Selasa, 04 Desember 2007

Biolog Jerman Temukan Biawak Baru di Sulawesi

"Mendadak Beken di Dunia Ilmu Pengetahuan"
Oleh: Yanti Mirdayanti/Freelancer

Baru-baru ini dunia ilmu pengetahuan fauna di Jerman dihebohkan dengan hasil penemuan jenis spesies biawak baru dari Sulawesi oleh seorang ahli biologi asal kota Bonn. Pemuda berusia 30 tahun berkacamata yang langsung beken di dunia ilmu pengetahuan Jerman ini bernama Andrè Koch.
Di beberapa koran Jerman Andrè Koch tampak sedang difoto memegang salah satu biawak Sulawesi hasil penemuannya. Biawak yang dipegangnya di
foto itu menurut pengakuan Koch panjangnya 1,60 meter. Foto itu bukan hasil bidikan wartawan, melainkan hasil jepretan dengan kamera Koch sendiri. Tentunya sebagai salah satu dari sekian dokumentasi pribadi Koch yang diambilnya selama masa penelitian di Indonesia.
Andrè Koch adalah seorang mahasiswa S3 untuk bidang Biologi Universitas Bonn, Jerman. Penelitiannya dilakukan di Indonesia selama kurang lebih enam bulan. Dengan menggunakan sampan di berbagai sungai, penelitian dilakukan Andrè Koch dengan berkeliling di beberapa kepulauan di Indonesia, terutama di Sulawesi dan sekitarnya. Penelitian dilakukan dengan berkali-kali datang ke Indonesia antara tahun 2005 dan 2007.
Selama masa penelitian dan pengumpulan data tentang biawak Indonesia, Andrè Koch ditemani Evy Arida, seorang counterpart proyek dari LIPI Bogor. Saat ini Evy Arida sendiri berdomisili di Bonn dalam rangka melakukan penelitian untuk jenis binatang Komodo. Seperti juga Andrè Koch, status Evy Arida adalah sebagai mahasiswi S3 di Universitas Bonn dengan dukungan beasiswa dari DAAD (German Academic Exchange Service).
Baik Andrè Koch maupun Evy Arida bisa ditemui setiap hari di tempat penelitiannya di Musium Penelitian Fauna Alexander-König di Bonn. Atau musium ini dikenal dí Bonn/Jerman dengan sebutan 'Zoologisches Forschungsmuseum Alexander König', disingkat ZFMK. Dalam rangka salah satu tugas pelajaran jurnalisme, saya berhasil menemui kedua ilmuwan muda ini beberapa waktu lalu di tempat penelitiannya.
Menurut Andrè Koch, jenis biawak baru hasil temuannya dalam bahasa Latin disebut dengan istilah 'Varane Salvator' atau 'Varanus Salvator'. Dengan mengejutkan dan tidak disangka-sangka sebelumnya oleh Koch, di Sulawesi telah ditemukan kurang lebih lima jenis biawak Varanus Salvator yang berukuran antara 2-3 meter. Yang berhasil ditemukan oleh Andrè Koch paling panjang adalah dua meter. Keistimewaan penemuan di Sulawesi ini adalah berkumpulnya berbagai jenis biawak yang memiliki ciri kulit luar yang berbeda-beda. Misalnya ada yang berwarna gelap sekali, berwarna coklat, bermotif garis-garis, maupun yang hanya berciri bercak-bercak sana sini. Hal ini menurut Andrè Koch tidaklah lazim, karena pada umumnya di setiap pulau di Indonesia hanya ditemukan satu jenis biawak yang sama saja. Yang ditemukan di Sulawesi adalah unik, karena keragaman jenisnya. Hal ini menurut Andrè Koch ada kemungkinan berhubungan dengan sejarah ekologi Indonesia di masa lalu, ketika perubahan suhu dari dingin ke suhu agak memanas. Kemudian karena tempat-tempat yang terisolisasi, di Sulawesi dimungkinkan berbagai jenis berkembang sendiri-sendiri atau tidak bercampur, sehingga bisa
ditemukan berbagai jenis biawak yang berbeda wujudnya seperti sekarang ini. Proses rute migrasi biawak-biawak Indonesia ini tentu saja merupakan salah satu dari penelitian Andrè Koch juga.
Walaupun biawak Varanus Salvator ini berukuran besar, namun tidak termasuk berbahaya bagi manusia. Makanannya termasuk jenis serangga, tikus, binatang reptil lainnya, serta binatang berkulit keras. Biawak jenis ini bisa hidup di air maupun darat (amphibi).
Menurut Koch, biawak yang ditemukannya merupakan salah satu jenis reptil kadal terbesar yang hidup di jagat bumi saat ini. Ada kemiripan dengan jenis dinosaurus jaman dulu. Biawak ini oleh Koch disebut juga sebagai salah satu jenis reptil yang paling pintar.
Biawak Varanus Salvator belum termasuk binatang terancam punah. Namun Andrè Koch merasa cemas juga dengan perkembangan bisnis kulit binatang reptil Indonesia saat ini. Indonesia yang merupakan negara pengekspor kulit binatang reptil terbesar di Asia, setiap tahunnya menjualbelikan sebanyak 400.000 kulit binatang reptil. Artinya setiap tahunnya ratusan biawak ditangkap dan kulitnya dijadikan komoditi pasar untuk tas maupun sepatu. Di beberapa daerah biawak dijadikan juga bagian dari menu makanan.
Dari penelitiannya, Andrè Koch berharap bisa memecahkan teka-teki, mengapa biawak Varanus Salvator yang berbagai jenis itu ditemukan di Kepulauan Sulawesi. Apakah ada hubungan kekerabatan antara satu jenis spesies biawak dengan jenis lainnya di sana? Dan bagaimana proses rute migrasi para biawak Sulawesi itu? Demikian diantaranya pertanyaan-pertanyaan yang ingin dipecahkan dalam penelitian Andrè Koch tentang
species baru biawak Sulawesi ini. 


0 comments: