Minggu, 16 Maret 2008

Dua Kandidat Doktor

Sebagai koran yang terbit harian dengan titik tumpu bidang pendidikan, semangat belajar tidak boleh lekang karena panas, dan tak boleh luntur karena hujan. Semangat belajar harus terus menggelora bagaikan dian yang tak kunjung padam.
Dian yang tak kunjung padam, atau pelita yang terus menyalakan cahayanya di tengah gelap gilitanya malam, memang merupakan lambang dari insan penerang, para jurnalis yang mengampu misi menyampaikan informasi, mendidik, menghibur, sekaligus memberikan peringatan—baik positif maupun negatif dengan mengikhtiarkan solusi alternatif.
Dalam menjalankan fungsi edukasi, terlebih koran pendidikan, belajar tidak hanya ke kampus, atau para intelektual. Tapi bisa ke mana saja dalam kehidupan ini. Life is campus. Kehidupan itu sendiri sesungguhnya adalah kampus yang menurut para ilmuan sosial, “Masyarakat adalah laboratorium yang paling lengkap atau sempurna.”
Pada sisi lain, belajar dari masyarakat sama dengan belajar dengan Tuhan. Demikian karena vox populi vox dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan.
Di pekan terakhir ini, Borneo Tribune mengirim delegasi belajar ke sejumlah daerah di Kalbar. Tujuan dan sasarannya adalah untuk belajar.
Tujuan pertama ke Kota Singkawang, Jumat (1/2). Kota yang menjadi tuan rumah bagi naga terbesar di Asia untuk tahun 2008 ini sangat istimewa. Kepala daerahnya berwajah oriental, dan baru terpilih di dalam perhelatan Pilkada medio Nopember tahun lalu. Pemimpin sukses di bidang advokat di Jakarta kelahiran Singkawang ini punya program aksi “Spektakuler” untuk membangun Kota Singkawang yang kaya akan panorama wisata. Hasan Karman didampingi wakilnya Edi R Yacoub hendak menjadikan Kota Singkawang sebagai kota wisata nomor dua di Indonesia setelah Bali.
Program wisata itu tentu saja baik dan patut didukung bersama-sama. Tidak hanya dari masyarakat, tapi juga stakeholder di seantero Kalbar.
Kami bertandang ke Pemkot Singkawang dan berdiskusi di ruang pertemuan Walikota. Kandidat doktor bidang manajemen lingkungan ini patut ditempatkan sebagai soko guru. Tutur katanya halus dan lembut, tatap matanya lembut, kebapakan. Untaian katanya tegas dan bernas.
Hasan Karman berpikiran sistematis dengan daya dukung pengetahuan sejarah yang luas. Dia juga sedang menulis buku yang serius tentang sejarah Tionghoa di Kalimantan Barat. Suatu upaya yang luar biasa energisitas-edukatifnya.
Hasan Karman yang bakal menggondol predikat doktor tidak sendiri. Selaku kepala daerah yang usianya belum seumur jagung ada pula teman stakeholdernya di kabupaten lain. Adrianus Asia Sidot yang juga baru dilantik dari Wakil Bupati menjadi Bupati Landak definitif adalah Mantan Kadis Pendidikan di Kabupaten Landak. Ia bakal menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia.
Tim Borneo Tribune berkunjung sekaligus belajar banyak dari figur yang low profile ini, Rabu (6/2) kemarin. Dalam banyak sisi, ia mirip Hasan Karman. Low profile. Tampil sederhana, apa adanya.
Kebersahajaan membawa keduanya menjadi sosok yang tampil penuh wibawa. Kesabaran membawa diri keduanya ke puncak karir dari top eksekutif.
Pengalaman belajar dari dua kandidat doktor di dua daerah pemerintahan Kalbar membuat Borneo Tribune yang juga baru tumbuh untuk terus bekerja secara ulet, belajar keras dengan tiada kata mengenal lelah, serta sabar. Sabar menurut Hasan Karman dan Adrianus adalah perkalian antara usaha, sikap positif dan linier dengan perjalanan waktu. Sabar adalah induk dari segala kesuksesan. “Dengan bersikap sabar, sama dengan separo masalah telah terselesaikan. Sikap kitalah penentu kesuksesan hidup kita, bukan uang.”
Lewat Poernama 02 ini kami haturkan ucapan terimakasih atas ilmu dan dedikasi yang dicontohkan Hasan Karman dan Adrianus. Kami juga berdoa semoga kedua figur muda pemimpin daerah ini dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan nilai tertinggi. Jujur, Kalbar membutuhkan dian yang tak kunjung padam. Kita semua membutuhkan gelora cahaya sebagai penerang di tengah kegelapan.■


0 comments: