Minggu, 11 November 2007

Borneo Tribune Kawal Pilkada Damai

10 November Bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan. Kobar semangat Bung Tomo yang melecut semangat perlawanan terhadap tentara penjajah bagi arek-arek Surabaya menunjukkan betapa Bangsa Indonesia adalah Bangsa Pejuang. Komponen bangsa bergerak. Mereka merapatkan barisan. Mereka bersatu. Mereka rela berkorban dengan bambu runcing sekalipun walau nyawa taruhannya. Hasilnya tentara sekutu yang dipimpin Jenderal Mallaby tewas. Pada gilirannya sekutu menyadari bahwa Indonesia berhak atas kemerdekaannya. Indonesia adalah negara yang berdaulat serta berhak mengatur rumah tangganya sendiri.
Kini sudah 62 tahun Indonesia merdeka. Nilai-nilai kepahlawanan para pejuang masih tetap relevan. Relevansinya pun tak terlepas dari upaya kita melahirkan pemimpin provinsi Kalbar dengan mekanisme bernama Pilkada (pemilihan kepala daerah) secara langsung.
Masa-masa kampanye—terhitung sejak 29 Oktober telah berakhir seiring hari pahlawan. Hari ini (11/11) hanya berlangsung satu mata acara sesuai dengan desain penyelenggara Pilkada—KPUD—Debat Publik. Debat publik ini menampilkan empat pasang kandidat dan mereka berhadapan dengan para panelis. Warga Kalbar dapat menyaksikan keempat kandidat berdebat program kerja dan solusi alternatif memecahkan masalah-masalah pelik lokal, regional, dan internasional di bawah moderator si penyiar cantik—istri pengamat politik Eep Syaifullah Fattah—Sandrina Malakiano di TVRI dan RRI. Kedua stasiun ini menayangkannya secara langsung atau live reporting.
Melahirkan kepala daerah dalam konteks kekinian juga adalah perjuangan dalam mengisi alam kemerdekaan. Rakyat peras keringat membayar pajak dan dana Rp 86 miliar dikucurkan untuk gawe Pilkada. Belum lagi dana yang dikeluarkan oleh masing-masing pasangan kandidat sendiri. Sungguh sebuah proses yang teramat sangat mahal.
Oleh karena itu jika Pilkada di Kalbar dicemari dengan hal-hal yang tak patut betapa merugikannya.
Polisi, KPUD, Panwas, kontestan, tim sukses, para kandidat, tokoh masyarakat dan kita semua dituntut semangat kejuangannya untuk mengawal Pilkada damai. Damai yang menjadi hasrat bagi semua makhluk hidup, lepas dari siapapun dia, apapun partai politiknya, apapun warna kulitnya, dan di manapun wilayah domisilinya. Semua makhluk hidup membutuhkan suasana damai.
Sadar dengan kondisi Pilkada Kalbar yang butuh terjaminnya kondisi kondusif kami seluruh crew Borneo Tribune menjalin kerjasama dengan Forum Mediasi Kalbar, Untan, KPUD, dan Polda Kalbar menggelar dialog terbuka bertajuk Mengawal Pilkada Damai. Acara diikuti 53 peserta di Ruang Sidang Utama Rektorat. Acara ini berjalan sukses dan lancar serta menghasilkan pandangan-pandangan yang brilian di mana semua unsur yang hadir sepakat mengawal Pilkada damai.
Bangsa kita Bangsa Pejuang. Kita pun harus terus berjuang. Berjuang melahirkan kepala daerah yang legitimate serta dalam kondisi yang aman dan kondusif. Jika hal ini terwujud blue print aktivitas kita akan dicatat generasi mendatang dengan tinta emas.
Pers sebagai saluran demokrasi warga selain secara praktis mencatatkan sejarah itu, juga tak terlepas dari tanggung jawab sosialnya sebagai pejuang. Pejuang yang berjuang lewat jalur media massa. ■




0 comments: