Kamis, 04 Desember 2008

Utopia Pemberantasan Korupsi


Pemerintah berkomitmen menyudahi praktik korupsi. Caranya dengan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU). Begitu yang kita ikuti melalui acara yang digelar Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Kalbar dengan seluruh jajaran aparat penegak hukum di Kalbar, Selasa (2/12).
MoU yang diteken membuktikan bahwa pemerintah punya political will atau keinginan kuat memberantas penyakit paling berbahaya bagi masyarakat tersebut. Sebab uang rakyat yang dikorup menyebabkan pemberdayaan masyarakat tidak pernah berangkat naik, terkecuali meng-kaya-kan oknum-oknum tertentu. Yang terjadi di kalangan rakyat adalah pemiskinan. Pemiskinan yang setaraf dengan pembodohan dan penghisapan hak-hak orang lain.
Orang-orang kaya tertentu dari jalan korupsi kerap sulit disentuh hukum karena hukum bisa dibeli. Oknum di lembaga peradilan telah kongkalikong dengan rupiah. Rupiah menjadi segala-galanya karena kehidupan yang materialistis, konsumeristis dan permisif (serba boleh).
Syukurlah jika pemerintah yang punya power atau kekuatan menyadari posisi ini. Sadar-sesadar-sadarnya sehingga membubuhkan tanda-tangan buat sepakat tidak korupsi lagi. Sepakat untuk mempercepat proses vonis kasus-kasus korupsi sesuai dengan atribut dan tata hukum yang berlaku di NKRI.
Kita ketahui bahwa negara ini berazaskan hukum. Hukum harus menjadi panglima.
Setakat ini kita lihat ada MoU karena memang hukum belum menjadi panglima. Oleh karena itu sekecil apapun arti dari MoU tersebut tetaplah punya makna yang sangat dalam. Bukan penghias bibir belaka. Tak sekedar dekorasi seperti lips stick. Terutama dari political will itu kita menunggu aksi nyata atau political action.
Demokrasi berlandaskan hukum yang kita idam-idamkan harus kita akui masih bersifat utopis. Idaman Indonesia emas yang madani, yang sejahtera, yang adil dan bermartabat masih bagaikan jauh panggang dari api. Korupsi masih menetas di sana sini. Jumlah kasus korupsi bukannya berkurang, melainkan bertambah-tambah.
Akibat terus bertambah itulah pemerintah merasa perlu mencapai pemerintahan yang bersih dan berwibawa dengan cara membuat komitmen bersama. Semakin sering komitmen ini ditegaskan akan semakin baik karena janji adalah utang dan utang harus dibayar. Jika tidak di pengadilan dunia, ya pengadilan moral, sampai akhir zaman kelak.
Dalam kerangka mencapai hasil yang cepat, kita ada baiknya belajar sampai ke negeri China. Di China disiapkan 100 peti mati bagi para koruptor. Satu peti mati khusus buat kepala negara, kepala daerah, atau pada akhirnya kepala kantor.
Ini sugesti yang baik karena esensinya adalah keteladanan. Keteladanan ini yang sekarang amat sangat kita butuhkan sehingga pemberantasan korupsi bukan hal yang utopis.
Ketika sampai pada tingkat keteladanan, kita semua bisa menjadi teladan. Caranya dengan memulai dengan pola hidup sederhana. Kita tidak tergantung pada kebendaan dan kemewahan. Kita biasakan diri berpuasa dari segala nafsu kepemilikan harta benda maupun kekuasaan hingga tak cukup tujuh turunan.
Indonesia sendiri tak sedikit tipe leader yang bisa diteladani dan bersih dari kasus korupsi. Sebutlah Mohammad Hatta, KH Agus Salim hingga di jajaran termuda seperti Kapolri Hoegeng, Hakim Bismar Siregar, Ali Sadikin.
Nah kita butuh Hatta Hatta muda. Kita perlu new-new Agus Salim. Kita mencari Hoegeng Hoegeng belia. Kita search Bismar Bismar pemula. Kita harus ciptakan suasana yang kondusif bagi lahirnya Ali Sadikin Ali Sadikin. Tegas dan keras terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme.






Baca selengkapnya..

Jangan Berhenti Menanam


Sejak tahun 2003 Indonesia telah menanam lebih dari dua miliar pohon. Pohon-pohon itu terdiri dari jenis-jenis apa dan merupakan bagian dari gerakan menanam pohon sebagai jawaban dari krisis global perubahan lingkungan.
Perubahan lingkungan adalah isu yang seksi saat ini. Di mana-mana orang berbicara tentang perubahan lingkungan.
Orang berbicara tentang pertambahan jumlah penduduk yang terus membesar dengan implikasi perebutan sumber-sumber ekonomi, konflik negara maju dengan negara berkembang, konflik antara si kaya dan si miskin, hingga konflik etnis yang laten di daerah kita.
Memang dilihat dari sudut pandang mana saja, isu lingkungan adalah isu yang aduhai menarik. Sanitasi misalnya.
Sebagai akibat dari penduduk yang terus bertambah, terlebih rakyat miskin dan tak mampu mewujudkan keluarga kecil melalui program keluarga berencana—terutama karena alat kontrasepsi harus dibeli dari uang di saku sendiri—setiap tahun lahir individu baru. Individu baru ini tentu saja akan kurang terurus secara sehat karena tahun depan sudah punya adik lagi serta butuh perhatian yang sama pula.
Kantong-kantong kemiskinan di setiap daerah semakin bertambah, semakin membesar. Masalah sosial kita bertambah-tambah.
Otak pejabat di pemerintahan tentu pusing tujuh keliling untuk memutus mata rantai kemiskinan struktural tersebut. Terlebih sudah banyak program bergulir, tetapi belum ada yang berhasil memuaskan.
Kita lihat saja Kota Pontianak sebagai barometer Kalbar. Coba tanyakan di mana daerah yang kemiskinannya berkurang serta sanitasinya membaik? Bebas dari sampah, taman yang indah, serta komunitas masyarakat yang religius?
Coba tolong sebutkan nama daerah yang bisa kita jadikan rujukan untuk keteladanan? Rasanya memang langka atau tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu dalam konteks hari menanam pohon sepanjang 28 Nopember ini, marilah kita menyadari akan arti pentingnya menyelamatkan lingkungan di mana sudah tegas dinyatakan: telah bertebaran kerusakan di daratan dan di lautan, akibat ulah tangan-tangan manusia.
Tangan manusia itu adalah tangan yang serakah. Tangan yang lupa akan puasa. Lupa akan menyemai bibit-bibit kebajikan. Lupa akan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dengan menerapkan hal ihwal sebaliknya, yakni kesetanan yang luar biasa sehingga yang terjadi adalah kehewanan yang biadab.
Jika dengan menanam pohon disertai pula dengan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan, kita menjadi agen pembaharu yang layak disebut leader atau khalifah. Pemimpin yang membawa alam serta lingkungannya aman, damai, asri dan indah. Lebih dari itu menjadi warisan laksana emas hijau ke masa depan. Maka ingat, ingat, jangan berhenti menanam, hatta besok hari akan kiamat sekalipun.



Baca selengkapnya..

Museum dan Newseum


“Apa jadwal kita Minggu depan?”
“Saya mau ke Rumah Betang dan Museum,” ungkap Mathias Waldmayer.
“Ke…Temajo Island,” sambung Dorina Luise Schulte.
“Mmm, saya mau ke perkebunan sawit,” jawab Sina Gil Mandelich di hadapan rapat evaluasi mingguan program magang mahasiswa-mahasiswi Bonn University di Borneo Tribune serta Tribune Institute akhir pekan lalu. Saya dan Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti tekun mendengarkan. Dwi mencatat poin-poin penting.
Turut dicatat oleh Dwi yang juga advokat di Suwito Associates ini keinginan Mathias dkk untuk belajar Bahasa Indonesia di Kampus FKIP Untan hingga kunjungan ke Taman Nasional Gunung Palung di Ketapang maupun Taman Nasional Danau Sentarum serta Betung Kerihun di Uncak Kapuas, Kapuas Hulu.
Hati saya tentu saja bangga karena biasanya kita yang ingin belajar Bahasa Inggris, tapi ini jauh-jauh dari Eropa mereka yang kepincut ingin belajar Bahasa Indonesia dari penutur langsung Bahasa Indonesia. Mereka juga ingin merasakan sendiri betapa eksotiknya zambrut khatulistiwa dengan flora, fauna dan budaya masyarakatnya.
Mathias, Dorina dan Sina adalah tiga dari enam orang civitas akademika Bonn yang telah tiba untuk internship programe di media Tribune periode enam bulan sepanjang 2008-2009. Kerjasama dalam lingkup Studi Asia ini akan terus berlanjut secara teknis pragmatis media serta akademik ke tingkat Studi Asia hingga 2010.
“Apalah yang bisa saya tunjukkan dari keinginan pertama ke Rumah Betang dan Museum Negeri Pontianak?” pikir saya dalam hati.
Kondisi gedung, artefak, diorama, brosur, hasil-hasil kerajinan yang bisa diperjual-belikan hingga petugas pelayanan tamu di kita sangat terbatas. Saya merasa minder jika membandingkan dengan pranata dan penataan museum di negara-negara maju seperti Eropa atau Amerika.
Saya teringat ketika mengunjungi Smithsonian Museum di kawasan Mall antara Gedung Putih dan Capitol Hill di Washington DC tahun 2004. Museum di sana ditata gila-gilaan. Dari sisi artistik gedungnya sangat scientific dan bahkan ada museum khusus ilmu pengetahuan alias Museum of Science. Dari mulai cara masuknya, alur ruang yang dikunjungi untuk melihat pajangan-pajangannya amat luar biasa. Tak jarang dilengkapi audio-visual serta teater tiga dimensi.
“Pantas anak-anak di negara maju ini pinter-pinter. Mereka bisa belajar rumus matematika cukup ke museum saja. Sebab, sekali tekan tombol di panel komputer di hadapan foto Archimedes atau Pascal misalnya, maka akan keluar penjelasan yang sistematis, lengkap dengan tampilan rumus, contoh soal dan sejarah hidup si ilmuan.” Sungguh menggelorakan semangat belajar. Sungguh kita ke museum bisa belajar sambil bermain-main. Bisa belajar sambil berwisata. Bahasa kerennya wisata ilmiah. Wisata sejarah.
Itu baru dari sisi tata bangunan dan fasilitas. Dilihat dari sisi luas areal, mereka juga gila-gilaan. Ibarat satu kampung dijadikan museum. Saya tak cukup seharian hanya mengunjungi satu museum, padahal masih banyak museum-museum lain yang tak kalah menarik. Sebutlah museum botani, museum antariksa, hingga museum lilin.
Museum di negara maju sudah dikelola dengan amat sangat profesional. Di papan pengumumannya ada agenda tahunan yang padat, meliputi kajian, lomba, seminar dll. Amat sangat padatnya sehingga menarik dikunjungi jutaan orang saban tahun. Beda di kita yang museum ibarat kuburan. Hanya tempat menyimpan rangka-rangka tua. Tempat menyimpan cerita peradaban masa lalu dan tak urung kita berseloroh, “Wah awak nih udah tua, udah layak dimuseumkan…”
Saya tercenung dan melayang-layang di hati dan pikiran. Bukan karena takut dimuseumkan, tapi program harus berjalan.
“Bagaimana menurut kamu Museum Negeri Pontianak?” tanya saya kepada Mathias setelah dia sejak pagi sampai siang di suatu hari mengunjungi gedung yang lokasinya tak jauh dari Rumah Betang dan Rumah Dinas Gubernur Kalbar.
“Wow bagus sekali. Saya puas, hanya…hanya saya tak melihat penjelasan yang lengkap tentang rumah betang,” ungkapnya.
Mathias juga mengaku heran mengapa penjelasan yang ditera di dinding tentang setiap artefak tidak dibuat juga berbahasa Inggris. Dengan demikian bisa memberi penjelasan lebih lengkap kepada para bule. “Bukan cuma saya yang menuliskan itu di buku tamu, tapi bule-bule lain juga. Tapi mengapa ya tak dibuat?” kata Mathias.
Kami yang mendengar mengangkat bahu. Rasanya tak mau saling salah menyalahkan. Itu sudah lagu lama. Lagu lama yang diputar ulang. Lagu lama yang layak dimuseumkan.
Kembali ke meja rapat evaluasi akhir pekan, khususnya dalam English Day on Tribune yang digarap bareng bersama English Student Association kami tak mau berpangku tangan. Kami ambil inisiatif untuk membuat usul-usul si bule yang positif membumi.
Kami akan mewujudkan sinergi berita (news) dengan sejarah (museum). Kami akan wujudkan museum dalam newseum.
Kami bayangkan kelak, kerja-kerja positif awak media juga layak dibuatkan artefak khusus newseum. Apakah itu perangkat keras, karya tulis dan media yang pernah ada di Kalbar, sejak dahulu kala hingga di zaman mutakhir ini.
Newseum ini barangkali akan menjadi tempat yang menarik untuk melihat sejarah dan peradaban media di suatu daerah. Maybee.



Baca selengkapnya..

Sabtu, 22 November 2008

Mengibarkan Panji-panji Tribune


Pepatah yang mengatakan—jika kamu ingin panen semusim tanamlah sayur; jika kamu ingin panen setahun tanamlah padi; tetapi jika kamu ingin panen sepanjang masa maka tanamlah kebaikan—kami rasakan kebenarannya.
Borneo Tribune saat lahir sudah dengan misi pendidikan yang ruhnya menyeru kepada kabajikan. Benih-benih kebajikan kami taburkan. Caranya dengan mengeksplorasi segala kemampuan yang dimiliki untuk dibagi-bagikan kepada siapa saja yang mau belajar.
Bagi crew Tribune yang mampu menyumbang keterampilan menulis, mengajar menulis. Bagi yang piawai dalam fotografi mengajarkan teknik memotret yang baik. Bagi yang pintar memotivasi tampil menggunggah semangat untuk tampil menjadi yang terbaik. Begitupula bagi yang jago internet, mengasuh hobiis atau penggemar dunia maya secara gratis pula.
Melalui medan laga pendidikan ilmu dan keterampilan terus bertambah. Pengalaman tampil jauh ke depan pun menjadi sejarah berharga. Bahwa waktu tidak terbuang sia-sia.
Benih kebajikan itu kini berbuah. Komunitas Borneo Blogger Community yang didirikan pada 27 Juli 2007 dari dapur redaksi Harian Borneo Tribune dengan konseptor Tribune Institute berhasil menduduki peringkat ketiga dari seluruh Indonesia perihal pengembangan agregat dunia maya. Jumlah anggota yang semula hanya belasan orang tumbuh pesat dalam setahun mencapai angka puluhan ribu di mana masing-masing preview halaman per anggota telah mencapai angka ribuan, bahkan ada anggota yang sudah menembus angka enam digit. Jutaan! Untuk itu silahkan kunjungi borneoblogger.com.
Blog, multiplay, wordpress, atau apapun namanya kini ibarat jamur tumbuh di musim hujan. Dunia maya ini menjadi medium baru bagi pertukaran informasi, pengalaman, bahkan perdagangan. Tak sedikit anggota yang panen uang gara-gara mengurusi web ini dengan serius.
Borneo Blogger Community yang kami singkat BBC telah menampilkan tokoh Tonton Taufik dan Luis Wulandari sebagai contoh bagi mereka yang berhasil menjala rupiah via internet. Sejumlah pelatihan kami gelar tanpa kenal lelah. Tetapi hal ini pula yang mendorong tumbuh kembangnya BBC di Kalbar dan kepulauan Borneo. Tak urung pada Pesta Blogger di Jakarta pada Sabtu, 22 November (hari ini, red) BBC diundang secara khusus.
Kami mengutus Asriyadi Alexander Mering dkk. Dus, satu tim pun “terbang” ke Jakarta dengan disponsori Heart of Borneo, Flexi, maupun Pemprov Kalbar.
Di hari yang sama anak asuh redaksi, Agus Wahyuni yang juga Kepala Biro Kabupaten Sambas beruntung mendapatkan beasiswa pendidikan jurnalisme investigative yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara di Jakarta dengan tingkat seleksi yang ketat. Agus Wahyuni akan belajar selama 23-29 Nopember dan untuk sementara pos liputannya di Kabupaten Sambas digantikan oleh Herkulanus Agus. Agus—sapaannya—sudah berpengalaman selaku kepala biro, khususnya Sanggau dan pos sesungguhnya saat ini adalah di Kota Pontianak. Di Kota Pontianak sendiri cukup banyak reporter yang bertugas sehingga tetap selaras, serasi dan seimbang.
Panji-panji Tribune terus berkibar karena dikibarkan oleh ruh yang punya bara api menyala-nyala untuk menyuluh. Menyeru kepada kebajikan, serta mencegah dari kesia-siaan.
Kami sadar bahwa sesungguhnya Tribune ini kecil jika dibandingkan dengan karya-karya besar kelas dunia. Tetapi kami terus berusaha mengibarkan panji-panji Tribune untuk terus besar menjulang sesuai kemampuan yang kami miliki. Kami ingin lebih dalam lagi menyelami domain kebajikan yang ibarat samudera tak bertepi ini. Untuk itu kami mohon dukungan dari Anda pembaca yang budiman. Dengan kenbersamaan hasilnya pasti akan lebih sempurna. Salam.








Baca selengkapnya..

Jumat, 21 November 2008

Pejabat Baru Semangat Baru

Tugas baru, semangat baru. Kenyataan itu kerap kita dapatkan di negeri zamrut khatulistiwa ini.
Tak hanya di pemerintahan, hal serupa terjadi di instansi Polri. Kapolri baru, Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri saat memberikan pengarahan di Mapolda Kalbar, Kamis (20/11) menegaskan program pemberantasan premanisme selain memberantas segala praktik ilegal seperti illegal logging (pembalakan hutan), illegal fishing (pencurian ikan), illegal mining (tambang liar), hingga woman trafficking (perdagangan perempuan).
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Sutanto yang digantikan Bambang menerima amanah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memberantas korupsi, premanisme, hingga illegal logging.
Kapolri Sutanto ketika itu dengan jabatan baru, semangat baru berupaya menjalankan tugas dengan baik. Tak urung dia meski berhadapan dengan rekan sekabinet sendiri, seperti Menhut MS Kaban. Keduanya tak urung saling tuding siapa di balik layar praktik illegal logging.
Presiden SBY tentu saja menjadi penentu melalui aturan atribut ketatanegaraan. Hasilnya pemeriksaan terhadap kasus per kasus terus berjalan sebagaimana komitmen awal SBY memimpin RI pasca Pilpres secara langsung buat pertama kali di tahun 2004, di mana dampaknya juga terasa di Kalbar di mana serombongan pejabat dinas kehutanan maupun Polres ditangkap di Ketapang akibat lalu lalangnya praktik illegal logging.
Kapolri Bambang mengingatkan kasus Ketapang jangan sampai berulang. Ini tentu saja sebuah ”warning” bagi pejabat Kapolda Brigjen Pol Drs R Natakesuma yang memang diwanti-wanti bertugas untuk memberantas illegal logging. Natakesuma adalah bagian dari pejabat yang mendapat promosi sebagai Kapolda menggantikan Zainal Abidin Ishak. Zainal sendiri kendati dinilai sukses mengawal Pilkada Gubernur pada akhir 2007, tapi dinilai gagal dalam memberantas praktik illegal logging—walaupun Zainal berkilah bahwa selama ini dia telah sungguh-sungguh serta mendapat laporan ABS (asal bapak senang) dari stafnya di Polres Ketapang.
Pejabat sebelumnya, Brigjen Nanan Sukarna dinilai bersih. Dia membaiat—istilah dalam agama Islam—untuk membulatkan tekat maupun komitmen agar semua anggota Polri di Kalbar untuk anti-KKN (korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Tak urung pin dipasang di dada setiap anggota sebagai bukti ”perang” melawan KKN. Selain baiat, Nanan juga ”membaiat” sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing anggota.
Pada masa itu aksi premanisme hingga praktik ilegal terbukti susut. Keamanan dirasakan masyarakat sehingga Nanan diminta untuk terus dipertahankan di Kalbar sehingga lahir guyonan bahwa Nanan tak bisa naik pangkat jika selamanya berada di Kalbar.
Nanan saat itu mengatakan bahwa Kalbar adalah Provinsi Ilegal. Maksudnya adalah terlalu banyak praktik-praktik ilegal di provinsi yang berbatasan langsung darat dan laut ke Negeri Jiran. Oleh karena itu perlu dilakukan terobosan moril-materil serta pengorbanan.
Lalu roda waktu terus bergulir. Mutasi demi mutasi mengiringi perjalanan pembangunan di Kalbar pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Di Kalbar menjabat Kapolda baru dengan semangat baru, di jajaran petinggi Polri juga bertugas pejabat baru dengan semangat baru.
Tetapi semangat saja tentu tidak cukup. Untuk menyukseskan program memberantas segala hal ihwal ilegal di Provinsi Ilegal apalagi ditambah pemberantasan premanisme tidaklah segampang membalik telapak tangan. Dibutuhkan operasi yang simultan.
Operasi itu tidak cukup hanya operasi seremonial oleh polisi di mana para pencoleng masuk sel, tetapi harus simultan. Lapangan pekerjaan harus terbuka dengan pendapatan yang cukup.
Anak usia sekolah harus mendapat perhatian sehingga generasi muda bangsa punya ilmu dan keterampilan yang cukup sehingga mereka tidak menjadi sampah dan duri masyarakat.
Polri dan pemerintah serta swasta harus saling bekerjasama untuk mewujudkan tatanan wilayah yang aman dan sejahtera. Termasuk kita juga. Perubahan menuju kebaikan harus dimulai dari diri sendiri, hal yang kecil-kecil, dan harus dimulai sejak detik ini juga. Tidak menunggu besok, lusa dan tahun depan. Dengan demikian kita secara bersama bisa mempertahankan setiap hari adalah hari baru bagi kita dengan semangat baru pula. Tanpa harus menunggu pangkat maupun jabatan baru.




Baca selengkapnya..

Mengikat Hubungan Lokal, Nasional dan Internasional

Dunia nyata saat ini terasa semakin kecil. Hubungan antara satu negara dengan negara lain sudah tidak sejauh setengah abad yang lalu di kala teknologi belum secanggih sekarang. Di abad modern ini, jarak sudah dipersempit dengan kendaraan darat, laut, terlebih udara yang super canggih.
Zaman super canggih ini pun terus melesat ke tingkat maya melalui perkembangan internet. Dunia sudah di depan mata. Sekali klik, kita sudah bisa berada di Amerika. Klik berikutnya, kita sudah bisa browse di seantero Jepang. Begitu seterusnya, kita bisa melanglangbuana ke segala penjuru dunia.
Melalui saluran teknologi canggih seperti itu, tergantung kepada kita mau diapakan kekayaan informasi itu. Mau positif, ataupun negatif.
Ketakutan sejumlah orang tua di Kalbar masih sangat terasa dengan kemajuan sain dan teknologi ini. Bahkan pernah diberitakan oleh Borneo Tribune, bahwa ada orang tua yang melarang putra-putrinya membuka internet di cyber-cyber cafe atau warnet. Alasannya jelas. Orang tua ini takut putra-putrinya tersesat di hutan belantara internet yang syur dan glamour.
Harian Borneo Tribune dengan lembaga nirlaba, Tribune Institute bisa merasakan ketakutan orang tua seperti itu. Oleh karenanya, Borneo Tribune bergandengan tangan bersama Tribune Institute bersama partnership menjembatani berbagai pihak untuk dapat memetik manfaat-manfaat positif dari kemajuan sain dan teknologi itu. Ditambah satu catatan penting: kita merengkuh kemodernan, kemajuan, maupun pembangunan/development, tetapi tidak melupakan khazanah budaya yang kita miliki. Budaya itu adalah budaya timur yang mengedepankan kesopan-santunan, busana yang elegan, tata bahasa yang halus, maupun tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan to the point-nya, kita adalah masyarakat yang relijius. Yakni masyarakat yang taat akan agama. Ketaatan akan agama tercermin lewat prilaku yang mulia serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
Melalui model pendekatan pendidikan yang syarat nilai di visi-misi Borneo Tribune-Tribune Institute selama ini telah terjalin program-program kerjasama lokal, nasional dan internasional. Kami terus bergandengan tangan dengan semangat persahabatan.
Di tingkat lokal seabrek-abrek kegiatan terjalin secara mutual seperti diskusi, seminar, workshop atau lokakarya. Seperti menjelang Pilkada Kota kemarin, telah terjalin kerjasama bersama Komisi Pemilihan Umum untuk membedah visi-misi maupun program aksi setiap pasangan kandidat.
Di tingkat nasional, pada medio 10-14 Nopember nanti akan kembali kami selenggarakan Kursus Menulis Narasi. Kegiatan ini bekerjasama dengan Pantau Foundation dan EC-Indonesia FLEGT Support Project.
Di tingkat internasional, Borneo Tribune dan Tribune Institute menjadi partner kegiatan Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui American Corner. Pada sisi lain sejak 1 Oktober lalu telah terjalin hubungan kerjasama dengan Bonn University di mana 6 mahasiswa-mahasiswi Jerman mengikuti magang atau internship program di ruang redaksi. Mereka belajar Bahasa Indonesia dan jurnalisme, sedangkan awak media Borneo Tribune dan Tribune Institute nge-charge-capacity building. Khususnya belajar Bahasa Inggris dan kebudayaan.
Tak heran jika para tamu bertandang ke kantor redaksi, lantas mata mereka tertaut dengan si mata biru dan rambut blonde. “Eit, di Borneo Tribune ada bule ya?” tanya Doni HA Aswin kala datang bertandang suatu hari.
“Iya, mereka magang di sini.”
“Hebat dong, Borneo Tribune bisa jadi tempat magang kampus universitas besar di Jerman,” sambung Doni.
“Garap terus supaya Borneo Tribune melangkah jauh lebih cepat,” timpalnya.
Rhonald Kasali seorang jurnalis-cum akademisi di dalam bukunya: Change, menegaskan, “Jika mau maju, dapatkan dukungan dari dalam maupun dari luar.” Dan itulah yang dilakukan Borneo Tribune tanpa kenal lelah.
Upaya itu kami sampaikan ke haribaan pembaca sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban publik. Kami merasa dukungan pembaca amat sangat besar artinya bagi kami secara internal maupun eksternal.
Tapi Pembaca yang budiman, kami sadari bahwa sesungguhnya kami belum berbuat apa-apa. Oleh karena itu terus dukung dan supportlah kami. Semoga karya nyata kami, atau kita semua akan membawa manfaat mondial di Kalbar secara bersama-sama pula. Amiin.



Baca selengkapnya..

Narative Reporting untuk Pontianak


Kesibukan di Harian Borneo Tribune bertambah sepekan terakhir ini. Ada kegiatan Narative Reporting untuk Pontianak yang bakal digelar pada Senin, 10-14 Nopember esok.
Koordinasi dilakukan dengan super intensif karena target kegiatan ini adalah super sukses. Tidak hanya super sukses secara formal fisik material, tapi juga pada psikis moral spiritual.
Asriyadi Alexander Mering selaku koordinator program dari lembaga pendidikan nirlaba milik Harian Borneo Tribune, yakni Tribune Institute telah mengatur sekaligus menyiapkan segala sesuatunya. Baik lokasi, materi dari berbagai buku dan karya jurnalistik kelas dunia, instruktur hingga pendaftaran peserta.
Tujuan kegiatan Narative Reporting untuk Pontianak ini tiada lain adalah untuk meningkatkan mutu jurnalisme di Kalimantan Barat. Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 20 orang terdiri dari kalangan jurnalis, akademis, mahasiswa, aktivis LSM, hingga advokat.
Instruktur yang hadir tak kepalang tanggung. Dia adalah suhu jurnalisme bergenre narative, atau jurnalisme sastrawi di Indonesia, Andreas Harsono. Tokoh muda alumni Newman Fellowship, Paman Sam yang juga murid dari Nabinya Jurnalisme AS, Bill Kovack ini bertabur bintang penghargaan. Tulisan-tulisannya dihargai setaraf penulis kaliber dunia.
Ide Narative Reporting untuk Pontianak ini sendiri bermula dari kasus Gang 17 sebagai letupan terakhir yang relatif massif di Kota Pontianak sebagai bagian dari rangkaian panjang sejarah kelam konflik anarkis di Kalbar. Andreas Harsono mengulasnya secara mendalam dengan teknik narasi atau bercerita. Tulisan yang berbobot itu telah dimuat di Gatra dan Laporan Khusus di Harian Borneo Tribune.
Banyak pihak yang menganga mendapatkan laporan itu. Diskursus dan diskusi jadi panas, namun dalam terminologi kedamaian. Tak urung tokoh Kalbar yang menetap di Jakarta, Frans Chai mengusulkan perlunya upaya-upaya cerdas untuk membuat Kalbar menjadi aman bestari.
Andreas mengusulkan agar kualitas jurnalis di Kalbar ditingkatkan. Caranya adalah dengan pendidikan kewartawanan. Pendek cerita, jadilah Workshop Narative Reporting yang bakal dihelat di Hotel Peony ini.
Karena tujuannya sangat mulia, banyak pihak yang bersedia urun tangan langsung maupun tidak langsung. Sedikitnya ada 8 lembaga yang bersinergi. Mulai dari Uni Eropa, Dephut, FLEGT Support Project, Gajahmada Hotel, Eka Tjipta Foundation, Pantau Foundation, Harian Borneo Tribune dan Tribune Institute.
Awak media yang terlibat meliputi media cetak dan elektronik. Baik media lokal maupun perwakilan media nasional di Kalbar.
Bagi Anda yang tertarik untuk juga bisa menulis secara mendalam dengan teknik Narative Reporting dan membawa manfaat bagi kemajuan Kalbar pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, kami anjurkan untuk daftar pada gelombang kedua. Kami akan menghelat acara seperti ini secara gradual.




Baca selengkapnya..

Bermula dari Ketiadaan Menuju Tribune-Plex


Semangat. Tidak ada satu kekuatan yang bisa mengalahkan semangat. Hal itulah yang terasa dari penyelenggaraan Kursus Narative Reporting yang diselenggarakan 10-14 November di The Roof Café Hotel Peony.
Dari sisi administrasi, peserta, hingga dana, semua dimulai dari tiada. Tetapi semangat melambung tinggi bagaikan mimpi.
Semangat yang menjulang tinggi ibarat mimpi itu oleh koordinator program, Asriyadi Alexander Mering bersama Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti dielaborasi sedemikian rupa ke tingkat konsep jadi. Konsep inilah yang dijalankan sebagai action-plan.
Dream yang menjadi action-plan digali dari semua lini pada pertemuan demi pertemuan. Baik yang non formal, informal, sampai rapat formal yang digelar secara khusus di meja bundar ruang redaksi.
Hasilnya? Blue-print program terbentang panjang. Banyak hal yang dideder dan diramukan. Sebagai contoh visi yang hendak dituju adalah perubahan peradaban dari lisan kepada tulisan. Titik sentuhnya pendidikan.
Kami semua sadar bahwa merubah peradaban itu tidak seperti membalik telapak tangan. Dibutuhkan proses dan semangat tanpa kenal lelah.
Kami sadar visi kami besar. Semua itu ibarat ingin memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai.
Dengan kesadaran kecilnya tangan-tangan kami sebagai pelaksana, maka hanya kebersamaan yang merupakan kata kunci untuk dilakukan. Bahkan hanya dengan kebersamaan itu kami bisa menggapai mimpi-mimpi.
Sebuah program pendidikan kepenulisan bernama “Narative Reporting untuk Pontianak” yang lebih serius dari yang sudah-sudah sudah pernah kami laksanakan berhasil dicapai dengan target peserta 20 orang. “Tetek bengek” administrasi berjalan sebagaimana mestinya, serta dana yang semula tiada, bisa terpenuhi dengan impas.
Pembaca. Semangat belajar di center of excellent ini menjadi ruh sekaligus jiwa Borneo Tribune Cq Tribune Institute.
Kami semua dengan semangat kebersamaan belajar untuk menyelenggarakan kegiatan dengan standar yang profesional, belajar untuk memberikan service excellent. Kami mohon dukungan agar Tribune-Plex (Tribune Complex, red) bisa benar-benar tumbuh menjadi center of excellent. Pusat keunggulan lokal di Kalbar.





Baca selengkapnya..

Jumat, 31 Oktober 2008

Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat


Gubernur Kalbar melalui surat keputusan nomor 713 tahun 2008 melegitimasi terbentuknya Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM)—Society Early Warning Forum.
Pertimbangan gubernur bahwa wilayah Kalbar selain berbatasan langsung dengan Jiran, Malaysia juga sangat rentan terhadap bencana alam banjir, asap, dan bencana ketertiban maupun keamanan.

FKDM mempunyai tugas menyusun rencana kegiatan; menjaring, menampung, mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi ancaman keamanan, gejala atau peristiwa bencana dalam rangka upaya pencegahan dan penanggulangan secara dini; memberikan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan bagi gubernur mengenai kebijakan yang berkaitan dengan kewaspadaan dini masyarakat melalui Kesbang Linmas Provinsi Kalbar.
Kewaspadaan merupakan kata kunci. Akibat tidak waspada, bukan hanya kita dan wilayah provinsi kita yang terancam bahaya, tetapi juga negara kita. Betapa tidak, akibat kita tidak waspada, sangat besar harta benda lokal dan nasional kita yang dicuri secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak-pihak lain. Tak terkecuali negara-negara tetangga. Seperti kerap kali diberitakan, bahwa kita punya kayu, tetapi pengekspor terbesar adalah Malaysia. Begitupula kita punya ikan, tetapi pengekspor kakap adalah Thailand.
Kita karena tidak waspada, bahkan sengaja melalaikan yang terkenal hanya jago ekspor TKI-TKW. Serta satu prilaku hipokrit: korupsi.
Nilai kerugian negara akibat ketidakwaspadaan di hutan dan di lautan itu mencapai triliunan rupiah. Sejumlah data menyebut hingga Rp 30 triliun setiap tahun.
Angka tersebut betapa besarnya jika dibandingkan dana pembangunan Kalbar setiap tahun hanya sekitar Rp 8 triliun. Itupun sudah gabungan dari 14 kabupaten-kota plus provinsi. Maka tidak salah jika dikatakan bahwa kewaspadaan dan pencegahan dini jauh lebih murah ketimbang mengobati.
Menteri Dalam Negeri juga telah menetapkan Permendagri No 12 Tahun 2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat di Daerah. Pemda dengan otonominya mempunyai kewajiban melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional serta keutuhan NKRI. Setiap kita bertanggung jawab memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Tak terkecuali melindungi sekaligus memberdayakan harta benda kekayaan negara untuk kesejahteraan bersama sesuai wawasan kebangsaan atau wawasan nusantara.
Bahwa untuk mencapai hal itu perlu kewaspadaan dini menjadi bagian vital dari tugas bersama, termasuk FKDM yang dibentuk Gubernur. Kewaspadaan dini yang dimaksud adalah kondisi kepekaan, kesiagaan dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya bencana, baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia.
FKDM ini terstruktur dan berjenjang di tingkat nasional, lokal provinsi, kabupaten-kota hingga kecamatan dan desa. FKDM juga bertalian dengan TNI, Polri, dan Kejaksaan. Untuk FKDM Kalbar Ketua Dewan Penasehat adalah Wakil Gubernur dengan Sekretaris Badan Kesbang Linmas serta 7 anggota meliputi Kepala Pos BIN Perwakilan Kalbar, Dir Intelkam Polda Kalbar, Kasi Intel Korem, Asintel Kejati, Kasi Intel Lanal, Kasintel Lanud dan Kadivisi Imigrasi Kanwil Depkum dan HAM. Tergambar sebuah struktur yang elit. Semoga karya nyata FKDM Kalbar juga terprogram, terstruktur, sistematis dan berkarya nyata pula (tidak sekedar organisasi papan nama belaka).




Baca selengkapnya..

Rabu, 29 Oktober 2008

Meramu Mozaik Karya Adiluhung


Tahun lalu pada edisi super khusus Idul Fitri kami melaunching visi koran publik dengan membagikan secara gratis 25 ribu eksemplar koran kepada masyarakat. Sejarah dengan tinta emas tersebut kami lipatgandakan pada tahun ini.
Peningkatan tersebut seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Borneo Tribune di Kalimantan Barat, di mana jejaringnya telah terpasang di 14 kabupaten maupun kota seiring irama pemekaran daerah. Cepat daerah berkembang, cepat pula Borneo Tribune menangkap peluang.
Pada edisi super khusus kali ini, dengan ungkapan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, kami berupaya tumbuh dari masa-masa krisis. Kekompakan, soliditas, saling pengertian, tolong menolong yang dikemas dalam terminologi kebersamaan membuahkan hasil prima di usia Borneo Tribune yang masih balita—baru berumur setahun lima bulan. Pada tahun ini Borneo Tribune mendapatkan anugerah triple winner. Pertama, pada Bulan Bahasa kami dinobatkan Balai Bahasa Kalbar sebagai juara pertama koran berbahasa Indonesia terbaik. Kedua pada Mochtar Loebis Award tingkat nasional Borneo Tribune tampil sebagai juara pertama untuk kategori investigative reporting. Ketiga, meraih fellowship AJI Pusat untuk riset si Pongo di Kabupaten Ketapang.
Di luar aktivitas rutin redaksi yang ketat, event-event yang digarap Borneo Tribune juga massif. Pada peringatan seabad kebangkitan nasional sekaligus Borneo Tribune First Aniversary, massa tumpah ruah di lapangan Baning-Sintang, Bardan Nadi-Landak, maupun Taman Alun Kapuas-Kota Pontianak.
Eksistensi lembaga nirlaba Borneo Tribune dengan nama Tribune Institute tak kalah mengakar dengan pelatihan-pelatihan, kunjungan timbal-balik, riset, maupun kerjasama seminar lokal, nasional hingga internasional. Belasan agenda besar telah dan akan terus mewarnai Kalbar sehingga provinsi ini tampil gemilang sebagai contoh nasional untuk pendidikan, perdamaian, lingkungan hidup, maupun kesejahteraan sosial. Tribune Institute menjadi kepanjangan tangan Harian Borneo Tribune untuk menggarap pendidikan sehingga terjadi perubahan peradaban dari lisan ke tulisan. Dari speaking culture menjadi writing culture.
Dengan semangat idealisme, keberagaman dan kebersamaan—dengan simbol enggang gading terbang—dengan nama Borneo Tribune bergaya klasik—dengan sajian berita bergaya naratif, akar Borneo Tribune dan Tribune Institute menjalar-membesar. Koran asli milik putra-putri Kalbar ini tumbuh di iklim persuratkabaran yang kompetitif. Kami berharap agar pertumbuhan itu produktif dengan buah harum, mulus, manis. Buah ini buah keabadian untuk disemaikan kepada generasi mendatang sebagai estafet semerbak nama bangsa maupun harkat-martabat kemanusiaan global.
Di hari yang fitri ini, kami ucapkan selamat kembali pada kesucian. Selamat membaca edisi super khusus kali ini. Kritik dan saran pembaca sangat kami harapkan untuk tercapainya kesempurnaan dalam meramu mozaik karya adiluhung untuk bangsa dan negara. Salam. □










Baca selengkapnya..

Ide dan Kerja Dimulai dari Hati


Kerja media sama dengan kerja merekam kehidupan. Semua peristiwa sedapat mungkin direkam untuk kemudian diolah menjadi bahan informasi yang edukatif dan entertein.
Konsekwensi dari kerja merekam kehidupan, baik yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, maupun teraba oleh rasa adalah jam kerja nyaris 24 jam. Jika waktu yang diberikan Tuhan 26 jam, maka awak media juga akan bekerja 26 jam!
Karena sifat kerja media seperti itu, maka networking harus kuat. Manajemen internal juga harus rapi-jali. Antara satu orang dengan orang lain harus menjadi mitra kerja yang kompak.
Kekompakan adalah harga mati. Terlebih persaingan dalam memberikan pelayanan berita saat ini semakin tinggi kuantitas maupun kualitasnya. Kebutuhan publik standarnya juga terus meningkat.
Kiat-kiat media dalam memperkuat team-work berbagai-bagai caranya. Borneo Tribune sendiri memilih cara kekeluargaan, sehingga melahirkan culture corporate dari hati ke hati.
Semboyan bekerja dimulai dengan hati sangat tepat karena sinar mata adalah pancaran hati. Jika hati bersih, pandangan berbinar-binar sehingga gerak tubuh menjadi ringan. Dengan ringan tangan dan kaki, banyak pekerjaan cepat terselesaikan.
Kata-kata yang keluar dengan hati yang bersih juga adalah ide yang bermutu tinggi. Seperti ide merayakan ulang tahun Borneo Tribune yang pertama. Dengan segala keterbatasan yang ada, seluruh aktivitas outdoor dan indoor sukses besar. Buah dari kesuksesan kegiatan di medio Mei 2008 itu melahirkan ide berikutnya, membuat baju seragam Harian Borneo Tribune.
Sam Abu Bakar pun mulai mengutak-atik layar komputer. Dia menuangkan gagasannya dengan memainkan model huruf, simbol, serta penempatan. Hasil print outnya dikaji bersama-sama. Jatuhlah pilihan dengan warna dasar hijau muda-hitam dilengkapi dengan nama Borneo Tribune di bagian kerah belakang, simbol Enggang Gading terbang di dada kiri serta nama Borneo Tribune di dada bagian kanan.
Atika Ramadhani melanjutkan realisasi ide ini dengan menghubungi pihak taylor yang mampu mengerjakannya. Hasilnya sangat menggembirakan. Setiap karyawan mendapatkan baju satu per satu. Baik karyawan yang lama, maupun yang baru.
Di ajang silaturahmi Syawal, dalam suasana Idul Fitri, karyawan-karyawati masuk kantor dengan wajah sumringah. Mereka semua memakai baju baru. Baju seragam Borneo Tribune.
Perangkat kamera Ula pun diangkut ke ruang redaksi. Tak hanya kamera canggih, tapi juga lampu studio yang mengembang laksana payung di posisi kiri dan kanan. Pegiat media pun berpose manis di depan kamera. “Satu, dua, tiga...” jepret. Tak cukup sekali, aksi berlanjut dua tiga kali dengan berganti-ganti posisi. Kamera pun tak hanya Ula, tapi juga Maya dan Muklis Suhairi.
Rasa gembira di awal Syawal dilengkapi dengan kehadiran Dorina Luise Schulte mahasiswi magang dari Bonn University, Jerman. Ia juga mengenakan kostum Borneo Tribune dan duduk manis di antara karyawan-karyawati Borneo Tribune. “Hallo Dorina,” jepret. “Hallo honey...” gelak tawa pun membuncah di ruang redaksi.



Baca selengkapnya..

MABM Konsisten Tolak Politik Praktis


Suara Dato H Abang Imien Taha masih keras terdengar saat berpidato di atas mimbar Halal Bi Halal Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalbar di Rumah Melayu, Minggu (26/10) kemarin siang. Dengan pakaian telok belanga warna hitam yang dikenakannya, dengan keras ia kemukakan bahwa MABM konsisten menggarap budaya dan kebudayaan, serta tidak mau terlibat di arena politik praktis.
Sejauh ini menurut sepuh Melayu asal Uncak Kapuas ini, masih ada segelintir oknum masyarakat yang hendak menyeret-nyeret MABM ke ranah politik praktis. Terbukti dengan adanya selebaran agitasi politik yang menguntungkan kandidat tertentu di arena pemilihan kepala daerah. Islam pun dibawa-bawa sehingga menakutkan rakyat. “Selebaran yang beredar sama sekali bukan dari MABM. Kita sudah buktikan, bahwa korp suratnya palsu, isinya apalagi. Kita di MABM konsisten menggarap budaya melayu,” ungkapnya.
Imien tidak mengemukakan di daerah pilkada mana selebaran itu bergulir terkait empat daerah menggelar pilkada pada Sabtu (25/10). Tetapi dengan hasil yang sudah diketahui secara global di mana Kota Pontianak dimenangkan pasangan SIIP, Kabupaten Pontianak dimenangkan Ria Norsan dan Sanggau serta Kubu Raya memasuki putaran kedua, Imien Taha mengajak masyarakat mensyukuri nikmat tersebut. Seolah Imien mau mengatakan, bahwa tanpa ada keterlibatan politik praktis dari lembaga bernama MABM, masyarakat sudah cerdas memilih sesuai hati nuraninya masing-masing.
Di Kota Pontianak sempat memanas anasir kemenangan pasangan kandidat karena sentimen etnik dan agama. Terlebih Kota ontianak masih rentan dengan hasil Pilgub. Saat Pilgub, MABM juga tegas menyatakan tidak terlibat di arena politik praktis secara kelembagaan. Tidak ada rekomendasi suara melayu ke kandidat tertentu. MABM tidak terlibat teknis praktis untuk mengerem jumlah pasangan kandidat mengkrucut kepada satu saja. “MABM konsisten menggarap kebudayaan,” timpalnya berkali-kali.
Dari sinar wajahnya kemarin, Imien tampak puas. Ia bangga berdiri di hadapan ratusan massa yang rata-rata berbaju adat telok belanga atau busana muslim.
Lembaga adat dan budaya profesional menggeluti wilayah yang bebas sekat politis, sedangkan partai politik dilepas bebas menggeluti permainan politik sampai tandas.
Imien mengatakan, tatanan demokrasi harus dilakukan sejak dini, dengan contoh teladan dari banyak pihak. “MABM telah memberikan contoh yang baik,” ujarnya.
Tidak disebutkan secara tersurat bahwa saudara MABM, yakni Dewan Adat Dayak (DAD) pada saat Pilgub Nopember lalu secara resmi mendukung kandidat tertentu.
Pada kesempatan halal bi halal, Gubernur yang diwakili Asisten II, Drs Abdul Munir HD menyatakan bahwa Pemprov sangat peduli dengan pembinaan adat dan budaya. “Kita sangat mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan karena menjadi ciri dan karakter daerah serta bernilai pariwisata,” ungkapnya.
Gubernur, lanjut Munir selalu menekankan manajemen dan promosi yang baik terhadap even-even kebudayaan di Kalbar, tak terkecuali puak Melayu. Gubernur Cornelis sendiri membuktikan terlibat aktif di even-even kebudayaan. Gubernur Cornelis menunjukkan setelah terpilih di Pilgub, dia bukan semata-mata pemimpin Dayak, tetapi semua etnik, agama dan golongan. Rakyat Kalbar pun sudah menikmatinya dengan kondisi yang aman serta kondusif.
Di tempat yang sama di Rumah Melayu yang megah serta digenapi cahaya lampu hias tampil Prof Ir HA Hamid M.Eng untuk memberikan tausiah. Mantan Direktur Polnep ini mengurai tentang manfaat halal bi halal, saling maaf-memaafkan, serta menghapus dendam. Dendam menurutnya sangat menyita energi fisik dan mental. “Memaafkan sama dengan melepaskan beban. Kita menjadi ringan,” ungkapnya mengurai sejumlah hasil penelitian. Tausiah Hamid juga dipresentasikan lewat monitor layar lebar. Ini suatu kemajuan teknologi yang diterapkan MABM.
MABM juga mengurai program-program pengembangan pada tahun depan. Salah satunya adalah klinik kesehatan serta pusat kerajinan dan hasta karya melayu. Begitulah indahnya komitmen dan konsistensi menggarap kebudayaan secara profesional.




Baca selengkapnya..

Jumat, 26 September 2008

Pameran Kemiskinan Jelang Lebaran


Setiap tahun menjelang Idul Fitri pemandangan di mana-mana adalah pameran kemiskinan. Gambaran itu terlihat dengan jelas dengan berduyun-duyunnya sekelompok orang untuk mohon bantuan uang. Mereka biasanya para orang tua, ibu-ibu serta anak-anaknya.
Pameran kemiskinan ini memang peak session. Demikian karena selama bulan puasa, umat Islam dianjurkan untuk menahan hawa nafsu sekaligus berderma dengan ejawantah dekat dengan si miskin papa.
Kelompok miskin menyadari dirinya dikasihani. Mereka datang jemput bola. Door to door. Sementara kelompok yang cerdik memanfaatkan mereka untuk dimenej sedemikian rupa sehingga keuntungan terbesar justru berada di tangan mereka. Sebab jangan dikira, hasil dari meminta-minta itu cukup besar jika dibandingkan dengan kerja keras seorang loper koran.
Dalam ajaran Islam sendiri zakat, infak dan sadakah dijalankan oleh lembaga amil. Mereka sudah punya data base kemiskinan. Mereka mendatangi para fakir dan miskin untuk diberikan bantuan. Tidak hanya untuki sekali beri, tetapi diberdayakan untuk punya modal usaha. Lembaga penyaluran dananya bernama BMT.
Kemiskinan memang merupakan masalah global, sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan dan kekurangan di berbagai keadaan hidup. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang "miskin".
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.



Baca selengkapnya..

Lelang Iklan Provinsi Diikuti 7 Media

Transparansi proyek pemerintah diwujudkan dengan mengumumkan jenis kegiatan proyek, nilai nominal maupun lembaga pemilik proyek kepada media. Media cetak yang berhak mendapatkannya adalah yang memenuhi syarat telah berada di seluruh daerah satu provinsi, terbit harian, dan telah berumur lebih dari satu tahun.
Pada tahun 2008-2009 terdapat 8 media cetak di Kalbar yang mengikuti lelang iklan provinsi. Ke-8 media itu sesuai abjad adalah Berkat, Borneo Tribune, Equator, Kapuas Post, Mediator, Media Kalbar, Pontianak Post dan Pontianak Metro.
Pada saat enwejzing atau pertemuan penjelasan, Jumat (12/9) seluruh pimpinan atau perwakilan media hadir di Aula Kantor BKIKD Provinsi Kalbar. Pertemuan tidak seperti enweijzing lelang kontruksi yang cenderung keras, di sini sangat diplomatik dan demokratis.
Para pimpinan media tampak akur dan saling bercanda prihal metode, syarat, maupun hal-hal teknis sehingga pertemuan berjalan penuh keakraban. “Proses enweijzing seperti itu patut diekspose karena demokratisnya,” ungkap Pemimpin Redaksi Berkat, Werry Syahrial.
Ketua Panitia Lelang, Drs Musa Tulak Layuk, M.Si didampingi anggota panitia yang duduk di bagian depan tersenyum lebar. “Ya, kami juga bekerja sesuai dengan SK dan aturan yang berlaku,” katanya.
Kesepakatan yang dicantumkan dalam addendum menyebutkan tiras minimal 3.500 eksemplar dan tersebar minimal di 12 kabupaten kota dari 14 kabupaten kota yang ada di Kalbar. Kesepakatan itu dicapai karena Kayong Utara dan Kubu Raya tergolong baru mekar dari kabupaten induknya.
Seminggu usai enweijzing tiba saatnya pembukaan lelang secara resmi. Kali ini yang mendaftar dengan menyerahkan berkas tepat waktu hanya 7 media. Pontianak Metro gugur.
Kondisi penawaran yang dibuka juga berjalan transparan dan demokratis dipimpin Musa Tulak Layuk disaksikan peserta lelang, serta diliput pula oleh TVRI Kota Pontianak.
Semua syarat dan ketentuan dibuka satu per satu. Hasilnya semua mata awak media melihat lebih dan kurangnya masing-masing.
Bisik-bisik pembicaraan di luar ruang penawaran, para pimpinan media semua berharap bisa memenangkan proyek iklan lelang provinsi ini sebagai wujud partisipasi mentransparansikan proyek-proyek pemerintah sesuai aturan hukum. “Sesuai SK yang kami terima, dari 7 media yang mengikuti lelang akan dipilih 3 yang memenuhi syarat administratif. Selanjutnya prerogatif gubernur untuk menentukan pemenangnya,” kata Tulak Layuk di akhir pertemuan.



Baca selengkapnya..

Kamis, 25 September 2008

Rapatkan Barisan


Kata di atas umum terdengar di jajaran militer karena baris-berbaris. Tetapi di luar militer, kata “rapatkan barisan” juga berlaku, tak terkecuali di lembaga pers seperti kami di Harian Borneo Tribune.
Ramadan tahun 2008 ini kami jadikan momentum untuk merapatkan barisan di mana posisi yang kosong diisi, yang berlebihan ditempatkan sedemikian rupa sehingga terwujud satu tatanan yang elegan, rapat dan rapi. Begitupula lini yang kendor dikencangkan.
Sejak 1 Ramadan yang bertepatan dengan 1 September Devisi Informasi Teknologi (IT) Borneo Tribune 100 persen ditangani Iwan Siswanto sehingga beberapa item yang selama ini kurang tersentuh jadi bisa dijamah secara optimal. Hasilnya selama 20 hari ini jelas, maintenance peralatan, perawatan jaringan, sampai up-date website kami menjadi maksimal.
Posisi lay-out yang semula dibantu oleh Iwan Siswanto ditangani Amirullah Asri yang sebelumnya berada di design iklan. Sedangkan untuk design iklan mengoptimalkan peran Zulkifli HZ. Tujuan dari merapatkan barisan seperti ini tiada lain untuk mencapai efektivitas dalam bekerja, di mana efektivitas adalah kebutuhan dalam tumbuh dan berkembangnya perusahaan.
Pada sisi lain jaringan Borneo Tribune sudah berkembang di 14 kabupaten-kota se-Kalbar. Dengan kata lain cukup besar sumber daya yang disalurkan ke setiap wilayah. Konsekwensinya jelas, Borneo Tribune menyerap tenaga-tenaga baru, khususnya reporter.
Saat ini sejumlah reporter sedang magang di dapur redaksi. Mereka digembleng sedemikian rupa dalam kerangka merapatkan barisan sekaligus mencapai target-target yang diinginkan.
Merapatkan barisan tentu tidak melulu urusan struktural, tetapi juga psikis dan sosial. Untuk itulah kami urun rembug dengan memanfaatkan momen berbuka puasa bersama. Acara yang spesial itu kami helat, Jumat (19/9) kemarin.
Momentum Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah ingin kami buat akbar dengan bertepatan di hari besar Jumat. Tepat pula dengan 19 di mana pada tenggat waktu tersebut Borneo Tribune diluncurkan secara perdana (19 Mei 2007).
Seluruh kru mulai dari jajaran redaksi, sirkulasi, advertensi, lay-out, percetakan, administrasi hingga sales hadir memenuhi acara kekeluargaan berbuka puasa bersama. Pada kesempatan emas ini turut hadir Direktur Utama PT Borneo Tribune Press W Suwito, SH, MH, Konsultan Bisnis Michael Yan Sriwidodo, SE, MM, Penasihat Hukum Dwi Syafriyanti, SH, MH, maupun sejumlah undangan.
Dialog digelar seusai berbuka puasa dan salat Maghrib berjamaah. Hasilnya adalah pelepasan uneg-uneg dan program-program kerjasama yang harus dipikul bersama-sama demi kepentingan bersama. Begitupula reorientasi kembali melihat apa saja yang sudah dilakukan, apa yang sedang dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Semoga dengan mengeratkan kembali siapa melakukan apa—who do what—keberhasilan semakin meningkat.
Pertemuan saling asah, asih dan asuh ini selalu menarik karena energi positifnya tinggi. Tiada terasa waktu terus bergulir, charging batin maupun makanan fisik yang dinikmati juga sudah full, akhirnya diharapkan esok akan lebih baik dari hari ini. Amiin.



Baca selengkapnya..

Kamis, 11 September 2008

Berorientasi pada Sesuatu yang Besar

Berorientasi pada sesuatu yang besar bukan berarti melupakan yang kecil, karena biasanya kendaraan terjungkal bukan karena batu yang besar melainkan batu kerikil. Kenapa demikian, karena batu besar jelas terlihat sehingga mudah dielakkan, sedangkan kerikil kecil karena tak terlihat kerap kali diabaikan, dan tiba-tiba saja menyebabkan roda tergelincir.
Dalam buku manajemen disebutkan fault in detail. Kesalahan di dalam sesuatu yang kecil. Contohnya noda hitam di baju yang putih, atau noda kecil di layar yang putih. Pandangan mata kita akan selalu tertuju pada noda atau noktah hitam tersebut.
Memang noda atau noktah tersebut bisa diberikan muatan positif, sehingga tidak selalu berkesan negatif. Dalam ilmu marketing sesuatu yang unik dan ganjil memang dibutuhkan untuk mendapatkan perhatian. Oleh karena itu ada kesimpulan di dalam marketing untuk tidak menggarami pasar, atau membuat produk yang sama dari yang sudah ada. Jika produk kita ada karakter, keunikan, keganjilan, maka ada ciri khasnya. Ciri khas ini yang menjadi tantangan untuk bagaimana dia bisa ditemukan.
Produk yang bisa bertahan lama, berumur panjang di pasar adalah produk yang punya ciri khas, punya karakter dan punya keunikan. Produk yang abadi adalah juga produk yang punya idealisme serta punya visi besar.
Di dalam riset perusahaan-perusahaan besar dunia, dari 500 jumlah yang berkaliber Fortune 500, hanya 2 persen yang mampu mempertahankan reputasinya. Mereka yang mampu bertahan adalah lembaga yang mempunyai visi besar.
Borneo Tribune lahir dan dibesarkan dengan visi besar. Dari namanya mencerminkan orientasi yang besar tersebut, begitupula terhadap motto atau semboyannya: idealisme, keberagaman dan kebersamaan.
Memang tidak mudah mencapai idealisme karena butuh perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan membutuhkan energi kesabaran sangat besar sekaligus kerja keras yang tiada kenal lelah. Hasil perkalian antara kerja keras dan kesabaranlah yang akan membuahkan hasil kesuksesan.
Borneo Tribune yang digerakkan oleh komunitas yang beragam sepakat untuk mewujudkan kebersamaan. Oleh karena itu yang menjadi visi besar adalah nilai universal, yakni mencapai titik-titik persamaan, dan bukannya perbedaan. Titik-titik persamaan itu adalah upaya memupuk dan memelihara Borneo Tribune yang semakin eksis di tengah-tengah masyarakat Kalbar. Hal tersebut terlihat dari tirasnya yang senantiasa tumbuh kendati digencet oleh gajah-gajah besar yang terus bertarung, biro yang sudah terbentuk di 14 kabupaten-kota, serta liputan yang komprehensif di Kalbar, nasional, maupun internasional. Jejaring Borneo Tribune, koran lokal yang benar-benar lokal tidak kekurangan untuk itu.
Orientasi Borneo Tribune yang besar harus selalu menjadi pusat perhatian dengan tidak meremehkan hal-hal kecil. Untuk ini perlu ada pembagian tugas siapa melakukan apa. Masing-masing bagian harus memberikan hasil yang maksimal. Berprestasi optimal. Dengan demikian akan terjadi pola kerjasama yang terintegrasi secara bottom-up maupun top down. Hasil kerjasama di semua lini akan menimbulkan energi gerakan yang dinamis, sehingga akan menelurkan gol-gol indah. Pencetak gol merasa puas, team merasakan menang, daerah menjadi bangga, dan terakhir penonton pun akan memberikan applaus luar biasa atas sportivitas tersebut.
Di minggu kedua Ramadan di mana nafsu amarah digembleng menjadi nafsu muthmainnah (yang terkontrol) mudah-mudahan akan menghasilkan resultan energi positif yang simultan. Selamat berpuasa, semoga kita semua berhasil mengontrol nafsu amarah kita menjadi nafsu muthmainnah.
Esensi dari orientasi besar itu sesungguhnya memang bersemayam di dalam hati atau diri kita sendiri, maka segala sesuatu tergantung kepada kita: mau atau tidak. Di mana ada kemauan, maka di situ pasti ada jalan. Jalan kesuksesan dan keselamatan.





Baca selengkapnya..

Flamboyan, PR Walikota Mendatang

Perjalanan masalah rencana rehabilitasi Pasar Flamboyan memasuki babak baru. Ledakan itu terjadi kemarin di Gedung DPRD Kota Pontianak.
Rencana rehabilitasi Pasar Flamboyan memang bukan masalah baru, tetapi jalan damai antara pemerintah dengan pedagang masih jauh dari titik ideal. Dampaknya ialah, Walikota terpaksa “kabur” dari Gedung Dewan, sedangkan massa pedagang berusaha menahan dengan tujuan Walikota bersedia mencabut perjanjian kerjasama (MoU) dengan developer PT Putra Khatulistiwa. Bagi kita, peristiwa tersebut tidak enak dipandang mata, karena menunjukkan besarnya gap atau dinding pemisah antara pemerintah dengan rakyatnya. Tidakkah ada jalan yang lebih baik? Jalan di mana pemerintah dan pedagang akur?
Bagi pemerintah, mengurusi pasar memang tidak mudah. Mengurusi orang-orang pasar juga tidak gampang. Saban hari pedagang berurusan dengan kenyataan praktis yang bertendensi jangka pendek. Oleh karena itu mereka praktis-praktis saja soal harga yang mahal, soal Pasar Sentral yang tak terbukti memenuhi harapan, begitupula Pasar Dahlia yang sudah jauh lebih lama direhab Pemkot. Di sana masih sepi. Tidak semua pedagang mampu membayar kewajiban kredit ruko atau los yang ditempati.
Dalam hal rehabilitasi itu pemerintah memang berpikir jangka panjang. Maunya membela pedagang, tapi juga sekaligus pengusaha, pengembang, bahkan perbankan. Pemerintah ingin menggerakkan ekonomi menuju visi Kota Internasional.
Kita tidak menyalahkan pedagang yang protes dan mendesak dicabutnya MoU pembangunan Pasar Flamboyan, tetapi kita juga tidak menutup mata dengan tertatanya kota, nyamannya berbelanja dan tidak macetnya jalan di muka Pasar Dahlia di mana dahulu terkenal amat sangat macet. Ini bukti bahwa pertimbangan pemerintah sangat banyak dan terintegrasi. Beda dengan pedagang yang mengukur dengan pendapatan dan kelangsungan hidupnya semata-mata.
Oleh karena kita ingin ideal, kita dengan kerangka berpikir ideal tersebut berkehendak ada jalan tengah yang win win solution. Pasar tradisional Flamboyan bisa bertahan, tetapi Flamboyan Trade Center juga bisa diwujudkan.
Pemerintah merencanakan di lokasi yang strategis di pusat jantung kota—Jalan Gajahmada-Tanjungpura tersebut dibangun lima lantai pasar modern. Di lantai dasar tetap mengakomodasi pedagang tradisional, sedangkan lantai 2-5 adalah ruko yang melayani bisnis.
Bagi Walikota sesungguhnya protes warga itu normal. Walikota tak sekali dua diprotes dalam hal-hal seperti ini. Misalnya untuk megaproyek pembangunan Pontianak Town Square dan Sundial. Kenyataannya kedua mega proyek ini belum juga terealisir.
Rencana rehabilitasi Pasar Flamboyan agaknya bakal menyusul Sundial dan Pontianak Town Square karena besarnya pressure menuntut proyek tersebut ditunda. Sebelum pressure di Gedung Dewan, dua hari lalu, sejumlah pakar di Untan juga berpandangan sama. Pressure itu menjadi strategis karena masa jabatan Walikota juga hanya tinggal seumur jagung.
Praktis masalah Pasar Flamboyan yang sudah teken MoU dan sudah siap pugar akan bakal berlarut. Di dalamnya ada masalah hukum, kerugian di pihak investor, dan kewibawaan pemerintah maupun dewan. Rencana itu pun bakal menjadi pekerjaan rumah bagi Walikota mendatang hasil Pilkada 25 Oktober 2008.





Baca selengkapnya..

Preventif Kekerasan Psikopat

Di Kalbar kita dikejutkan dengan sejumlah kasus kekerasan yang biadab. Nyawa menjadi murah di ujung senjata tajam. Dampaknya jelas. Selain terjadi pembunuhan, juga luka psikologis terhadap masyarakat luas. Kalbar jadi terkesan tidak aman. Ketidak amanan itu karena berkeliarannya para pelaku kriminal, atau cenderung psikopat.
Bila kata psikopat disebut, pikiran mungkin langsung melayang pada sosok seperti tersangka And dalam kasus pembunuhan Lusiana, atau secara nasional yang lebih fenomenal—si jagal Jombang—Ryan. Seperti Ryan, seorang psikopat memang kerap menipu lewat penampilan.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini
hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan.
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena prilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya. Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara
moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral).
Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/ psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut "orang gila tanpa gangguan mental". Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.
Agar kita merasa aman, dapat bertindak preventif atau mencegah, adakah cara mengenali para psikopat yang berkeliaran itu? Secara klinis, jelas tak mudah, karena untuk sampai pada kesimpulan seseorang tergolong psikopat atau bukan. Harus melalui proses panjang dan sulit. Diagnostik sahih mesti disimpulkan setelah usia orang yang dicurigai lebih dari 18 tahun.
Sampai saat ini, pasien yang ditangani disimpulkan sebagai psikopat, rata-rata berusia antara 25 – 35 tahun. Sebuah rentang usia produktif. Sedangkan jumlahnya kurang dari 10% dari seluruh pasien yang datang.
Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang 'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan
yang tidak dimengerti.
Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Pada dasarnya, psikopat adalah sebutan singkat untuk gangguan kejiwaan, yang awalnya dikenali sebagai kenakalan remaja dan gangguan kepribadian
antisosial (emosi dangkal, gampang meledak-ledak, tak bertanggung jawab, berpusat pada diri sendiri, serta kekurangan empati dan rasa sesal).
Kita perlu waspada agar terhindar dari kasus seperti yang diterima Yuliana di Gang Anggrek, atau Anti di Jalan Pancasila. Atau bahkan seperti para korban Ryan di Jombang.
Ciri psikopat ada tujuh. Pertama, mereka yang gagal mengikuti norma sosial dan hukum, hingga berkali-kali ditahan pihak berwajib. Kedua, berulang-ulang berbohong, menggunakan berbagai alasan, lihai bicara, menipu untuk keuntungan pribadi atau sekadar bersenang-senang.
Ketiga, meledak-ledak dan tak punya perencanaan, kalau ingin sesuatu, harus saat itu juga dilakukan. Keempat, mudah tersinggung dan berangasan, sehingga sering terlibat penyerangan atau adu jotos.
Kelima, tak peduli keselamatan diri sendiri atau orang lain. Keenam, tak bertanggung jawab, misalnya kerja sering tak beres dan ngemplang utang. Ketujuh, nyaris tak punya rasa sesal dan bersalah setelah menyakiti, menganiaya bahkan mencuri.
Kita harus waspada karena ini merupakan gejala kita atau orang terdekat kita terkena psikopat. Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang 'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir.
Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.
Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. Mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari
tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu.
Jadi, mungkin jika And, Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun). Terakhir, para psikopat terlihat meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.
Psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen - pelaku psikopat - yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.
Psikopat tidak hanya ada di penjara, di ruang sidang pengadilan, atau pada kisah "pembunuhan". Penelitian menyatakan bahwa satu persen populasi orang dewasa yang bekerja adalah psikopat di tempat kerjanya. Lewat berbohong, mencurangi, mencuri, memanipulasi, mengorbankan dan menghancurkan para rekan kerja, serta kesemuanya tanpa rasa salah maupun penyesalan.

Mereka yang disebut organisasional psikopat, berkembang pesat di dunia bisnis, di mana kezaliman dan nafsu mereka tidak saja mereka salah-artikan sebagai ambisi dan keterampilan memimpin, namun juga sebagai sesuatu yang dihargai melalui promosi, bonus dan kenaikan upah.
Psikopat di tempat kerja berpikir layaknya psikopat kriminal. Mereka berusaha sekeras-kerasnya demi mereka sendiri. Perbedaan keduanya adalah, psikopat kriminal menghancurkan korban secara fisik, sedangkan psikopat tempat kerja menghancurkan korbannya secara psikologis. Mereka tidak peduli. Mereka tidak berpikir dirinya adalah psikopat. Mereka tidak berpikir apa yang sedang dilakukan adalah salah. Mereka hanya berpikir dirinya pintar, dan jika semua orang secerdas mereka, semuanya pun akan melakukan hal serupa.
Penanganan dan pengobatan penyandang psikopat minimal memakan waktu tiga tahun. Pengobatan pasien dengan gangguan jiwa ini tak ada penyelesaiannya. Artinya, penanganan dan pengobatan harus dilakukan terus-menerus, dengan kerja sama banyak pihak, karena masalahnya tak selalu mudah.
Sistem pendidikan yang hanya mengejar prestasi, juga bisa memicu tumbuhnya pribadi psikopat. Bila tiap anak dituntut menjadi nomor satu, sementara ia sadar kemampuannya terbatas, apa yang terpikir olehnya untuk mencapai tujuan itu? Bisa saja dia mencari jalan pintas, dan hal ini dapat mengundang anak menjadi seorang yang psikopat.
Memang, gelar psikopat kadang nemplok tanpa pilih tempat. Apalagi sering tanpa sadar masyarakat modern sendiri ikut andil melahirkan psikopat. Karena beratnya tekanan hidup, berbagai hal yang menyimpang dari norma dan hukum, justru menjadi aktivitas "sehari-hari". Dulu ketika BBM naik, jumlah penderita penyakit syaraf di rumah sakit meningkat. Adakah tanda-tanda kekerasan sekarang juga akibat tekanan ekonomi yang semakin tinggi? Begitu tampaknya. Oleh karena itu bangunlah ekonomi dengan serius dan adil.



Baca selengkapnya..