Sabtu, 13 Desember 2008

Sikap Tegas Skorsing SPBU

Baru terdengar Pertamina menjalankan fungsi kontrol yang keras terhadap SPBU nakal. SPBU yang tidak menjalankan tugas pelayanannya sesuai aturan.
SPBU yang diskorsing adalah SPBU yang tidak menghabiskan stok sesuai ketentuan. SPBU tersebut hanya menyerap subsidi pemerintah tanpa menjual bahan bakar, baik solar maupun bensin.
Sanksi tegas yang diberikan kepada lima SPBU di Kalbar itu baru berupa skorsing pelayanan. Artinya mereka tidak buka operasi sehingga karyawan mau tidak mau mesti diliburkan.
Kondisi seperti itu menjadi pelajaran berharga bukan hanya kepada pengelola dan pekerja, tapi juga pemilik. Oleh karena itu semua komponen di SPBU harus introspeksi diri kembali jangan hanya mau untung sesaat dengan menafikan keuntungan yang kontinue.
Penjatuhan skorsing ini mesti benar-benar dicamkan oleh SPBU “bandel” sekaligus peringatan bagi SPBU lainnya di Kalbar. Sebab kita mengetahui tak sedikit konsumen mengeluhkan pelayanan di SPBU. Selain pengurangan takaran, juga kemurnian bahan bakar.
Pengurangan pengisian bahan bakar telah diantisipasi Pertamina dengan penerapan alat tera yang canggih. Bahkan di media massa Pertamina mempropagandakan pengisian dimulai dengan angka nol. Hal ini sudah sangat baik sehingga meningkatkan citra Pertamina di mata publik. Tetapi kemurnian BBM? Publik tak dapat menera secara langsung melainkan tiba-tiba saja mesin mobil atau motornya rusak, mogok, dan mengalami karosi.
Pertamina harus jeli menjalankan fungsi kontrol yang jauh lebih dalam ke sifat-sifat “bandel” semacam ini. Yakni pencampuran BBM murni dengan bahan jenis lain demi mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.
Persaingan bebas di mana Shell dan Petronas bisa masuk ke wilayah NKRI menjadi ancaman persaingan. Hal serupa sudah terjadi di wilayah bisnis lainnya milik negara seperti telekomunikasi, perhubungan, transportasi dan berbagai kebutuhan sandang-pangan.
Standar pelayanan dan kualitas yang prima memang harus kita tunjukkan dari hal yang kecil-kecil serta dimulai pada saat ini juga. Kita tidak boleh menunggu-nunggu lagi sehingga komitmen menjadi kenyataan.
Di era krisis global seperti sekarang ini persaingan akan semakin tinggi. Persaingan di era kapitalisme menggurita ini yang kalah mati, yang menang berjaya.
Kita tentu tak ingin SPBU yang disanksi menjadi mati. Kita tak juga mau Pertamina kehilangan kredibilitasnya.
Kita sebagai warga yang sadar akan hak kewarganegaraan kita butuh pelayanan prima oleh aparat negara serta pengusaha yang menikmati alur dana negara. Kita ingin bangga menjadi tuan rumah di negeri sendiri.



0 comments: