Minggu, 11 November 2007

Cagub, Kita dan Bryan


Debat Publik yang disiarkan langsung tadi malam di TVRI dan RRI berjalan penuh retorika—tak jarang juga gelak tawa—adu konsep: visi dan misi hingga tataran aksi, maupun respon yang muncul dari para panelis, undangan, presenter Sandrina Malakiano maupun pemirsa atau pendengar di mana saja berada di seantero Kalbar.
Perjalanan acara debat publik yang mulus dalam tempo kurang lebih 3 jam patut diacungi jempol. Baik kepada para calon gubernur (Cagub) beserta pasangannya, panitia penyelenggara maupun simpatisan masing-masing Cagub. Kita patut memuji hal ini karena setelah kampanye terbuka dengan melibatkan massa, debat publik juga punya sisi kerawanan-kerawanan tersendiri. Dan untuk itu informasi yang saya dengar, tidak semua hotel berani menerima order tempatnya sebagai lokasi penyelenggaraan debat publik. Oleh karena itu dengan terselenggaranya kegiatan debat publik secara mulus dan lancar, kita amat sangat appreciate. Dengan demikian kita sudah selangkah lagi lebih maju untuk mewujudkan Pilkada Gubernur yang benar-benar damai hingga masa pencoblosan (15/11) serta pelantikan gubernur periode 2008-2013 (14/1).
Penyelenggaraan debat publik yang sukses menjadi cinderamata bagi kita semua untuk semakin optimis bahwa Pilkada Kalbar akan sukses hingga pelantikan gubernur 14 Januari 2008 mendatang.
Perhelatan debat publik itu sendiri pada mulanya tampak tegang. Hal itu terlihat dari raut wajah para kandidat yang kaku. Tapi perlahan semuanya mencair ketika masing-masing mulai melepaskan suaranya ketika dipersilahkan oleh presenter Sandrina untuk memanfaatkan waktu sepanjang 7 menit buat menyajikan visi dan misi untuk “jualan” agar dapat terpilih sebagai gubernur Kalbar periode 2008-2013.
Sajian visi-misi selama 7 menit memang kurang untuk mempresentasikan Kalbar yang sangat luas ini. Begitupula bagi para panelis yang menguji visi-misi serta “menggelitik” urat geli dari para kandidat agar “keluar” aslinya sehingga selain jawaban lisan, juga gerak badan bisa dibaca pemirsa demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas sehingga tidak ibarat kata pepatah “memilih kucing di dalam karung”.
Pada tataran visi-misi semua kandidat ingin agar Kalbar maju dan sejahtera, hanya penekanan prioritas saja yang berbeda-beda. UJ-LHK menekankan pada kelanjutan programnya karena berposisi sebagai incumbent (pejabat berkuasa), OSO-Lyong pada pendidikan dan kesehatan gratis, Akil-Mecer pada perlunya gubernur baru karena Kalbar masih miskin sehingga dapat terwujud Kalbar yang sejahtera, serta Cornelis-Christiandy yang menekankan pada aspek profesional pemerintahan dan pendidikan dengan prinsip bersatu kita menang.
Jika direnungkan kesemua “jualan” visi-misi itu tentu semuanya baik dan semuanya prioritas. Yang berbeda hanyalah “style” atau gaya kepemimpinan. Dan untuk penampilan kepemimpinan keempat kandidat semua sudah teruji dan terbukti. UJ-LHK incumbent. UJ mantan CEO di A-Latief Corporation. OSO mantan Wakil Ketua MPR-RI dan sukses sebagai pengusaha. Lyong terakhir adalah Asisten 1 Sekda di Pemprov Kalbar. HM Akil Mochtar adalah advokat sukses dan bersinar di DPR RI. AR Mecer kesohor lewat kerja briliannya membangun jaringan ekonomi Credit Union (CU). Sementara Cornelis sukses menjadi Bupati Landak, dan Christiandy berpengalaman sebagai anggota DPRD Kota Pontianak serta praktisi praktis dunia pendidikan, sejak menjadi guru, kepala sekolah dan mengelola yayasan pendidikan.
Kesimpulan kita, empat pasangan tersebut adalah kader-kader terbaik Kalbar yang telah lolos seleksi politik dan sosial. Dan kepada merekalah akan diamanahkan memimpin Kalbar selama 5 tahun ke depan.
Putaran pertama dan kedua para Cagub menjawab pertanyaan yang diajukan para akademisi Prof Dr Hj Redatin (pakar sosial), Prof Dr Aloysius Mering (pakar pendidikan), Dr Fariastuti (pakar ekonomi), Prof Dr Herujono Hadisuparto (pakar kehutanan), dan Dr Hermansyah (pakar hukum). Para cagub menjawab sesuai dengan nomor urutnya: Usman Ja’far-LH Kadir di nomor urut 1, Oesman Sapta-Ignatius Lyong nomor urut 2, HM Akil Mochtar-AR Mecer nomor urut 3, dan Cornelis-Christiandy Sanjaya nomor urut 4. Putaran jawaban Cagub kemudian dibalik dari nomor 4 ke nomor 1.
Jawaban yang disampaikan tampak dan terdengar plus-minus. Ada pertanyaan yang dilahap habis, tapi ada juga jawaban yang kabu-kabu karena Cagub tidak menguasai. Paling kentara ketika Prof Herujono bertanya tentang Clean Development Mechanism atau Mekanisme Pembangunan Bersih (MPB) terkait Global Warming. Semua kandidat tak ada yang menjawab dengan tepat terhadap point-point Protocol Kyoto tersebut sehingga ada jawaban melebar dan ada pula jawaban diplomatis.
Berbekal kondisi tersebut kita berpesan kepada siapapun gubernur terpilih untuk “belajar” menguasai segala aspek dalam pembangunan. Dan bagi saya pribadi semakin maklum bahwa untuk menjadi pemimpin nomor satu di provinsi itu amat sangat berat.
Betapa lucunya ketika Global Warming kemudian disambut dengan warning, good governance, hingga terkait pesawat terbang sampai alat komunikasi handphone. Padahal MPB adalah bagaimana kita semua menjadikan alam kita terpelihara dari segala unsur pencemaran dengan terutama mereduksi emisi gas buang (karbon) sehingga langit tetap biru, udara segar, gas metan tidak menimbulkan efek rumah kaca, dan alam lestari.
Memang pertanyaan yang diajukan para panelis dengan durasi waktu maksimal empat menit serta durasi waktu jawaban yang terbatas tidak akan sanggup membedah Kalbar secara tuntas. Yang bisa kita petik dari debat publik tak lain dan tak bukan hanya menilai penampilan para kandidat, sikapnya, caranya berpikir, dan janji-janjinya.
Untuk menjawab semua yang diajukan panelis, setiap Cagub nilainya plus-minus. Ada kelebihannya di satu sisi tapi ada kekurangannya di sisi yang lain. Sehingga setelah menyaksikan debat publik tersebut pendengar dan pemirsa dapat memilih mana yang terbaik menurut nuraninya masing-masing.
Lebih jauh dari itu, sejak sekarang kita juga mesti sudah lebih siap. Jika pasangan tertentu menjadi gubernur, kita sudah menyiapkan sikap untuk mengisi kekurangannya di mana dan bagaimana caranya.
Siap menang dan kalah tidak hanya perlu kita dengar dan saksikan dari para Cagub, juga kita. Demikian karena kesuksesan membangun Kalbar tidak semata-mata ditentukan oleh gubernur dan wakil gubernur, tapi juga kita.
Bryan sebagai salah satu contohnya. Ia yang masih SD kelas dua bisa mengharumkan nama Kalbar hingga ke PBB dengan karya nyatanya tanpa perlu menjadi KB1 atau KB2. Kita juga begitu. ■



0 comments: