Sabtu, 14 Februari 2009

Ketika Saya Diulangtahunkan


Bangun tidur di subuh hari, Jumat 13 Februari kemarin ada yang berbeda. Sebuah kue dengan lilin di atasnya. Tertera angka 35.
Aku salat subuh dua rakaat. Aku bersyukur bahwa Aku masih bisa menikmati subuh hari dalam kondisi tubuh sehat wal afiat. Doa bangun tidur: Alhamdulillahi ladzi ahyana ba'dama amatana wailaihin nusur (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan saya dari mati yang sementara)benar-benar Aku camkan dalam pikir dan zikir.
Anakku Ocha yang menyusul bangun tidur segera meributkan kue ulang tahun ini. "Papa ulang tahun..." godanya, "ayo hidupkan lilinnya," pintanya.
"Tunggu Nada dan Bunda bangun dulu. Kita kumpul bareng untuk meniup lilinnya." Ocha terus merayu-rayu. "Ayolah Papa..."
Bi Sumi, Ira dan Dewi tiga orang "nanny" di rumah sedang sibuk dengan pekerjaannya. Nada dan Bunda menyusul bangun, dan lilin dinyalakan serta Aku kemudian meniup lilinnya. Ocha yang sudah tak sabaran memotong kuenya. Miring lagi. Aku tersenyum melihat keinginan kuatnya menyervis Papanya. Dalam hatiku bahagia, betapa anak usia 5tahun ingin berbakti. "Nak, semoga Engkau tumbuh jadi anak yang shalehah..." doaku di dalam hati. Maklum di dalam hati kecilku ada rasa getir berkecamuk. Antiklimaks dengan kue ulang tahun yang ditiup apinya.
Sebagai bentuk kebersamaan, semua menikmati kue ini. Aku, Ocha, Nada, Bunda serta the three nanny. Alhamdulillah. Semoga manis hidup ini terus terasa sampai akhir hayat.
***
Ocha kuantar berangkat ke TK Mujahidin. Aku terus ke kantor. Di kantor Aku melaksanakan tugas rutin sebagaimana biasanya.
Email Aku buka. AlarmBell mengucapkan selamat ulang tahun buatku. Aku tersenyum. Betapa internet yang menguasai datakupun tak lupa mengucapkan selamat ulang tahun. Sungguh service excellent yang patut dipelajari dan diamalkan dalam rangka human relation yang terpuji.
15 menit sebelum jam 12 siang Aku berangkat ke Mesjid Raya Mujahidin. Aku ingin menikmati khutbah Jumat di hari ulang tahunku di mesjid terbesar milik Kalbar ini. Ketika memasuki mesjid dengan doa: Allahummaftahli abwaka rahmatik (Wahai Tuhan bukakan pintu kemenangan dan rahmat-Mu) tangan kananku meraba dompet. Maksud hati hendak mengisi celengan mesjid, tapi di sinilah Aku sadar bahwa walletku tertinggal di rumah.
Khutbah jumat seperti mewejangiku soal kehidupan. Soal hidup setelah mati. Ini kumaknai sebagai esensi dari ulang tahun. Ulang tahun sesungguhnya bukan panjang umur, tetapi jatah umur yang diberikan Tuhan terus berkurang. Aku sekarang sudah 35. Jika merujuk hadits Nabi bahwa "Ummatku rata-rata 60-70 tahun" maka Aku sudah separoh perjalanan. Hidupku tinggal separoh. Jika merujuk angka rerata seperti hadits Nabi. Pastinya, entahlah. Terpenting Aku harus siap "pergi" at any time. Semoga khusnul khatimah dan terus melakukan reportase alam barzakh (serius?)
Usai salat dan zikir ditambah salat sunnah dua rakaat, Aku tancap motor pulang ke rumah. Tangan dan lambung sudah bergetar karena lapar. Sementara Ocha yang sudah berada di rumah sejak pulang sekolah merengek minta makan. Aku memasakkan mie instan sebagai menu tambahan. Dan tatkala mie sedang diseduh telepon genggamku pun berdering.
"Bang...Abang cepatlah ke kantor. Ada orang komplein iklan. Abang neh ngape jak tak bisa dihubungi," kata Hesti, staf marketing dengan suara gugup bukan alang kepalang.
Aku tersentak. Indomie terasa los di tenggorokanku. "Papa kenapa?" tanya Ocha. Di sebelahnya ada Nada yang sedang lucu-lucunya. Usianya satu tahun setengah. Cerigasan karena baru pandai jalan, berlari dan berbicara.
"Papa harus ke kantor," kataku.
Dua pasang mata nan lucu itu mengiringi langkahku menjauh. Duhai Ocha dan Nada, Papa cinta kamu Nak!
Helm kupasang. Motor ku-start. Di benakku berkecamuk aneka setting-background. "Komplain iklan apa ya? Apa di Borneo Tribune sudah banjir iklan?" pikirku.
"Kemana kawan-kawan yang lain? Masak tetek bengek begini masih harus Aku?"
"Apa mungkin Hesty yang belum kenyang makan asam garam dunia marketing media sehingga gugup begitu rupa?"
Aku terus tancap gas. Dalam batok kepalaku hanya ada satu kata: tanggung jawab! Apapun harus Aku hadapi secara gentlement!
Dan Aku pun mendisain bahasa tubuh untuk menghadapi sesiapapun yang datang komplain. Apakah dia orang baik-baik hingga preman sekalipun. "Walam yakhsya ilallah!" prinsipku. Tidak ada yang perlu ditakuti kecuali Allah!
Dan sampailah ban motorku ke halaman parkir. Kulihat sepi-sepi saja. Hanya ada satu mobil Innova hitam dan sejumlah kendaraan roda dua.
Aku melirik ke Kantin Borneo Tribune. Seorang melambaikan tangan kepadaku. "Biasa saja," pikirku. Kaki terus berlomba melompati tangga naik menuju ruang redaksi di lantai dua.
Ruang tamu ketatap seraya melangkah. Sepi juga. Masuklah Aku ke ruang redaksi. Kulihat Wapimred Tanto Yakobus bekerja dengan serius. Headphone menutupi telinganya. "Dasar Tanto, orang komplain kok tidak dilayaninya," gerutuku dalam hati. Kutatap pula awak redaksi yang sedang bekerja. Manager Umum, Asriyadi Alexander Mering, sahabatku sedang menekuni laptopnya. "Siapa yang komplain," pikirku dalam hati. Hanoto duduk di meja kerjanya dengan serius. Begitupula Rizki Wahyuni, Rosalinda hingga Andika Lay.
Pintu ruang administrasi dengan sikap gagah perkasa kubuka. Sepi hanya ada Lina, Hesty dan Dwi Syafriyanti. Dan belum sempat Aku bertanya, serentak mereka bangkit berdiri dan menyanyikan lagu Happy Birthday To You....dst dst.
Allahu rabbi, jeritku dalam hati. Aku dikerjain anak-anak. Tapi Aku terima ini sebagai sesuatu yang unik. Lebih unik ketimbang dahulu di tahun millenium anak-anak SD kelas 5 dan 6 menghadiahiku kue tart ultah karena Aku mengajari mereka Bahasa Inggris. Berkesan. Luar biasa berkesan.
Tumpeng dinyalakan lilinnya. Lilin dan angka 35 itu di atas nasi kuning tiga tingkat. "Nasi tumpeng gaya baru," ledekku dalam hati. Aku sudah mengubah mindsetku dari siap siaga menghadapi orang komplein kepada acara bahagia ultahku yang terspesial. tak terduga. Luar biasa.
Awak redaksi dan staf kumpul semua. Dirut W Suwito ikut hadir memberikan ucapan selamat. Aku masih gamang. Kaget. Tapi senang juga. Ini bentuk perhatian teman, kawan, sahabat kepadaku.
Lewat tulisan ini kepada teman, sahabat, keluarga dan anak-anakku serta siapa saja yang membaca, Aku merasa sebagai manusia dimanusiawikan sebagai manusia. Puji serta syukur kepada Allah tak terkirakan atas kenikmatan hidup ini. Semoga dengan syukur ini Allah akan tambahkan nikmatnya kepada kita semua. Semuanya. Love for all.
Aku sadar bahwa Aku ini bukanlah siapa-siapa. Aku tak ada artinya tanpa orang lain. Aku perlu bimbingan, tegur sapa dari kalian semuanya.
Ingatkan jika Aku lalai. Tegur jika Aku lupa. Tawashau bil haq watawa shau bilshabr. Saling ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Hanya dengan pola komunikasi dua arah secara objektif dan imani kita terhindar dari kelompok orang-orang yang merugi.
Bagi yang berulang tahun di Bulan Februari dan bulan apa saja, saya pun mengucapkan met ultah yah...Dan bagi teman, sahabat, keluarga yang sedang sakit atau terluka, saya juga berdoa semoga lekas sembuh. Luka dan sakit semua ada obatnya. Insya Allah. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

2 comments:

stefanus akim, mengatakan...

Selamat ulang tahun suhu. semoga diberi umur panjang dan rejeki...


salam....
stefanus akim

Yauma Yulida H. mengatakan...

Selamat siang bang Nur Is. Maaf Terlambat mengucapkan. tapi Selamat Ulang Tahun Ya. Saya baru baca artikelnya dan baru tahu dari situ.