Rabu, 10 Desember 2008

Menakar Manajemen Persampahan Kita

Jangan Basa-Basi Belaka

Volume sampah Kota Pontianak di masa Idul Adha bertambah 20 ton yang setara dengan 10 truk sampah. Pada musim buah, produksi sampah sehari-hari selama sebulan bisa meningkat 10-20 kali lipat.

Kepala Dinas Kebersihan, Sugimin berharap ada penambahan armada angkut agar Kota Pontianak menjadi bersih. (Baca Borneo Tribune edisi Rabu 10 Desember Halaman 3). Jumlah yang ideal menurutnya sebanyak 10 armada.
Harapan demi harapan kepala Dinas Kebersihan memang tak pernah berkurang. Terus bertambah seiring dengan semakin besarnya Kota Pontianak serta semakin bertambahnya populasi penduduk, yang berarti bertambah pula produksi sampahnya.
Dari satu kepala dinas kepada kepala dinas lain, selalu berharap bertambahnya jumlah armada, karena secara cepat dan tepat bisa memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari kontainer sampah ke tempat pembuangan akhir. Harapan itu tentu saja tidak salah karena demikian besarnya kritikan yang masuk kepada Dinas Kebersihan seolah-olah tak mampu mengurusi sampah. “Di sini sampah menumpuk Pak. Di sana sampah tak terangkut Pak. Di hulu menggunung Pak, di hilir tumpah ruah Pak. Kita tak bakal dapat Adipura Pak.” Komentar mengalir deras di wilayah-wilayah publik seperti surat pembaca di media massa. Cetak maupun elektronik. Juga saat dialog-dialog publik yang digelar lembaga masyarakat atau Dinas Kebersihan sendiri.
Selesaikah masalah sampah hanya dengan retorika? Open publik? Memang tidak, walaupun kritik itu tetap diperlukan sebagai bentuk adanya kontrol sosial. Tetapi menyediakan 10 armada juga bukan perkara gampang. Di dalam proses anggaran di eksekutif (Pemkot) dan legislatif (DPRD) tak jarang terjadi perdebatan yang sangat alot. Tak jarang jumlah 10 yang diajukan realisasinya hanya 5. Artinya berkurang 50% dengan alasan klise anggaran terbatas.
Kita berharap 10 armada yang katanya ideal itu memang bisa diwujudkan di tahun 2009, dan berharap pihak legislatif menyetujuinya. Namun terjaminkah masalah kebersihan di Kota Pontianak? Belum ada jaminan selama manajemen persampahan kita masih belum bergerak sebagaimana mestinya.
Kita mestinya membaca laporan seorang mahasiswa FMIPA Untan yang mendapat penghargaan untuk belajar manajemen persampahan di Jerman. Kota di Eropa yang bersih.
Manajemen sampah di sana dimulai dengan integral. Pemerintah menyiapkan sarana dan prasarananya seperti kontainer-kontainer sampah, tatib membuang sampah dan alat bantunya, sedangkan legislatif juga menyempurnakan dengan payung hukumnya. Polisi pamong kemudian menongkronginya dengan penegakan hukum yang tanpa pandang bulu. Yang membuang sampah sembarangan didenda.
Membuang sampah pada tempatnya dan sesuai dengan peruntukannya menjadi habbit atau kebiasaan. Dengan demikian sistem angkut juga menjadi efektif dan efisien. Bukankah mengangkut bahan organik seperti kulit buah durian, rambutan, langsat dll harus lebih cepat daripada kertas, plastik dan kaca karena cepat membusuk?
Dengan demikian moda transportasinya pun tak sebesar yang dibayangkan orang. Bahkan sampah bisa diubah menjadi rupiah. Di mana organik menjadi kompos sedangkan kertas dan kaca didaur ulang. Hal ini harus menjadi kenyataan.
Kita berharap manajemen persampahan Kota Pontianak bisa bergerak integral seperti di Jerman atau negara lain yang manju. Tidak hanya sekedar basa-basi belaka laksana retorika.
Manajemen yang hanya bisa disampaikan muluk-muluk tanpa realitas, kata orang Pontianak, “Basi’ dah.”



1 comments:

swisserikin mengatakan...

Hampir setiap petang, kalau tidak ada hujan, kita akan lihat dan cium bau asap di Pintianak dan Singkawang. Asap ini datang dari kebakaran sampah kering, seperti daun dan kertas. Kita menghargai niat baik yang membakar, iaitu untuk membersih kawasan rumah, malangnya tindakan ini membahayakan our lungs and breathing system.
Saya berharap penduduk jangan lagi membakar, tetapi letakkan sampah di tong sampah untuk dilepuskan oleh pihak berkuasa