju dengan alasan ewuh pakewuh. Kondisi itu kini sudah berubah. Setiap orang sesuai amanat UUD berhak memilih dan dipilih selama tidak mempunyai cacat hukum permanen. Sistem pemilihan juga berubah dari sistem legislasi menjadi sistem langsung. Kepala negara dipilih secara langsung oleh rakyat.
Calon-calon Presiden 2009-2014 sudah bermunculan. Selain incumbent SBY, juga Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri, Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla, serta yang terakhir muncul baru-baru ini Jenderal Naga Bonar—Deddy Mizwar—si bintang film.
Selasa, 24 Februari kemarin Dewan Integritas Bangsa (DIB) juga melaksanakan Konvensi Nasional Capres RI 2009-2014 di Gedung Taman Budaya Kota Pontianak. Hadir empat peserta konvensi masing-masing putra Bung Tomo--Bambang Sulistomo, politisi ICMI Dr Marwah Daud Ibrahim, mantan Menko Perekonomian Dr Rizal Ramli dan anggota DPR RI Komisi Pertahanan Dr Yudhy Crisnandi. Konvensi dihadiri 250 undangan, empat orang tim pakar, masing-masing Drs Gusti Suryansyah, M.Si (pengamat politik), Drs HM Ali Nasrun, M.Ec (pengamat ekonomi), Prof Dr Redatin Parwadi, MA (pengamat korupsi) dan Dr William Chang (ruhaniawan sekaligus pengamat sosial). Acara selama 4 jam ini diliput media cetak maupun elektronik, lokal maupun nasional.
Peserta yang hadir memberikan catatan maupun pertanyaan kritis cukup menukik. Hanya saja yang patut dicatat adalah tiadanya kader putra-putri Kalbar yang berani maju menjadi Capres Alternatif. Kenapa? Padahal di pentas politik nasional Kalbar cukup dikenal.
Hamzah Haz putra Ketapang pernah menjadi Wapres. Oesman Sapta yang kini Ketua DPD pernah menjadi Wakil Ketua MPR RI. Bahkan ke belakangnya lagi Sultan Hamid Alkadrie pernah menjadi menteri di Kabinet Bung Karno.
Bermunculannya capres-capres alternatif menyenangkan kita semua, sebab semakin banyak alternatif-semakin banyak pilihan. Di sini mestinya warga Kalbar jeli mendorong putra-putrinya masuk jajaran elit RI 1, tidak hanya “rebutan” jadi caleg DPRD Kota/Kabupaten, Provinsi dan DPR RI. Mestinya ini saat terbaik menunjukkan “inilah Kalbar”. Kalbar pintar!
Sesungguhnya, semakin capres terbuka sejak dini, kita pun tidak seperti memilih kucing dalam karung. Sekarang kucingnya sudah keluar. Kita bisa pilih mana di antara kucing itu yang paling pintar menangkap tikus. Tikus itu adalah kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan Indonesia dari bangsa-bangsa lain.
Kita rindu putra-putri terbaik Kalbar muncul sebagai pemimpin di jajaran elit Republik. Kita ingin Kalbar menyumbang kepemimpinan nasional, memimpin dengan pintar nan santun, serta membawa bangsa dan negara menjadi pemimpin peradaban dunia. Semoga.



0 comments: