Kalender menunjukkan angka 29 di Bulan Desember. Tahun 2007 dalam hitungan hari sudah berganti. Kita semua bertambah umur.
Untuk ukuran hidup, pertambahan umur mesti diikuti dengan pertambahan pengetahuan serta pemahaman sehingga bisa menjadi tuntunan dalam menapaki hari-hari selanjutnya. Langkah yang lucky, yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya, ini kelompok yang beruntung.
Kita semua berharap berada di kelompok yang satu ini. Kita tentu tak ingin capaian hari-hari kita hari ini sama saja dengan hari kemarin. Apalagi hari esok juga dicapai sama saja dengan hari ini. Kelompok yang satu ini tentu jalan di tempat. Tidak ada kemajuan. Umur bertambah, tapi tak menambah.
Kita tentu juga tak mau masuk dalam kategori kelompok paling naif. Yakni capaian hari ini lebih buruk dari hari kemarin, serta hari esok lebih jelek daripada hari ini. Capaian hasil yang buruk sekali.
Agar lucky dalam mengarungi waktu, kami di jajaran manajemen Borneo Tribune, Sabtu pagi kemarin mengadakan rapat evaluasi akhir tahun. Rapat dipimpin Direktur Utama, W Suwito serta dihadiri seluruh bagian. Mulai dari redaksi, percetakan, marketing, IT, administrasi hingga keuangan.
Satu persatu bagian menunjukkan kinerjanya. Terhitung sejak terbit perdana 19 Mei 2007 hingga 28 Desember 2007.
Lika-liku perjalanan waktu sepanjang tujuh bulan penuh romantika. Ibarat bayi baru lahir Borneo Tribune sudah dihadapkan pada peristiwa-peristiwa besar, sejak dari kegiatan formal pemerintahan, niaga, hingga politik dan sosial kemasyarakatan.
Semua lika-liku perjalanan waktu itu berhasil dilalui Borneo Tribune dengan baik dan selamat. Di berbagai hiruk-pikuk 2007 manajemen berhasil menyikapinya dengan baik. Suatu langkah maju. Langkah going concern yang menunjukkan pertumbuhan dari segala devisi.
Di jejaring informasi dan marketing, jangkauan Borneo Tribune sudah se-Kalbar. Biro-bironya terbentang sejak Kabupaten Pontianak, Singkawang, Sambas, Ketapang, Landak, Sanggau, Sintang, dan Kapuas Hulu.
Kinerja biro-biro juga sangat mendukung program di kantor pusat sehingga volume tiras dan pariwara meningkat. Ibarat benih yang ditaburkan, dalam usia tujuh bulan sudah berkecambah, sudah tumbuh akar, batang dan cabang-cabang. Dalam masa pertumbuhannya ini sudah pula benih yang ditanam dengan keringat dan kerja keras itu berbuah.
Buahnya kami petik dan rasakan sejak bulan keempat. Bulan kelima dan seterusnya pendapatan terus berlipat.
Volume pendapatan terus dipupuk dan dipelihara untuk mengembangkan Borneo Tribune menjadi lebih berkualitas, lebih dekat dengan masyarakat, serta lebih meningkat pertumbuhannya.
Program kerja 2008 pun disusun dan ditata sedemikian rupa. Pembagian tugas dilakukan dengan lebih rapi dan sistematis.
Soliditas kerja tim menjadi bagian yang tak bisa ditawar-tawar. Inilah visi yang sejak semula sudah ditanamkan dalam-dalam, yakni visi kebersamaan. Idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Kenikmatan tumbuh dari bawah begitu terasa ketika mengetahui berapa capaian hasil di tahun 2007 secara simultan. Suatu angka realistis dan fantastis. “Kita tak mengira ternyata dalam perjalanan koran kita, bisa juga kita mencapai hasil seperti ini,” seorang peserta rapat evaluasi akhir tahun berkomentar. “Kita terus kembangkan usaha-usaha kita,” ungkap W Suwito dengan suaranya yang gegap gempita di ruang redaksi Borneo Tribune yang tampak terus bersolek.
Dengan evaluasi akhir tahun dan program 2008 yang reliable dan rasionable, kami berharap esok lebih baik dari hari ini, sehingga Borneo Tribune termasuk koran yang lucky.
Dengan posisi yang lucky, kami juga akan bisa menggenggam tugas media sebagai kontrol sosial dengan lebih baik. Lucky Borneo Tribune, lucky pula West Borneo. Happy new year. Selamat tahun baru. □
Sabtu, 29 Desember 2007
Evaluasi Akhir Tahun
Posted by Noeris at 09.43 0 comments
Minggu, 23 Desember 2007
Crime, Aksi Massa dan Etika Jurnalisme
Korban pertama ketika konflik terjadi adalah kebenaran. Pernyataan ini generalisasi dari berbagai pandangan pers atas sejumlah kasus konflik di seluruh penjuru dunia.
Konflik di Timur Tengah misalnya. Korban pertama bukan anak, perempuan atau orang-orang tua, tapi kebenaran. Begitupula di Irlandia, Afrika, Rusia, Amerika, tak terkecuali di Indonesia.
Kenapa? Karena masing-masing pihak mengklaim dirinya sebagai yang paling benar. Pihak A mengatakan dirinya benar. Pihak B juga mengatakan dirinya benar.
Jika kedua-duanya benar, lalu siapa yang salah? Kalau kedua-duanya salah, lalu siapa yang benar?
Adakah pihak yang gentlement mengakui bahwa pihaknyalah yang salah? Lalu adakah yang merasa dirinya benar, lalu legowo memaafkan?
Pers tidak berada pada posisi menyelesaikan konflik. Pers berada pada posisi menyampaikan berita dengan faktual, akurat, berimbang. Pada sisi akurasi, menyebabkan publik bisa menilai dengan mata-kepala sendiri siapa yang benar dan siapa yang salah. Termasuk lembaga yang berwenang menangani konflik. Khususnya aparat kamtibmas bernama polisi. Kasus kriminal yang terjadi menjadi ranah polisi menanganinya. Lalu, selanjutnya merupakan wilayah hakim di pengadilan untuk memutuskannya. Di lembaga peradilanlah warga bangsa menemukan keadilan, atas siapa yang benar dan siapa yang salah. Bukankah negara Republik yang kita cintai ini berazaskan hukum?
Kalau ke sana cara kita memandang, maka jurnalis dengan segala ilmu dan skill yang dimilikinya adalah diarahkan sepenuhnya untuk mencari kebenaran lalu melaporkannya. Kebenaran itu harus dicari, diteliti, dikonfirmasi, dipilah-pilih mana yang benar dan mana yang isapan jempol belaka. Dasar hukumnya UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers. Dengan demikian warga dapat membaca kondisi objektifnya. Dengan objektivitas itu terbuka jalan keluar yang “real-deal”. Yang arif dan bijaksana. Dan masyarakat akan selalu punya formula untuk hidup berdampingan secara damai. Termasuk di Kota Pontianak jika terjadi konflik, pada titik kulminasi, di setiap gang akan ada bendera putih dengan palang pintu bertuliskan: kami masyarakat cinta damai. Efektivitas dan efisiensinya sudah terbukti jitu dari waktu ke waktu.
Jurnalis tidak hanya mencari kebenaran lalu melaporkannya. Seek the truth and repot it. Tapi juga jurnalis punya hati nurani.
Dengan emblem hati nurani tersebut, dalam proses penuangannya, data dan fakta serta analisa yang sulam-menyulam di dalamnya, segala dampak negatif diminimalisir. Minimize harm. Sebab buat apa kebaikan yang sedikit jika menimbulkan malapetaka yang lebih besar? Transparan baik, tapi telanjang bulat juga tidak baik.
Jurnalis di dalam liputan konflik sebagaimana yang ditanamkan Borneo Tribune kepada seluruh crew-nya adalah bertindak independent. Act independently.
Dalam domain independensi ini setiap jurnalis meninggalkan di rumahnya suku, agama, ras dan antargolongannya (SARA) ketika turun meliput dan menuliskan berita-berita. Dengan demikian dia benar-benar berada di tengah-tengah. Di domain netral. Dan untuk ini dia menjadi tempat bagi warga bangsa untuk mengadu, mengeluh, dan menuangkan segala aspirasinya karena netralitasnya.
Jurnalis dalam liputan konflik juga mesti dapat dipercaya. Be accountable.
Kepercayaan publik kepada jurnalis termasuk kepada medianya, laksana nasabah kepada tellernya. Jika petugas bank dipercaya, maka nomor rekening dan isi rekeningnya nasabah pun boleh diketahui. Begitupula kepada jurnalis. Isi pikiran dan gagasan, serta hal-ihwal kehidupan warganya bisa diutarakan kepada sang jurnalis untuk disebarluaskan sesuai dengan etika jurnalisme yang selama hidup dapat dibuktikannya.
Jika kepercayaan, atau trust telah didapatkan, akan menjadi garansi atas kelangsungan hidup sang jurnalis dan media yang bersangkutan. Di dalam peran inilah jurnalisme damai dapat diwujudkan.
Terkait dengan kondisi Kota Pontianak yang siaga 1, menyusul peristiwa kriminal di Gang 17, Borneo Tribune berupaya menerapkan etika jurnalisme seideal-idealnya. Crime is crime. Kriminal adalah kriminal dan penangannya jelas mengikuti protap polisi. Oleh karena itu mari kita percayakan kepada polisi untuk menuntaskan kasus Gang 17 tersebut tanpa perlu terus menerus aksi massa, apalagi anarkis. Sebab anarkis akan melahirkan anarkisme baru, sebagaimana kekerasan melahirkan kekerasan. Bukankah tomat akan berbuah tomat? Oleh karena itu mari kita taburkan benih kedamaian dalam kehidupan ini, sehingga kita semua hingga anak cucu, juga akan selalu panen kedamaian. Amiin. ■
Posted by Noeris at 11.08 0 comments
Oleh-oleh 4 Kartu As
Dua jurnalis yang berhasil mengembangkan kapasitas diri mereka sesuai dengan minat dan bakat masing-masing bertandang ke Borneo Tribune sepekan yang lalu.
Pertama, mantan Redaktur Media Indonesia yang kini menjadi Pemimpin Redaksi PIP (Pusat Informasi Perkoperasian), Irsyad Muchtar. Kedua, Direktur Image Communication, Aqua Dwipayana. Nama yang terakhir sempat mengabdi cukup lama di Jawa Pos Grup.
Keduanya bertandang ke Borneo Tribune hanya berselang satu hari. Irsyad Muchtar datang bersama 20-an peserta pelatihan jurnalistik perkoperasian se-Kalbar yang bekerjasama dengan Dekopinwil Kalbar. Ia datang melihat proses kerja Borneo Tribune, sejak perencanaan pemberitaan, editing, layouting, hingga printing.
Irsyad yang sudah kenyang makan asam garam jurnalistik di Indonesia menyuntikkan motivasi, bahwa segala sesuatu bisa diraih jika mau bekerja keras, mau meluangkan waktu, dan mau berusaha. “Kuncinya pada kemauan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan,” ungkapnya.
Borneo Tribune yang baru berusia 6 bulan dengan tiras yang terus meningkat, serta volume iklan yang terus bertambah dijadikan bahan motivasi oleh Irsyad Muchtar di hadapan peserta diklatnya. “Borneo Tribune tak akan lahir jika tidak ada kerja keras, tidak mau meluangkan waktu, dan tak ada kemauan dari para pengelolanya,” ungkapnya.
Irsyad banyak menyandingkan model kerja Media Indonesia, PIP, dan berbagai media lain yang memenuhi cakrawalanya. Pertemuan di Borneo Tribune-pun tak kurang dari 1 jam lamanya.
Peserta antusias, sedangkan para crew di Borneo Tribune juga dapat memetik banyak pelajaran. Terjadi knowledge share dengan suasana akrab dan terbuka.
Hal serupa diperoleh dari Aqua Dwipayana. Dia mengajarkan peta jalan sukses sebagaimana dia telah merasakannya.
“Bekerja dengan 4 kartu As. Insya Allah sukses,” ungkapnya dengan kembang keringat di jidatnya yang bersih. Ia pun hadir dengan membawakan oleh-oleh yang renyah untuk dikunyah.
Kartu As yang pertama, menurut pria yang rajin beramal ini adalah kerja keras. “Tidak mungkin ada pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa kerja keras. Kalau tidur saja, habislah,” ungkapnya.
Kartu As yang kedua adalah kerja cerdas. “Kerja keras saja tidak cukup jika kita tidak kerja cerdas,” ungkapnya. Dicontohkan dengan tukang batu. “Apa kurang keras kerjanya? Tapi pendapatannya jauh lebih rendah ketimbang jenis pekerjaan lain. Kenapa? Karena menggunakan otot bukan otak untuk berpikir,” ujarnya seraya menyebut sejumlah tokoh sukses yang bisa mengembangkan kapasitas dirinya dari mulai gembel menjadi bos, atau milioner lantaran peras otot dan otak.
As yang ketiga adalah ikhlas. “Kerja keras dan kerja cerdas saja tidak cukup untuk menjadi orang atau lembaga yang sukses. Karena sesungguhnya hidup sukses itu bersarang pada hati. Kalau hati ikhlas, hidup akan bahagia,” ungkapnya.
“Apalah arti kita punya banyak uang dan reputasi, tapi kalau banyak musuh? Hati yang tidak ikhlas akan menyebabkan hidup kita sempit,” timpalnya.
As yang keempat adalah tuntas. “Ketiga hal di atas masih belum sempurna tanpa kerja tuntas, tas, taaas,” imbuhnya bercanda.
Aqua menyuntikkan banyak sekali motivasi sehingga 1 jam lebih dia berada di dapur redaksi Borneo Tribune.
Aqua melihat satu persatu crew Borneo Tribune. Dia berkeyakinan Borneo Tribune akan sukses dengan rumus 4 as yang disampaikannya.
4 kartu As yang diajarkan Aqua, maupun cakrawala yang disajikan Irsyad Muchtar kami genggam erat-erat. Untuk itu, pada bulan ketujuh kami membentuk biro kedelapan. Ini perkembangan baru di Kabupaten Sambas. Budi Rahman dapat kepercayaan untuk bertugas di sana.
Manajemen Borneo Tribune juga mengirim Kepala Biro Singkawang, Mujidi ke Jakarta untuk meningkatkan kapasitas dirinya dalam pemberitaan. Dia mengikuti Kursus Narasi di Yayasan Pantau dengan pengampu guru besar narasi, Prof Janet Steel dan Andreas Harsono.
Tak hanya membentuk biro dan mengirim crew untuk pelatihan. Borneo Tribune mendidik siswa-siswi SMA Ignasius di Singkawang untuk belajar jurnalistik. AA Mering tampil ke Singkawang bersama Andry. “Kalau kita menanam tomat akan berbuah tomat. Kalau kita menabur kebaikan, akan berbuah kebaikan,” ungkap dua motivator yang bertandang ke Borneo Tribune, Irsyad Muchtar dan Aqua Dwipayana.
Borneo Tribune sepakat untuk itu. Borneo Tribune juga sudah membuktikan kebenaran hukum alam tersebut. Untuk itulah mari kita eratkan kebersamaan dengan menaburkan lebih banyak bibit-bibit kebaikan. Kelak di kemudian hari kita bersama pula akan panen kebaikan-kebaikan hingga bilangan tak berbilang. Salam ■
Posted by Noeris at 11.04 0 comments
Kondusifitas Pelantikan Hasan Karman
Salut, dan acungan jempol buat entitas keamanan, politisi, tokoh masyarakat dan seluruh rakyat di Kota Singkawang. Pelantikan Walikota Hasan Karman (HK) berlangsung aman, sukses dan lancar, Senin (17/12) kemarin.
Pujian dan sanjungan datang dari berbagai pihak. Mereka, seperti Ketua MABM Kalbar, H Abang Imien Taha mengatakan, proses demokrasi ini adalah pilihan rakyat. Terasa rakyat dan aparat saling bahu-membahu untuk mewujudkan keamanan yang kondusif. Pada gilirannya semua pihak dapat menghirup udara segar dan roda pembangunan tanpa jeda. Terus berputar.
HK dan pasangannya Edy R Yacoub (ERY) segera dapat memanfaatkan suasana yang kondusif dengan langkah-langkah praktis dan strartegis. Langkah-langkah awal yang diambilnya akan mendapat sorotan banyak pihak.
Jika betul langkah HK-ERY, maka keduanya akan mendulang sukses jauh lebih banyak dan lebih cepat lagi. Baik internal maupun eksternal.
Usulan untuk langkah-langkah strategis itu sudah berdatangan dari banyak pihak. HK-ERY perlu merenungkannya, dan mengambil keputusan tepat.
Usulan utama adalah sesegera mungkin HK-ERY melakukan rapat internal. Keduanya perlu menyesuaikan data dan fakta dalam visi-misinya dengan realitas lapangan yang di depannya.
Program hanya bisa berjalan jika “sepaham”. Oleh karena itu cucuk-cabut “kabinet” tentu tak akan dapat dihindari. Parameternya jelas. Bagi yang sudah bekerja bagus-prestisius akan dipertahankan. Sebaliknya yang negatif, pasif, hanya menunggu bola, menunggu petunjuk atasan, harus didorong untuk maju lebih aktif sampai batasan waktu tertentu. Kejar target.
Jika target tidak tercapai mau tidak mau harus dimutasi ke tempat yang pas. Ini resiko.
Pendekatan persuasif dalam hubungan internal ini sangat menentukan keberhasilan HK-ERY. Untuk itu HK-ERY harus terbuka, sedia membuka diri, dan open management. Dengan demikian tingkat kepercayaan pada pasangan ini akan dapat dipertahankan. Di mana nilai open tersebut tak lain adalah upaya menjalankan pemerintahan yang baik (good government) dengan azas transparansi (keterbukaan), akuntabel (dapat dipercaya).
Dalam rangka meeting internal, HK-ERY juga patut “sowan” kepada tokoh-tokoh masyarakat, sehingga “restu” para tokoh makin menguatkan posisi keduanya. Pada sisi lain adat ketimuran dapat dipertahankan dengan nilai-nilai positif di dalamnya.
Lintas generasi, antara senior, yang sedang berkuasa dan generasi muda menjadi teladan yang baik untuk politik. Estafeta pembangunan Singkawang akan bergerak efektif dengan dukungan semua pihak serta menjadi cahaya gemilang buat teladan kepada daerah-daerah lainnya di Kalbar.
Jika HK-ERY juga memprioritaskan mengunjungi bakal arena MTQ Provinsi di mana Singkawang sebagai tuan rumahnya di tahun 2008 dan atau rehabilitasi Masjid Agung, akan mengangkat citranya di komunitas muslim-melayu yang notabene cenderung memilih pasangan Awang-Raymundus. Hal ini akan memetakan HK terutama sebagai tokoh yang cair, polar dan sublim.
Juga menarik usulan kepada HK-ERY untuk menjadikan Awang Ishak dan Raymundus Sailan sebagai unsur penasehat pembangunan di Kota Singkawang. Demikian karena tidak sedikit hal-hal positif hasil dari pembangunan yang telah dilakukan keduanya seperti infrastruktur dan suprastrukturnya.
Jika hal itu dilakukan, tidak terjadi pendapat umum: ganti pejabat, ganti kebijakan.
Pelantikan HK-ERY di Pemkot Singkawang ada nilai-nilai baru yang patut diperhatikan. Untuk Pemkot Singkawang, baru kali ini dipimpin oleh Walikota yang beretnis Tionghoa. Tetapi hal ini bukanlah baru bagi Kalbar, karena Bupati Sanggau sudah mendahuluinya, Drs Yansen Akun Effendi, M.Si, MH.
Pertimbangan etnisitas sesungguhnya tidak terlalu penting karena setiap manusia adalah sama. Tetapi langkah-langkah utama yang dilakukan menentukan penilaian bahwa seseorang itu adil atau tidak.
Keberhasilan dalam langkah internal akan berimbas pada langkah eksternal seperti mengundang investor dan hubungan ke provinsi atau pusat-Jakarta. Pembagian tugas secara manajemen pemerintahan harus tampak harmoni di pandangan masyarakat.
Tak jarang sebulan dua bulan pasangan pemimpin serasi dan sejoli, tapi dalam perjalanannya merenggang dan disharmoni. Untuk ini HK-ERY perlu langkah antisipasi.
Harmonisasi keduanya, akan menentukan efektivitas dan efisiensi gerak internal dan eksternal. Di mana kedua-duanya harus ibarat dua tangan dalam menggerakkan roda pemerintahan di Kota Singkawang.
Keberhasilan awal dalam pelantikan HK-ERY juga jadi spektrum bagi Provinsi Kalbar. Menurut rencana pada 14 Januari akan dilantik Gubernur Drs Cornelis, MH dan Wagub Christiandy Sanjaya, SE, MM.
Kalau di Singkawang aman, di Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi Kalbar kelak juga akan aman. Kita yakin untuk itu. ■
Posted by Noeris at 11.02 0 comments
Religiusitas Menyambut Tahun Baru
Hari demi hari kita lalui, waktu mengalir bagaikan air. Tanpa terasa kita telah memasuki bulan tua di senja Desember. Tahun baru sudah di depan mata.
Desember tahun ini dihuni sejumlah hari-hari besar. Selain natal dan tahun baru, juga hari raya kurban, Idul Adha 1428 Hijriyah.
Umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan hari napak tilas perjuangan Nabi Ibrahim dan Ismail. Di mana secara gamblang tertuang dari ritual haji. Dan sekitar 3 ribu jamaah haji “dari Bumi Kalbar terbang” ke Arafah untuk berwukuf dengan pakaian serba putih, ihram.
Borneo Tribune menurunkan laporan khusus soal kurban dan haji ini, Minggu (16/12) lalu. Haji dan kurban dikupas dari berbagai sisi. Mulai dari syariat, sejarah, hingga hikmah-hikmahnya.
Begitupula edisi Minggu (23/12) kali ini. Borneo Tribune menyajikan laporan khusus edisi natal. Demikian karena dua hari ke depan, umat Katolik dan Kristen merayakan hari kudus, Natal.
Suasana khusuk dan religius sudah terasa sejak beberapa hari terakhir ini. Di mana gereja-gereja, sekolah, kantor, mall, hingga rumah tangga berbenah lebih genah. Bahkan berdandan lebih mewah di mana asesoris Natal seperti pohon cemara dan lain-lain laris-manis menghias di mana-mana.
Kedatangan Yesus sebagai juru selamat benar-benar memberikan nilai-nilai pencerahan dalam hidup bagi umat—khususnya Katolik dan Protestan. Hal religius tersebut tak luput dari liputan Borneo Tribune.
Apresiasi yang tinggi ditujukan tidak hanya para ruhaniawan, tapi juga hingga sejarahwan maupun politisi. Untuk hal yang satu ini, Wakil Gubernur, Drs Christiandy Sanjaya dan Gubernur terpilih, Drs Cornelis, MH memberikan kontribusi yang besar.
Pembaca. Sejak Borneo Tribune terbit, perhatian kepada agama memang menjadi konsentrasi kami. Demikian karena tidak ada suatu ajaran agama sekecil apapun yang tidak baik. Kesemua nilai-nilai ajaran agama itu memberikan manfaat yang besar jika dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Borneo Tribune punya perhatian khusus ke arah tersebut karena titik tekan koran ini adalah pendidikan. Nilai-nilai religius dengan pendidikan kita sadari tak lebih, tak kurang, merupakan setali tiga uang. Ia terikat amat kuat.
Dengan nilai-nilai keimanan yang tinggi, seseorang akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kesemua nilai agama seperti kejujuran, kasih sayang, tolong menolong semua adalah baik dan ditularkan lewat pendidikan. Pendidikan akan mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Nilai-nilai agama akan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari ketika pendidikan dan wawasan masyarakat lebih terbuka. Lebih egaliter. Terlebih di era informasi kesejagatan ini. Membuka wawasan dengan informasi sudah amat sangat canggihnya. Egalitarian pun dapat kita ejawantahkan sehingga kita menjadi generasi yang kosmopolitan atau dapat hidup di mana saja berbekal nilai-nilai kebaikan tersebut.
Ke depan, edisi Tahun Baru kami juga akan menyajikan laporan khususnya. Sama konsentrasinya dengan dua gari raya dari dua agama besar di dunia.
Kita akan melanglang buana mencermati aneka peluang di tahun 2008 dengan mencermati capaian langkah dan prestasi di tahun 2007. Anda tentu boleh berkontribusi views dan news di Borneo Tribune. Syaratnya tentu saja menghubungi kami di dapur redaksi.
Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, ingin juga kami informasikan bahwa mengisi akhir tahun dan menyongsong tahun 2008, manajemen juga mengambil keputusan menggabungkan dua kantor yang semula dua menjadi satu.
Awalnya kami mempunyai unit pelayanan administrasi dan marketing di salah satu ruko Pasar Flamboyan, maka sejak Sabtu (15/12) yang lalu semua piranti keras dan lunak semua sudah diboyong ke Purnama Dalam 02. Tujuannya agar kekuatan lebih solid dan kukuh. Unit yang ditinggalkan tak lebih difungsikan untuk distribusi koran saja.
Sejak sepekan yang lalu layanan administrasi keuangan dan marketing sudah terasa nilai tambah utilitasnya. Oleh karena itu kami yakin pada hari-hari ke depan akan semakin mantap, terlebih jalur jalan protokol Purnama juga sudah semakin mentereng dengan beton bertulang keseluruhannya.
Tata ruang di Borneo Tribune tentu menyesuaikan dengan bergabungnya dua kantor ini. Ruang yang longgar diberdayakan lebih maksimal.
Dengan kebersamaan segala aral yang melintang pun bisa disingkirkan. Ruang yang kecil dibesarkan. Ruang yang kurang berguna ditata dan disempurnakan sehingga semua merasakan nikmatnya team work, networking, kerjasama dan kebersamaan.
Nikmat kebersamaan itu tak ubahnya dua hari raya agama yang tenggat waktunya tidak berjauhan di atas. Dengan kebersamaan dan toleransi bahkan kerjasama sosial, kita juga merasakan kenikmatan hidup. Kami di Borneo Tribune yang multietnis dan agama bisa jadi adalah spektrum bagi Kalbar pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Jika situasi aman dan damai serta saling bekerjasama ini dapat kita pertahankan, dapat kita pupuk dan pelihara dengan baik serta seksama, maka prestasi-prestasi besar ke depan akan dapat kita raih bersama-sama pula. Bukankah kejayaan hanya bisa dipersempbahkan dengan semangat persatuan dan kesatuan? Bukankah karena bersatu kita menang? ■
Posted by Noeris at 11.01 0 comments
Selasa, 04 Desember 2007
Biolog Jerman Temukan Biawak Baru di Sulawesi
"Mendadak Beken di Dunia Ilmu Pengetahuan"
Oleh: Yanti Mirdayanti/Freelancer
Baru-baru ini dunia ilmu pengetahuan fauna di Jerman dihebohkan dengan hasil penemuan jenis spesies biawak baru dari Sulawesi oleh seorang ahli biologi asal kota Bonn. Pemuda berusia 30 tahun berkacamata yang langsung beken di dunia ilmu pengetahuan Jerman ini bernama Andrè Koch.
Di beberapa koran Jerman Andrè Koch tampak sedang difoto memegang salah satu biawak Sulawesi hasil penemuannya. Biawak yang dipegangnya di
foto itu menurut pengakuan Koch panjangnya 1,60 meter. Foto itu bukan hasil bidikan wartawan, melainkan hasil jepretan dengan kamera Koch sendiri. Tentunya sebagai salah satu dari sekian dokumentasi pribadi Koch yang diambilnya selama masa penelitian di Indonesia.
Andrè Koch adalah seorang mahasiswa S3 untuk bidang Biologi Universitas Bonn, Jerman. Penelitiannya dilakukan di Indonesia selama kurang lebih enam bulan. Dengan menggunakan sampan di berbagai sungai, penelitian dilakukan Andrè Koch dengan berkeliling di beberapa kepulauan di Indonesia, terutama di Sulawesi dan sekitarnya. Penelitian dilakukan dengan berkali-kali datang ke Indonesia antara tahun 2005 dan 2007.
Selama masa penelitian dan pengumpulan data tentang biawak Indonesia, Andrè Koch ditemani Evy Arida, seorang counterpart proyek dari LIPI Bogor. Saat ini Evy Arida sendiri berdomisili di Bonn dalam rangka melakukan penelitian untuk jenis binatang Komodo. Seperti juga Andrè Koch, status Evy Arida adalah sebagai mahasiswi S3 di Universitas Bonn dengan dukungan beasiswa dari DAAD (German Academic Exchange Service).
Baik Andrè Koch maupun Evy Arida bisa ditemui setiap hari di tempat penelitiannya di Musium Penelitian Fauna Alexander-König di Bonn. Atau musium ini dikenal dí Bonn/Jerman dengan sebutan 'Zoologisches Forschungsmuseum Alexander König', disingkat ZFMK. Dalam rangka salah satu tugas pelajaran jurnalisme, saya berhasil menemui kedua ilmuwan muda ini beberapa waktu lalu di tempat penelitiannya.
Menurut Andrè Koch, jenis biawak baru hasil temuannya dalam bahasa Latin disebut dengan istilah 'Varane Salvator' atau 'Varanus Salvator'. Dengan mengejutkan dan tidak disangka-sangka sebelumnya oleh Koch, di Sulawesi telah ditemukan kurang lebih lima jenis biawak Varanus Salvator yang berukuran antara 2-3 meter. Yang berhasil ditemukan oleh Andrè Koch paling panjang adalah dua meter. Keistimewaan penemuan di Sulawesi ini adalah berkumpulnya berbagai jenis biawak yang memiliki ciri kulit luar yang berbeda-beda. Misalnya ada yang berwarna gelap sekali, berwarna coklat, bermotif garis-garis, maupun yang hanya berciri bercak-bercak sana sini. Hal ini menurut Andrè Koch tidaklah lazim, karena pada umumnya di setiap pulau di Indonesia hanya ditemukan satu jenis biawak yang sama saja. Yang ditemukan di Sulawesi adalah unik, karena keragaman jenisnya. Hal ini menurut Andrè Koch ada kemungkinan berhubungan dengan sejarah ekologi Indonesia di masa lalu, ketika perubahan suhu dari dingin ke suhu agak memanas. Kemudian karena tempat-tempat yang terisolisasi, di Sulawesi dimungkinkan berbagai jenis berkembang sendiri-sendiri atau tidak bercampur, sehingga bisa
ditemukan berbagai jenis biawak yang berbeda wujudnya seperti sekarang ini. Proses rute migrasi biawak-biawak Indonesia ini tentu saja merupakan salah satu dari penelitian Andrè Koch juga.
Walaupun biawak Varanus Salvator ini berukuran besar, namun tidak termasuk berbahaya bagi manusia. Makanannya termasuk jenis serangga, tikus, binatang reptil lainnya, serta binatang berkulit keras. Biawak jenis ini bisa hidup di air maupun darat (amphibi).
Menurut Koch, biawak yang ditemukannya merupakan salah satu jenis reptil kadal terbesar yang hidup di jagat bumi saat ini. Ada kemiripan dengan jenis dinosaurus jaman dulu. Biawak ini oleh Koch disebut juga sebagai salah satu jenis reptil yang paling pintar.
Biawak Varanus Salvator belum termasuk binatang terancam punah. Namun Andrè Koch merasa cemas juga dengan perkembangan bisnis kulit binatang reptil Indonesia saat ini. Indonesia yang merupakan negara pengekspor kulit binatang reptil terbesar di Asia, setiap tahunnya menjualbelikan sebanyak 400.000 kulit binatang reptil. Artinya setiap tahunnya ratusan biawak ditangkap dan kulitnya dijadikan komoditi pasar untuk tas maupun sepatu. Di beberapa daerah biawak dijadikan juga bagian dari menu makanan.
Dari penelitiannya, Andrè Koch berharap bisa memecahkan teka-teki, mengapa biawak Varanus Salvator yang berbagai jenis itu ditemukan di Kepulauan Sulawesi. Apakah ada hubungan kekerabatan antara satu jenis spesies biawak dengan jenis lainnya di sana? Dan bagaimana proses rute migrasi para biawak Sulawesi itu? Demikian diantaranya pertanyaan-pertanyaan yang ingin dipecahkan dalam penelitian Andrè Koch tentang
species baru biawak Sulawesi ini.
Posted by Noeris at 18.15 0 comments
Setelah Kesulitan Pasti Ada Kemudahan
Hidup ini laksana roda pedati. Berputar terus. Kadang seperti siang dan malam, putih dan terang, lalu lambat laun kelam malam pun datang.
Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Tergantung pada diri kita sendiri, mau atau tidak menghadapi masalah, ujian, atau cobaan itu. Kalau kita tekun, rajin, disiplin dalam menghadapi segala ujian dan cobaan, kita akan terampil menghadapi segala situasi dan kondisi. Hidup akhirnya seperti perjalanan yang menyenangkan. Tapi sebaliknya jika terus-menerus mengeluh, apakah ada solusi jika terus mengeluh?
Kalau dengan mengeluh lantas lahir solusi masalah, sebaiknya kita buka "posko peduli keluh". Marketnya pasti besar. Uang pun pasti mengalir deras. Namun sayangnya, mengeluh tak melahirkan apa-apa kecuali buang-buang waktu. Hasilnya kadang negatif. Orang-orang tempat kita mengeluh jadi terbuang-buang pula waktunya. Iya jika mereka maklum, tapi kalau sekedar mendengar saja? Apalagi jika segala uneg-uneg dijadikan blunder. Bisa nyahok. Apalagi di dalam lingkungan sekitar kita sedikit yang bisa jadi kawan, lebih banyak yang potensial jadi lawan.
Setelah kesulitan ada kemudahan. Jika kita kerja keras, kita akan dapatkan hasilnya. Selalu terbentang jalan jika kita mau merintisnya.
Kalau jalan sudah terbentang, mulus perjalanan sampai ke tujuan. Kita bisa pulang dengan membawa banyak cerita. Bahkan juga tentu saja oleh-oleh sebagai cinderamata.
Kalbar yang usai menghelat Pilkada juga usai kesulitan ada kemudahan. Cornelis-Christiandy yang memenangkan Pilkada juga merasakan usai kesulitan ada kemudahan.
Saya yakin, UJ-LHK yang kalah bersama Akil-Mecer serta OSO-Lyong juga akan merasakan: usai kesulitan ada kemudahan. Cuma ceritanya bakal terurai 1-2 atau 3 tahun ke depan.
Roda pedati kehidupan terus berputar. Kadang ke atas, kadang ke bawah.
Cuma hidup kita bukanlah roda. Kita ini manusia.
Sebagai manusia yang berakal kita mesti menyesuaikan diri, kapan kita di atas dan kapan kita di bawah.
Intinya kembali ke hati. Kalau di atas jangan sombong dan congkak. Kalau di bawah jangan minder dan malas. Harus kerja keras dan penuh percaya diri.
Di sini uniknya manusia. Hidup itu ternyata ada dalam hati. Maka hati harus hidup. Jangan buat hati mati.
Cara menghidupkan hati tentu dengan bumbata. Buka mata, buka telinga. Bukannya bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar.
Kalau bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar, ini sama dengan dungu dan netra. Bahkan dalam salah satu firmal ilahi disebut lebih rendah derajatnya daripada binatang.
Posted by Noeris at 10.06 0 comments
Sabtu, 01 Desember 2007
Kalbar Aman, Kita Ukir Masa Depan
Kata kunci keamanan benar-benar mendapatkan penekanan di atmosfir redaksi Harian Borneo Tribune. Aman dalam segala hal. Baik secara politik, sosial, maupun budaya.
Masa kritis keamanan Kalbar secara politik sudah lewat. Pilkada yang hura-hura, penuh hiruk pikuk, intrik, taktik dan strategi serta umbar janji-janji sudah lewat. Hanya tinggal rekaman suara, gambar dan cerita yang menjadi album kenangan bagi kita semua.
Soal kalah dan menang adalah soal biasa. Sudah terpilih Gubernur baru, yakni Drs Cornelis, MH dan Christiandy Sanjaya, SE, MM. Kita ucapkan selamat dan sekaligus mengingatkan agar “figur pemersatu” ini dapat berbuat secara maksimal bagi prestasi pembangunan bagi Kalbar dalam mewujudkan masyarakatnya agar adil dan sejahtera.
Harian Borneo Tribune dengan disiplin kerja redaksi yang mengutamakan akurasi dan verifikasi data mengedepankan aspek keamanan sebagai fokus karena Kalbar relatif rawan akan konflik. Jika media massa keliru sedikit saja dalam mengemas dan menjadikan beritanya, kisah sukses masa depan yang bisa diukir dengan kebersamaan bisa berubah menjadi cerita pilu dan duka. Kita tentu tidak mau hal itu terjadi. Oleh karena itu aspek keamanan benar-benar dijunjung tinggi.
Keamanan menjadi hasrat hidup semua makhluk hidup. Dia lepas dari sekat etnis, maupun agama.
Karena titik kritis sudah lewat, kita semua bisa bernapas lega. Kita semua sudah bisa fokus menatap masa depan dengan jauh lebih sempurna.
Biarlah rel politik terus berputar dengan kepemimpinan Kalbar yang baru, di mana telah terpilih pemimpin baru. Kita dengan aktivitas di profesi masing-masing bisa semakin fokus bekerja. Mengukir prestasi untuk kinerja terbaik dan dipersembahkan bagi masyarakat luas.
Gubernur bisa bekerja secara optimal di kursi eksekutif, wakil rakyat bisa bekerja secara optimal di kursi legislatif. Begitupula penegak hukum di kursi yudikatif, maupun pers. Mahasiswa dengan civitas akademika, tokoh masyarakat, tua-muda, laki-perempuan dengan kondisi yang aman dan terpelihara kondusif bisa memberikan performa terbaiknya.
Lantaran rasa syukur yang tak terhingga, keluarga besar Borneo Tribune berikut civitas akademika Tribune Institutenya tak urung membuat acara syukuran. Dengan bersyukur maka akan semakin muncul kesadaran untuk merawat kondisi keamanan agar terawat dan terpelihara.
Warna-warni dukungan politik yang sempat mewarnai direduksi. Hangatnya suhu politik kembali turun normal. Lalu kita bergandengan tangan kembali untuk mengukir masa depan dengan performa ideal.
Dilihat dari aspek momentum, tasyakuran tersebut ideal. Dilihat dari aspek waktu di mana ujung Pilkada sudah akhir Nopember, kumpul bareng seluruh karyawan-karyawati sangat baik untuk menghimpun pendapat, aspirasi, maupun keinginan-keinginan demi mencapai sukses di masa depan.
Satu per satu crew Borneo Tribune mendapatkan kesempatan bicara. Aspirasi dan pendapat pun mencurah. Tak ada sungkan-sungkan dan rasa tertekan karena kemerdekaan diberikan setengah-setengah, semua bicara lepas. Input yang diserap dicatat dan diproses dalam mekanisme manajemen dan dikeluarkan dalam bentuk program-program.
Kami kemudian menyusun satu program yang hendak kami kerjakan di tahun 2008.
Jadi, selamat datang tahun 2008, selamat bekerja bagi kita semua. Salam ■
Posted by Noeris at 09.21 0 comments
Jumat, 30 November 2007
Pilkada Damai dan Kisruh Mahasiswa
Akibat kesalahpahaman antara dua kubu mahasiswa dari dua Fakultas yang berbeda di lingkup Universitas Tanjungpura pada Selasa sore (27/11) menyebabkan muka pendidikan di Kalbar kembali tercoreng. Hal ini membuat pihak kepolisian turun langsung ke lapangan karena takut kejadian tersebut akan berkepanjangan. (Borneo Tribune, Kamis 29 Nopember).
Kita dikejutkan dengan dua hal yang anomali. Pertama, prediksi Pilkada Kalbar yang dikuatirkan rusuh—justru tak terbukti. Kedua, dunia intelektual yang damai—justru bentrok.
Kita tentu memuji sikap masyarakat Kalbar yang dewasa menerima hasil pesta demokrasi sehingga siapa pun yang terpilih tetap keluar sebagai pemenang dan mendapat amanah memimpin roda pembangunan di pucuk eksekutif selama 5 tahun ke depan.
Sebaliknya kita mengernyitkan jidat, kenapa di tengah kampus masih saja terjadi baku-pukul sehingga membawa-bawa massa, lalu serang menyerang. Menunjukkan prilaku yang kurang terdidik. Jauh mengalahkan masyarakat kampung daripada citra masyarakat kampus yang berakhlak mulia, tutur kata halus, saling hormat menghormati dan harga menghargai.
Masyarakat Kalbar ternyata sudah lebih cepat belajar daripada masyarakat pembelahar di kampus ajar itu sendiri. Masyarakat Kalbar sudah tahu bahwa konflik laten yang terjadi justru bukan karena etnis dan agama melainkan hal-hal kecil—yang remeh temeh—seperti senggolan di keramaian, pencurian dan saling pandang dengan berujung saling baku pukul. Tak jarang juga kasus konflik dipicu karena perempuan.
Kisah rusuh di Kalbar sudah hampir satu dasawarsa sepi di tengah lingkungan kita. Serum efektifnya adalah tindakan pengamanan dari kasus-kasus kriminalitas sudah terantisipasi sejak dini. Polisi sudah berani tegak berdiri menjalankan hukum. Bila perlu tembak di tempat.
Sikap tembak di tempat jika melakukan kesalahan fatal juga dikemukakan dengan posisi siaga satu untuk Pilkada Kalbar 15 Nopember hingga pleno penetapan gubernur terpilih pada 27 Nopember kemarin. Alhasil, masyarakat terjamin keamanannya. Tak ada huru-hara dan konflik anarkis.
Tanpa dinyana, kita dikejutkan dengan aksi “brutal” mahasiswa. Kita terperanjat bahwa “hari gine” masih juga mau konflik anarkis?
Apalagi asal muasal masalah ternyata dipicu kasus saling pandang, saling olok dan kemudian baku pukul. Pada kesaksian yang lain, lebih dipicu masalah perempuan.
Kenyataan tersebut benar-benar memalukan sekaligus memilukan untuk insan ajar yang bergelar “maha” siswa. Mestinya segala ilmu yang sudah ditimba selama SD, SMP, SMA cukup sebagai bekal untuk berilmu padi. Makin berisi makin tunduk. Bukannya tong kosong nyaring bunyinya.
Syukurlah aparat segera sigap. Mereka mengatakan, jika mendapat izin Rektor, dan jika keamanan tak berhasil dikuasai aparat kampus, maka mereka akan menggunakan dasar hukum mereka untuk memasuki wilayah “kebebasan akademis/kebebasan kampus” untuk intervensi keamanan lebih dalam lagi.
Syukurlah aparat kampus bisa segera turun tangan sehingga aksi brutal tidak meluas sehingga mencemarkan nama baik kampus. Musyawarah segera dapat dilakukan. Piagam perdamaian segera dapat diteken.
Jika hal itu tak dapat dicapai, ibarat menara gading. Gara-gara nila setitik hancur susu sebelanga.
Sebagai masyarakat akademis mestinya mahasiswa jadi pelopor perdamaian. Jadi contoh teladan rakyat Kalbar. ■
Posted by Noeris at 09.43 0 comments
Rabu, 28 November 2007
Pilgub Kalbar Sukses, Siaga 1 Dicabut
Tiada kata terindah yang bisa saya ungkapkan kecuali puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena Pilkada Gubernur di Kalbar aman, nyaman, sukses dan lancar. Gubernur baru telah terpilih lewat cacah suara, 15 Nopember lalu. Kapolda Kalbar, Brigjen Pol Drs Zainal Abidin Ishak pun bisa bernapas lega sehingga Rabu (28/11) kemarin secara resmi kondisi Siaga 1 resmi dicabut.
Proses penetapan Gubernur Kalbar oleh KPU pada (27/11) kemarin tak seseram yang dibayangkan. Tak ada demo besar-besaran. Tak ada kerusuhan. Tak ada aksi anarkis. Dampaknya, ekonomi pun menggeliat naik.
Masyarakat beraktivitas normal seperti biasanya. Elit politik pun bermain "cantik". Pasangan Cornelis-Christiandy merayakan kemenangan tidak dengan hura-hura. Dia memenangkan Pilkada dengan 47%. Incumbent Usman Ja'far yang berpasangan dengan Laurentius Herman Kadir meraup 31%. Oesman Sapta - Ignatius Lyong 13% dan sisanya buat Akil Mochtar-AR Mecer.
Kemenangan yang diraih CC baru langkah awal. Masih panjang langkah yang harus dijalani bersama 4 juta penduduk Kalbar. Kemenangan ini, keamanan ini, tentulah kemenangan rakyat.
Kalau toh ada kekurangan di sana-sini mbok ya diperbaiki demi peningkatan kualitas Pilkada di masa-masa mendatang.
Pilgub Kalbar menelan dana lk Rp 86 miliar. Suatu angka yang tidak kecil buat proses kelahiran seorang pemimpin eksekutif. Uang itu uang rakyat. Uang kita semua. Maka Gubernur baru CC, juga adalah milik rakyat. Milik kita semua.
Keberhasilan membangun Kalbar kita doakan bersama-sama. Karena kenikmatan hidup bergotong-royong, kebersamaan, adalah kenikmatan yang tiada taranya.
Posted by Noeris at 08.54 0 comments
Sabtu, 24 November 2007
Borneo Tribune, Pilkada dan Peace Journalism
Pekan lalu kami menginformasikan bahwa Borneo Tribune “sukses” mengawal Pilkada. Ini tentu persepsi dan ukuran yang dilakukan Borneo Tribune dengan coverage se-Kalbar. Meliputi segala aspek yang menjadi tahapan kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Kalbar. Sejak dari masa pendaftaran, verifikasi, pengumuman pasangan calon, pengumuman harta kekayaan yang diperiksa KPK, kampanye hingga pencoblosan serta perhitungan suara.
Di tengah hiruk-pikuk kampaye Borneo Tribune tampil menggalang diskusi “Mengawal Pilkada Damai”, dan ini bagian penting dari Borneo Tribune yang mengusung visi: idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Borneo Tribune adalah cuplikan kecil dari masyarakat Kalimantan Barat. Di dalam Borneo Tribune terdiri dari beragam etnis dan agama. Kami selalu rukun, kompak dan bersatu.
Pilkada damai diwujudkan Borneo Tribune dengan menyerap aspirasi masyarakat. Pada hakikatnya masyarakat memang menginginkan, menghendaki dan maunya Pilkada damai. Pilkada yang tidak diprovokasi dengan aksi-aksi massa, apalagi sampai merusak atau anarkis.
Jangan sampai Pilkada berdarah-darah. Sudah cukuplah darah yang tumpah di Kalbar akibat konflik dan kebodohan selama ini. Capek. Kontraproduktif, di mana bangsa-bangsa maju sudah terus mengembangkan teknologi dan pembangunan ekonomi seperti Malaysia, Singapura, India, China, apalagi Eropa dan Amerika. Sementara kita masih jalan bagaikan siput. Kalau kita tidak berkonsentrasi tinggi memenage potensi konflik Pilkada menjadi Pilkada damai chaos dapat menyebabkan Kalbar set back sama sekali.
Masyarakat sesungguhnya sudah membuktikan bisa damai. Mereka berpartisipasi aktif di hampir segala hal. Hatta sampai menyiapkan tenda-tenda Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Mereka tertib, rukun dan damai. Padahal mereka multi etnis dan menganut agama yang beragam. Apakah Islam. Katolik, Protestan, Hindu, Budha bahkan Konghucu.
Masyarakat membuktikan bahwa tak ada konflik anarkis di sepanjang alur pesta demokrasi Pilkada ini. Harapannya tentulah sampai dilantiknya gubernur terpilih. Tinggal masyarakat mengawal janji-janji yang telah dilontarkan oleh gubernur terpilih sebagaimana dalam gembar-gembor kampanyenya.
Media massa, media cetak, Borneo Tribune di dalamnya menyerap dan menyalurkan aspirasi masyarakat tersebut. Borneo Tribune dengan lambang cinta kasih di dadanya mengemban visi jurnalisme damai. Peace journalism.
Di dalam peace journalism orientasi utamanya adalah penyajian informasi yang edukatif sekaligus menghibur. Pertimbangan etika jurnalisme menjadi pijakan utama ditambah nilai hati nurani.
Kami Borneo Tribune tidak semata-mata mengejar keuntungan bisnis dengan mengekspose potensi-potensi konflik, tapi kami sentuh dengan peace journalism. Kami pisahkan mana data dan fakta. Mana cerita dan mana yang berita.
Kami juga memverifikasi SMS-SMS horor yang tak dapat dipertanggungjawabkan. Kami juga ekstra hati-hati pada kerawanan-kerawanan bertendensi etnis dan agama.
Dalam mengawal Pilkada damai, Borneo Tribune tidak sendiri. Selain masyarakat yang vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara tuhan), juga ada aparat penegak hukum. Kapolda Brigjen Pol Drs Zainal Abidin Ishak misalnya, tak urung bertandang ke Borneo Tribune untuk bercerita, berdiskusi dan berdialog secara langsung bersama insan-insan pers. Beliau mengatakan selama ini tampilan pemberitaan Borneo Tribune sudah bagus dengan menekankan unsur pendidikan.
“Menurut saya dari fungsi-fungsi pers seperti to inform, to educate dan to enterteint, sisi pendidikannya yang harus menonjol. Terlebih dalam suasana Kalbar sekarang ini,” ungkapnya.
Kami menyadari hal tersebut. Kami juga menginginkan Pilkada Kalbar ini damai. Karena dalam kedamaian karya-karya kita semua sebagai anak bangsa bisa lahir dengan baik, bahkan jauh lebih sempurna. Terlebih dengan kebersamaan yang telah dirajut selama ini, di mana kita harmonis dalam etnis dan harmoni dalam kehidupan.
Sebagai bagian dari syukuran atas Pilkada damai yang telah tercapai selama ini, kami manfaatkan pula untuk merekatkan kebersamaan dengan “lunch together” bersama lebih kurang 60-an karyawan-karyawati plus mahasiswa-mahasiswi Tribune Institute maupun sales iklan maupun promosi. Kami turut mendoakan Pilkada damai terus damai hingga pemimpin-pemimpin Kalbar kelak punya konsentrasi dalam membangun daerah yang kita cintai ini. Amiin.
Posted by Noeris at 09.16 0 comments
Menyatukan Kekuatan Radio, Koran dan TV
Tidak ada media yang mengalahkan radio dalam hal kecepatannya menyampaikan informasi. Detik ini kejadiannya, detik ini pula berita itu dapat disebarluaskan.
Tidak ada media yang melebihi televisi dalam hal penayangan visual, gerak, gambar dan sekaligus suara maupun teks tertulis. Bahkan grafis. Dan tidak ada media yang mengalahkan koran dalam hal kelengkapan maupun ketajaman analisisnya.
Sadar akan tiga kekuatan tersebut—terlebih masing-masing juga mempunyai background homepage masing-masing yang berbasis internet—Radio Mujahidin, Khatulistiwa TV dan Harian Borneo Tribune menjalin kerjasama mutual three in one. Tiga dalam satu.
MoU diteken di Gedung Radio Mujahidin, Selasa (20/11) yang lalu. Perjanjian kerjasama diuji-coba untuk masa enam bulan pertama.
Direktur Utama Radio Mujahidin, Faisal Ceniabil dalam acara penanda-tanganan MoU mengatakan masyarakat akan diuntungkan dengan kerjasama ini. “Media yang bekerjasama juga mendapatkan keuntungan di mana tiga audience yang berbeda bisa digabungkan dalam satu saluran informasi. Keluarannya di radio, koran dan televisi,” ungkapnya.
Model program yang dicanangkan diramu dalam program-program khusus. Mulai dari acara interaktif hingga tukar-menukar promo media masing-masing. “Di sini prinsipnya hubungan timbal balik yang sama-sama menguntungkan,” ungkap Hidayat, Direktur Khatulistiwa TV didampingi stafnya, Syamsul yang mantan anggota KPID Kalbar.
Di tempat yang sama, Pemred Borneo Tribune, Nur Iskandar mengatakan hubungan three media seperti ini sudah banyak dilakukan di berbagai tempat. “Kita coba apa yang kita bisa lakukan demi melayani masyarakat dengan informasi yang akurat, mendidik dan menghibur. Kesemua itu dalam kerangka kontrol sosial sehingga tatanan masyarakat yang baik, pemerintahaan yang baik—good governance—dapat terwujud,” ungkapnya.
Warga Kota Pontianak khususnya dan Kalbar pada umumnya, yang ingin memberikan masukan, kritik maupun saran atas program kerjasama 3 media ini dibukakan kesempatan yang sedalam-dalamnya. Untuk Radio Mujahidin melalui layanan interaktif programnya. Begitupula Borneo Tribune dan Khatulistiwa TV. ■
Posted by Noeris at 09.14 0 comments
12 KPU Final Pleno, Cornelis Gubernur Baru Kalbar
Tepat di hari ke delapan pasca pencoblosan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) di 12 kabupaten-kota se-Kalbar merampungkan rapat plenonnya, Jumat (23/11) kemarin.
“Dari hasil pleno tersebut suara Cornelis-Christiandy (C2, red) tertinggi,” kata Kebing, Sekretaris Tim Sukses C2. Hal tersebut diungkapkannya ketika menggelar jumpa pers di Sekretariat PDIP Jalan Ahmad Yani Pontianak kemarin. Kebing sangat yakin kalau pasangan yang diusung PDIP ini menang.
Dari rekapitulasi hasil perhitungan suara bersumber dari hasil Pleno KPU 12 kabupaten-kota yang berhasil dihimpun Tim Sukses C2, hasilnya: UJ-LHK 659.274 atau 30,94%, OSO-Lyong 335.368 atau 15,74%, Akil-Mecer 205.763 atau 9,66%, dan C2 930.679 atau 43,67%.
Menurut Ketua Tim Kampanye C2, Alexander, S.Sos tidak ada konsep Pilkada ulang, sepanjang prosesnya berjalan dengan baik sesuai UU dan ketentuan hukum yang berlaku. Dia meminta semua pihak menghargai pilihan rakyat.
Tak kurang dari 21 anggota Tim Sukses C2 hadir dalam jumpa pers. Sementara dari pihak media hadir, selain Borneo Tribune juga Equator dan Pontianak Post.
Tim Kampanye C2, Drs. Massardy Kaphat menambahkan bahwa hasil penetapan rekapitulasi perhitungan di tingkat desa, kecamatan bahkan kabupaten tidak ada masalah. Semuanya berlangsung relatif lancar, aman dan terkendali.
Kemenangan pasangan C2 menurut politisi senior ini, murni suara rakyat melalui demokrasi sesuai asas langsung, umum, bebas, jujur dan adil. Dia juga melihat pelaksanaan Pilgub Kalbar sudah berjalan baik dan jika ada Pilgub ulang mesti ada dasar hukum yang jelas. Karena itu menurutnya sangat tidak rasional jika ada pihak yang menyatakan Pilkada diulang.
“Munculnya wacana ini dikuatirkan justru bakal memicu permasalahan yang tidak diinginkan,” ungkap Kaphat. Masing-masing tim sukses katanya diharapkan menghargai keputusan yang sudah ditetapkan KPUD.
Martinus Ekok, Tim Sukses C2 lainnya meyakinkan dasar timnya mengeluarkan perhitungan adalah data dari KPU. Demikian menurut Ekok untuk menjawab rasa keingintahuan para simpatisan dan pendukung C2. “Tim mana saja berhak mengeluarkan hasil perhitungan, baik yang bersumber dari KPUD maupun yang bersumber dari Timnya,” katanya.
Lim Piang Pian alias Imam Muliadi salah satu tokoh Tionghoa mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tidak mudah percaya isu yang tidak jelas dan selalu menjaga suasana aman dan damai di Kalbar. “Cornelis dan Christiandy Sanjaya nantinya bukan gubernur untuk satu kelompok saja, tetapi gubernur seluruh rakyat Kalimantan Barat,” tambah Sumian S.Sos, Ketua Tung Sim yang artinya Sehati.
Di akhir pertemuan, Tim Pakar pasangan C2, Yakobus Frans Layang, SH, MH, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta menyukseskan Pilgub Kalbar 2007. Terutama karena keamanan dan rasa persaudaraan di Kalbar tetap terjaga dengan baik. ”Kita ingin pelaksanaan rapat Pleno KPUD Kalbar, 27 Nopember berjalan dengan baik,” pungkasnya. ■
Posted by Noeris at 09.12 0 comments
Senin, 19 November 2007
Pilkada, Masyarakat Kalbar Patut Dipuji--Kondisi Aman, Ekonomi Tumbuh
Satu kata yang patut dikedepankan: masyarakat Kalbar patut dipuji dalam even besar bernama Pilkada Gubernur yang buat pertama kali dilakukan secara langsung ini partisipasinya signifikan, dan keamanannya terjamin.
Masa paling kritis menyangkut partisipasi aktif masyarakat luas tentu saja saat kampanye. Sepanjang 12 hari kampanye empat pasang kandidat tak ada bentrok fisik, tak ada gontok-gotokan. Semua masyarakat bisa memilah mana pesta demokrasi dan mana pesta demo-crazy. Ternyata masyarakat Kalbar sehat dan waras, bukan gila atau crazy.
Demokrasi memang dari, oleh dan untuk rakyat. Dekan FKIP Untan, Dr Aswandi mengatakan partisipasi aktif rakyat Kalbar pada Pilkada Gubernur kali ini amat patut dipuji. Kita angkat topi dan barangkali juga menyuguhkan dua jempol tinggi-tinggi.
Kendati berseliweran isu-isu, tetapi rakyat tetap eling lan waspada. Polisi juga tetap siap-siaga dengan segala netralitasnya. Begitupula KPU sebagai penyelenggara hajat pesta demokrasi ini. Mereka mengedepankan rel hukum dan undang-undang sebagai pedoman.
Hingga hari ke-5 pasca pencoblosan kondisi regional Kalbar aman dan nyaman. Si Amat, si Aheng, si Yulius, si Udin, Mas, Mbak dan tukang jamu gendong pun sudah kembali aktif bertata-niaga. Di dalam kondisi daerah yang aman dan nyaman semua warga—tanpa pandang bulu, tanpa pandang etnis dan agama—semua dapat bekerja secara leluasa. Mereka bisa bekerja dengan tenang dan berkarya buat daerah Kalbar secara langsung maupun tidak langsung.
Secara langsung tentu saja dengan segala aktivitasnya itu. Apakah itu mereka petani, nelayan, pedagang, guru, pegawai pemerintah atau swasta, maupun para politisi.
Secara tidak langsung dari si warga inilah terhimpun berbagai jenis pajak dan kemudian bagian hilirnya adalah dana PAD yang masuk APBD dan pada gilirannya diterjemahkan ke dalam bentuk proyek pembangunan yang dilakukan oleh Gubernur dibantu para staf-stafnya. Apatah mereka itu Wakil Gubernur, Sekretaris Wilayah Daerah, Kepala Bappeda, kepala-kepala dinas, badan, dan unit-unit pelaksana teknis di tubuh pemerintah daerah.
Kinerja eksekutif itu dalam kondisi negara yang demokratis tidak pincang. Mereka dijaga dengan baik oleh lembaga pengontrol yang juga adalah wakil rakyat. Oleh karena ada check and balancing, maka jangan kuatir akan terjadi diskriminasi. Tak masuk akal jika itu terjadi.
Trias Politica mengajarkan tiga pilar demokrasi. Selain Gubernur-Wagub dan staf-stafnya di jajaran eksekutif, juga wakil-wakil rakyat di legislatif dan berhimpun di rumah rakyat bernama DPRD, tapi juga ada lembaga penegak hukum bernama pengadilan. Di mana hukum berjalan, maka keadilan akan dirasakan.
Jika keadilan dirasakan masyarakat, ekonomi akan tumbuh. Dengan demikian kemiskinan yang ada di Kalbar akan bisa beringsut dan berlanjut tumbuh sesuai dengan SDA dan SDM yang tersedia. Jika SDA dan SDM Kalbar dikalikan dengan semangat kebersamaan, maka hasilnya adalah kemakmuran.
Dalam kondisi negara yang makmur—jangan jauh-jauh kita lihat Malaysia dan Singapura—siapa pun pemimpin negerinya (eksekutif)—rakyat tak mudah diprovokasi dan dipecah-belah. Rakyat yang makmur bisa berpikir dengan jernih: kenapa harus diombang-ambingkan oleh warna politik, karena politik bukanlah segala-galanya. Apalagi hanya untuk memenuhi ambisi segelintir oknum politisi, lebih jauhkan bala lagi.
Vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara tuhan. Untuk itu mari kita semua berharap Kalbar aman dan nyaman. Caranya dengan meningkatkan kewaspadaan sekaligus terus memupuk semangat kebersamaan.
Posted by Noeris at 06.43 0 comments
Minggu, 18 November 2007
Pilih Aman Daripada Sekedar Siapa Gubernur
Benar bahwa nyaris setiap penduduk Kalbar yang sadar akan pentingnya arti Pilkada Gubernur pingin tahu siapa yang keluar sebagai pemenang Pilkada yang dihelat pada 15 November lalu. Benar pula bahwa masing-masing pihak sekarang saling klaim bahwa pihaknya menang.
Kubu Cornelis-Christiandy menyatakan bahwa perolehan suaranya tertinggi. Usman Ja’far-LH Kadir melalui Tim Harmoni juga mengekspose bahwa kandidatnyalah yang unggul.
Berdasarkan rekapitulasi suara yang dibuat Tim Pakar ACC pasangan Cornelis-Christiandy unggul di 8 kabupaten plus Kota Singkawang dengan total perolehan suara (sementara) 924.418 atau 43,94 persen.
Sedangkan kandidat lain, yakni Usman Ja’far-Drs. LH Kadir unggul di Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Sambas, dengan total suara (sementara) 646.080 atau 30.71 persen. Kabupaten Ketapang milik Oesman Sapta-Drs. Ignatius Lyong, MM dengan perolehan suara (sementara) 332.279 atau 15,79 persen. Kandidat nomor urut 3, HM Akil Mochtar meraih 200.983 suara atau 9,55 persen.
Rekapitulasi suara ini adalah hasil pantauan Tim ACC yang berasal dari KPU Kabupaten/Kota dan saksi-saksi di tiap-tiap TPS se-Kalbar. (Baca Borneo Tribune, Minggu 18 November hal 22).
Di lain pihak Tim Harmoni juga optimis calon gubernur-wakil gubernur yang diusungnya: H Usman Ja’far-Drs LH Kadir mengungguli kandidat lainnya. Incumbent yang dijagokan delapan partai ini, pada perhitungan per 17 November 2007 sampai pukul 14.45 WIB meraup 39,08 persen suara yang masuk sebesar 1.815.377.
Dari data Harmoni Center Kalbar tersebut, Usman Ja’far-LH Kadir mendapatkan 711.302 suara, disusul Drs Cornelis, MH-Drs Christiandy Sanjaya, SE, MM dengan 661.406 suara. Dua posisi terakhir diraih H Oesman Sapta-Drs Ignatius Lyong, MM dengan 290.736 suara dan HM Akil Mochtar-Drs AR Mecer sebanyak 151.993 suara. (Baca Borneo Tribune, Minggu 18 November hal 1).
Warga Kalbar yang haus akan informasi dan ingin segera mendapatkan jawaban siapa pemenang Pilkada Gubernur tentu akan bingung berhadapan dengan dua ekspose data ini. Siapa yang benar? Ekspose yang dilakukan Tim Cornelis-kah? Atau ekspose Tim Harmoni? Atau kedua-duanya benar? Atau sebaliknya dua-duanya salah?
Memang jika ada dua sekuen yang berbeda, maka kemungkinannya adalah dua faktorial. Secara matematis menjadi empat kemungkinan seperti tersebut di atas.
Sayangnya Pilkada Gubernur bukanlah angka matematika semata-mata. Pilgub adalah ranah politik, kendati bisa didekati secara matematis, misalnya angka-angka hasil pencoblosan 2,9 juta data pemilih tetap.
Dalam ranah politik, segala cara untuk mencapai tujuan menjadi “halal”. Kadangkala hukum pun dilanggar.
Ekspose yang dilakukan tak ubahnya upaya menggiring opini publik. Pers menjadi medianya. Dan hal itu tidak hanya berlaku di Kalbar, tapi juga di hampir setiap wilayah yang melakukan pemilihan umum, hingga ke Amerika sekalipun.
Di sini warga mesti maklum dan perlu terus memantau keadaan. Kita tentu tak mau rel-rel hukum dilanggar. Kita juga tak mau jika kita selaku rakyat jelata dijadikan korban akrobat dari para politikus yang tujuannya hanya agar targetnya tercapai.
Oleh karena itu kita patut waspada dan terus giat mengawal proses Pilkada Gubernur ini dengan kewaspadaan yang tinggi. Bagi kita, rel hukum adalah pegangan.
Sistem Pilkada telah diatur berdasarkan undang-undang dan diterjemahkan dalam PP No 6 Tahun 2005 tentang Pilkada Langsung. Di sana diatur bahwa yang menetapkan siapa pemenang bukanlah ekspose masing-masing kubu melainkan KPU. Sistem kontrolnya juga rigid sehingga sulit lolos jika ada pihak yang hendak memanipulasi data.
Jika ada pihak yang memanipulasi maka hukum menjadi panglima. Hukum bisa menyelesaikannya seperti kasus TPS 51 di Pontianak Barat. Pilkada Gubernurnya diulang lantaran ada 40-an suara yang tak sah memaksa untuk masuk mencoblos. Pada gilirannya terjadi selisih suara masuk dibanding mereka yang menggunakan hak pilihnya sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Dalam menyikapi ekspose kubu ACC dan Tim Harmoni, kita mesti menyikapinya dengan kepala dingin dan hati yang sabar. KPU Daerah Kalbar sedang menjalankan tugasnya untuk kemudian sesuai jadwal pada 22-29 November menetapkan siapa pemenang yang sesungguhnya setelah verifikasi data KPUD Kabupaten/Kota masuk semua.
Hingga Sabtu (17/11) memang Cornelis berada di bar teratas menurut data KPUD. Tapi rekapitulasi datanya masih belum selesai. Bersabarlah karena sabar adalah induk dari segala kesuksesan.
Proses Pilkada Kalbar kita rasakan sesungguhnya sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Keamanan Kalbar juga kondusif dan patut diacungi jempol.
Kita wajib menjaga kondisi yang kondusif ini dengan tidak mudah diprovokasi dengan aneka SMS, diskusi dan tuding-menuding. Bagi kita, tak soal apakah Gubernur Kalbar mau Cornelis ataupun Usman Ja’far, yang penting Kalbar aman dan Pilkada Gubernur berjalan sesuai koridor jujur dan adil. ■
Posted by Noeris at 10.03 0 comments
Sabtu, 17 November 2007
Borneo Tribune Sukses Meng-cover Pilkada
Pemilihan kepala daerah secara langsung adalah gawe besar, apalagi di tingkat provinsi Kalbar. Dan bukan hanya Kalbar, tapi juga di Kota Singkawang di mana di bekas ibukota Kabupaten Sambas itu juga diselenggarakan suksesi kepemimpinan untuk periode 2008-2013.
Borneo Tribune sebagai koran yang baru berumur lima bulan harus bisa menyesuaikan diri dengan gawe besar tersebut. Oleh karena itu dengan segala daya dan upaya, melibatkan segala kemampuan dan sumber daya insani yang tersedia, maka disusunlah program kerja.
Di bagian keredaksian dibagi tugas untuk meliput peristiwa politik terbesar di tahun 2007 ini. Ada yang jaga gawang, ada yang menjaga sayap kiri, sayap kanan, menjaga lini belakang dan tentu saja juga ada gelandang yang bertujuan melakukan serangan.
Pilkada memang bukan pertandingan bola, koran juga bukan ajang sepakbola, tapi esensi manajemennya sama. Oleh karena itu kami menggunakan nilai-nilai dasarnya sebagai pedoman dalam bekerja.
Untuk meng-cover atau meliput Pilkada di Kota Singkawang kami sudah membuka biro dua bulan sebelum Pilkada di sana digelar. Begitupula dengan Pilkada Kalbar. Kami membentuk biro-biro secara besar-besaran.
Alhasil sebelum Pilkada memasuki babak pencoblosannya, kami sudah hadir pula di Kabupaten Pontianak, Ketapang, Landak, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu.
Sebagai koran yang baru berumur jalan enam bulan, membentuk biro hingga tujuh daerah menunjukkan produktivitas yang tinggi. Ini sama dengan satu bulan satu biro.
Membentuk biro itu sendiri tentu tidaklah mudah. Dia menyangkut personil, peralatan, jaringan, dan tetek bengek administrasi lainnya. Syukurlah kesemuanya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Semua peristiwa politik Pilkada dapat di-cover secara lengkap dan sukses.
Redaksi pun bukan satu-satunya bagian dari entitas koran, di dalamnya ada bagian periklanan, pemasaran, dan percetakan. Ketiganya setali tiga uang karena merupakan rangkaian yang tak terpisahkan.
Produk redaksi berupa pemberitaan harus memenuhi rasa ingin tahu pembacanya. Dengan demikian dia layak jual. Urusan jual menjual tentu adalah bisnis dari bagian marketing atau pemasaran. Advertising sublim di dalamnya.
Lantas apalah guna semua jajaran redaksi dan marketing siap secara paripurna di sisi materi dan intelektual, jika percetakan tak punya amunisi untuk mencetak?
Oleh karena itu kami semua berhitung. Bahan-bahan cetak harus tersedia.
Yang tak kalah penting yang kami harus komunikasikan kepada pembaca Borneo Tribune yang tercinta juga adalah “kebutuhan” dari para aktor politik yang terlibat dalam Pilkada. Mereka butuh promosi dan pencitraan. Mereka butuh kerjasama dengan media.
Sikap kami di Borneo Tribune tentu saja terbuka sebagai media yang benar-benar media. Siapa saja boleh mempropagandakan dirinya. Maka semua terlibat. Semua parpol, semua tim sukses, semua kandidat. Semua dapat bekerjasama dengan jalur-jalur yang profesional bersama Borneo Tribune.
Iklan diperlakukan sebagaimana layaknya iklan. Pesan koran untuk tujuan promosi dan menyentuh basis massa di kala kampanye juga dilayani sebagaimana laiknya. Begitupula terhadap advertorial. Kami membatasinya dengan pagar api atau firewall. Di sini iklan berbeda dengan berita.
Memang tidak ada aturan bahwa iklan harus berapa banyak di halaman mana, atau buat siapa. UU Pers tidak ada mengaturnya. Yang jadi patokan tentu saja etika dan estetika.
Pada tataran etika, kode etik jurnalistik juga tidak mengatur soal tersebut. Oleh karena itu yang tersisa adalah estetika. Prihal estetika ini kami perlu menyampaikan permohonan maaf kepada pembaca dan pelanggan setia Borneo Tribune jika di dalam masa kampanye Pilkada 29-11 November kemarin tampilan Borneo Tribune agak kaku.
Permohonan maaf kami yang kedua adalah tentang menumpuknya pesanan koran dari para kontestan yang berkampanye. Pesanan yang menumpuk menyebabkan stok kertas kami menjadi terbatas. Ditambah lagi traffict di Pelabuhan plus air di muara Kapuas surut. Untuk memproduksi koran kami mesti bongkar pasang kertas melebihi kapasitas ideal. Akibatnya deadline cetak menjadi molor dan koran yang tiba ke pelanggan menjadi terlambat. Atas keterlambatan itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kami berterimakasih atas kesetiaan dan saling pengertian dari para mitra, baik pelanggan maupun pengiklan. Terimakasih atas segala kepercayaan yang disematkan kepada kami. Kami juga terus bekerja keras untuk memuaskan pelanggan. Service excellent tentu akan menghasilkan reward excellent pula.
Akhirnya Pilkada pun sudah tinggal buah ujung. Hasil pencoblosan suaranya sudah dilakukan. Kita sudah mempunyai gubernur yang baru. Kita juga sudah punya Walikota Singkawang yang baru, juga buah dari Pilkada. Maka selamat atas terpilihnya pejabat-pejabat baru. Sedangkan untuk kontestan yang belum berhasil mencapai puncak, tak perlu kecewa karena membangun Kalbar bisa dari mana saja. Toh kita semua bersaudara.
Laiknya persaudaraan yang ideal, kita saling berjabat tangan. Saling tolong menolong dan sapa-menyapa. Semakin akrab kita semua, semakin satu hati dan kata. Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh. Semakin padu semakin tangguh. ■
Posted by Noeris at 10.23 0 comments
Tabulasi Data KPUD Update Sabtu 17 Nov 2007
Ini data yang di-up date KPUD Kalbar untuk memenuhi dahaga rasa ingin tahu warga. Tampak Cornelis unggul jika dibandingkan incumbent.
Suara Sementara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat
UJ- LH OSO-Lyong Akil Mecer Cornelis
Kota Ptk 91,934 39,449 14,034 44,446
Singkawang 12,204 8,381 7,310 24,699
Bengkayang 12,363 5,015 2,465 28,013
Landak 8,632 9,285 6,941 154,812
Sintang 25,762 5,943 12,872 58,600
Kapuas Hulu 39,237 5,997 26,221 45,233
Ketapang/KKU 25,061 85,009 12,620 36,897
Kab.Pontianak 25,522 18,979 5,671 17,466
Kab.Sanggau (masih kosong)
Kab.Sekadau (idem)
Kab.Melawi (idem)
Jumlah 263.610 190.231 92.303 433.843
849,435
Sumber: KPUD Kalbar Jalan Ahmad Yani, Kota Pontianak. Update data, Sabtu (17/11) pukul 19.00 WIB
Posted by Noeris at 09.59 0 comments
Jumat, 16 November 2007
3 Versi Kemenangan Pilkada Kalbar
UJ Center pada pukul 23.30 WIB Jumat (16/11) mengekspose kemenangannya 1% jika dibandingkan dengan pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya dari 1.8 juta suara yang masuk. Keluarga Besar Putra Polisi Polisi (KBPPP) sore juga ekspose datanya. Mereka mengklaim unggul 11% dari UJ-LHK. Jumlah suara juga 1.8 juta yang masuk. Lalu mana yang benar? Mestinya yang benar adalah data KPUD. Hanya saja data KPUD masuknya amat seret. Jika data yang lain sudah 1.8 juta, mereka baru ratusan ribu. Mungkin karena menunggu validitas dan legal formal. Urutan unggulnya suara masing-masing CC, UJ-LHK, OSO-Lyong dan Akil-Mecer.
Lepas dari siapa yang menang dan kalah, para kandidat jauh-jauh hari sudah menyatakan siap menang dan kalah. Toh menang juga tugas menumpuk di depan mata. Kalah juga tak berarti tidak dapat membangun daerah. So? Idem dito aja toh...he he he
Posted by Noeris at 09.19 0 comments


