Sabtu, 17 November 2007

Borneo Tribune Sukses Meng-cover Pilkada

Pemilihan kepala daerah secara langsung adalah gawe besar, apalagi di tingkat provinsi Kalbar. Dan bukan hanya Kalbar, tapi juga di Kota Singkawang di mana di bekas ibukota Kabupaten Sambas itu juga diselenggarakan suksesi kepemimpinan untuk periode 2008-2013.
Borneo Tribune sebagai koran yang baru berumur lima bulan harus bisa menyesuaikan diri dengan gawe besar tersebut. Oleh karena itu dengan segala daya dan upaya, melibatkan segala kemampuan dan sumber daya insani yang tersedia, maka disusunlah program kerja.
Di bagian keredaksian dibagi tugas untuk meliput peristiwa politik terbesar di tahun 2007 ini. Ada yang jaga gawang, ada yang menjaga sayap kiri, sayap kanan, menjaga lini belakang dan tentu saja juga ada gelandang yang bertujuan melakukan serangan.
Pilkada memang bukan pertandingan bola, koran juga bukan ajang sepakbola, tapi esensi manajemennya sama. Oleh karena itu kami menggunakan nilai-nilai dasarnya sebagai pedoman dalam bekerja.
Untuk meng-cover atau meliput Pilkada di Kota Singkawang kami sudah membuka biro dua bulan sebelum Pilkada di sana digelar. Begitupula dengan Pilkada Kalbar. Kami membentuk biro-biro secara besar-besaran.
Alhasil sebelum Pilkada memasuki babak pencoblosannya, kami sudah hadir pula di Kabupaten Pontianak, Ketapang, Landak, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu.
Sebagai koran yang baru berumur jalan enam bulan, membentuk biro hingga tujuh daerah menunjukkan produktivitas yang tinggi. Ini sama dengan satu bulan satu biro.
Membentuk biro itu sendiri tentu tidaklah mudah. Dia menyangkut personil, peralatan, jaringan, dan tetek bengek administrasi lainnya. Syukurlah kesemuanya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Semua peristiwa politik Pilkada dapat di-cover secara lengkap dan sukses.
Redaksi pun bukan satu-satunya bagian dari entitas koran, di dalamnya ada bagian periklanan, pemasaran, dan percetakan. Ketiganya setali tiga uang karena merupakan rangkaian yang tak terpisahkan.
Produk redaksi berupa pemberitaan harus memenuhi rasa ingin tahu pembacanya. Dengan demikian dia layak jual. Urusan jual menjual tentu adalah bisnis dari bagian marketing atau pemasaran. Advertising sublim di dalamnya.
Lantas apalah guna semua jajaran redaksi dan marketing siap secara paripurna di sisi materi dan intelektual, jika percetakan tak punya amunisi untuk mencetak?
Oleh karena itu kami semua berhitung. Bahan-bahan cetak harus tersedia.
Yang tak kalah penting yang kami harus komunikasikan kepada pembaca Borneo Tribune yang tercinta juga adalah “kebutuhan” dari para aktor politik yang terlibat dalam Pilkada. Mereka butuh promosi dan pencitraan. Mereka butuh kerjasama dengan media.
Sikap kami di Borneo Tribune tentu saja terbuka sebagai media yang benar-benar media. Siapa saja boleh mempropagandakan dirinya. Maka semua terlibat. Semua parpol, semua tim sukses, semua kandidat. Semua dapat bekerjasama dengan jalur-jalur yang profesional bersama Borneo Tribune.
Iklan diperlakukan sebagaimana layaknya iklan. Pesan koran untuk tujuan promosi dan menyentuh basis massa di kala kampanye juga dilayani sebagaimana laiknya. Begitupula terhadap advertorial. Kami membatasinya dengan pagar api atau firewall. Di sini iklan berbeda dengan berita.
Memang tidak ada aturan bahwa iklan harus berapa banyak di halaman mana, atau buat siapa. UU Pers tidak ada mengaturnya. Yang jadi patokan tentu saja etika dan estetika.
Pada tataran etika, kode etik jurnalistik juga tidak mengatur soal tersebut. Oleh karena itu yang tersisa adalah estetika. Prihal estetika ini kami perlu menyampaikan permohonan maaf kepada pembaca dan pelanggan setia Borneo Tribune jika di dalam masa kampanye Pilkada 29-11 November kemarin tampilan Borneo Tribune agak kaku.
Permohonan maaf kami yang kedua adalah tentang menumpuknya pesanan koran dari para kontestan yang berkampanye. Pesanan yang menumpuk menyebabkan stok kertas kami menjadi terbatas. Ditambah lagi traffict di Pelabuhan plus air di muara Kapuas surut. Untuk memproduksi koran kami mesti bongkar pasang kertas melebihi kapasitas ideal. Akibatnya deadline cetak menjadi molor dan koran yang tiba ke pelanggan menjadi terlambat. Atas keterlambatan itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kami berterimakasih atas kesetiaan dan saling pengertian dari para mitra, baik pelanggan maupun pengiklan. Terimakasih atas segala kepercayaan yang disematkan kepada kami. Kami juga terus bekerja keras untuk memuaskan pelanggan. Service excellent tentu akan menghasilkan reward excellent pula.
Akhirnya Pilkada pun sudah tinggal buah ujung. Hasil pencoblosan suaranya sudah dilakukan. Kita sudah mempunyai gubernur yang baru. Kita juga sudah punya Walikota Singkawang yang baru, juga buah dari Pilkada. Maka selamat atas terpilihnya pejabat-pejabat baru. Sedangkan untuk kontestan yang belum berhasil mencapai puncak, tak perlu kecewa karena membangun Kalbar bisa dari mana saja. Toh kita semua bersaudara.
Laiknya persaudaraan yang ideal, kita saling berjabat tangan. Saling tolong menolong dan sapa-menyapa. Semakin akrab kita semua, semakin satu hati dan kata. Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh. Semakin padu semakin tangguh. ■


0 comments: