Minggu, 29 Juli 2007

Kalbar Perlu Rekomendasi Profesor

Oleh: Nur Iskandar

Tak sedikit lembaga penyedia beasiswa di dalam dan di luar negeri yang membutuhkan rekomendasi profesor atau guru besar agar mereka “terjamin” masuk dan aman. Aman maksudnya, masa studi akan ditempuh sesuai waktu—atau bahkan lebih cepat—karena didukung oleh profesor yang tentu saja sudah pengalaman melewati masa-masa belajar di kampus. Garansinya sekali lagi adalah sang profesor.
Profesor, guru besar, pakar, atau mereka yang ahli di bidangnya adalah orang-orang terpilih. Mereka sudah menginvestasikan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit.
Mengingat profesor adalah seseorang yang dikenal oleh publik ber-profesi sebagai pakar, guru senior, dosen dan atau peneliti yang biasanya dipekerjakan oleh lembaga-lembaga-institusi pendidikan perguruan tinggi ataupun universitas, maka sebagai pakar, profesor umumnya memiliki empat kewajiban tambahan yang harus kita dudukkan secara proporsional. Terlebih untuk membangun Kalbar agar sejajar dengan daerah-daerah maju di segala penjuru dunia.
Pertama, profesor memberi kuliah dan memimpin seminar dalam bidang ilmu yang mereka kuasai baik dalam bidang ilmu murni, sastra, ataupun bidang-bidang yang diterapkan langsung seperti seni rancang (desain), musik, pengobatan, hukum, ataupun bisnis. Kedua, profesor melakukan penelitian dalam bidang ilmunya. Ketiga, pengabdian pada masyarakat, termasuk konsultatif (baik dalam bidang pemerintahan ataupun bidang-bidang lainnya secara non-profit). Keempat, melatih para akademisi muda/mahasiswa agar mampu membantu menjadi asisten atau bahkan menggantikannya kelak.
Keseimbangan dari empat fungsi ini sangat bergantung pada institusi, tempat (negara), dan waktu. Sebagai contoh, profesor yang mendedikasikan dirinya secara penuh pada penelitian dan ilmu pengetahuan di universitas-universitas di Amerika Serikat (dan universitas-universitas di negara Eropa) dipromosikan untuk mendapat penghargaan utamanya pada bidang ilmu dari subyek penelitiannya.
Universitras Tanjungpura yang berdiri sejak 1959 sudah tergolong kaya akan guru besar, pakar, atau mereka yang ahli di bidangnya. Mereka tentulah punya kapasitas untuk menyelesaikan sangat banyak masalah yang sedang dihadapi daerah Kalbar sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Etape” yang sulit dalam kehidupan mereka untuk “makan” bangku kuliah telah dilewati secara teoritis-akademis. Tak sedikit pula hasil-hasil riset mereka yang bermanfaat bagi kehidupan.
Ada baiknya mereka mendapat tempat yang terhormat, yang tidak saja di kampus, tapi juga untuk pemerintah daerah di mana mereka bisa berkontribusi pemikiran atas upaya-upaya membangun daerah. Logika lembaga pemberi beasiswa membutuhkan rekomendasi profesor agar calon peserta didik bisa masuk dan aman agaknya penting juga bagi Pemda Kalbar. Membangun Kalbar agaknya juga butuh “rekomendasi” dari profesor.
Jumlah 25 orang guru besar yang aktif di Untan saat ini bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran Kalbar. Nyaris semua pakar di bidang humaniora dan eksakta telah Untan miliki.
Sejenak jika kita bayangkan mereka kumpul, berembug dan membuat makalah bagaimana membangun Kalbar agar maju dan mandiri, mungkin dengan segera kita mendapatkan satu buku yang relatif sempurna. Tapi kenapa hal ini belum pernah terlaksana? Kami meneropong profesor-profesor Untan. Simak laporannya di edisi Borneo Tribune Minggu 29 Juli 2007. □

0 comments: